
"Aku serius" Jarvish mempererat genggamannya di kedua bahu Luna sambil menatap dalam-dalam kedua bola mata cantiknya Luna yang dibingkai kelopak mata dengan bulu lentik, tebal, nan cantik.
Kelopak mata indah itu mengerjap beberapa kali, kemudian Luna menepis kedua tangan Jarvish, melangkah mundur sambil bertanya dengan suara bergetar menahan amarah, ah, tidak! Lebih tepatnya menahan tangisan yang mewakili seluruh perasaan kacau di hatinya, "Apa kau mencintaiku?"
Jarvish melangkah maju dan Luna mundur satu langkah lagi ke belakang sambil berkata, "Jangan mendekat! Jawab pertanyaanku dengan sejujur-jujurnya! Apa kamu mencintaiku?"
"Aku mencintaimu"
"Bohong!"
"Aku berkata jujur saat ini. Bukankah bisa kau lihat kedua mataku, tidak ada kebohongan di sana. Aku sungguh-sungguh sudah jatuh cinta padamu, Luna Aditya" Jawab Jarvish dengan nada tegas dan sorot mata sendu.
"Sejak kapan?" Luna bertanya masih dengan sorot mata tidak percaya.
"Sejak kita ikut lomba di sekolahan Jarvish. Aku sudah mulai suka sama kamu. Lalu, makin hari perasaan suka itu makin tumbuh dan sudah berubah menjadi cinta. Kalau aku tidak mencintai kamu, aku nggak akan mengajak kamu ke sini dan asal kamu tahu, kamu wanita pertama yang aku ajak menikah"
"Bohong! Kamu sudah pernah menikah, kan?"
"Aku dijodohkan dengan almarhum Istriku. Waktu aku pulang ke rumah aku hanya perlu tanda tangan beberapa surat dan saat aku masuk ke kamar sudah ada seorang wanita menungguku" Sahut Jarvish dengan wajah serius.
"Maafkan aku. Aku sudah membuka luka lama kamu"
"Lupakan. Luka itu sudah tidak membuat hatiku terasa perih karena hatiku sudah dibalut indah dengan cinta yang aku miliki untuk kamu, Luna Aditya"
Luna bergeming dan menatap Jarvish dengan ragu.
Apa yang harus aku lakukan sekarang ini? Bukankah ini impianku sejak dulu, bisa menikah dengan Jarvish Benjamin. Bahkan aku sering memimpikan momen Jarvish mengajakku menikah beberapa kali, tetapi itu dulu. Batin Luna.
Melihat Luna berdiri dan tampak ragu, Jarvish kembali berkata, "Ingatlah akan Dave. Kasihan Dave kalau dia harus dilempar ke sana kemari. Seminggu ikut aku. Seminggu ikut kamu. Kalau kita menikah seorang ini, kita bisa tinggal bersama bertiga. Kita bisa bersama-sama merawat Dave. Kita berikan Dave keluarga yang sempurna. Bukankah Dave memimpikan keluarga yang sempurna sejak dulu"
Luna menarik napas panjang. Lalu, ia berkata, "Tapi, aku tidak mencintaimu"
Dhuaarrrrrr! Bagai disambar petir kesombongan Jarvish langsung goyah dan mulai diuji kehebatannya karena pria itu sebelumnya merasa sangat yakin, kalau Luna dari dulu masih mencintainya bahkan sekarang Kun masih mencintainya.
Masak, dia bilang tidak mencintaiku? Aku ini sangat tampan, kaya raya, keren, cerdas, baik hati, Yeeaahhh walaupun sedikit sombong. Tapi, dengan semua yang aku punya, kurang apa coba, kok dia bisa bilang tidak mencintaiku. Batin Jarvish menjerit perih.
Jarvish langsung menyemburkan ketidakpercayaannya atas pengakuan Luna, "Aku tidak percaya kamu tidak mencintaiku. Maaf, aku sudah melihat buku diary kamu dan........"
"Kau berani melihat buku diary-ku? Kau ....."
"Jangan berpikiran macam-macam dulu! Dave yang kasih lihat ke aku karena Dave merasa pernah melihat aku dan dia ingat kalau pernah melihat aku di kotak rahasia kamu dan di sana aku menemukan buku diary kamu, lalu aku membacanya"
Luna kembali menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Itu dulu. Iya aku akui kalau dulu, aku sangat mencintai kamu. Tapi, sejak kamu menodai kesucianku dan meninggalkan aku dengan kesombongan kamu, aku tidak mencintaimu lagi. Aku memang tidak dendam sama kamu. Tapi, aku tidak mencintaimu lagi"
"Oke! Kamu tidak mencintaiku lagi! Aku terima itu dan maafkan aku kalau aku sudah merenggut kesucian kamu" Nada suara Jarvish mulai meninggi saat kesombongannya mulai diterpa badai kenyataan yang sangat pahit. Dia kehilangan cintanya Luna untuk dirinya karena ia telah menodai kesuciannya Luna.
"Aku mencintaimu Luna. Bukankah cukup kalau aku........"
"Aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku. Kalau hanya satu pihak saja yang mencintai, apakah pernikahan itu akan berhasil?"
"Aku akan mengajari kamu mencintaiku. Seperti kamu telah mengajariku mencintaimu selama ini. Aku janji, Luna. Please, demi Dave. Demi kebaikan kita semua. Ayo kita menikah hari ini juga" Jarvish kemudian bersimpuh di depan Luna dan merogoh saku kemejanya untuk mengeluarkan kotak yang setelah ia buka tampak sebuah cincin berlian yang berkilau sangat indah.
Eh! Eh! Untuk apa dia bersimpuh dan memeprlihatkan cincin itu ke aku? Batin Luna sambil celingukan ke kanan dan ke kiri.
Jarvish kemudian berteriak dengan suara lantang, "Luna Aditya, aku sungguh-sungguh mencintaimu! Maukah kamu menikah denganku?!"
Tingkah Jarvish mengundang banyak orang yang lalu lalang menjadi berhenti. Lama-lama banyak orang yang mengelilingi Luna dan Jarvish sambil bertepuk tangan dan meneriakkan kata, "Terima, terima, terima!"
Luna melangkah mendekati Jarvish untuk berkata, "Berdirilah! Malu dilihat banyak orang"
"Aku akan berdiri kalau kamu mau menikah denganku saat ini" Jarvish mendongakkan wajahnya dan memberikan senyuman tampannya ke Luna.
Luna menoleh ke kanan dan ke kiri, wajahnya langsung memerah malu saat ia melihat ternyata sudah begitu banyak orang mengelilingi dia dan Jarvish. Karena tidak ingin lebih banyak kerumunan lagi, Luna akhirnya menganggukan kepala dengan pelan-pelan karena sesungguhnya, dia masih ragu untuk bersedia menikah dengan Jarvish.
Semua orang langsung bertepuk tangan dan berteriak, "Pasang cincinnya!!!!!"
Janrish berteriak, "Yessss!!!" Lalu, pria tampan itu bangkit berdiri dan memasang cincin di jari manisnya Luna, lalu berkata, "Kamu juga harus pasangkan cincin di jari manisku"
Luna memasangkan cincin di jari manisnya Jarvish dan Jarvish langsung memeluk Luna, mencium kening Luna dan berkata, "Terima kasih Luna Aditya"
Dan setelah Jarvish melambaikan tangan ke semua orang, lalu membawa Luna berjalan masuk ke dalam kantor pencatatan sipil, kerumunan orang banyak itu langsung bubar dengan sendirinya.
Luna berfoto di depan kamera dengan kaku dan berdiri agak jauh dari Jarvish karena dia masih merasa canggung berdiri dekat-dekat dengan Jarvish.
Sang fotografer langsung berteriak, "Kalian harus berdiri berdekatan dan memasang senyum. Jangan kaku dan berjauhan gitu?!"
Jarvish langsung merangkul bahu Luna dan menarik Luna masuk ke dalam pelukannya.
"Maaf, Tuan. Jangan dipeluk juga. Berdiri aja dengan biasa, tapi berdekatan. Nah! Kayak gitu, bagus! Pertahankan, ya, dan senyum!"
Jepret! Jepret! Dia jepretan kamera menangkap ekspresi wajah Jarvish dan Luna yang tersenyum manis dan tampak bahagia.
Setelah melakukan foto berdua, Luna dan Jarvish menunggu buku pernikahan mereka dicetak. Sepuluh menit kemudian, Surya berlari menghampiri Luna dan Jarvish dan dengan senyum semringah Surya berkata, "Selamat menempuh hidup baru, Tuan dan Nyonya. Semoga bahagia dan langgeng sampai maut memisahkan kalian"
"Amin" Sahut Jarvish.
Namun, Luna mematung dan tidak menjawab ucapan selamat dari Surya. Dia masih belum percaya kalau dirinya saat ini memegang buku nikah dan dia sudah menjadi istri sahnya Jarvish Benjamin.