
Saat kaki kanan Jarvish masuk ke dalam mobil, lengan kirinya ditarik oleh wanita cantik bernama Ana.
"Jarvish! Jangan pergi! Aku masih ingin berbicara denganmu. Kita sudah lama nggak bertemu"
Jarvish menarik lengannya dan berteriak ke Surya "Sur! Jauhkan wanita tidak tahu malu ini dariku!"
Surya langsung memegang tangan wanita yang bernama Ana itu sambil berkata, "Maaf" Lalu menarik wanita itu menjauh dari Jarvish untuk berkata, "Jangan ganggu Tuan Jarvish, Nona. Tuan Jarvish sedang banyak urusan saat ini"
Surya kemudian membungkukkan badan lalu pergi meninggalkan wanita itu untuk masuk ke dalam mobil.
"Ma, Mama sakit apa?" Tanya Dave sambil mengelus pelan kening mamanya.
"Mama cuma kecapekan Sayang" Luna mengusap lembut pipi Dave.
"Kalau gitu Mama harus bobok. Dave ceritakan sebuah dongeng, ya?!"
Luna tersenyum bahagia dan sambil mengelus pipi putra tunggal kesayangannya Luna berkata, "Oke. Mama pengen dengar cerita Cinderella, Dave bisa?"
"Bisa, dong" Dave langsung bercerita sambil terus mengelus kening mamanya sampai mama tersayangnya tertidur lelap.
Baru beberapa meter Surya menjalankan mobil, asisten tampan itu mengerem dadakan sampai Jarvish menoleh tajam dan menyemburkan, "Kenapa kau mengerem dadakan? Kau mau mari, ya?!"
"Lihatlah di depan, Tuan. Wanita itu nekat menghadang mobil kita"
"Sial! Kau benar. Dia mau mati atau apa, sih? Kenapa nekat banget seperti itu"
"Jarvish Keluarlah! Aku ingin bicara denganmu! Beginilah cara kamu memperlakukan teman kamu, Jarvish?!"
"Sur! Mundur dan lewat jalan belakang saja" Ucap Jarvish sambil melihat ke belakang.
"Baik, Tuan"
Surya langsung menarik kopling ke tanda E dan tancap gas. kemudian berputar balik dengan cepat untuk keluar dari restoran tersebut lewat jalan belakang.
Wanita yang bernama Ana langsung ternganga kaget dan menghentakkan kakinya dengan sangat kesal. Lalu, bergumam dengan mengepalkan kedua tangannya, "Lihat saja nanti! Kau tidak akan bisa lepas dari jerat cintaku Jarvish Benjamin"
Jarvish menelepon mamanya, "Ma, Mama mau bikin lelucon macam apa, hah?!"
"Lelucon apa?!" Mamanya Jarvish pura-pura tidak tahu.
"Mama memintaku ke restoran Delima, tapi Mama nggak ada"
"Mama tadi ada urusan mendadak dan meminta Ana untuk menunggu kamu menggantikan Mama. Kamu pasti tengah makan siang bareng Ana, kan?"
Jarvish menggeram kesal lalu memutuskan sambungan telepon itu begitu saja.
"Jarvish! Dasar anak kurang ajar. Dia malah menutup telponnya. Dia udah ketemu sama Ana belum, ya?" Mamanya Jarvish mengernyit di depan layar telepon genggam mahalnya.
Mamanya Jarvish kemudian menelepon Ana untuk menjawab rasa ingin tahunya, "Halo, Ana? Kamu bersama dengan Jarvish, kan sekarang ini? Gimana? Kamu senang?"
Ana memasang sabuk pengamannya, lalu berkata, "Saya bertemu dengan Jarvish. Tapi, Jarvish langsung pergi dan meninggalkan saya begitu saja, Tante. Kami belum mengobrol dengan santai apalagi makan siang bareng"
"Apa?!" Mamanya Jarvish bangkit berdiri dengan kaget dan kembali berkata, "Maafkan Tante kalau Jarvish kurang sopan sama Kamu. Tante akan didik anak kurang aja itu dan ......."
"Nggak perlu, Tante. Saya akan cari cara sendiri untuk mendekati Jarvish. Karena sepertinya Jarvish tidak ingin Tante mengatur pertemuan antara aku dan Jarvish. Dia pasti malu" Sahut Ana.
"Ah! Anak itu emang sulit ditebak isi kepalanya. Baiklah kalau kamu ingin cari cara sendiri. Tapi, kalau kamu butuh bantuan kamu langsung bilang, ya"
"Baik, Tante. Tolong kirimkan saja alamat rumahnya Jarvish Benjamin via pesan text, Tante" Sahut Ana.
"Baiklah. Tante akan kirimkan alamat rumahnya Jarvish setelah Tante tutup panggilan telepon ini" Sahut Mamanya Jarvish dengan suara riang dan bersemangat.
"Terima kasih, Tante"
"Sama-sama"
"Kamu lapar Sur?"
"Iya, Tuan. Kita belum sempat makan"
"Kita mampir ke restoran di depan sebentar. Aku juga lapar"
"Baik, Tuan"
Lima belas menit kemudian, dua pria tampan itu kemudian duduk berhadapan di dalam restoran yang cukup besar.
"Luna memang luar biasa. Dia tidak hanya baik hati, lembut, tapi juga cerdas"
"Anda beruntung bisa bertemu dengan Nyonya muda, Tuan"
"Hmm" Ucap Jarvish sambil memencet layar ponselnya.
Wajah Dave yang nampak di layar telepon genggamnya, "Lho, Mama mana?"
"Mama masih tidur, Pa"
"Kamu nggak tidur?"
"Dave, kan, harus menjaga Mama. Jadi, Dave nggak boleh tidur"
Jarvish tersenyum lebar dan berkata, "Wah! Anak Papa udah gede ternyata. Sudah bisa diandalkan untuk menjaga mamanya"
"Iya, dong" Sahut Dave dengan senyum bangga.
"Papa sedang makan sup iga sapi dan iga sapi bakar. Kamu mau?"
"Mau. Mama suka banget sip iga sapi, Pa. Mama pernah dikasih sama tetangga dan bilang kalau Mama suka sup iga sapi. Tapi, Mama tidak pernah memasaknya sendiri karena bahannya mahal" Sahut Dave.
Jarvish tersenyum dan dengan terharu dia berkata, "Kasihan Mama kamu, ya. Suka sup iga sapi, tapi nggak pernah bisa memasaknya sendiri. Papa akan bungkusan untuk Mama kamu dan kamu kalau gitu"
"Hmm"
"Kalau iya sapi bakar, mau?"
"Dave belum pernah makan iga sapi bakar. Tapi, Dave mau mencicipinya"
"Oke, Papa akan bungkusan juga iga sapi bakar untuk kamu dan Mama kamu. Papa tutup dulu telponnya. Mmuaaah. Pala sayang sama Dave"
"Mmuuuahh. Dave juga sayang sama Papa"
Surya tersenyum lebar melihat kepedulian Jarvish ke Luna dan Dave.
Setelah makan siang dan membawa pulang makanan pesanannya, Jarvish masuk ke dalam mobil dan berkata setelah meletakkan paper bag berisi sup iga sapi da iya sapi bakar di jok belakang, "Kita kantor. Aku sudah sangat penasaran dengan isi rekaman CCTV dari ruang kerjanya Luna kemarin. Apa yang sudah membuat Luna menangis dan jatuh pingsan"
"Siap, Tuan" Sahut Jarvish.
Joshua melamun di ruangannya. Dia sangat merindukan Luna. Sekretaris pribadinya yang baru yang tak kalah cantik dari Luna bahkan lebih cantik dari Luna tak mampu menghapus bayangan wajah manisnya Luna di benaknya. Joshua sungguh-sungguh menyesali kebodohannya tidak memercayai Luna saat itu dan dengan tanpa berpikir panjang dia memutuskan Luna.
"Aku memang bodoh! Bodoh sekali!" Joshua menepuk keningnya beberapa kali dan pria tampan berkacamata itu menutup wajahnya saat air mata turun di pipinya dan pria tampan berkacamata itu kemudian menangis sesenggukan di atas meja.
Jarvish meradang melihat rekaman CCTV dari ruang kerjanya Luna. Pria tampan itu mengepalkan kedua tinjunya dan menggertakkan gerahamnya saat ia melihat Joshua nekat mencium Luna dan hampir memperkosa Luna.
Lalu, ia.menoleh tajam ke karyawan yang sangat ia percayai setelah Surya, "Kau tidak sebarkan rekaman ini ke siapa pun, kan?"
"Tidak, Tuan"
"Bagus. Kirimkan ke ponselku dan hapus rekaman itu"
"Baik, Tuan"
Jarvish lalu bangkit berdiri dan berkata ke Surya, "Kita temui Joshua, Sur!"
"Tapi, Tuan........."
"Kalau kamu tidak mau menemaniku, aku akan pergi sendiri"
"Bukan begitu" Sahut Surya sembari berlari kecil mengikuti langkah lebar tuannya.
Jarvish terus melangkah lebar dengan wajah meradang penuh amarah.
"Tuan, kalau Anda menemui Tuan Joshua dan membuat keributan di sana, itu akan merugikan Anda dan Nyonya besar. Bagiamana kalau ........"
Jarvish terus melangkah lebar dan berteriak, "Sia! Aku tidak peduli apa pun juga karena saat ini, aku hanya ingin menghajar Joshua Benjamin"
Surya menahan lengan Jarvish dan CEO muda itu langsung menoleh tajam ke Surya, "Kalau Luna tidak tangguh dan berani melawan Joshua, aku tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang akan Luna hadapi. Kau lihat di rekaman CCTV tadi, kan?"
"Iya, Tuan. Tapi, jangan bikin keributan di kantornya Tuan Joshua. Itu bisa merugikan Anda sendiri Tuan"
Jarvish menarik lengannya, kembali melangkah lebar dan berkata, "Aku tidak peduli"