Memories Of Love

Memories Of Love
Permen



Mendengar Joshua berteriak, Luna sontak membuka mata dan sambil mencabut jarum infus dari punggung tangannya, wanita.nerparas manis dan lembut itu merosot turun dari tempat tidur dengan pelan lalu melangkah gontai sambil bergumam, "Apa yang terjadi? Kenapa perasaanku nggak enak begini? Dave, Dave, semoga Dave baik-baik saja" Luna berhasil meraih handle pintu, namun saat ia membuka pintu, tubuhnya limbung dan seorang suster yang kebetulan lewat langsung menangkap tubuh Luna dan membawa Luna kembali ke bed.


Suster tersebut menghela napas panjang saat tahu Luna melepas infus. Suster tersebut langsung berkata, "Saya akan ngebel untuk manggil teman saya ke sini untuk membantu saya memasang kembali infusnya karena kalau saya tinggal keluar, Anda pasti juga akan nekat keluar. Padahal Dokter belum mengijinkan Anda untuk pulang. Kondisi Anda cukup parah, Nyonya Luna"


"Tapi, saya mengkhawatikan anak saya, Dave. Saya harus pulang. Saya harus melihat sendiri dengan mata kepala saya kalau Dave ada di rumah dan baik-baik saja"


"Putra Anda dijaga dengan baik pastinya. Anda harus mementingkan kesehatan Anda dulu, Nyunya. Kalau Anda sakit terus siapa yang akan menjaga Putra Anda. Jadi, Anda harus dirawat dengan baik dulu di sini, biar sehat dan fit lagi, jadi bisa terus menjaga Putra Anda tanpa sakit lagi"


Luna akhirnya berkata, "Baiklah" Walaupun hatinya masih terus mengkhawatirkan Dave.


"Kamu ingin jalan-jalan sama Papa, kan?"


"Hmm" Sahut Dave dengan wajah semringah. Anak kecil berwajah tampan itu merasa sangat senang saat ini karena akhirnya impiannya untuk bisa bertemu dengan papanya terwujud.


"Kamu pengen pergi ke mana?" Jarvish menoleh mencium Dave yang berada di atas pangkuannya.


Dave merosot turun dari pangkuan papanya dan duduk di sebelah papanya sambil berkata, "Mama ingin Dave mandiri. Mama tidak suka kalau Dave dipangku"


Jarvish langsung menarik lembur tubuh Dave untuk ia pangku kembali sambil berkata, "Kamu tidak pernah bertemu dengan Papa. Jadi, nggak papa kalau kamu ingin bermanja-manja sama Papa. Kamu boleh berada di atas pangkuannya Papa selama yang kau mau" Jarvish mencium pipi Dave dan tersenyum saat Dave tersenyum padanya. "Sekarang katakan ke Papa kamu pengen ke mana?"


"Nggak tahu" Dave menggelengkan kepalanya dengan wajah polos.


"Kok, nggak tahu" Jarvish mencubit pelan pucuk hidungnya Dave.


"Dave nggak pernah pergi ke mana pun selama ini kecuali pergi ke sekolah"


"Aish! Mama kamu itu gimana, kok, tega sekali nggak pernah ajak kamu pergi ke mana-mana"


"Jangan salahkan Mama, Pa. Dave yang nggak mau diajak Mama pergi karena Dave tahu kalau uang Mama nggak banyak"


"Oke. Kalau gitu, Papa akan ajak kamu ke mall dan......"


"Pa, bolehkan Dave memanggil Om Brian dengan nama tengahnya Om Brian? Soalnya Dave takut salah ucap. Nama Om Brian hampir sama dengan nama Om Bram"


Brian langsung menoleh ke jok belakang sejenak untuk tersenyum dan kembali menatap ke depan sambil menyahut "Boleh, Tuan muda. Tuan muda boleh manggil Om dengan nama tengah Om"


"Om Surya"


"Siap Tuan muda" Sahut Biran.


"Oke, kalau gitu aku juga akan panggil kamu Surya, Yan"


"Siap, Tuan" Sahut Brian.


Dan sejak itu, Brian tidak lagi dipanggil Brian melainkan dipanggil dengan nama tengahnya, yakni, Surya.


"Bawa aku dan Dave ke mall"


"Siap, Tuan" Sahut Surya.


Jarvish menemani Dave bermain mandi bola dan pria tampan itu melotot ke seorang anak kecil yang tanpa sengaja menyenggol Dave. Jarvish langsung membentak keras anak kecil itu saat anak kecil itu menyenggol Dave untuk yang kedua kalinya sampai Dave terjatuh.


Anak kecil itu langsung menangis ketakutan melihat mata melorotnya Jarvish dan mendengar bentakannya Jarvish yang sangat kencang.


Ibu dari anak itu langsung masuk ke arena bermain mandi bola dan berkacak pinggang di depan Jarvish, "Kenapa kau membentak anakku, hah?!"


"Surya!"


"Iya, Tuan?"


"Bawa Dave keluar dari sini!"


"Jawab! Kenapa kau membentak anakku sampai anakku menangis ketakutan seperti ini, hah?!"


"Pantas saja anaknya nggak punya rata Krama. Ibunya saja kayak gin, cih!"


"Kau? Berani sekali kau menghina anakku dan menghina aku, hah?!"


"Anakmu menyenggol Putraku dengan sengaja sampai dua kali. Dan yang terakhir Putraku sampai terjatuh dan lututnya berdarah. Apa aku salah kalau aku membentak anakmu, hah?!"


"Apa benar begitu? Nggak mungkin! Anakku anak yang baik"


"Ada CCTV. Kita lihat rekaman CCTV-nya. Kalau terbukti anak kamu bersalah, aku akan menuntut kamu dengan kejam. Sebelum itu terjadi, aku sarankan kamu meminta maaf saja dan aku akan lupakan semuanya"


"Nggak! Aku yakin kalau anakku nggak salah. Ayo kita lihat rekaman CCTV-nya dan......."


"Ma! Hentikan! Maafkan Istri dan anak saya, Tuan Jarvish Benjamin"


Wanita itu menoleh tajam ke suaminya untuk bertanya, "Di....dia Tuan Jarvish Ben.....Benjamin?"


"Benar. Cepat minta maaf sama beliau kalau kamu nggak ingin suami kamu dipecat" Bisik suami dari wanita itu.


"Maafkan kami, Tuan Jarvish Benjamin"


"Cih! Wanita di mana saja sama. Menyebalkan, cih! Kau siapa?" Jarvish bertanya ke pria di depannya yang tengah menundukkan kepala.


"Sa....saya manajer umum di hotel Anda, Tuan. Tolong jangan pecat saya dan......"


"Terlambat! Aku sudah berikan pilihan ke wanita yang ada di sebelah kamu itu, tapi dengan sombongnya dia menantangku. Maka ayo kita lihat rekaman CCTV-nya!"


Dengan langkah ketakutan seorang suami istri yang tidak beruntung itu mengikuti langkah lebarnya Jarvish yang tengah menuju ke ruang CCTV. Sang suami yang menggendong anaknya terus berbisik ke istrinya,, "Semoga anak kamu terbukti tidak bersalah. Jadi, Papa bisa selamat dan tidak dipecat"


Namun, harapan pria malang itu musnah saat rekaman CCTV memperlihatkan kenakalan anaknya yang dengan sengaja menyenggol Dave dengan sengaja sebanyak dua kali dan yang terakhir menyebabkan Dave terjatuh sampai lututnya berdarah.


Jarvish langsung berkata tanpa menoleh ke pasangan suami istri yang anaknya telah berani melukai Dave dengan sengaja, "Kau dipecat! Besok Surya akan kirimkan gaji terakhir kamu" Lalu, Jarvish pergi begitu saja meninggalkan pasangan suami istri yang tengah menangis memohon dengan penuh penyesalan.


Begitu sampai di tempat Surya dan Dave tengah menunggunya, Jarvish langsung berjongkok di depan Dave untuk memeriksa lutut Dave, "Untunglah cuma luka kecil. Anak Papa hebat nggak nangis pas jatuh dan berdarah lututnya"


"Kata Mama, anak cowok nggak boleh cengeng"


"Lalu, kenapa kamu tidak membalas anak nakal tadi dengan mendorongnya balik biar dia juga rasakan bagaimana rasanya kalau lututnya berdarah"


"Kata Mama, pria sejati tidak menggunakan otot tapi menggunakan otak. Dan saat Dave ingin mengatakan sesuatu ke anak cowok tadi, Papa sudah membentaknya"


"Hmm. Baiklah" Jarvish lalu menggendong Dave dan berkata, "Plester dari Om Surya aman, kan? Luka kamu nggak terasa sakit lagi?"


"Aman, Pa. Luka Dave udah nggak terasa perih, kok"


"Bagus. Anak Papa memang jagoan" Jarvish menciumi pipi putranya dengan penuh kasih sayang.


"Papa laper. Kita beli makan dulu terus pulang, ya?"


Dave langsung memberikan sebungkus permen cokelat ke papanya saat ia mendengar papanya berkata lapar.


"Untuk apa permen ini?"


"Kalau Dave lapar dan Mama masih sibuk, Mama berikan permen ke Dave untuk Dave kunyah. Kata Mama permennya bisa untuk mengganjal rasa laparnya Dave dan itu benar, Pa, permennya bisa mengganjal rasa laparnya Dave. Semua yang dikatakan Mama selalu benar, Pa" Dave berucap sambil membuka bungkus permen dan menyuapkan permen cokelat itu ke papanya.


Jarvish tersenyum dan kemudian berucap, "Terima kasih" Lalu, pria tampan itu mengunyah permen cokelat tersebut sambil bergumam di dalam hatinya, Luna Aditya ternyata mendidik Dave dengan sangat baik. Aku jadi semakin penasaran, Luna Aditya itu sebenarnya wanita yang seperti apa?