Memories Of Love

Memories Of Love
Duel



Jarvish sontak bangkit berdiri dengan senyum ceria tertahan saat ia melihat pintu ruang kerjanya terbuka. Namun, Pria tampan itu kembali duduk di kursinya dengan wajah kesal ketika ia melihat Luna berjalan masuk dengan dikawal oleh Joshua. Bahkan Joshua menggandeng tangan Luna.


"Kenapa kau ke sini? Kau juga mau mendaftar jadi karyawan di sini? Sayangnya nggak ada lowongan pekerjaan di posisi Presdir saat ini, cih!" Jarvish berucap ketus dan dengan wajah sinis ia menatap wajah tampan kakak tirinya.


Jarvish Benjamin memang gila dan tidak punya perasaan. Batin Luna.


Joshua membetulkan leta kacamata keren yang membingkai wajah tampannya, lalu berucap dengan nada kesal, "Aku mengantarkan calon Istriku ke sini apa salah?"


Luna terkejut dengan ucapannya Joshua dan sontak menoleh ke Joshua.


Jarvish sontak menatap Luna, "Apa benar kalau dia adalah calon suami kamu?"


Luna melambaikan tangannya dan saat wanita itu hendak bersuara, Joshua langsung merangkul bahu Luna sambil berkata, "Tentu saja benar. Wanita yang paling manis sedunia ini adalah calon istriku"


Luna hanya bisa menghela napas panjang dan mengulas senyum yang terpaksa.


Jarvish seketika diam membisu dan menatap Joshua dengan sorot mata mematikan.


Ketika Joshua menundukkan wajah dengan pelan, Jarvish languang bangkit berdiri dan berlari keluar dari balik meja kerjanya.


Tepat di saat bibir Joshua mendarat di pipi putih mulusnya Luna, Jarvish langsung mendorong kasar tubuh Joshua.


Luna tersentak kaget dan refleks berputar badan saat ia mendengar bunyi, bug!


Luna sontak menjerit kaget saat ia melihat Joshua mendaratkan bogem mentah di wajah Jarvish dan Jarvish dengan cepat membalas Joshua dengan menendang perut Joshua sambil berteriak, "Jauhi Luna!"


Luna menjadi kebingungan, dia tidak tahu siapa yang harus dia bela dan harus dia lindungi. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk nekat melompat di tengah-tengahnya Jarvish dan Joshua sambil berteriak, "Hentikan kalian berdua!"


Jarvish dan Joshua yang hendak melesat maju untuk duel, langsung mengerem langkah mereka.


Joshua mendelik ke Luna, "Minggir Luna! Biar aku hajar pria mirip Tarzan itu!"


"Kamu yang mirip Tarzan. Main cium aja, nggak tahu diri!" Balas Jarvish.


Luna yang berdiri menyamping di tengah-tengahnya dua pria tampan dan keren itu menoleh ke kiri lalu ke kanan sembari berteriak kesal, "Kalian sama saja! Kekanak-kanakan!"


"Hei! Dia yang mulai" Joshua melotot ke Jarvish.


"Itu karena Elo main cium aja. Harusnya Elo jauhi Luna!" Jarvish juga melotot ke Joshua.


"Kau gila atau apa, hah?! Harusnya Elo yang jauhi Luna! Kenapa aku yang harus jauhi Luna?! Luna pacarku, buka mata Elo lebar-lebar! Luna pacarku!" Joshua berteriak dengan melompat-lompat kesal dan mengibarkan jari telunjuknya ke Jarvish.


Jarvish melangkah maju dengan sorot mata mematikan sambil "Kau yang harus buka lebar-lebar mata kamu dan........"


Luna langsung menahan dada Jarvish dengan. kedua telapak tangan sambil berteriak, "Cukup! Kalian berdua cukup! Mas Jo, tolong pergi dari sini!"


Jarvish terus melangkah maju dan Luna terus menahan dada Jarvish dengan kedua telapak tangan.


"Tapi, Sayang, Mas....."


"Pergilah, Mas! Yang waras ngalah" Ucap Luna sambil terus berusaha menahan dada Jarvish.


Joshua akhirnya melangkah pergi dengan mengacungkan bogem ke Jarvish.


Jarvish melotot, "Dia masih menantangku! Minggir kamu! Aku harus selesaikan urusanku dengan wajah akuarium itu!"


"Hentikan sikap bar-bar kamu ini atau aku akan pergi menyusul Mas Joshua sampai kamu tenang" Ucap Luna dengan masih menahan dada Jarvish.


"Tapi, muka akuarium itu sangat menjengkelkan. Dia yang bar-bar. Dia yang menonjol mukaku lebih dulu"


"Muka akuarium?"


Luna tersentak kaget dan langsung menarik kedua tangannya dari dada Jarvish sambil berucap kesal, "Siapa yang merasa nyaman? Itu karena kamu nggak bisa berhenti bergerak dan ingin menyusul Mas Joshua. Lalu, kenapa kau bisa memanggil Mas Joshua muka akuarium?"


"Dia pakai kacamata, kan? Wajahnya dibingkai kaca, kan, jadi mirip sama akuarium"


"Dasar gila! Jangan panggil seperti itu lagi! Itu namanya menghina orang dan nggak baik kalau sampai didengar sama Dave. Jadi, Papa harus kasih contoh tindakan dan perkataan yang baik dan benar" Ucap Luna.


"Baik, Nyonya Luna Aditya" Sahut Jarvish dengan wajah kesal.


"Lalu, apa pekerjaanku di sini?" Tanya Luna dengan wajah sedikit takut.


"Ikut aku ke mejaku! Aku akan jelaskan apa saja tugas kamu di sini" Sahut Jarvish sambil mengayunkan tangannya.


Luna yang semula takut harus masuk ke ruang kerja Jarvish dan bekerja dengan Jarvish seketika lupa akan rasa takutnya saat Jarvish dengan penuh kesabaran dan kelembutan menjelaskan job descrition-nya.


"Sudah mengerti?" Tanya Jarvish.


"Mengerti. Lalu, di mana ruanganku?"


"Kamu sekeretaris pribadiku. Tentu saja kamu satu ruangan denganku. Itu meja kerja kamu" Janrish menunjuk sebuah meja dan kursi lengkap dengan laptop dan peralatan kantornya yang berada di sebelah kanan meja kerjanya Jarvish.


"Di situ?"


"Hmm" Jarvish bersandar di mejanya dan menganggukkan kepalanya dengan santai.


"Tapi, jarak meja kita sangat dekat. Apa ini tidak aneh?"


"Kalau di ruang Joshua di mana letak meja kamu?"


"Di luar ruangannya Mas Joshua. Di ruangannya Mas Joshua ada dua pintu masuk, kan. Setelah pintu masuk pertama tamu akan melintasi mejaku dulu sebelum masuk ke pintu masuk yang kedua" Sahut Luna.


"Aku bekerja sendiri. Aku bukan anak Papi kayak Joshua. jadi, ruanganku lebih sempit dari Joshua mana ada dana buat bikin dia pintu masuk untuk satu ruangan saja. Jadi, mau nggak mau kamu harus duduk di meja itu"


"Baiklah. Lalu, kapan aku harus ke departemen Food and Beverage untuk mulai membuat nasi uduk dan jamu beras kencur? Kamu bilang tadi, aku harus buat nasi uduk dan beras kencur di........"


"Tugas pertama kamu adalah obati luka di bibirku yang kena bogem mentahnya Joshua tadi"


"Hah?!" Luna sontak membuka lebar-lebar rahang bawahnya.


"Kenapa, hah?!"


Luna Kembali menutup mulutnya untuk berkata, "Itu hak ada di job description-ku. Aku nggak mau karena mengobati luka, bukan tugasku"


"Ada tadi. Baca lagi dengan teliti" Sahut Jarvish sambil duduk di kursi kerjanya.


Luna Kemabli membaca job description-nya dan langsung mengangkat wajah manisnya untuk menyemburkan, "Nggak ada"


"Baca point sepuluh! Seorang sekretaris pribadi wajib menjaga kesehatan atasannya"


"I....itu beda" Luna mendelik ke Jarvish.


"Sama, kan. Mana bedanya? Kesehatan atasannya harus dijaga. Mengobati luka di bibirku, kan, sama saja dengan menjaga kesehatan atasan kamu"


"Tetap aja bagiku beda. Aku nggak mau" Luna bersedekap dan bergeming.


"Mau obati lukaku atau aku akan hilangkan jejak ciumannya Joshua di pipi kamu dengan bibirku yang terluka ini?"


Luna langsung menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah. Di mana kotak obatnya?"