
Jarvish pulang ke rumah dan dikejutkan dengan paduan suaranya Luna, Dave, Bu Nina, dan Pak Temon, "Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun dear Papa, selamat ulang tahun"
Jarvish tertegun melihat ruang tengah rumahnya penuh dengan hiasan balon warna warni dan beraneka bentuk, lalu ada kado di pojok ruangan dan di atas meja ada aneka masakan, juga kue ulangtahun.
Pria tampan itu mengucapkan terima kasih dengan genangan air mata haru di kedua pelupuk matanya saat semua menyalaminya dan mengucapkan selamat ulangtahun.
"Nyonya muda sudah memasak banyak makanan, Tuan" Ucap Bi Nina.
Luna merangkul bahu Bi Nina lalu berkata, "Dengan bantuan Bi Nina tentunya. Ruangan ini yang mendekor Bi Nina"
"Dave bikin kue untuk Papa dan Pak Temon yang meniup balonnya" Sahut Dave dengan senyum semringah.
"Dan Om Surya yang kasih ide untuk kadonya" Sahut Surya dengan senyum bahagia.
Jarvish mengusap cepat airmatanya yang jatuh di pipinya dan berkata, "Terima kasih semuanya"
"Emm, aku mau mandi dulu sebentar dan akan kembali ke sini secepatnya" Ucap Jarvish.
Surya duduk di sofa ruang keluarga dan sambil menunggu tuannya selesai mandi, dia mengajak Dave bermain tebak kata.
Luna bergumam di dalam hatinya, Mas Jarvish terlihat bahagia dan terharu tadi. Sayangnya keluarga Mas Jarvish tidak ada di sini saat ini Andaikan ada dan semuanya akur, pasti suasana ini menjadi lebih ceria dan ramai.
Sepuluh menit kemudian, Jarvish muncul kembali di ruang keluarga. Dia mengijinkan semuanya makan masakannya Luna kecuali kue ulangtahun hasil kolaborasinya Luna dan Dave. Karena di hari ulangtahunnya, Jarvish belum pernah dibuatkan kue ulangtahun oleh siapa pun juga. Bahkan mamanya sendiri tidak pernah membuatkan kue ulangtahun untuknya.
Namun, saat Jarvish mencicipi kue ulangtahunnya, ia mengernyit kaget merasakan sensasi aneh di kue tersebut.
Luna langung mencicipi kuenya dan merebut piring Jarvish, "Jangan dilanjutkan makannya, Mas. Kuenya rasanya aneh. Sini! Mana piringnya biar aku yang bawa ke dapur"
Surya hendak mencomot kuenya sambil berkata, "Seaneh apa sih rasanya?"
Jarvish langung menepis tangan Surya dan sambil mendelik ia berkata, "Jangan sentuh kuenya!"
Surya langsung merengut dan bergumam, "Pelit amat,sih, Bos"
Luna tersenyum geli melihat tingkah Surya.
Dan di saat Luna masih berusaha menarik piring Jarvish, Jarvish refleks menarik piringnya sambil berkata, "Aku akan habiskan kuenya karena kamu dan Dave sudah bersusah payah membuatnya untukku. Kau tahu Luna, belum pernah ada yang membuat kue ulangtahun untukku. Terima kasih, aku mencintaimu"
Luna menahan dada Jarvish sambil berkata, "Jangan cium sembarangan. Ada banyak orang" Saat Jarvish menunduk dan ingin menciumnya.
Jarvish tersenyum geli melihat rona malu di wajah Luna saat ia nekat mencium pipi Luna dan berkata, "Terima kasih, Sayang"
Luna mengerutkan kening dan bergumam, "Aku sudah membuat kuenya sesuai resep dan caranya sudah benar. Kenapa rasanya aneh?"
Dave langsung berkata, "Maaf, Ma. Dave masukkan potongan anggur tadi karena Dave suka anggur"
Jarvish tertawa melihat Dave dan berkata, "Nggak papa. Rasanya memang unik, tapi akan Papa habiskan"
"Iya rasanya aneh" Dave mengernyit dan berkata, "Maaf, Pa. Kue yang Dave bikin rasanya aneh"
Jarvish mengelus kepala Dave dengan penuh cinta dan berkata, "Bagi Papa, kue ini adalah kue terenak di dunia. Terima kasih udah bikin kue ini untuk Papa"
Dave langsung mencium pipi papanya dan berkata, "Dave sayang banget sama Papa"
Jarvish memeluk Luna dan Dave yang duduk mengapit dirinya lalu berkata dengan penuh rasa syukur dan cinta, "Papa juga sayang sama kamu dan Mama kamu. Sayang banget"
Surya, Bi Nina, dan Pak Temon menjadi terharu melihatnya.
Acara ditutup dengan pembukaan kado. Dave berteriak kegirangan melihat kado dari Opanya. Sepatu sekolah yang bisa menyala asli dibeli dari Italy itu membuat Dave tidak berhenti berjalan ke sana kemari yang membuat semua yang ada di ruang keluarga tertawa geli.
"Papa ke sini tadi?" Tanya Jarvish.
"Iya, Mas. Papa juga nitip kado untuk kamu"
"Taruh saja di lemari yang biasanya, Sur" Ucap Jarvish tanpa mau menyentuh kado yang disodorkan oleh Luna.
"Tunggu! Jangan dulu Pak Surya. Emm, bisakah Bi Nina membawa Dave ke kamarnya dulu?" Sahut Luna.
"Tapi, Dave belum buka semua kadonya"
"Kamu bisa membukanya di kamar, Sayang"
"Baiklah, Ma" Sahut Dave.
"Ayo Pak Temon bantu aku angkat semua kado Dave yang belum dibuka ke kamar" Sahut Surya kemudian.
Setelah semuanya keluar dari ruang keluarga Luna mengelus pipi Jarvish dan berkata, "Apakah selama ini kado dari Papa, Mas simpan di lemari yang ada di ruang kerjanya Mas?"
Jarvish hanya diam membisu dan menganggukkan kepala.
"Mas, kasihan Papa. Aku lihat Papa tulus mencintai Mas. Demi aku, tolong Mas buka dan terima kado ini. Oke?"
Jarvish masih diam membisu.
Luna mengecup pipi Jarvish dan Jarvish langsung terkejut.
"Apakah setelah aku cium, Mas mau menerima dan membuka kado ini?"
"Kenapa kau bersikeras aku menerima kado ini? Apa karena dia Papanya Joshua? Apa kamu masih ada rasa sama Joshua?"
Ah! kenapa malah kayak gini lagi? Batin Luna.
Luna mencium pipinya Jarvish untuk menghilangkan kekesalan di wajah Jarvish. Lalu wanita itu berkata, "Aku hanya suka melihat kerukunan, Mas. Aku juga ingin Mas menghargai pemberian Papa yang diberikan dengan tulus dan penuh rasa sayang. Nggak ada hubungannya dengan Mas Joshua. Aku nggak ada rasa sama Mas Joshua, Mas. Terima dan buka kadonya, ya?!"
"Cium lagi. Tapi, ciumnya yang benar"
Luna mengerutkan kening dan bertanya, "Cium yang benar? Maksudnya?"
"Cium di sini sebanyak tiga kali. Baru benar" Jarvish mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk.
Blush! Wajah Luna spontan memerah dan alih-alih mencium Jarvish, Luna malah tertunduk malu.
Luna menghela napas panjang dan akhirnya dia mencium bibir Jarvish sebanyak tiga kali dan saat Jarvish memagut bibirnya dan tangan pria itu menempel di dada, Luna mendorong dada Jarvish dengan pelan dan berkata saat bibirnya berhasil lepas dari ciuman bibir Jarvish, "Mas, ini di ruang keluarga. Dave bisa sewaktu-waktu ke sini"
"Hahahaha. Oke. Kita akan lakukan nanti di kamar"
"Lakukan apa?" Luna menautkan alisnya.
"Cium aku di sini sebanyak yang aku mau"
"Hah?!"
"Apa hah?! Mau aku menerima dan membuka kado itu, kan? Jadi, kamu harus melanjutkan aksi kamu nanti di kamar"
Luna menghela napas panjang dan akhirnya dia berkata, "Iya. Sekarang,nih, buka kadonya"
Jarvish memangku kado itu dan membukanya. Pria itu tertegun melihat kado dari papa tirinya dan spontan pria tampan itu bergumam, "Dari mana Papa tahu kalau aku menginginkan ini sejak lama" Jarvish menatap jam tangan sport import berwarna biru yang super canggih. Jam tangan itu bisa mengenali detak jantung.
"Itu tandanya kalau Papa sangat..........Kyaaaaaaa!!!!!!"
Jarvish langung membopong Luna dan berlari membawa Luna ke kamar sambil berucap, "Jangan sebut pria lain lagi. Aku akan bungkam bibir kamu sepanjang malam agar kau tidak memanggil pria lain"
Jarvish merebahkan Luna di kasur dengan pelan dan saat pria itu ingin mencium bibir Luna, Luna menahan dada pria itu sambil berkata, "Mas belum buka kado dariku"
"Nanti saja" Jarvish menunduk lagi dan Luna langsung berkata, "Aku akan sedih kalau Mas tidak membuka kadoku sekarang"
"Mas!"
"Panggil Sayang lalu kasih tiga kecupan lagi di sini" Jarvish mengetuk bibirnya dan kembali berkata, "Baru aku lepaskan"
Apalagi, nih? Kenapa harus manggil sayang dan cium lagi di situ.
"Ayo! Kalau nggak mau aku akan lanjutkan aksiku dan kita buka kadonya besok" Jarvish kembali menunduk dengan pelan dan Luna langsung berteriak, "Iya, Sayang!" Lalu, cup,cup,cup, tiga kecupan mendarat di bibir Jarvish.
Jarvish lalu bangun dan duduk di tepi ranjang sambil berucap, "Mana kadonya?"
Luna mengambil dua kotak kado lalu meletakkannya di atas pangkuannya Jarvish.
"Dua? Kau kasih aku dua kado?" Jarvish membeliak senang.
"Iya. Bukalah, Mas"
Jarvish membuka kado yang lebih kecil terlebih dahulu dan dia tertawa senang saat melihat tiga potong kaos berwarna merah bertuliskan, Daddy, Mom, Son.
"Kita pakai kaos ini kalau piknik, ya, Mas"
Jarvish memagut bibir Luna lalu berkata, "Iya. Aku suka sekali kado ini. Terima kasih Sayang" Jarvish memagut lagi bibir Luna , lalu ia membuka kotak kado yang lebih besar.
"Wah! Bantal couple" Jarvish memandangi tulisan yang ada di bantal itu dan langsung mengulum bibir sambil mengarahkan bantal itu ke Luna untuk bertanya, "Bacanya apa Luna?"
"Kamu bisa baca, kan? Kamu lulusan luar negeri,kan?"
"Aku kalau malam harus pakai kacamata baca dulu baru bisa baca dan aku malas mengambil kacamata di laci"
Luna menghela napas panjang dan membaca tulisan di bantal itu, "My Love"
"Ah! Istriku so sweet banget, sih, manggil aku my love" Jarvish langung melempar asal bantal couple itu lalu ia merebahkan Luna di kasur.
"Kamu mau apa?" Luna refleks menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Tentu saja kasih hadiah untuk istri imutku ini. Emm, aku sebenarnya punya kejutan untuk kamu, tapi aku kasih besok aja. Sekarang aku ingin memakan kamu"
"Aaaaaa! Kenapa memakan aku lagi? Kemarin dan tadi pagi kan sudah"
"Aku singa buas yang sulit dikenyangkan, Sayang" Jarvish langsung memagut bibir Luna.
Keesokan harinya, Jarvish bangun untuk mengambil air minum di dapur dan ia dikejutkan dengan munculnya makhluk mungil putih bermoncong. Sontak Jarvish melompat naik ke maja makan dengan wajah ketakutan.
"Sial! Kenapa ada anak anjing di sini? Anak Anjing siapa ini? Tolong aku! Tolong!" Jarvish berteriak kencang di atas meja ruang makan dengan wajah panik karena anak anjing itu terus melompat-lompat ke atas.
Dave langsung berlari ke ruang makan dan disusul oleh BI Nina dan Luna.
Dave langung menggendong anak anjing itu dan membawanya ke halaman belakang.
Bi Nina langsung membungkukkan badan sambil berkata dengan wajah ketakutan, "Maafkan saya, Tuan. Saya lupa menutup kembali pintu halaman belakang setelah saya selesai menjemur baju tadi"
Sedangkan Luna mengulum bibir menahan tawa.
Jarvish mendelik ke Luna dan berkata dengan kesal, "Kau menertawakan aku, ya?!"
"Nggak, pffttt! Hahahaha" Luna tidak bisa lagi menahan tawanya.
Jarvish langsung membopong Luna dan berlari untuk membawa Luna masuk ke dalam kamar.
BI Nina mengulum senyum menahan geli melihat Tuannya merona malu dan membopong nyonya mudanya ke kamar dengan segera.
Dave Kembali ke ruang makan dan langsung bertanya ke BI Nina, "Lho, Papa dan Mama kemana, Bi?"
Bi Nina langsung menjawab, "Papa dan Mama masuk ke kamar. Mereka sedang berdiskusi penting. Tuan muda jangan ke sana dulu, ya?! Tuan muda ikut Bibi aja bermain sama Goldy di taman belakang"
"Oke" Sahut Dave dengan senyum riang.
Luna masih belum menghentikan tawanya saat Jarvish menurunkan di lantai kamar.
Lalu, pria tampan itu mendekap erat tubuh Luna dan berkata, "Kau berani menertawakan aku di depan Bi Nina? Sepetinya aku perlu memberimu pelajaran, Nyonya Jarvish Benjamin"
"Kyaaaaaaa!!!!!! Kenapa begini lagi!" Jerit Luna.
Dan tawa Jarvish sontak menahan di kamar itu.