Memories Of Love

Memories Of Love
Ternganga



Dua Minggu setelah peristiwa itu, Jarvish semakin menjadi-jadi di dalam permainannya menjatuhkan martabat seorang wanita. Dia cukup sering berganti-ganti wanita karena dia tidak mau tidur dengan wanita yang sama. Dia tidak peduli sudah berapa banyak hati wanita yang telah ia hancurkan.


Sementara itu, Luna yang masih bekerja, terus bolak-balik ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana. Joshua langsung berkata, "Aku antarkan kamu periksa ke rumah sakit, ya?"


Luna langsung menggelengkan kepalanya dan berkata, "Saya cuma masuk angin, Tuan. Istrirahat sebentar juga sembuh.


Mendengar jawabannya Luna, Joshua langsung mengantarkan Luna pulang dan berkata, "Kamu istirahat saja di rumah. Besok kalau masih belum enak badan, kamu nggak usah masuk kerja"


"Baiklah, Tuan. Terima kasih banyak"


"Hmm" Joshua kembali meletakkan telapak tangannya di atas kepala Luna dan berkata, "Istrirahat yang benar biar bisa cepat sembuh"


Luna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Sepeninggalnya Joshua, Luna langsung berlari keluar dan masuk ke dalam taksi online pesanannya yang sudah nongol dengan cepat di depan rumah papanya.


"Ke rumah sakit Kasih Bunda, ya, Mbak?"


"Iya, Pak".Sahut Luna.


Dua puluh lima.menit kemudian, Luna turun dari taksi online dan langsung bergegas masuk ke rumah sakit tersebut.


Luna segera mendaftar dan mendapatkan antrean nomer lima. Luna menunggu namanya di panggil sembari mengambil majalah untuk ia baca. Di saat halaman majalah itu menampakkan wajah Jarvish Benjamin sebagai tokoh teladan karena dipandang tampan dan sukses di usia muda oleh majalah tersebut, perasaan Luna menjadi campur aduk.


Di majalah itu diberitakan selain sukses berkarir dan menjadi CEO di usia muda,.Jarvish Benjamin juga diberitakan sering berganti-ganti wanita. Rumor yang beredar Jarvish Benjamin adalah seorang playboy. Luna langsung menutup majalah itu dan mengembalikan majalah itu ke tempatnya semula dengan penuh amarah.


Dia muak melihat wajah Jarvish Benjamin dan lebih muaknya lagi saat ia membaca bahwa Jarvish Benjamin adalah seorang playboy, seketika Luna berlari ke toilet dan muntah-muntah di sana.


Luna keluar dari dalam toilet bertepatan dengan namanya dipanggil. Luna berlari kecil untuk masuk ke ruang praktek dokter Lena, SpOG.


"Selamat siang"


"Siang, Dok. Saya tadi pagi iseng melakukan tes dan ada tanda garis merah di alat ini. Apakah ini artinya saya hamil?" Luna meletakkan alat tes kehamilan di atas meja.


"Mari saya periksa dulu" Sahut dokter Lena sambil bangkit berdiri.


Setelah memeriksa Luna, dokter Lena kembali ke kursinya sambil menunggu Luna selesai merapikan baju dan kembali duduk di depannya, dokter Lena menuliskan resep.


Luna kembali duduk di depan dokter Lena dan bertanya, "Bagiamana Dok? Apakah saya hamil?"


"Iya, selamat, ya. Kandungan kamu udah masuk usia dua Minggu. Ini resepnya. Berupa.vitamin silakan ditebus dan kontrol lagi tiga Minggu dari hari ini"


Luna menerima resep itu dengan wajah gamang. Lalu, gadis manis itu berjalan gontai saat ia keluar dari dalam ruang prakteknya dokter Lena. Luna kemudian duduk di bangku kosong dan menghela napas panjang beberapa kali di sana. Dia kaget, panik, bingung dan marah. Namun, dia hanya bisa berdiam diri di kursi itu selama satu jam lebih. Luna terus menangis dan mengabaikan tatapan banyak orang yang mengarah ke dirinya.


Akhirnya Luna menghapus air mata di pipinya, bangkit berdiri dan menebus resep.


Sesampainya di rumah, Luna langsung mengurung diri di kamarnya.


Papanya Luna menemui Luna di kamar saat Luna tidak keluar kamar di jam makan malam. "Kenapa wajah kamu muram dan penampilan kamu kusut kayak gitu? Kamu habis nangis?"


Luna langsung memeluk papanya dan menangis di sana sambil berkata, "Luna beberapa Minggu yang lalu diperkosa dan sekarang Luna hamil, Pa. Luna bingung harus ngapain sekarang ini?"


"Apa?! Kau bilang apa?!" Papanya Luna langsung mendorong kedua bahunya Luna dan menatap Luna dengan ekspresi tidak percaya.


"Astaga! Ya, ampun! Ya, ampun! Kenapa hal buruk ini bisa terjadi sama kamu?!"


Luna terus menunduk dan menangis tergugu.


"Gugurkan anak haram itu!"


Luna sontak mengangkat wajahnya dan menggeleng cepat sambil berkata, "Nggak, Pa! Anak ini tidak bersalah"


"Gugurkan atau kau harus pergi dari rumah ini! Pilih sekarang juga!"


Akhirnya Luna memilih untuk pergi dari rumah papanya.


Lima tahun kemudian.......


Dokter berumur lima puluh tahun itu menatap Luna dari balik meja kerjanya dengan sorot mata prihatin, lalu berkata, "Maaf kalau saya harus memberitahukan hasil tes lab Putra Anda, Bu. Putra Anda menderita Sarkoma sel retikulum tulang, yaitu tumor kanker sumsum tulang.Tumor ini lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Gejala umum yang terjadi akibat penyakit tersebut meliputi rasa sakit dan bengkak di sekujur tubuh. Perawatan yang dilakukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut adalah radioterapi dan transplantasi sumsum tulang belakang"


Luna seketika terhenyak di kursi dan menitikkan air mata.


"Maafkan saya"


"Apakah a.....anak saya akan mati? A.....apakah Dave anak saya, a..... akan........"


"Tidak, Bu. Dave masih bisa disembuhkan kalau dia bisa segera melakukan transplantasi sumsum tulang belakang"


"Apakah rumah sakit ada persediaan sumsum tulang belakang?"


"Sumsum tulang belakang tidak seperti darah. Kalau darah persediaan rumah sakit ini memenuhi syarat dan persediaannya berlimpah. Tapi, kalau sumsum tulang belakang, harus diambil dari orang tua kandungnya Si pasien atau saudara kandungnya Si pasien"


"Kalau begitu ambil sumsum tulang belakang saya saja, Dok! Ambil sekarang juga!"


"Anda harus menjalani beberapa tes terlebih dahulu, Bu. Semoga sumsum tulang belakang Anda cocok. Mari ikut saya!"


Luna langsung bangkit berdiri dan mengikuti dokter tersebut.


Setelah menjalani serangkaian tes, Luna duduk di depan ruang lab dan Rontgen dengan harap-harap cemas. Dia tidak diijinkan menemui Dave karena putra tampannya yang masih berumur lima tahun itu, juga tengah ditangani.


Setelah menunggu selama dua jam lebih, Luna harus terhenyak di kursi dengan wajah kecewa karena dokter menyatakan bahwa sumsum tulang belakang Luna tidak cocok untuk Dave.


"Apa Dave punya adik?"


"Tidak punya" Luna menggelengkan kepala dengan tatapan kosong.


"Kalau begitu, coba minta Papanya Dave untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya"


Luna sontak menarik rahang bawahnya selebar mungkin. Dia bahkan hampir lupa kalau Dave punya papa dan papanya Dave adalah Jarvish Benjamin. Pria kejam, dingin, playboy, dan sangat ia benci.


"Bu, kenapa malah bengong? Waktu Dave hanya satu Minggu dan anak Ibu harus segera menjalani operasi transplantasi sumsum tulang belakang"


Luna sontak bangkit berdiri sembari mengatupkan kembali mulutnya. Lalu, ia berucap, "Saya akan bawa papanya Dave kemari hari ini juga, Dok. Tunggu saya!"