
Luna langsung menghampiri Chef Steven dan bertanya, "Tadi, Anda bilang enak,kan, sayur lodehnya?"
Chef Steven melirik Ke Jarvish dan Jarvish langsung melotot ke Chef Steven dengan menggelengkan kepalanya.
Chef Steven langsung berkata, "Maafkan Saya Nona. Tadi, saya pas.laper berat. Jadi, saya bilang enak. Coba saya cicipi lagi pas saya kenyang" Chef itu kembali mencicipi sayur lodehnya Luna.
"Enak, kan? Saya mencicipinya juga pas, kok"
"Saya rasa kurang mantap" Sahut Chef Steven sambil melirik Jarvish dan Jarvish langsung mengacungkan ibu jarinya ke chef Steven.
Luna langsung memonyongkan bibirnya lalu bergumam, "Oke. saya akan benahi dikit dan saya rasa saya juga harus membenahi catatan resepnya"
"Iya, saya setuju" Sahut Chef Steven.
Saat Luna menghadap ke kompor dan memunggungi Jarvish, pria tampan itu melihat arlojinya dan menghela napas panjang sambil merapatkan bibir. Kenapa masih jam enam saja, nih. Batin Jarvish kesal.
Melihat Luna tampak kelelahan Jarvish pun merasa tidak tega dan langsung mendekati Luna. Saat Luna mematikan kompor, pria tampan itu langsung menyendok sayur lodeh dari panci dan mencicipinya, "Hmm. Udah pas"
"Syukurlah" Luna menghela napas lega. Lalu, ia menoleh ke chef Steven dan tim dapur yang tersisa tiga orang, "Kita siapkan bumbu kue lumpur dan risoles mayo. Kita bikin secukupnya. Tuan Jarvish ingin mencicipinya sekarang"
"Aku akan beri bonus yang cukup besar untuk kalian semua" Ucap Jarvish saat ia melihat wajah tim dapur tampak lelah.
Mendengar bonus besar, semuanya kembali bersemangat meskipun raga mereka terasa sangat lelah.
Setelah bergotong royong membuat adonan selama satu jam, akhirnya kue lumpur masuk ke kukusan dan gulungan risoles masuk ke penggorengan Sambil menunggu semuanya matang, Luna mengirimkan pesan text ke Joshua, "Maaf, Mas. Aku lembur. Aku datang terlambat, ya"
Jarvish melirik Luna lalu ia melihat arloji mahalnya. Kenapa masih jam setengah delapan aja, sih? Batin Jarvish.
"Berapa lama lagi kue lumpurnya matang" Tanya Jarvish saat ia melihat risoles mayo sudah tertata cantik di atas piring.
"Lima menit lagi, Tuan" Sahut Chef Steven.
"Kenapa cepat sekali?" Jarvish bergumam lirih dengan wajah kesal.
"Memangnya Kenapa, Tuan?" Tanya Chef Steven.
"Nggak apa-apa" Sahut Jarvish singkat sambil terus mengamati gerak geriknya Luna Aditya.
Joshua menatap pesan text dari Luna dengan helaan napas panjang dan bergumam, "Awas aja kalau ini akal-akalan Jarvish untuk mengukur waktu agar Luna tidak bisa datang ke sini. Aku akan bikin perhitungan dengannya besok"
Jarvish mengetuk-ngetukkan jari jemari tangan kananya di atas meja di saat ia tengah mencari akal untuk menahan Luna tetap berada di sisinya dan tidak pergi menemui Joshua.
Luna duduk di depan Jarvish setelah Chef Steven dan tim dapur pamit pulang. Hanya tinggal Luna dan Jarvish yang berada di departemen Food and Beverage. "Kok belum dicuci?"
"Ayo! Kamu ikutan makan, dong"
"Aku sudah kenyang"
"Ada lima biji nih kuenya dan lima biji risoles mayonya. Masak aku habiskan sendiri?"
"Lha iya, dong. Kamu yang minta" Luna bersedekap dan menatap Jarvish dengan sorot mata tegas.
"Harus dihabiskan. Kamu yang minta. Aku terapkan ini ke Dave juga. Kalau Dave minta dimasakkan kue kesukaannya maka harus dihabiskan. Nggak boleh buang-buang makanan" Luna menatap Jarvish dengan wajah tegas.
Glek! Jarvish spontan kesulitan menelan air liurnya. Perutnya tidak bisa memuat makanan terlalu banyak akibat dari trauma masa kecilnya. Tapi, kalau tidak ia habiskan, dia takut Luna marah padanya. Entah kenapa dia selalu takut kalau Luna marah padanya.
"Ayo cepat dihabiskan! Aku ada janji, nih dan aku udah telat. Kalau nggak buruan kamu cicipi dan habiskan, aku tinggal, ya?"
"Hei! Mana boleh begitu! Nggak! Kamu harus temani aku sampai aku habiskan makanan ini. Kalau nggak aku nggak jadi kasih kamu bonus dan gaji kamu aku potong" Jarvish mendelik ke Luna sembari mengunyah gigitan risoles mayo yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Iya. Aku tunggu"
Dua puluh menit kemudian, Jarvish menatap piring yang telah kosong dengan wajah pucat. Lalu, pira tampan itu jatuh pingsan dan sebelum kepala Jarvish jatuh ke meja yang terbuat dari kayu kokoh itu, Luna relfeks bangkit berdiri dan langsung menahan kepala Jarvis.
Wanita cantik itu kemudian meletakkan kepala Jarvish dengan perlahan di atas meja kemudian dia mengecek kondisi Jarvish sambil berkata, "Hei, pria aneh! Jangan bercanda! Kamu pura-pura pingsan, kan?"
Luna mulai panik saat ia tidak mendapatkan respons dari Jarvish. Luna langsung mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi Surya. "Pak Surya, Tuan Jarvish pingsan"
"Berapa banyak makanan yang sudah Tuan, makan?"
"Lho, Pak Surya,kok,malah nanya soal makanan"
"Perut Tuan Jarvish tidak bisa memuat banyak makanan, Nyonya"
"Kenapa?"
"Nanti saya ceritakan. Emm, Anda cari supir kantornya Tuan dan minta dia mengantarkan Anda berdua pulang. Saya akan menelepon dokter pribadinya Tuan untuk datang ke sini"
"Baiklah" Sahut Luna.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Luna mengantarkan Jarvish pulang karena ia merasa bersalah telah memaksa Jarvish untuk menghabiskan semua makanan. Di perjalanan menuju ke kediaman megahnya Jarvish, Luna mengirim pesan text ke Joshua, "Maaf, Mas. Kita reschedule aja pertemuan kita hari ini. Ada kejadian luar biasa. Besok aku ceritakan". Lalu telepon genggamnya Luna mati karena baterenya habis.
Dua jam kemudian, Luna duduk di tepi ranjang dan Surya langsung berkata, "Anda dengar apa kata dokter barusan, kan? Tuan tidak berpura-pura pingsan. Tuan beneran pingsan"
"Dia pria muda yang gagah perkasa. Kenapa dia tidak bisa makan terlalu banyak? Padahal cuma makan sepuluh kudapan mini saja langsung pingsan"
"Karena dulu, waktu masih kecil hidup Tuan sangat susah. Tuan sangat miskin saat ia ditinggal pergi oleh mamanya.Tuan hanya hidup bersama almarhum Papanya yang suka judi dan mabuk-mabukkan. Akibat ulah Papanya, Tuan hanya bisa makan seminggu sekali dan itu yang membuat Tuan tidak bisa Kakan terlalu banyak sampai sekarang. Trauma di masa kecilnya itu masih belum pulih seratus persen" Ucap Surya.
"Kasihan dia. Saya tidak mengira kalau masa kecilnya mengerikan seperti itu" Sahut Luna sembari terus menatap Jarvish.
"Saya keluar dulu, Nyonya. Saya masih punya banyak kerjaan. Sampai pacaran saja saya tidak sempat, Huffftttt"
Luna terkejut geli melihat ekspresi lucunya Surya. Lalu, ia berkata, "Minta cuti besar sama Tuan Jarvish biar bisa pacaran sepuasnya, pak Surya"
"Hehehehe, iya, Nyonya. Ide bagus itu" Sahut Surya sembari menganggukkan kepala, tersenyum lebar dan melangkah keluar dari dalam kamarnya Jarvish.
Luna memutuskan untuk merawat Jarvish dan menginap malam itu karena dia merasa bersalah.
Sementara itu, sifat aslinya Joshua mulai nampak. Ia menggulingkan meja restoran karena kecewa berat Luna tidak jadi datang.