
Lastri menelepon Joshua, "Tuan, Nyonya Luna baru saja pingsan dan tuan muda dijemput sama Papa kandungnya"
"Apa?!" Joshua sontak bangkit berdiri dan meninggalkan rapat yang tengah ia pimpin begitu saja. Sambil berlari menuju ke lift khusus CEO, pria tampan berkacamata dan berambut abu-abu itu berkata di telepon genggam yang masih menempel di telinganya, "Sekarang Luna sama kamu, kan?"
"Iya, Tuan. Nyonya masih syok saat ini. Nyonya diam saja dan pandangannya kosong"
"Bawa Luna kembali ke apartemennya dulu. Aku akan coba mencari tahu di mana Dave berada"
"Baik, Tuan"
Jarvish membalik tutup kotak itu untuk membaca lebih detail tulisan di atas tutup kotak itu, "Memories Of Love" Lalu, Jarvish meletakkan tutup kotak itu di samping badannya dan Dave langsung memungutnya sambil berkata, "Jangan sampai tutup ini diduduki Papa tanpa.sengaja. Kalau tutup ini penyok, Mama bisa sedih dan Dave nggak suka melihat Mama sedih" Dave lalu memeluk tutup kotak itu seperti seekor induk burung tengah melindungi anaknya.
"Hanya sebuah tutup kotak saja kamu melindunginya dengan segenap hati begitu?" Jarvish langsung menautkan kedua alisnya.
"Karena Dave nggak suka melihat Mama sedih"
Jarvish kemudian mengambil gambar dirinya yang ada di potongan yang diambil dari sebuah majalah tempo dulu. Potongan kertas berwarna cokelat yang ada gambar dirinya itu dilaminating. Pria tampan itu membaca tulisan yang diberitakan oleh majalah tersebut, "Jarvish Benjamin membantu menyelamatkan mahasiswa setelah terjadi gempa. Beruntung tidak ada korban jiwa"
Lalu, CEO pemilik hotel The Rain itu mengangkat kertas cokelat berlaminating itu dan melihat kertas cokelat lagi yang juga dilaminating. Potongan kertas berlaminating yang kedua itu diambil dari sebuah surat kabar. Jarvish membaca tulisan yang ada di bawah gambar dirinya, "Jarvish Benjamin mengembangkan bisnis perhotelannya dan membuka resort mewah di Bali"
Lalu, Jarvish mengangkat kertas berwarna cokelat berlaminating yang kedua itu dan ia menemukan sebuah buku. Pria tampan yang sudah berumur tiga puluh empat tahun itu, meletakkan dua kertas berwarna cokelat berlaminating di dalam kotak kemudian ia membuka buku kecil itu. "Memories Of Love. Diary kecilku, aku bertemu seorang pria yang sangat tampan. Dia menyelamatkanku saat terjadi gempa dan memberiku plester luka ini" Jarvish mengelus plester luka yang menempel di halaman pertama buku kecil itu dengan ibu jarinya. Lalu, ia melanjutkan membaca, "Aku langsung menyukainya, Diary. Nama pria itu adalah Jarvish Benjamin"
Cih! Dia seorang penguntit ternyata. Aku sudah menduganya. Dia menyukaiku sejak lama dan setelah itu dia menguntitku dan mendekatiku hanya untuk uang. Batin Jarvish sembari membuka-buka asal halaman demi halaman di buku kecil itu hingga ia tertegun saat ia menemukan ada foto USG dan ia refleks membaca tulisan. di bawah foto USG itu, "Ini foto anakku. Dia imut sekali,kan?"
"Itu fotoku pas aku masih berada di dalam perut Mama, Pa. Aku masih sebuah titik kecil dan Mama bilang aku imut, hehehehehe" Dave tersenyum lucu dan Jarvish langsung mengusap lembut puncak kepalanya Dave sambil berkata, "Iya. Kamu imut sekali ini, hehehehehe"
Lalu, pria tampan itu membuka lagi halaman buku kecil itu dan dia kembali tertegun saat ia menemukan empat potongan lembaran cek kosong menempel di halaman tengah buku kecil itu. Jarvish membaca di dalam hati tulisan di bawah potongan-potongan lembaran cek kosong itu, Jarvish memberikan cek kosong ini padaku dan aku langsung merobeknya. Dia ternyata pria brengsek dan kejam. Aku menyesal pernah menyukainya. Kata-kata di bawah empat potongan kertas lembaran cek kosong itu sedikit mengiris hati Jarvish.
Jarvish langsung memasukkan buku kecil itu ke dalam kotak dengan kasar. Lalu, ia menatap Dave untuk meminta tutup kotak itu dan setelah menutup kotak itu, ia menyerahkan kotak itu ke Dave, "Kembalikan lagi ke tempatnya dan jangan bilang ke Mama kamu kalau Papa sudah melihat semua isi kotak itu"
"Baik, Pa" Sahut Dave.
Saat Dave masuk ke dalam kamar, Jarvish bergumam lirih, "Wanita itu ternyata merobek cek kosong yang aku berikan. Ah! Tapi, itu pasti hanya akal-akalannya saja untuk bisa meminta uang yang lebih besar lagi secara langsung padaku, cih! Dia hanya seorang penguntit. Seorang wanita yang terobsesi padaku, cih! Dasar menjijikkan"
Setelah Dave muncul kembali di depannya, Jarvish langsung mengangkat tubuh Dave dan memangkunya untuk bertanya, "Ayo! Kita pergi dari sini, Dave"
"Ke mana?" Dave langsung merosot turun dari pangkuan papanya saat papanya hendak bangkit berdiri dan menggendongnya.
"Kembali ke rumah Papa dan tinggal selamanya di rumah Papa"
"Sama Mama?"
Jarvish menarik pelan kedua tangan mungilnya Dave, lalu pria tampan itu berkata, "Nggak. Hanya kita berdua. Mau?" Jarvish mencium pipi anaknya dengan penuh kasih sayang.
Dave langsung menarik kedua tangannya lepas dari genggaman papa tampannya dan tanpa ia sadari, ia terus melangkah mundur ke arah pintu masuk apartemen sambil berkata, "Dave nggak mau sama Papa berdua saja. Dave nggak mau pisah sama Mama"
Jarvish terkejut mendengar pernyataannya Dave. Lalu, pria tampan itu berkata, "Dave ingin bertemu dengan Papa selama ini, kan?"
Dave sontak menghentikan langkah mundurnya dan untuk berkata, "Iya. Dave ingin seperti Mia teman sebangku Dave yang setiap sore diajak jalan-jalan sama Papanya bermain ke taman bermain dan setiap Minggu diajak Papanya berenang"
"Papa akan lakukan semua itu. Kamu harus ikut Papa sekarang juga ke rumah Papa dan Papa akan lakukan semua itu. Papa akan ajak kamu bermain di taman bermain yang paling bagus dan mengajak kamu berenang setiap Minggu"
"Sama Mama?"
Dave langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata, "Lebih baik Dave bersama Mama. Tidak usah diajak ke taman bermain dan berenang tidak apa-apa. Asalkan bersama Mama, Dave sudah bahagia, Pa"
"Dave merindukan Papa, kan, selama ini?"
Dave yang masih mematung di depan Jarvish langsung menganggukkan kepala dengan cepat sambil berkata, "Iya. Dave sangat merindukan Papa selama ini"
"Kalau gitu, ayo sini masuk ke dalam gendongan Papa dan kita pulang ke rumah Papa"
Anak kecil tampan itu langsung menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Nggak mau. Kalau mau pergi harus sama Mama. Dave mau nunggu Mama pulang dulu"
"Dave tidak sayang sama Papa?"
"Sayang"
"Tapi, kenapa Mama terus yang Dave sebut dan Dave nggak mau ikut sama Papa. Dave juga nggak mau hidup berdua saja sama Papa. Itu berarti Dave tidak sayang sama Papa"
Dave mematung dan membisu. Anak kecil tampan itu hanya bisa mengerjapkan kedua kelopak matanya beberapa kali sampai terdengarlah bunyi, ceklek!
Dave sontak menoleh ke belakang.
Luna sontak berteriak dengan wajah semringah dan derai air mata penuh syukur, "Dave! Kamu di sini ternyata, Nak! Syukurlah!"
Dave langsung berputar badan untuk berlari masuk ke dalam pelukan hangat mamanya dan berteriak dengan wajah semringah, "Mama!"
Jarvish sontak mengepalkan kedua tangannya di samping badan.
Lastri langsung menelepon Joshua.
Luna langsung menggendong Dave dengan erat dan mendaratkan banyak ciuman di wajah tampan putra tunggalnya itu.
Jarvish mematung di depan Luna dengan sorot mata dingin dan penuh dengan kebencian.
Luna sontak memberikan Dave ke Lastri sambil berkata, "Bawa Dave ke tempat yang aman"
"Baik, Nyonya"
"Hei! Mau kau bawa ke mana Putraku? Dave!" Saat Jarvish melangkah lebar hendak menyusul wanita yang membawa pergi Dave, Luna langsung menghalangi langkah Jarvish sambil berkata, "Aku tidak akan biarkan kamu mengambil Dave tanpa ijin dariku lagi! Jauhi Dave! Jauhi kami!"
Jarvish melangkah mundur satu langkah kemudian menatap Luna dengan seringai mengejek. Lalu, pria tampan itu berkata, "Kau pikir aku akan berdiam diri saja setelah tahu kalau Dave adalah anak kandungku"
"Kami selama ini hidup tenang dan bahagia tanpa adanya kamu. Jadi, jauhi kami dan jangan pernah muncul lagi di depan kami!" Luna melotot ke Jarvish.
"Aku tidak akan tinggal diam. Kalau Dave tidak mau ikut denganku dengan rela hati, maka aku akan menempuh jalur hukum. Kita lihat saja siapa yang akan menang nanti. Siapa yang akan mendapatkan hak asuhnya Dave" Jarvish kembali menyeringai.
Luna sontak panik mendengar kata jalur hukum dan langsung berkata, "Kenapa harus ke jalur hukum? Aku mohon jangan bawa soal ini ke jalur hukum. Tolong jauhi saja kami dan........"
Jarvish berjalan melintasi Luna sembari berkata, "Sampai jumpa di meja hijau"
Luna sontak mematung di tempat ia berdiri.