
Luna menutup wajahnya di depan cermin dan sambil menggelengkan kepalanya dia bergumam, "Kenapa aku tadi mengharapkan Jarvish mencium bibirku? Aaaaaa! Ada apa denganmu Luna?"
Jarvish langsung memutuskan telepon saat ia melihat Luna keluar dari dalam kamar mandi sambil menarik Tiang infus.
Jarvish langsung membopong Luna saat ia melihat Luna memegang pelipis dan membungkuk kesakitan.
Luna tersentak kaget saat Jarvish membopongnya. Wanita itu langsung berkata, "Turunkan aku!"
Jarvish mengabaikan permintaan Luna itu. Dia langsung melangkah lebar menuju ke bed sambil membopong istrinya dan menarik tiang infus.
Pria super tampan dan keren itu merebahkan Luna dengan pelan ke ranjang lalu menangkup wajah Luna dan bertanya dengan panik, "Mana yang sakit?"
"Kepalaku pening sedikit tadi. Biar rebahan sudah hilang pentingnya"
Jarvish langung memencet bel dengan tidak sabar dan Luna langsung mendelik, "Kenapa kau memencet bel?"
"Aku mau nanya kenapa dokternya belum datang juga" Ucap Jarvish.
"Ini masih jam lima pagi. Jangan memencet bel terus. Kasihan perawatnya" Luna menarik tangan Jarvish.
Jarvish mendelik ke Luna, "Aku ingin kau segera diperiksa"
"Apa yang Anda perlukan Tuan Jarvish" Seorang perawat masuk setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"Dokter siapa yang menangani Istriku?"
Istri? Perawat itu tersentak kaget mendengar kata istri keluar dari mulut pria yang selalu dingin sama wanita itu.
"Kenapa diam?"
Luna langsung menarik Jarvish untuk berbisik, "Jangan publikasikan dulu hubungan kita"
Jarvish menoleh tajam ke Luna, "Kenapa?"
Luna Kembali berbisik, "Karena rumah sakit ini milik Tuan Benjamin, kan? Kalau perawat di sini tahu aku adalah Istri kamu, aku belum siap kalau sampai Mama kamu tahu. Karena Mama kamu nggak menyukaiku. Kalau sampai Mama kamu tahu ........"
Jarvish langsung menoleh tajam ke perawat yang masih berdiri dengan canggung di depan pintu dan berkata, "Keluarlah!"
"Tapi, Anda memencet bel berulangkali. Bukankah itu tandanya ada hal yang mendesak dan......."
"Keluar!" Jarvish mulai melotot dan perawat tersebut langung menghilang dari pandangannya Jarvish.
Pria super tampan itu kemudian duduk di tepi ranjang untuk menatap Luna dan berkata, "Katakan apa yang kau mau sebenarnya. Kenapa kamu nggak mau mempublikasikan hubungan kita?"
"Tapi, kamu senyum dulu. Jangan merengut dan melotot kayak gitu"
Jarvish tersenyum dan meredupkan matanya, "Sudah. Sekarang katakan"
"Janji dulu jangan marah"
"Iya"
"Mama kamu, kan, tidak menyukaiku. Aku tidak ingin orang lain tahu soal pernikahan kita ini sampai aku bisa membuat Mama kamu menyukaiku"
"Kau tidak tahu siapa mamaku. Dia wanita yang egois dan kejam. Kalau dia tidak menyukai sesuatu maka dia akan selamanya tidak akan menyukainya. Apa kau mau menyembunyikan pernikahan kita ini selamanya?" Jarvish menatap Luna dengan wajah sendu.
"Hei! Jangan seperti ini. Aku yakin aku pasti bisa membuat Mama kamu menyukaiku. Aku akan terus berusaha. Beri aku waktu tiga bulan"
"Satu bulan. Tiga bulan terlalu lama" Sahut Jarvish dengan cepat.
"Dua bulan, ya" Luna menarik-narik ujung kemejanya Jarvish.
"Satu bulan, Luna. Kalau kamu tidak setuju maka saat ini juga aku akan membagikan makanan di gedung VVIP ini dan mengumumkan pernikahan kita"
"Baiklah. Satu bulan. Berhasil atau tidak aku membuat Mama kamu menyukai aku, setelah satu bulan, kita umumkan pernikahan kita" Sahut Luna.
Huffftttt bernegosiasi dengan pebisnis hebat macam Jarvish Benjamin ternyata susah juga. Batin Luna.
Jarvish mencium pipi Luna dan berkata, "Tadi ada perawat masuk dan bertanya kamu mau mandi sendiri atau dimandikan perawat itu. Aku menjawab kalau aku yang akan membantumu mandi. Ayo! Aku akan..........."
Luna langung menutup wajahnya dengan selimut dan berteriak dari dalam selimut, "Aku nggak akan mandi"
Jarvish mengulum bibir lalu berkata, "Kamu bau asem, lho, masak nggak mandi"
Jarvish sontak tertawa terbahak-bahak sambil menarik paksa selimut Luna. Pria tampan itu tertegun saat ia melihat wajah Luna memerah malu dan bibirnya merengut tampak sangat menggemaskan.
Luna mematung. Dia bahkan lupa untuk mengambil napas saat pria tampan yang sudah menjadi suaminya itu menatapnya dengan tatapan lain.
Jarvish mengusap pipi Luna dan berkata, "Kau manis sekali, Istriku" Lalu, pria tampan itu menunduk perlahan, dia ingin memagut bibir manyunnya Luna yang tampak imut dan menggemaskan.
Di saat bibirnya hampir menempel di bibir Luna, pintu terbuka dan suara Surya menggema, "Tuan, syukurlah Nyonya muda baik-baik saja"
Jarvish menarik wajahnya dan dengan menggeram kesal ia menoleh ke Surya, "Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Terbang, Tuan" Jawab Surya dengan wajah kebingungan.
Luna mengulum bibir menahan tawa saat ia mendengar jawabannya Surya dan melihat ekspresinya Surya.
"Aku tahu. Yang aku maksud adalah kenapa kau ada di sini bukannya di luar kota?"
"Oh. Sebentar Tuan, saya duduk dan minum dulu"
Jarvish menghela napas panjang dan Luna kembali mengulum bibir menahan tawa.
Setelah meletakkan botol air mineral berukuran sedang di atas meja, Surya mengusap bibir dengan punggung tangan kemudian berkata, "Klien kita yang terakhir pengen ke ibukota. Jadi, ya, kebetulan sekali. Saya ajak klien kita ke sini. Pak Budiman ada di hotel sekarang dan saya langsung meluncur ke sini untuk melihat keadaan Nyonya muda. Anda baik-baik saja, kan, Nyonya muda?"
"Iya, Pak Surya. Saya baik-baik saja dan ingin cepat pulang. Saya kangen sama Dave"
"Carikan dokternya Luna kalau gitu. Aku ingin nanya kondisinya Luna"
"Ini jam setengah enam Bos, eh, Tuan, hehehehe, maaf. Jam setengah enam dokternya belum masuk kantor" Sahut Surya.
"Mulai komentar kamu?"
"Nggak Tuan. Saya cari dokternya Nyonya muda sekarang juga" Surya langsung bangkit berdiri dan berlari keluar dari dalam kama rawat inapnya Luna.
Luna sontak tertawa terbahak-bahak. Melihat tingkah Surya yang semakin konyol, membuatnya tidak bisa lagi menahan tawa dan Jarvish langsung membungkam tawa Luna dengan bibirnya.
Luna tersentak kaget dan langsung dada mendorong Jarvish, "Kenapa kau tiba-tiba menciumku"
"Aku tidak suka kamu tertawa untuk Surya. Kamu hanya boleh tertawa untukku" Jarvish kembali mencium Luna dengan penuh kelembutan dan kelembutan ciuman itu membuat Luna memejamkan mata lalu membalas ciuman itu dengan penuh perasaan. Jarvish tersenyum senang di atas bibir Luna saat ia merasakan Luna membalas ciumannya.
Tidak! Jarvish menahan diri untuk tidak menggunakan lidah. Dia tidak ingin membuat Luna ketakutan. Dia akan mengajari Luna caranya mencintai dirinya dengan perlahan dan akan membuai Luna dengan cinta yang ia miliki dengan penuh kelembutan dan hati-hati. Dia akan benar-benar menjaga perasaan Luna sebagai penebusan atas kesalahan yang sangat besar yang sudah Jarvish lakukan pada Luna di masa lalu.
Jarvish menghentikan ciumannya sebelum ia kehilangan kendali atas dirinya. Lalu ia mengusap bibir Luna, mengusap pipi Luna, dan mencium kening Luna sambil berkata, "Aku akan mencintaimu dengan hati-hati dan penuh dengan kelembutan. Aku akan memanjakan kamu dengan banyak kasih sayang. Karena aku sangat mencintaimu Luna Aditya"
Luna hanya bisa diam mematung. Dia masih belum mencerna dengan baik perasaannya sendiri. Apakah dia sudah mencintai Jarvish ataukah debaran hatinya barusan hanyalah gairah semata karena terbuai ciuman manis dari Jarvish Benjamin.
Dua jam kemudian, Surya masuk kembali ke dalam kamar rawat inapnya Luna saat Jarvish tengah menyuapi Luna.
Surya masuk bersama dengan pria muda seumuran Jarvish yang sangat tampan dengan jas berwarna putih.
"Halo Nona manis, Bagaimana kabar Anda pagi ini?" Dapat pria berjas putih itu dengan senyum ramah.
"Aku akan bilang ke Papa untuk memecat kamu sekarang juga kalau kamu bilang manis lagi ke Luna" Jarvish menggeram kesal dan meletakkan piring ke nakas sambil melotot ke dokter itu.
Dokter itu langsung berkata, "Lho, apa salah saya, Tuan. Nona ini memang........."
Surya langsung menutup mulut dokter muda itu dan berbisik, "Jangan memuji wanitanya Tuan Jarvish kalau Anda tidak ingin kehilangan pekerjaan Anda"
Dokter itu manggut-manggut dan saat Surya menarik tangannya Dokter itu langsung berkata, "Maafkan saya. Saya tidak tahu kalau Nona ini adalah........"
"Langsung katakan apakah Luna baik-baik saja dan sudah boleh pulang?" Jarvish masih melotot ke dokter itu dan dokter itu langsung berkata, "Nona Luna Aditya......."
"Nyonya bukan Nona" Sahut Jarvish.
Dokter muda itu membetulkan letak kacamatanya sambil berkata, "Ah! Iya, maaf. Nyonya Luna Aditya cuma kelelahan. Setelah makanan habis dan infusnya habis, Nyonya Luna Aditya sudah boleh pulang"
"Oke! Kau boleh keluar!" Ucap Jarvish sambil mengambil piring untuk menyuapi Luna kembali.
"Aku sudah kenyang"
"Kata orang aneh berkacamata tadi, makanan habis baru boleh pulang. Ayo habiskan! Aaaaaa!"
Luna menghela napas panjang dan terpaksa membuka kembali mulutnya.