
Alih-alih membuka pintu, Luna bergeming dan bergumam dalam hati, aku dan dia baru saja berciuman. Bagaimana aku menghadapinya? Tidak! Aaaaaa! Aku belum siap menghadapinya.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu dan tidak ada sahutan atupun pintu terbuka, Jarvish langsung berkata, "Baiklah, Luna. Aku biarkan kau tidur di kamarku malam ini dan aku di kamar kamu, Luna" Jarvish kemudian berbalik badan dan masuk ke kamarnya Luna.
Luna berjalan pelan menuju ke tampar tidur dan setelah naik, ia masuk ke selimut, memeluk Dave, dan matanya menatap langit-langit kamar. Dia tidak bisa memejamkan mata. Dia teringat ciumannya dengan Jarvish dan teringat wajah kecewanya Joshua.
Untung aku sudah tidak bekerja di tempat Mas Joshua. Dan besok sepertinya aku harus mencari tempat tinggal yang baru. Apartemen itu, kan, milik Mas Joshua. Meskipun aku sudah membayar sewa untuk satu tahun ke depan, biarkan saja daripada aku merasa nggak enak tinggal di sana dan merasa canggung kalau bertemu dengan Mas Joshua. Batin Luna.
Sementara itu Jarvish memejamkan mata sambil terus tersenyum dan bergumam, "Kenapa aku baru menyadarinya sekarang kalau Luna itu imut dan manis sekali, tapi dia juga tangguh. Buktinya dia berani melawan Mamaku dengan cara yang halus, namun mematikan. Aku suka itu"
Jarvish kemudian memeluk guling lebih erat lagi dan dengan masih memejamkan mata dia kembali senyum-senyum dan bergumam, "Dia sekarang jomblo, aku pinjam istilah kamu, ya, Sur. Aku akan mengejarnya lebih berani lagi. Aaaaa! Kenapa aku bersemangat sekali ingin segera mengejarnya" Jarvish menjejak-jejakkan kakinya di atas ranjang dengan senyum lebar, tetapi matanya terpejam rapat.
Keesokan harinya, Luna bangun dengan bingung, "Aku harus bagaimana ini? Mau tidak mau aku ketemu dengan Jarvish pagi ini"
Setelah mandi dan wangi, Luna membuka pintu dan menggandeng Dave yang sudah bangun lebih pagi dari dirinya. Wanita manis itu celingukan ke kiri lalu ke kanan dan saat ia bergumam lirih, "Syukurlah pria aneh itu belum bangun. Aku akan ajak Dave ke mobil sekarang juga dan .........."
"Kau mencari apa? Aku akan bantu mencarinya"
Alih-alih menoleh ke kiri dan menjawab pertanyaannya Jarvish, Luna justru langsung berlari kencang meninggalkan Jarvish dan Dave yang berada di dalam gandengan tangannya spontan ikutan berlari. Pria kecil nan tampan itu mengikuti laju lari matanya sambil bertanya, "Ma? Kenapa kita lari? Papa ketinggalan, Ma"
Luna menjawab pertanyaannya Dave dengan masih berlari kencang, "Sstttt! Mama mau cari tempat untuk kentut. Mama malu kentut sembarangan"
"Bukankah kalau lari malah keluar otomatis, ya, kentutnya?" Dave kembali bertanya dengan kerutan di keningnya.
"Belum. Mama nggak bisa kentut sembarangan" Jawab Luna sekenanya.
Jarvish mengulum bibir dan menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil bergumam, "Kenapa dia lari? Pasti dia malu soal ciuman kemarin. Dia kenapa lucu banget, sih"
Jarvish lalu menoleh ke anak buahnya, "Kumpulkan semua barang-barang, kunci pintu, bawa kuncinya ke resepsionis dan kita ketemu di depan!"
"Baik, Tuan"
Jarvish kemudian berjalan pelan mengikuti arah perginya Luna sambil terus mengulum bibir dan bergumam, "Aku akan beri kamu ruang untuk bernapas dulu, Luna. Setelah itu, aku akan pepet kamu terus sampai kamu tidak bisa berkelit lagi dan menerima aku"
"Ma, Dave lapar. Kita sarapan dulu, yuk!"
"Ah! Iya" Luna terpaksa mengiyakan permintaannya Dave dan berbelok ke restoran hotel tersebut.
"Kamar berapa?" Tanya penjaga pintu masuk restoran tersebut
"Ah! Saya lupa. Emm, kamar berapa Dave?"
"Dave juga lupa, Ma"
"Mereka bersama denganku" Suara basnya Jarvish terdengar bak petir di telinga Luna. Wanita itu langsung membeku dan tidak berani menoleh ke belakang.
Jarvish merangkul bahu Luna sambil berkata, "Dia ini Mamanya anakku dan ini anakku" Jarvish mengusap lembut kepalanya Dave dengan senyum bangga.
"Ah, iya, Tuan. Silakan masuk dan silakan menikmati sajian serapan yang sudah kami siapkan"
Jarvish mengajak Luna dan Dave masuk dengan merangkul bahu Luna dan menggandeng tangan mungilnya Dave.
Luna melirik tangan Jarvish yang ada di bahunya dan bergumam, apaan ini? Kenapa main rangkul aja, sih?
Jarvish membantu Dave duduk dan saat Luna hendak berjalan untuk mengambilkan Dave makanan, Jarvish langsung menahan tangan Luna sambil berkata, "Biar aku saja yang ambilkan. Kamu tunggu di sini sama Dave" Jarvish memaksa Luna duduk lalu membelai sebentar bahu Luna sebelum ia pergi untuk mengambilkan makanan.
Luna menoleh untuk melihat punggung Jarvish. Dia membelai bahuku barusan? Batin Luna.
Jarvish kemudian duduk dan berkata, "Mereka akan membawakan semua makanan kesukaan kamu dan Dave sebentar lagi"
Luna yang menunduk karena masih merasa malu untuk bertatap muka dengan Jarvish sontak menoleh kaget untuk bertanya, "Memangnya kau tahu makanan kesukaanku?"
"Tahu. Kau suka semua makanan gurih dan pedas. Lalu untuk minuman kau suka yang berasa masam seperti jus jeruk, jus lemon, jus mangga, jus strawberry. Kau tidak suka makanan manis, kan?"
Luna terkesiap kaget, "Da.....darimana kau tahu semua itu?"
"Dari mata turun ke hari" Jarvish mengedipkan mata dan Luna langsung menoleh ke Dave dan untuk menyembunyikan rasa canggungnya, Luna bertanya ke Dave, "Dave juga suka jus buah, ya, Sayang"
"Iya"
"Tapi, Dave punya selera yang sama denganku. Dia cenderung suka yang manis. Untuk itulah aku dan Dave suka sama kamu" Sahut Jarvish.
"Itu benar" Pekik Dave dengan senyum ceria.
Luna memilih untuk mengabaikan ucapannya Jarvish dan memilih untuk membelai pipi Dave dengan senyum manisnya.
Jarvish terus menatap Luna dari samping dengan mengulum bibir. Dia malu. Menggemaskan banget, sih, kalau dia malu kayak gitu. Batin Jarvish.
Sementara itu dari kejauhan Joshua yang belum keluar dari hotel itu, menatap kebersamaan. Luna, Dave, dan Jarvish dengan wajah ditekuk sempurna. "Seharusnya aku yang berada di meja itu bukannya Jarvish si brengsek itu" Gumam Joshua sambil meremas sendok supnya.
Luna benar-benar kaget, Jarvish memesankan nasi goreng Jawa dan jus jambu merah untuknya. Jarvish bahkan membuatkan kopi dengan gula sedikit yang pas banget dengan seleranya. Luna menatap semua makanan dan minuman di depannya dengan bergumam di dak hatinya, darimana dia tahu semua seleraku? Perasaan aku dan dia tidak pernah mengobrol soal kesukaanku.
"Nih! Aku kupaskan udang. Satu untuk Dave dan satu untuk cewek manis yang ada di dekatku ini" Jarvish menyenggolkan bahunya ke bahu Luna.
Luna hanya bisa menunduk dan mengucapkan kata terima kasih tanpa menoleh ke Jarvish di saat hatinya kembali berdesir hangat dan jantungnya berdegup kencang.
Jangan bersikap manis dan aneh kayak gini, Tuan Jarvish Benjamin. Aku rasanya sesak napas, nih. Aaaaaaa!!!! Batin Luna.