Memories Of Love

Memories Of Love
Pengkhianat



Joshua kembali dari perjalanan bisnisnya dan setelah masuk ke ruang kerjanya, dia langsung memeluk Luna yang tengah menumpuk berkas di meja, dari arah belakang.


Luna tersentak kaget dan langsung berbalik badan.


Joshua tersenyum dan mendaratkan kecupan di kening Luna sambil berkata di sana, "Aku sangat merindukanmu, Sayang"


Luna hanya tersenyum dalam diam menanggapi sikap dan ucapan mesra dari Joshua.


Di saat Joshua nekat mencubit dagu Luna untuk bisa mencium bibir wanita manis yang sangat ia dambakan itu, asisten pribadinya masuk dan Bram langsung berkata, "Maaf, Tuan. Pintunya terbuka dan saya langsung masuk begitu saja"


Luna melangkah mundur dan berbalik badan untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Joshua menatap Bram dengan helaan napas panjang lalu bertanya, "Ada apa?"


"Ada peraturan baru dari CEO dan ini ada surat penugasan baru untuk Nona Luna, Tuan"


Joshua menganggukkan kepala dan memerintahkan Bram untuk pergis sambil berkata, "Jangan lupa tutup pintunya!"


"Baik, Tuan"


Seketika kening Joshua berkerut dan Luna tergelitik untuk bertanya, "Ada apa, Mas?"


"Aku naik ke lantai atas dulu untuk menemui Papa" Sahut Joshua sembari melangkah lebar meninggalkan Luna. Joshua ingin segera menemui papanya saat ia menerima surat pindah tugasnya Luna Aditya dan soa peraturan baru aneh yang dibuat secara dadakan.


"Pa?! Apa maksud surat Papa ini, hah?!" Joshua melempar surat keputusan Papanya atas Luna Aditya di meja kerja papanya. "Dan kenapa ada peraturan baru secara dadakan? Dilarang berpacaran dengan teman kerja? Apa maksud Papa di balik semua ini, hah?!"


"Itu keputusanku selaku CEO dan sudah aku pikirkan masak-masak. Tidak bisa diganggu gugat, titik"


"Tapi, kenapa?"


"Ini semua untuk kebaikan kamu dan Luna"


"Cih! Ini hanya alasan Papa saja, kan? Papa nggak menyetujui hubunganku dengan Luna. Jadi, Papa menjauhkan aku dari Luna"


"Papa tidak pernah melarang kamu berhubungan dengan wanita mana pun. Asalkan wanita itu berstatus single, bukan istri orang lain, dan bukan mantan narapidana"


"Lalu, kenapa Papa melakukan ini semua?"


"Luna masih berebut hak asuh atas anaknya. Kalau kamu berada di dekat dia, kamu dan Luna akan mendapatkan cibiran dari banyak orang karena lama kelamaan semua orang akan tahu siapa Luna"


"Aku tidak peduli"


"Kamu tidak peduli, boleh-boleh saja. Itu hak kamu. Tapi, bagaimana dengan Luna? Dia wanita. Kalau sampai ia dapat cibiran, dia akan terpuruk, Jo"


"Apa bedanya kalau dia dekat dengan Jarvish? Dia juga akan dapat cibiran"


"Beda. Kalau Luna dapat.cibiran terkait dengan Jarvish, dampaknya tidak akan terlalu buruk. Karena, Luna dan Jarvish pernah punya hubungan. Mereka bisa mencari berbagai macam alasan. Kalau dengan kamu, Luna akan semakin malu dan terpuruk. Kamu bukan Papa dari anaknya dan kamu masih perjaka. Status kalian beda. Papa lakukan hanya demi melindungi Luna"


Joshua langsung diam membisu di saat ia menangkap bahwa semua yang dikatakan oleh papanya adalah benar. Kemudian tanpa pamit dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Joshua berbalik badan dan pergi dari ruang kerja papanya.


Papanya Joshua menatap punggung anaknya sambil bergumam lirih, "Semoga dengan begini, kamu pun jadi lebih sering bertemu dengan Jarvish dan kalian bisa rukun kembali, amin"


Pria tampan berkacamata dan berambut abu-abu itu, kembali masuk ke ruang kerjanya dan langsung memeluk Luna dengan penuh perasaan.


"Mulai besok,.kamu sudah tidak ada.di sini lagi. Kamu besok dipindah tugaskan ke hotelnya Jarvish"


Luna terkejut dan refleks mendorong dada Joshua untuk melemparkan protes, "Kenapa begitu? Kenapa mendadak begini? Bagaimana kalau aku menolaknya? Aku tidak mau berada di dekat pria brengsek itu, Mas" Kedua mata Luna mulai berkaca-kaca.


Joshua kembali memeluk Luna dan sambil menepuk-nepuk punggung wanita berwajah manis itu, pewaris grup Benjamin itu berkata, "Aku akan mengantarmu besok. Aku juga akan sering-sering ke sana pas jam makan siang untuk menengok kamu.Semua demi kebaikan kita. Aku menyetujui hal ini karena aku memikirkan kebaikan kamu"


Luna tidak menyahut dan hanya bisa sesenggukkan di dalam pelukan hangat pria pahlawannya.


Sementara itu, Jarvish memulangkan Dave ke rumahnya dan berkata ke BI Nina, "Bi, tolong jaga Dave. Aku ada urusan penting dan nggak bisa ajak Dave"


"Baik, Tuan" Sahut Bi Nina. Lalu asisten rumah tangga yang baik hati dan lembut itu menggandeng Dave masuk ke dalam rumah.


Jarvish kembali masuk ke dalam mobil dan menoleh ke Surya, "Kau yakin kalau Laura.dan model pria itu ada di hotelnya Laura di kamar VVIP nomer 807?"


"Iya, Tuan. Tapi, bukankah Anda berniat membiarkan pengkhianatannya Nona Laura itu mengingat Nona Laura adalah teman masa kecil Anda, Tuan dan Anda berhutang budi sama Nona Laura"


"Aku sudah cukup membalas budi aku rasa. Dia sudah mengajakku berciuman sebanyak seratus dua puluh lima kali dan aku juga sudah menghadiahinya mobil juga seperangkat perhiasan berlian"


"Ma...maaf, Tuan. Tapi, kenapa Anda menghitung berapa banyak Nona Laura mengajak Anda berciuman?"


"Karena bibirku ini berharga. Sekali aku ngomong bisa menghasilkan milyaran rupiah, kan? Jadi, aku perlu menghitung dengan baik berapa banyak Laura sudah mencium bibir berhargaku ini"


"Ah, iya, baiklah, Tuan" Sahut Surya dengan senyum canggung dan gumaman di hati, Tuan Jarvish memang aneh dari dulu, kan? Kenapa aku heran saat ini? Kalau aku heran, aku ikutan aneh, dong"


"Kenapa semua wanita di sekitarku semuanya pengkhianat. Pertama.adalah Mamaku, lalu almarhum Istriku, dan sekarang Laura. Takdir menggelikan apa ini? Apa aku hanya pantas untuk dikhianati? Kurang tampan dan keren apa coba aku? Lihatlah Surya dan berkomentar lah! Kenapa aku dikhianati?"


Surya menoleh sekilas.ke Jarvish karena dia masih harus fokus mengemudi di tengah padatnya jalan raya saat ini dan asisten pribadinya Jarvish itu menjawab, "Bukan Anda yang kurang tampan dan keren, Tuan. Tapi, mereka yang kurang bersyukur telah memiliki Anda"


"Ah! Aku suka sama jawaban kamu. Aku langsung transfer sepuluh juta ke rekening kamu karena jawaban kamu keren" Sahut Jarvish sembari menggerakkan ibu jarinya di atas layar telepon genggam super mahalnya.


Surya sontak semringah dan berkata dengan antusias, "Terima kasih banyak, Tuan..Yang itu akan saya simpan untuk modal kawin saya nanti, Tuan. Terima kasih banyak"


"Berterima kasih juga sama otak kamu yang encer itu" Sahut Jarvish dengan wajah dan nada dingin.


"Ah, Baik, Tuan! Terima kasih juga otakku yang encer" Surya mengelus kepalanya sendiri dengan menggunakan tangan kiri sambil tersenyum aneh.


"Sebenarnya ini momen yang tepat, Sur" Ucap Jarvish kemudian.


"Kenapa tepat, Tuan? Anda menemukan kekasih Anda berkhianat, tetapi Anda justru berkata tepat?"


"Luna besok mulai bekerja di hotelku. Aku ingin belajar mengenal cinta dengan wanita lugu dan naif itu. Untuk itulah aku akan memutuskan Laura tepat di saat aku punya alasan kuat untuk memutuskan wanita pengkhianat itu. Aku rasa hanya Luna yang tidak akan mampu berkhianat pada siapa pun. Dia terlalu baik dan naif. Buktinya dia setia sama Joshua"


Surya langsung tersedak air liurnya saking kagetnya mendengar ucapan tuannya. Lalu, asistennya Jarvish itu memberanikan diri untuk bertanya, "Jadi, Tuan akan mendekati Nona Luna dan merebutnya dari Tuan Joshua?"


"Sejak kecil aku sudah suka berebut dengan Joshua"


Surya hanya bisa menghela napas panjang.