Memories Of Love

Memories Of Love
Tidak Akan Menyerah



Luna diam mematung di depan mamanya Jarvish dan di depan Joshua.


Dia memang tidak tidur dengan Jarvish, tapi dia berciuman dengan Jarvish. Dia juga merasa kalau dirinya menjijikan. Untuk itulah ia memilih diam dan membiarkan Joshua menatapnya dengan tatapan kecewa dan jijik.


"Apa kamu tidur dengan Jarvish? Di mana pria brengsek itu sekarang, hah?! Apa dia ada di dalam?" Joshua mendorong pintu untuk melongok ke dalam dan ia tidak menemukan Jarvish di dalam.


"Tolong jangan berteriak! Dave tidur"


Joshua menoleh ke Luna untuk mengajukan pertanyaan lagi, "Apa yang sudah kau lakukan di sini?! Apa yang sudah kau lakukan dengan Jarvish?"


Luna hanya bisa diam membisu.


"Kenapa kau diam saja, Luna?"


"Dia diam saja berarti dia sudah merayu dan menggoda Jarvish, cih! Dia wanita murahan. Mama nggak pernah salah menilai orang" Sahut mamanya Jarvish.


"Tante diam saja dan jangan ikut campur!" Joshua menggeram kesal tanpa menoleh ke mamanya Jarvish. Mamanya Jarvish langsung mengunci mulutnya.


Jarvish muncul di tengah Selasar tidak jauh dari kamarnya dan dia sontak membeku di sana saat ia mendengar suara menggelegarnya Joshua, "Kita putus Luna! Aku kecewa sama kamu!"


Jarvish menatap Luna yang mematung tampak sedih, namun tidak menangis dan tidak berlari mengejar Joshua.


Joshua berjalan melintasi Jarvish begitu saja. Emosi, kecemburuan, dan rasa kecewa membuatnya tidak bisa melihat apa yang ada di sekitarnya saat ini. Dan pria tampan berambut abu-abu itu tersentak kaget saat ia merasakan lengannya ditahan oleh seseorang.


"Jarvish, kau!"


Alih-alih menolong Luna menghadapi mamanya, Jarvish lebih tertarik menarik Joshua ke tempat sunyi dan berbicara empat mata dengannya.


"Lepaskan aku, brengsek!" Joshua menarik lengannya dengan wajah merah penuh amarah dan langsung mendaratkan bogem mentah di wajah tampannya Jarvish dan Jarvish membiarkannya.


"Kenapa kamu tidak menangkis atau menghindarinya?" Joshua menggeram ke Jarvish.


"Aku menerima bigem mentah kamu karena aku sudah mencium Luna dan aku pantas kau pukul" Ucap Jarvish sambil mengusap sudut bibirnya di saat ia merasakan ada darah mengalir di sana.


"Kau!" Joshua kembali meluncurkan bogem mentahnya, namun kali ini Jarvish menahannya sambil berkata, "Aku mencium Luna sekali maka aku hanya biarkan satu pukulan saja mendarat di wajahku"Jarvish lalu menghempaskan kepalan tangan Joshua ke udara.


"Berarti kau juga sudah tidur dengan Luna?"


Bug! Giliran bogem mentahnya Jarvish yang mendarat di wajah tampannya Joshua sambil berteriak, "Jangan hina Luna!"


"Kau! Dasar gila!" Joshua menyerang Jarvish dan Jarvish berhasil menekuk tangan Joshua ke atas punggung. Joshua langsung memekik kesakitan dan berteriak, "Lepaskan tanganku!"


Jarvish langung melepaskan tangan Joshua dan mendorong tubuh Joshua ke depan


Joshua berputar badan untuk berhadapan kembali dengan Jarvish sambil mendelik penuh amarah.


"Kenapa kau selalu merebut apa yang aku punya, hah?!" Joshua berteriak kencang sambil melompat-lompat penuh amarah dan jarinya menunjuk-nunjuk ke mukanya Jarvish.


"Cih! Kau yang sudah merebut segalanya dariku" Jarvish menggertakkan giginya dan menatap Joshua penuh dengan kebencian.


"Aku tidak merebutnya. Kau sendiri yang melepaskannya. Aku lihat dan dengar semuanya barusan. Asal kau tahu, Luna bukan wanita murahan. Aku tidak tidur dengannya. Aku hanya nekat menciumnya karena aku rasa aku juga mencintainya"


"Bohong! Dia hanya akan kau jadikan obsesi dan mainan kamu. Jangan kau dekati dia lagi! Aku akan ......."


"Akan apa? Kau sudah memutuskannya. Ku bahkan tidak memercayai dia. Kau tidak pantas untuknya Lalu, aku tidak salah, kan, kalau aku mendekatinya, dia bukan milik siapa-siapa saat ini" Jarvish senyum lebar lalu dengan santainya ia berbalik badan meninggalkan Joshua.


Joshua langsung berteriak, "Arrrghhhhhh!!!!"


"Aku akan membuatmu menyesal. Sangat menyesal karena kau telah berani menggoda dan merayu dua anak laki-lakiku, Luna Aditya! Lalu, ini terimalah!"


Luna menatap lembaran kertas yang disodorkan oleh wanita berambut pendek yang sangat cantik itu. Lalu, Luna bertanya dengan nada sopan, "Apa ini Tante?


"Jangan panggil aku Tante dengan mulut kotor kamu itu, cih! Ini cek sebesar satu milyar. Pergilah dari hidupnya Jarvish dan Dave. Dave adalah cucuku. Menyerahlah dan serahkan hak asuh Dave ke Jarvish. Terimalah cek ini!"


Luna tersenyum tipis dan berkata, "Saya ridak menggoda dan merayu anak laki-laki Anda, Nyonya. Dan saya juga tidak akan menyerah atas Dave karena saya adalah Mamanya Dave. Hubungan Ibu dan anak tidak boleh dipisahkan. Maaf, sebaiknya Anda bawa kembali cek Anda, Nyonya"


"Kau! Dasar gadis miskin tak tahu malu. Kau bermimpi menjadi Cinderella, ya?! Cih! Mimpi saya kau! Aku sudah berbaik hati kasih kamu uang sebanyak ini, tapi kau tolak. Maka jangan salahkan aku kalau aku berbuat nekat nanti. Karena aku, selalu bisa mendapatkan apa pun aku aku inginkan. Termasuk Dave"


"Sebagai seorang Ibu, saya juga sanggup melakukan apa pun demi anak saya Dave, Nyonya" Luna tersenyum, menganggukkan kepala lalu ia berkata, "Maaf, saya harus masuk untuk menjaga Dave" Luna kemudian menutup pintu.


Setelah menutup pintu, Luna kemudian bersandar ke pintu dengan perasaan kacau. Dia sedih melihat Joshua kecewa padanya. Dia tidak sedih karena Joshua meminta putus dengannya, namun tatapan kecewanya Joshua membuat hatinya merasa sangat sedih.


Mamanya Jarvish berteriak, "Keluar kau! Dasar wanita tidak tahu malu!" Sambil terus menggedor pintu kamar itu.


"Hentikan, Ma! Mama membuat malu diri Mama sendiri kalau terus berteriak seperti ini"


Mamanya Jarvish tersentak kaget dan langsung menoleh tajam ke putra tampannya untuk menyemburkan, "Kau! Kenapa kau mengajak wanita itu berlibur? Kenapa kau menginap satu kamar dengannya?"


"Aku tidak mengajak Luna berlibur. Aku yang ingin ikut. Luna ajak Dave berlibur dan aku mengajukan diri untuk ikut. Lalu soal kamar, aku dan Luna tidur di kamar terpisah. Aku booking dua kamar. Yang Mama ketuk barusan adalah kamar Luna dan Dave. Aku tidur di kamar ini"


"Bohong! Kau cuma ingin membela wanita itu kan? Apa hebatnya wanita itu? Kurus kering dan miskin. Untuk apa kau........."


"Ini buktinya. Aku bisa buka kamar yang ini. Ini buktinya aku pesan dua kamar di hotel ini, Ma. Dan jangan hina Luna. Aku tidak suka siapa pun menghina Ibu dari anakku termasuk Mama" Jarvish menatap tajam kedua bola mata mamanya.


"Kau......!"


"Dan Mama jangan ikut campur sama kehidupanku. Aku sudah besar. Lagian dari dulu, sejak aku kecil, Mama juga tidak pernah mengurusi aku. Pulanglah, Ma!"


"Kau.....Mama akan menginap di sini. Mama akan masuk ke kamar kamu dan ......."


Jarvish langung menutup pintu kamar dan berkata, "Kalau Mama tidak pulang, maka aku tidak akan pernah ajak Mama bicara lagi dan aku juga tidak akan pernah menemui Mama"


Mamanya Jarvish mendengus kesal dan langsung berkata, "Baiklah! Mama pergi. Tapi, Mama tidak akan menyerah"


Jarvish menatap punggung ramping mamanya sampai punggung itu menghilang dari pandangannya kemudian ia mengetuk pelan pintu kamarnya sambil berkata, "Luna, ini aku. Mamaku sudah pergi. Tolong buka pintunya!"