Memories Of Love

Memories Of Love
Restu



Setelah puas menikmati keindahan dan pertunjukan atraksi burung dan lumba-lumba di Safari Beach, Jarvish mengajak Dave dan Luna makan di sebuah restoran yang sangat mewah dan di sana Jarvish berpesan ke pemilik restoran tersebut, "Semua masakan pesananku nggak usah memakai bumbu penyedap masakan"


"Baik, Tuan Jarvish Benjamin" Sahut manajer restoran mewah tersebut yang mengenali siapa pemesan makanan di meja nomer sepuluh itu.


"Kau tahu siapa aku?" Jarvish mendelik terkejut.


"Iya. Siapa yang tidak mengenali Anda, Tuan Jarvish Benjamin"


"Hahahaha. Bisa aja kamu. Aku berencana beli nanti di tempat lain. Tapi, karena kamu mengenali aku, maka aku pesan makanan lagi di sini saja sekalian. Tapi, untuk dibungkus. Pakai kemasan yang bagus karena aku akan kasih ke Papa mertuaku"


"Baik, Tuan. Anda mau pesan makanan apa untuk Papa mertua Anda"


"Sial! Aku tidak tahu apa kesukaannya dan dia habis sakit"


"Bagiamana kalau saya bikinkan kakap asam manis karena semua orang tua menyukainya. Lalu, Capcay dan gulai kepala ikan?"


"Oke. Buatkan semua masakan itu dan bungkus dengan kemasan yang bagus"


"Siap, Tuan Jarvish Benjamin"


Jarvish kemudian kembali ke mejanya dengan wajah semringah.


Laura kebetulan juga berada di dalam restoran tersebut karena dia butuh untuk meredakan stresnya soal malam yang pernah ia lalui bersama dengan Joshua dan soal perjodohan yang harus dia jalani. Wanita itu menahan lengan seorang pramusaji pria dan pramusaji tersebut langsung terkesima melihat kecantikannya Laura. Laura tersenyum sambil melepaskan pelan lengan pramusaji pria itu ia berkata, "Maaf aku menahan kamu. Aku butuh bantuan kamu"


Melihat ada seorang pria cantik membutuhkan bantuannya, pramusaji pria itu tentu saja langsung berkata dengan senyum penuh semangat, "Apa yang bisa saya bantu, Nona? Katakan saja!"


Laura tersenyum menggoda dan berkata, "Tolong kamu ke meja nomer sepuluh itu. Cari tahu percakapan mereka dan cari tahu ada hubungan apa wanita itu dengan pria yang ada di meja nomer sepuluh itu. Aku akan kasih tips sangat besar untukmu dan aku siap jalan-jalan denganmu kalau kamu menginginkannya"


"Baiklah. Akan segera saya laksanakan perintah Anda, Nona" Sahut pramusaji pria itu dengan penuh semangat.


Dua puluh menit kemudian, pramusaji pria itu kembali ke mejanya Laura dan Laura langsung bertanya dengan penuh antusias, "Gimana?"


"Saya mendengar kalau pria tampan di meja itu memanggil wanita manis di sampingnya dengan panggilan Sayang dan terkadang memanggil wanita itu dengan Istriku. Bahkan tadi, saya melihat pria itu memesan cake dan menyuruh manajer saya untuk meletakan dia buah cincin di dalam cake tersebut"


"Sial! Luna sudah menikah dengan Jarvish Benjamin. Aku kalah start. Sial! Sial!" Laura memukul-mukul meja dengan wajah kesal.


Lalu pramusaji pria pria itu bertanya dengan perlahan, "Apakah saya boleh meminta upah saya sekarang, Nona?"


"Ah, iya. Ini" Laura meletakkan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah di atas meja dan pramusaji pria itu langsung mengambil uang itu dan menggenggamnya sambil bertanya, "Bagiamana dengan tawaran jalan-jalannya?"


"Aku akan tunggu kamu di sini sampai kamu selesai bekerja dan kita akan jalan-jalan" Sahut Laura dengan pandangan mata terus terarah ke meja nomer sepuluh.


Mamanya Jarvish mengusap dua kotak kado yang berisi sepatu import berwarna merah yang memiliki harga super fantastis. Dua kotak kado itu akan dia berikan ke Jarvish dan Dave. Mamanya Jarvish akan pergi bareng dengan Ana. Ana juga menyiapkan kado untuk Jarvish karena ia belum tahu kalau Jarvish sudah memiliki anak. Ana menyiapkan sebuah jam tangan limited edition untuk kado ulangtahunnya Jarvish.


Joshua meraup kasar wajahnya. Beberapa kali dia mengumpat kesal dan saat Bram bertanya, "Anda kenapa, Tuan?"


Joshua malah membentak Bram dan menyuruh Bram keluar dari ruangannya.


Sepeninggalnya Bram, Joshua bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan wajah risau. Dia takut kalau Laura hamil dan dia harus bertanggung jawab padahal hati dan cintanya hanya untuk Luna seorang. Joshua tidak bisa mencintai wanita lain selain Luna.


"Sial! Kenapa aku bisa melakukan hal menjijikan itu dengan Laura! Sial!" Joshua berteriak kencang sambil menggebrak kesal meja kerjanya.


Luna memotong cake keju berbentuk segitiga di depannya dan Jarvish terus menatap Luna dengan senyum penuh arti.


"Kenapa Mas menatapku terus?"


"Karena Mama sangat manis" Sahut Dave.


"Hmm" Sahut Jarvish masih dengan senyum lebar penuh artinya.


Luna tersenyum dan dengan rona merah di wajah, wanita manis itu berkata, "Kalian benar-benar Papa dan anak. Selalu kompak dalam segala hal"


"Iya, dong" Sahut Jarvish dan Dave secara bersamaan. Lalu keduanya bersitatap dan terkekeh geli dengan kompak.


Luna mengernyit kaget saat giginya mengunyah sesuatu yang sangat keras. Wanita manis itu buru-buru mengambil benda keras dari mulutnya dengan mengunakan tangan dan saat ia melihat benda itu, Luna menoleh ke Jarvish dengan wajah penuh tanda tanya, "Apa ini?"


"Cincin pernikahan kita"


"Hah?!"


Jarvish menoel pucuk hidung Luna dan sambil terkekeh geli ia berkata, "Kenapa kau suka banget kaget dan bengong kayak gitu? Sini aku pasangkan cincinnya.


Luna menyerahkan cincin itu ke Jarvish dan pria tampan itu tersenyum bahagia saat ia memasangkan cincin itu di jari manis tangan kanan Luna. Dave berteriak tangan riuh saat papanya mencium kening mamanya.


Jarvish lalu memotong kue yang sama di depannya dan mengeluarkan cincin dari sana. Lalu, ia serahkan cincin itu ke Luna, "Pasangkan ini di jariku, Istriku"


Luna tersenyum malu dan setelah ia memasangkan cincin di jari manis tangan kanannya Jarvish, Jarvish kembali mencium kening Luna dan Dave kembali bertepuk tangan riuh.


Jarvish lalu mengangkat Dave untuk ia pangku dan saat ia merangkul bahu Luna, Jarvish kembali mencium kening Luna lalu berkata, "Cincin yang melingkar di jari manis kita adalah tanda ikatan cinta kita, tanda kesetiaan kita, dan bukti kalau kita adalah suami istri yang sah. Maaf kalau aku telat memberikan cincinnya"


"Terima kasih, Mas" Sahut Luna.


Jarvish mencium pucuk kepala Dave lalu berkata, "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu Luna. Pada keberanian kamu dan pada kasih sayang kamu yang sangat besar pada Dave. Kalau kamu tidak punya keduanya maka aku tidak akan pernah bertemu denganmu dan Dave. Terima kasih juga kau sudah menjadi wanita tangguh selama ini. Dave cium Mama dan ucapkan terima kasih juga"


Dave menoleh dan mengusap air mata haru di kedua mamanya. Lalu, ia cium kedua pipi mamanya dan berkata, "Terima kasih, Ma. Dave sangat mencintai Mama"


"Papanya Dave juga sangat mencintai Mamanya Dave" Jarvish ikutan mencium kedua pipi Luna.


Luna kembali menangis, tetapi dengan senyum penuh syukur dan kebahagiaan. Jarvish semakin memeluk erat anak dan Istrinya dengan penuh rasa syukur.


"Laura dari kejauhan kembali menggebrak meja. Lalu, wanita cantik mantan pacarnya Jarvish Benjamin itu kemudian bergumam, "Aku akan membuatmu membayar semuanya Luna. Aku yang seharusnya berada di situ bukannya kamu. Bisa-bisanya kamu mengkhianati persahabatan kita dan menikah diam-diam dengan Jarvish. Lihat saja nanti


Tepat jam lima sore, Jarvish meluncurkan mobilnya ke rumah papanya Luna.


"Terima kasih, Mas" Ucap Luna sambil membetulkan kepala Dave yang tertidur di dalam dekapannya agar lebih nyaman.


Jarvish menoleh sekilas, "Untuk apa?"


"Untuk semuanya dan terima kasih karena Mas udah bungkuskan makanan kesukaannya Papa"


"Oh! Nggak usah berterima kasih. Aku beli untuk Papa mertuaku"


Luna tersenyum lebar berkata, ""Mas ternyata baik dan perhatian juga, ya. Nggak sepenuhnya rumor tentang Mas itu benar"


"Emang rumor apa yang kau dengar tentang aku selama ini?"


"Yang aku dengar Jarvish Benjamin itu kasar, dingin, kejam, dan tidak punya hati sama sekali"


Jarvish sontak tergelak geli dan sambil mengusap rambut Luna, pria tampan itu berkata, "Aku rasa itu benar. Tapi, khusus untuk kamu dan Dave aku akan menjadi pria yang kalian sukai"


"Mas, apa Mas yakin akan mengenalkan siapa Mas yang sebenarnya sama Papaku?"


"Hmm. Aku rasa Papa mertuaku harus tahu kalau aku adalah Suami kamu karena aku ingin meminta maaf sama beliau atas dosa besar yang sudah aku lakukan ke kamu di masa lalu"


"Papaku orang yang kolot dan keras. Kalau Papa memberikan hukuman ke Mas bagaimana?"


Luna menatap Jarvish dari samping sambil berdoa, semoga papa bisa mengampuni kesalahan kamu di masa lalu dan menerima kamu menjadi menantunya, Mas.


Tepat jam delapan malam, Jarvish memarkirkan mobilnya di pekarangan kecil rumah bergaya minimalis milik Papanya Luna.


Pria tampan itu menyuruh dua mobil yang berisi anak buahnya parkir di pinggir jalan.


Mendengar suara mobil memasuki pekarangannya, papanya Luna tergopoh-gopoh keluar dan saat ia melihat Luna menghampirinya dengan menggendong Dave, papanya Luna tersenyum lebar dan langsung melangkah lebar ke depan untuk bisa segera memeluk putri dan cucu tercintanya itu.


Papanya Luna melepaskan pelukannya saat Luna berkata, "Pa, ada yang ingin menyalami Papa"


"Siapa?" Papanya Luna sontak melempar pandangannya ke depan dan langsung memekik terkejut, "Anda?! Kenapa Anda di sini? Kenapa Anda bisa datang bersama Putri dan cucuku?"


"Ini Papanya Dave, Opa" Sahut Dave dengan keluguannya.


Papanya Luna sontak memekik kaget, "Apa?!"


"Pa, jangan........."


"Bawa masuk Dave ke dalam Luna!" Sahut papanya Luna tanpa melepaskan tatapannya dari Jarvish.


Jarvish tanpa gentar juga menatap kedua mata papanya Luna.


"Pa, jangan........"


"Masuk sekarang juga!" Papanya Luna menggeram.


Luna langsung mendekap erat tubuh Dave dan berlari masuk ke dalam rumah.


Papanya Luna langung melangkah melintasi Jarvish sambil berkata, "Kita bicara di kafe depan situ! Jangan di sini!"


"Baik" Sahut Jarvish sambil berjalan santai mengekor langkah papa mertuanya.


Setelah pesanan kopinya tersaji di atas meja, Papanya Luna yang masih terus menatap tajam Jarvish, akhirnya membuka suara, "Kamu sudah menikah dengan Luna?"


"Sudah" Sahut Jarvish dengan nada santai tanpa gentar karena pria tampan itu sudah terbiasa menghadapi situasi yang lebih genting dan menegangkan daripada ini.


"Mana buktinya?"


Jarvish meletakkan dua buku nikah yang dia ambil dari dompet jinjingnya di depan papa mertuanya.


"Oke. Tapi, aku tetap merasa tidak suka sama kamu karena kamu telah menodai anakku dan meninggalkannya begitu saja" Ucap papanya Luna sambil mengembalikan buku nikah ke Jarvish.


"Terus terang saya juga tidak menyukai Anda"


"Hah?! Kau berani melawanku?"


"Saya tidak berani melawan Anda. Tapi, saya hanya ingin mengatakan apa yang mengganjal di hati saya. Saya tidak menyukai Anda karena Anda ingin Luna menggugurkan kandungannya dulu kala dan saat Luna ingin mempertahankan kandungannya, Anda justru mengusir Luna dari rumah Anda. Anda hampir membunuh Dave saat itu. Itulah kenapa saya tidak menyukai Anda. Kalau Anda memaafkan kesalahan saya di masa lalu dan menerima saya menjadi menantu Anda maka saya juga akan memaafkan kesalahan Anda di masa lalu dan menerima Anda menjadi mertua saya"


"Hahahahahaha! Anda memang Tuan Jarvish Menjamin yang terkenal itu dan aku menyukaimu kejujuran kamu, hahahaha" Sahut papanya Luna.


Jarvish tersentak kaget dan langsung bertanya, "Apa ini berarti Anda sudah......."


"Kita mertua dan menantu sekarang ini, hahahahaha. Aku menyukaimu Jarvish Benjamin"


Jarvish tersenyum lebar dan berkata, "Saya rasa saya juga menyukai Anda saat ini"


"Panggil aku Papa!"


"Papa"


"Hahahaha. Aku bahagia saat ini. Mari kita nikmati kopi kita"


"Tapi, Luna pasti menunggu kita dengan cemas di rumah saat ini, Pa"


"Biarkan saja! Sayang kopinya kalau tidak dinikmati"


Jarvish hanya bisa menghela napas panjang.


Dua puluh menit kemudian, kedua pria tampan itu kembali ke rumah dengan langkah santai dan berangkulan.


Luna menatap kedua pria tampan itu dengan wajah penuh tanda tanya.


"Apa kamu mencintai pria ini?" Tanya papanya Luna.


Luna malah ternganga, "Hah?!"


"Jawab! Kok malah bengong"


Jarvish menatap Luna dan menunggu jawaban Luna dengan rasa was-was.


"Iya"


"Hah?!" Jarvish tersentak kaget.


"Iya, apa?" Tanya papanya Luna.


"Iya, Pa. Luna mencintai Mas Jarvish Benjamin. Apakah Papa merestui kami?"


"Tentu saja. Kalian sudah menikah dan saling mencintai. Tentu saja kau harus merestui kalian"


Jarvish langsung menggenggam tangan Luna dan menatap papa mertuanya, "Apa saya boleh bicara empat mata dengan Luna sebentar di kamar, Pa?"


"Tentu saja" Sahut Papanya Luna dengan gelak geli.


Jarvish langsung menarik tangan Luna ke kamar. Sesampainya di kamar Jarvish menggendong Luna dan berputar badan sambil berkata, "Terima kasih sudah mencintai aku, Luna"


Luna tertawa bahagia.


Jarvish kemudian menurunkan Luna dengan pelan di atas lantai. Jarvish belum menarik Luna ke tempat tidur. Napas pria itu nyaris tak terkontrol saat Luna menatap tajam kedua bola matanya. Napas itu berhembus keras dan terasa hangat di wajah Luna.


"Aku menginginkanmu" Tanpa melepaskan Laura dari tatapannya yang berapi-api, Jarvish membuka ritsleting yang ada di punggung Luna.


Luna menatap Jarvish dengan daya tarik seekor kelinci liar betina yang terlihat sangat menarik bagi seorang pemburu.


Suara desiran kain pada kulit Luna terdengar sewaktu Jarvish menurunkan ritsleting.


"Bersiap-siaplah. Aku akan mencium kamu seperti yang selalu kuinginkan" Suaranya terdengar serak, berat, dan agresif.


Mulutnya tiba dengan keras dan memaksa dan Luna terkejut dengan sendirinya saat ia merasakan bahwa ciuman itu yang ditunggu-tunggu oleh Luna. Dengan kasar lidahnya memisahkan bibir Luna, dan mendorongnya lebih dalam. Perempuan itu membalas permainannya Jarvish seraya mencengkeram otot-otot punggung Jarvish yang lentur. Terdengar oleh Luna degup jantungnya dan degup jantung Jarvish yang berpacu dengan cepat.


Ciuman Jarvish itu membuat bibir Luna memerah dan basah dan saat ciumannya ke dada Luna pintu kamar diketuk sebanyak tiga kali.


"Sial!" Jarvish mengumpat lirih saat Luna berbalik badan untuk membukakan pintu.