Memories Of Love

Memories Of Love
Panas



"Pemenangnya adalah keluarga Dave Aditya. Selamat untuk Dave Aditya sekeluarga yang sudah berhasil memenangkan semua lomba di tahun ini dengan nilai yang cukup tinggi"


"Yeeaayyy!" Luna langsung mengajak Dave dan Jarvish melakukan tos. Jarvish tertawa lebar dan kembali memeluk Luna dan Dave secara bersamaan.


Master of Ceremony, kembali berkata, "Untuk menunggu persiapan penerimaan trophy, kami selaku perwakilan dari panitia lomba di tahun ini, mempersilakan Anda semua menikmati jamuan yang sudah kami sediakan di taman secara prasmanan"


Jarvish membatin, Rambutnya wangi banget. Dia berkeringat. Tapi, justru semakin wangi. Aku suka aroma tubuhnya. Tanpa Jarvish sadari ia mendaratkan wajahnya di pucuk kepalanya Luna.


Luna melepaskan diri dari pelukannya Jarvish sambil berkata, "Kenapa kamu memelukku terus?"


"Jangan kepedean. Aku nggak ada niat memeluk kamu. Itu karena refleks. Kalau aku bahagia aku selalu memeluk orang yang berada di sebelahku"


"Iya. Terserah kamu" Luna langsung menggandeng tangan Dave dan berjalan meninggalkan Jarvish untuk mengambil makanan dan minuman yang tersaji prasmanan.


Surya langsung mendekati Jarvish untuk berkata, "Selamat, Tuan"


"Terima kasih" Sahut Jarvish tanpa melepaskan pandangannya dari punggung Luna.


"Nyonya muda wanita yang sangat manis dan tangguh, ya, Tuan?" Ucap Surya.


Jarvish langsung menoleh tajam ke Surya, "Kenapa kau memuji Luna"


"Saya hanya mewakili suara hati Anda, Tuan"


"Suara hatiku?"


"Anda terus menatap Nyonya muda dengan pandangan yang beda, Tuan. Saya......."


"Cih! Sok tahu" Jarvish berucap sambil berjalan meninggalkan Surya.


Surya mengulum bibir menahan senyum dan bergumam, "Anda lucu sekali, Tuan. Anda sudah mulai menyukai Nyonya muda, tapi belum menyadarinya" Asisten priabdinya Jarvish itu kemudian berbalik badan menuju ke mobil dan menunggu keluarga kecil tuan mudanya di mobil.


Jarvish celingukkan mencari Luna dan Dave sambil mengumpat kesal, "Sial! Gara-gara Surya mengajakku ngobrol, aku kehilangan Luna dan Dave. Di mana mereka?"


Luna berlari mendekati Dave saat ia melihat putra tunggalnya itu mencoba naik ke atas pohon mangga dengan tangan kanan menggenggam sesuatu.


"Kamu mau apa, Dave? Kenapa ingin naik ke pohon dengan tangan menggenggam kayak gitu. Kamu bisa terpeleset dan jatuh Apa yang kau genggam?"


Dave membuka genggaman tangannya sambil berkata, 'Telur burung ini jatuh sarang yang ada di ujung ranting itu, Ma. Dave ingin mengembalikannya ke sana"


Oh, begitu. Mana kasih ke Mama biar Mama yang meletakkan kembali telur burung ini ke sarangnya"


Dave menyerahka telur burung yang dia temukan ke Luna dan Luna langsung berjinjit untuk meletakkan telur burung itu ke sarangnya. Namun, ternyata ia masih kurang tinggi walaupun sudah berjinjit. Berkali-kali berjinjit dia gagal, akhirnya Luna mencoba untuk melompat dan gagal lagi.


Tiba-tiba Luna terkesiap dan memekik kaget saat ia merasakan pinggangnya dipegang oleh seseorang dan tubuhnya diangkat tinggi sampai kepalanya melampaui sarang burung itu.


"Letakkan telurnya cepat! Kamu, tuh, kurus, tapi berat juga ternyata" Teriak Jarvish.


Luna meletakkan telur burung itu di sarangnya dan berteriak kesal, "Sudah! Sekarang turunkan aku!"


Jarvish menurunkan Luna dengan pelan. Kemudian untuk beberapa detik mereka bersitatap sampai terdengar suara Dave, "Pa, Dave juga ingin lihat sarang burungnya Boleh? Dave ingin lihat telurnya ada berapa?"


"Boleh dong" Jarvish langsung mengangkat tubuh Dave tinggi-tinggi sampai Dave berteriak "Pa! Telurnya ada tiga biji"


Alih-alih merespons teriakan Dave, Arah pandang Jarvish mengikuti langkah Luna yang berjalan menjauh sembari mengangkat panggilan telepon dari Joshua. Hatinya terasa perih saat ia melihat Luna menjauh darinya demi mengangkat panggilan telepon dari Joshua.


Kenapa dia baik dan bisa selalu tersenyum dengan Joshua? Tapi, kalau sama aku dia selalu tampak kesal. Batin Jarvish.


"Pa! Turunkan Dave" Teriak Dave.


"Ah, iya!" Jarvish tersentak kaget dan langsung menggendong Dave sambil bertanya, "Ada berapa telurnya?"


"Kamu suka menolong tanpa berpikir panjang sama persis seperti Mama kamu" Jarvish mencium gemas pipi Dave dan Dave tertawa senang lalu berkata, "Mama bilang Dave harus suka menolong seperti Papa. Papa, kan, pahlawannya Mama dulu. Papa pernah menolong Mama waktu terjadi gempa di kampusnya Mama dulu"


"Mama kamu bilang seperti itu?"


"Hmm. Mama juga berkata kalau anak laki-laki harus berani seperti Papa"


Jarvish tersenyum senang mendengar ucapannya Dave.


Di atas panggung, Jarvish mengangkat tinggi tubuh Dave yang tengah memeluk trophy dan Luna bertepuk tangan dengan wajah sumringah di sebelah Jarvish. Dan yang mengejutkan adalah Dave mencium pipi papanya saat turun dari panggung dan berkata, "Terima kasih, Pa. Papa sudah turun dari Bulan dan membantu Dave memperoleh trophy ini"


Jarvish menitikkan air mata haru dan sambil mencium pipi Dave, ia berkata, "Mama kamu juga berjasa dalam hal ini"


"Hmm. Mama sangat hebat. Dave akan berterima kasih sama Mama. Lho, Mama mana, Pa?"


"Mama kamu menemui Om Joshua di sana" Jarvish mengulurkan kepalanya ke depan ke gerbang sekolahnya Dave.


Joshua menggandeng tangan Luna untuk berjalan mendekati Jarvish yang masih menggendong Dave. Jarvish menatap tautan tangan Luna dan Joshua dengan perasaan campur aduk dan hatinya sedikit teriris perih.


Jarvish menahan Dave saat Joshua ingin menggendong Dave. Jarvish langsung mendelik dan berkata, "Dave hanya milikku"


Joshua menghela napas panjang dan kemudian berkata, "Selamat, ya, Dave. Ini hadiah dari Om"


Saat Joshua ingin mencium Dave, Jarvish menahan wajah Joshua dan berkata, "Jangan cium Dave! Dave hanya milikku"


Jarvish juga menepis tangan Joshua yang mengulurkan sebuah papar bag berukuran cukup besar ke Dave.


Dave langsung berkata, "Kata Mama, tidak baik menolak pemberian orang yang tulus, Pa. Terima kasih banyak ,om Joshua untuk hadiahnya"


"Sama-sama Dave. Tuh, Dave aja tahu soal sopan santun menerima hadiah. Nggak malu kamu?" Joshua mendelik ke Jarvish.


Jarvish langsung berjalan melintasi Joshua dan Luna sambil berkata, "Ngapain malu? Pokoknya Dave hanya milikku"


Joshua menoleh ke Luna untuk bertanya, "Hadiahnya gimana, nih?"


"Biar aku yang bawa, Mas. Terima kasih banyak atas perhatiannya Mas untuk Dave"


Jarvish mengajak Dave masuk ke dalam mobil dan menunggu Luna di sana.


"Aku harus segera ke bandara untuk berangkat ke Jerman selama seminggu. Kamu baik-baik di rumah, ya?! Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku"


"Iya, Mas"


Joshua lalu mencium pipi Luna dan Jarvish melihatnya. Seketika pria tampan itu merasakan hatinya panas dan wajahnya sontak tertekuk kesal.


Saat Luna masuk ke dalam jok belakang dia langsung memberikan hadiah dari Joshua ke Dave dan Surya langsung menjalankan mobilnya.


"Wah! Mobil remote keluaran terbaru. Ini bahkan bisa dirubah jadi robot, Ma!"


"Kamu suka?"


"Suka banget. Om Joshua orangnya baik, ya, Ma"


"Iya. Dia sayang banget sama kamu"


Jarvish langsung berteriak, "Bisa diam tidak?! Kenapa terus membicarakan Joshua, hah?!"


Luna dan Dave langsung diam ketakutan.