Memories Of Love

Memories Of Love
Peraturan Baru



Jarvish lalu menarik Luna untuk ia peluk dan ia mencium kening Luna cukup lama dan berkata di sana, "Aku akan keluar kota hari ini juga. Kamu dan Dave baik-baik di rumah. Aku akan pulang menemui kamu lusa Nyonya Jarvish Benjamin. Aku nitip buku nikah kita. Simpan baik-baik Pak Temon yang akan mengantar jemput kamu dan Dave ke mana pun kalian pergi selama aku nggak ada"


Luna hanya bisa menjawab, "Iya" Dengan tubuh kaku.


Jarvish lalu mengusap rambut indahnya Luna dan dengan berat hati dia berbalik badan secara perlahan lalu menatap Surya untuk berkata, "Ayo kita pergi dan minta anak buah kita untuk menjaga anak dan istriku dengan baik" Sambil melangkah tegap keluar dari kantor pencatatan sipil.


Luna menatap punggung Jarvish lalu menunduk untuk menatap dua buku nikah yang dia pegang.


Saat ada suara, "Mari kita ke kantor sekarang juga, Nyonya" Kedua bahu Luna terangkat ke atas dan wanita itu langsung menoleh ke asal suara. Kemudian Luna tersenyum lega dan berkata, "Ayo, Pak Temon"


Sesampainya di kantor, Luna langsung disambut oleh direktur kepercayaannya Jarvish, "Tuan Jarvish meminta saya mengantarkan Anda ke ruang kerja Anda yang baru, Nona Luna Aditya. Mari ikut saya"


"Baik, Terima kasih" Sahut Luna.


Luna terkesima dengan ruang kerjanya. Cukup besar, yeah, walaupun tidak sebesar ruangannya Jarvish Benjamin, tetapi ruangan itu benar-benar sesuai dengan selera Luna.


"Ini ruang kerja Anda. Dan di depan ini adalah lima karyawati yang dipilih langsung oleh Tuan Surya untuk membantu Anda"


"Selamat pagi, Manajer F and B" Sahut kelima karyawati itu secara bersamaan.


"Ma....manajer?" Luna menoleh ke direktur yang masih berdiri di sampingnya.


"Iya. Mulai hari ini, Anda adalah manajer F and B yang baru. Karena menu Anda laris manis dan mendapatkan sambutan yang luar biasa dari customer kami. Ini bentuk terima kasih dari CEO kami, Tuan Jarvish Benjamin untuk Anda, Nona"


"Terima kasih" Sahut Luna.


"Sama-sama" Saya permisi dulu, Nona.


"Silakan" Sahut Luna dengan senyum ramahnya dan saat Luna mengulurkan tangannya untuk bersikap sopan, direktur tersebut hanya menundukkan kepala dan tersenyum sambil berkata, "Maaf, saya permisi dulu, Nona"


Luna menarik kembali tangannya dan menatap punggung direktur itu dengan wajah penuh tanda tanya. Kenapa dia sepertinya takut menyambut uluran tanganku Apa aku ini kuman? Tanganku padahal bersih dan wangi, lho.


Kapan dia menyiapkan ini semua ini? Dasar pria aneh yang sulit ditebak. Luna terkekeh geli sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Saat Luna duduk di kursi kerjanya, dia dikejutkan dengan bunyi dering telepon genggamnya. Wanita itu langsung mengangkatnya saat di layar telepon genggamnya tertera nama pria aneh, "Halo?"


"Apa kamu suka?" Tanya Jarvish langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Apanya?" Luna pura-pura sambil mengulum bibir menahan senyum.


"Semuanya. Ciumanku......."


"Ish! Pagi-pagi kenapa ngebahas cium-cium" Luna langsung memotong ucapannya Jarvish dan wajahnya langsung memerah.


"Hahahaha. Wajah kamu pasti memerah saat ini" Sahut Jarvish.


"Ish! Hentikan Jarvish! Kalau nggak, aku akan tutup telponnya" Luna mendengus kesal dengan wajah yang semakin memerah.


Jarvish kembali terbahak-bahak lalu segera berucap di sela tawa renyahnya, "Oke, oke. Maafkan aku. Apa kamu suka dengan ruang kerja kamu yang baru?"


"Suka. Terima kasih. Kok, kamu tahu kalau aku suka warna hijau?"


"Aku perhatikan baju-baju yang kamu pakai. Kamu sering memakai warna hijau"


"Oh" Sahut Luna senyum lebar. Jujur dia merasa senang mendengar ucapannya Jarvish. Pria itu ternyata memerhatikannya sejak lama. Bahkan baju yang ia pakai sehari-hari pun tidak luput dari perhatian pria tampan itu.


"Cuma, oh?"


"Lalu?"


Uhuk-uhuk, Uhuk-uhuk! Surya sontak tersedak air liurnya sendiri dan Jarvish langsung menusuk Surya dengan tatapan tajamnya.


Surya meringis ke tuannya dan berkata lirih, "Maaf, Tuan"


"A.....aku nggak bisa"


"Kenapa nggak bisa? Cuma bilang mmuuahh, kok, nggak bisa"


"I.....ini ada chef Steven ada di depanku sekarang ini. Aku tutup telponnya" Klik! Luna langsung menutup telepon genggamnya dan meletakkan begitu saja di atas meja. Lalu, ia bergegas menatap Chef Steven dan sambil tersenyum canggung, Luna bertanya, "Ada apa, Chef?"


"Ini hasil survey menu baru yang Anda berikan kemarin, Nona dan boom! Menu Anda mendapat sambutan yang luar biasa dari customer. Selamat!"


"Terima kasih atas kerja samanya, Chef" Sahut Luna dan Chef Steven hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum canggung saat Luna mengulurkan tangannya.


Luna menarik kembali tangannya dan ikutan mengulas senyum canggung.


Chef Steven langsung menegakkan kembali kepalanya dan berkata, "Maaf, bukannya saya merendahkan Anda, Nona. Tapi, saya dilarang menyambut ukuran tangan Anda. Bahkan semua karyawan pria di sini dilarang menyambut uluran tangan Anda"


"Siapa yang melarangnya?"


"Tuan Jarvish Benjamin. Tadi jam Sembilan tepat, aturan baru dikeluarkan di grup karyawan. Tulisan di peraturan itu, Semua karyawan pria dilarang menyambut uluran tangannya Luna Aditya! Kalau melanggar akan dipotong lima belas persen gajinya"


Terjawab sudah pertanyaan Luna kenapa direktur yang tadi menyambutnya tampak ketakutan menyambut uluran tangannya Luna.


"Hah?!" Luna hanya bisa ternganga.


"Ini laporan pemasukan hari ini dan Anda ditunggu di dapur untuk memberikan menu baru, Nona dan jangan bilang ke Tuan Jarvish kalau saya sudah memberitahu Anda soa peraturan baru itu, Nona"


"Iya. Saya tidak akan beritahu Tuan Jarvish. Ayo kita lupakan soal Tuan Jarvish yang aneh itu. Ayo kita mulai bekerja"


"Siap Nona"


Sementara itu, Jarvish bersin-bersin dan langsung bergumam, "Luna pasti tengah merindukan aku saat ini"


"Kok, Anda bisa tahu?" Sahut Surya.


"Aku bersin barusan. Kata orang, kalau kita bersin, itu berarti ada orang yang merindukan kita"


"Itu bukan bersin, Tuan. Kalau buku mata kita jatuh baru itu berarti ada orang yang merindukan kita. Kalau bersin itu berarti ada yang yang membicarakan kejelekan kita di belakang" Sahut Surya.


"Sok tahu kamu. Jadi, orang, tuh, jangan sok tahu! Aku yang merasakan,kok, kamu yang sewot"


Siapa yang sewot coba?! Aku mengatakan hal yang benar, kok, malah dikatakan ngawur. Huuffttt! Sabar Surya, sabar! Batin Surya.


Jarvish kemudian menghela napas panjang dan berkata, "Kenapa di dalam pertama pernikahan, aku harus pergi berdinas ke luar kota"


Lha salah sendiri kenapa Anda minta menikahnya hari ini. Dasar aneh. Tentu saja Surya hanya berani mengucapkan kata itu di dalam hatinya.


"Aku sangat merindukan Luna, Sur. Apa kita putar balik aja, ya. Nggak usah kerja. Bodo amat dengan kerjaan. Harusnya, kan, aku cuti. Ini hari pertama pernikahanku"


Eits, mulai ngadi-ngadi lagi, nih Bos. Batin Surya.


Surya segera berkata, "Tuan, kalau Anda tidak merampungkan proyek ini, nama baik Anda akan tercemar. Apa Anda mau kehilangan bisnis yang sudah Anda dengan susah payah lenyap begitu saja dalam sehari? Ingat, Tuan! Anda sudah punya anak dan Istri sekarang. Anda butuh banyak uang untuk menghidupi keluarga kecil Anda"


Jarvish langsung menyandarkan kepalanya di jok mobil dan menghela napas panjang lalu berkata dengan nada lemas, "Oke. Nggak usah puter balik"


Surya langsung tersenyum lebar dan berkata, "Siap, Tuan"