
Laura menemui Jarvish di kantor pemuda tampan itu. Namun, sayangnya Jarvish tidak ada di kantor. Laura kemudian bertanya ke sekretarisnya Jarvish, "Di mana Bos kamu?"
"Saya tidak tahu, Nona. Tuan Jarvish dan Pak Brian belum sampai di kantor sejak tadi"
"Aku juga nggak bisa menelepon ponselnya sari tadi. Ke mana Jarvish pergi?" Sahut Laura.
Kemudian gadis cantik berumur dua puluh delapan tahun itu memutuskan untuk kembali ke kantornya dan akan menemui Jarvish di jam makan siang.
Brian mendapatkan alamat rumah kontrakannya Luna dari petugas administrasi rumah sakit tersebut. Namun, sayangnya saat ia dan Jarvish tiba di rumah kontrakan itu, mereka tidak menemukan Dave dan Luna.
Brian menoleh ke Jarvish untuk berkata, "Saya akan tanya-tanya ke tetangga sekitar kira-kira Nyonya dan Dave pergi ke mana, Tuan"
"Hmm. Aku tunggu kamu di sini Sahut Jarvish.
"Baik, Tuan"
Jarvish berdiri berkacak pinggang di depan rumah kontrakan uang kecil dan menurut dia rumah itu tidak layak untuk dihuni. Dia memang pernah hidup miskin dan hanya tinggal di kamar kost kecil bersama almarhum papa kandungnya dulu, tapi entah kenapa saat ini dia merasa tidak rela kalau Dave tinggal di rumah kecil dan menurut dia, sangat tidak layak untuk dihuni.
Brian berdiri di sebelahnya Jarvish dan langsung berkata, "Tuan"
Jarvish tersentak kaget dan sontak menoleh ke Brian, "Gimana? Sudah kau temukan keberadaannya Dave?"
"Belum, Tuan. Tapi, kata para tetangga di jam segini biasanya Nyonya pergi ke pasar untuk belanja"
"Ya udah kita ke pasar itu"
"Tapi, pasarnya sangat luas, Tuan. Gimana caranya kita menemukan Tuan muda dan Nyonya?"
Jarvish bahkan tidak melemparkan protes saat ia mendengar Brian menyebut Dave dengan sebutan Tuan muda.
"Kalau ke sekolahannya Dave? Dave sudah sekolah, kan?"
"Saya udah dapatkan alamat sekolahannya Tuan muda. Tapi, cukup jauh dari sini dan kita ada janji meeting dengan klien penting sebentar lagi, Tuan"
"Ya, sudah. Kita ke kantor aja. Yang penting kita udah tahu sekolahannya Dave di mana. Aku akan langsung ke sekolahannya Dave begitu hasil tes DNA menyatakan kalau Dave adalah Putraku" Sahut Jarvish sembari berputar badan dan melangkah ke mobilnya.
"Baik, Tuan" Sahut Brian sembari mengekor langkah tuannya.
Luna menyuapi putranya setelah selesai memasak sarapan untuk Joshua.
Di dalam kamarnya, Joshua bersenandung riang sembari memasang dasi di depan kaca besar. Lalu, ia melangkah keluar dari dalam kamar dengan semringah. Pria tampan berkacamata dan berambut abu-abu itu langsung menyerahkan tas kerjanya ke Bram sembari bertanya, "Luna sudah keluar dari kamarnya belum?"
"Nyonya Luna sudah memasak dari tadi pagi Tuan"
"Memasak? Masak apa dia?"
"Saya lihat tadi, Nyonya Luna masak sup ayam, nasi goreng, perkedel kentang, dan menggoreng tahu, Tuan"
"Wah! Berarti kita perbaikan gizi pagi ini. Kita biasanya, kan, cuma sarapan roti selai dan susu"
Bram tersenyum lebar dan berkata, "Iya, Tuan. Kita perbaikan gizi pagi ini"
Jarvish yang tidak menyukai ada orang asing di rumahnya memang tidak pernah memiliki asisten rumah tangga. Tapi, dia meminta Bram tinggal di rumahnya untuk menemani dia. Bram tinggal di paviliun di sebelah timur rumah utama yang dipakai Jarvish menjadi tempat tinggalnya. Paviliun yang ditempati Brian dulunya adalah galeri lukis milik almarhum mamanya.
Dua jejaka muda yang super sibuk, selalu sarapan seadanya, makan siang lewat layanan pesan antar dengan menu asal tunjuk, dan makan malam kalau sempat itu merasa girang melihat aneka makanan tersaji di meja makan.
Joshua duduk dan langsung bertanya ke Bram,."Lalu, Luna di mana sekarang?"
"Tadi, saya lihat Nyonya masuk kembali ke kamar sembari membawa nampan. Sepertinya Nyonya menyuapi Dave di kamar"
"Ooooo. Ya, sudah kalau gitu. Kita tunggu Luna dulu terus kita sarapan bareng" Ucap Joshua dengan wajah semringah.
Setelah Luna datang ke meja makan dan duduk, Joshua langsung bertanya, "Gimana keadaan Dave pagi ini?"
"Sudah jauh lebih baik. Cuma dia masih lemas. Jadi, belum saya ijinkan untuk perhi sekolah"
"Iya, benar. Biarkan Dave veristirahat dulu paling nggak untuk sehari ini" Sahut Joshua.
"Terima kasih untuk perhatiannya Tuan"
"Aku sudah bilang, kan, kemarin, jangan panggil Tuan lagi! Kamu pacarku sekarang. Jadi, panggil Mas!"
"Baik" Sahut Luna dengan rona merah di wajah karena Joshua mengatakan semua itu di depan Bram.
Bram duduk diam membisu dengan canggung.
Joshua kemudian berkata, "Terima kasih banyak sudah masak sarapan selengkap ini untuk aku dan Bram. Kapan kamu belanja dan di mana kamu belanja?"
"Saya kemarin lihat di ujung jalan ada penjual sayuran lengkap. Saya bangun pagi-pagi buta dan jalan kaki ke sana"
"Terima kasih banyak. Lain kali kalau mau belanja ketuk pintu kamarku aku akan antarkan kamu belanja"
"Baik Tuwn, eh, Mas. sekarang silakan dicicipi masakan saya. Enak tidak?"
Bram dan Joshua langsung mencicipi masakan Luna dan secara bersamaan keduanya memuji masakan Luna, "Enak banget"
"Terima kasih" Sahut Luna dengan senyum bahagia.
"Ayo! Kamu juga harus makan" Sahut Joshua sembari perkedel kentang.
"Baik Tuan" Sahut Luna.
Sembari menikmati sarapan bersama Bram dan Joshua, Luna bertanya,"Apakah saya mulai bekerja hari ini?"
"Pengasuhnya Dave belum datang. Dia sepupunya Bram. Supir pribadinya Dave juga belum datang. Supir itu dulunya adalah supir pribadinya almarhum Mamaku. Mereka berdua bisa dipercaya. Bahkan sangat bisa dipercaya. Tapi, mereka semua belum pada datang" Joshua menoleh ke Bram.
"Lastri dan Jenny datang ke kantor Anda siang ini, Tuan" Sahut Bram.
"Kalau gitu, kamu nggak usah masuk kerja hari ini. Kamu jaga Dave aja. Nanti siang aku akan pulang membawa Lastri dan Jenny ke sini. Kamu mulainya kerja besok saja. Lalu aku akan antarkan kamu dan Dave ke apartemenku" Sahut Joshua.
"Baik, Mas"
Setelah selesai sarapan, Luna mengantarkan Joshua sampai di depan pintu dan Luna tersentak kaget saat Joshua mendaratkan ciuman di kening Luna, lalu berkata, "Mas pergi kerja dulu, ya, Sayang. Baik-baik di rumah"
Hati Luna melayang tinggi saking bahagianya. Dia seolah memiliki keluarga yang sempurna yang selama ini ia impikan.
Dua hari kemudian..........
Luna tersentak kaget saat ia mendapatkan telepon dari gurunya Dave kalau papanya Dave menjemput Dave.
Tanpa berpikir panjang dan lupa pamit ke Joshua, Luna langsung berlari dan mengajak Jenny supir pribadinya ke sekolahannya Dave.
Sesampainya di depan sekolahannya Dave, Luna langsung turun dari dalam mobil dan seseorang langsung menyeret Luna masuk ke dalam sebuah mobil mewah tanpa sepengetahuannya Jenny.
Luna tersentak kaget saat ia melihat lelaki yang duduk di dalam mobil mewah itu. Luna sontak menyemprotkan, "Di mana Dave?!"
"Dave ada di tempat yang aman. Aku nggak mungkin mencelakainya karena aku adalah Papa kandungnya"
"Ka......kamu bukan Papa kandungnya. Kembalikan Dave! Dia hanya anakku! Dave hanya anakku!" Luna berteriak kencang dengan wajah panik bercampur kemarahan yang luar biasa.
"Cih! Kau pikir aku bodoh, hah?!" Pria tampan itu berucap sembari melemparkan sebuah map di muka Luna.