
Jarvish mengamati Luna bekerja. Dia tersenyum bangga bisa mengenalkan Luna ke karyawannya sebagai juru masak yang bisa diandalkan walaupun Luna bukan lulusan chef. Pria tampan itu juga merasa senang melihat Luna menikmati pekerjaan yang dia berikan.
Luna diijinkan Jarvish untuk membuat beberapa racikan nasi uduk dan membuat sedikit nasi gurih yang dimasak di dalam dandang (Periuk besar untuk menanak nasi yang biasanya terbuat dari tembaga) bukan di dalam rice cooker.
Setelah dua jam berkutat di dapur, Luna menyajikan nasi uduk beserta lauk pendampingnya seperti telur dadar yang diiris tipis, bihun goreng, mie goreng, telur cokelat, orek tempe dan orek kentang.
Luna mempwrsilakan chef hotel The Rain untuk mencicipinya.
Sebelum chef tersebut mencicipi, Jarvish langsung berkata, "Ambilkan untukku lebih dulu"
"Ah, iya. Baik, Tuan" Sahut Luna.
"Tuan?" Jarvish berbisik ke Luna.
Luna mendorong Jarvish dan sambil menyerahkan piring kecil berisi nasi uduk dan pelengkapnya dengan sedikit meninggikan nada suaranya, "Ini, Tuan!"
Jarvish menghela napas panjang dan ia langsung mencicipi nasi uduk itu, "Hmm! Enak banget! Cicipilah!"
"Enak. Anda benar, Tuan. Nasi uduk ini sangat enak" Ucap Chef tersebut.
Akhirnya ditetapkan bahwa mulai besok, ada nasi uduk, kentang rebus, ketela ungu rebus, jagung rebus dan minumannya harus jus buah asli ditambah infused water yang berisi irisan lemon dan daun mint. Luna tidak mengjinkan lagi sirup buah yang berasal dari pemanis buatan karena itu tidak terasa segar. Lalu, Luna memberikan resep nasi uduknya ke chef dan tim dapur hotel The Rain miliknya Jarvish dan sebagai CEO hotel tersebut, Jarvish langsung mendatangani resepnya Luna dan berkata, "Eksekusi rencana dan resep dari Nona Luna Aditya mulai besok untuk menu sarapan dan untuk menu makan siang dan sore, tunggu instruksi selanjutnya" Ucap Jarvish.
"Baik, Tuan" Sahut mereka.
"Kamu hebat" Jarvish menoleh ke Luna saat Luna berjalan sejajar dengannya.
Luna berjalan pelan dan menoleh ke Jarvish, "Terima kasih"
"Dan kenapa kamu memanggilku Tuan?"
"Kalau di depan orang lain, aku harus memanggilmu, Tuan. Kamu adalah Bosku, kan?"
"Oh, begitu" Sahut Jarvish.
Tiba-tiba telepon genggamnya Luna berdering cukup keras dan saat Luna menghentikan langkahnya, Jarvish ikutan menghentikan langkahnya dan menghadap ke Luna.
"Halo, Ada apa Mas?"
Joshua yang nelpon? Jarvish mulai mengerutkan keningnya di depan Luna.
Luna melihat kerutan di kening Jarvish dan di saat Luna melangkah pelan dan memutuskan ingin menerima telepon itu di tempat lain, Jarvish langsung menahan lengan Luna dan berbisik, "Kau harus menerima penggilan telepon di depanku. Kalau nggak, aku akan potong gaji kamu setengah"
Luna menghela napas panjang dan kembali berdiri tegak di depan Jarvish sambil berkata, "Nggak apa-apa, Mas. Nggak ada yang berbisik"
"Karena kamu menolak pergi naik kapal pesiar denganku, aku akan menggantinya dengan makan malam. Aku berutang banyak padamu karena kamu sudah memenangkan proyek yang sangat besar untukku. Ajak Dave. Dia besok sudah mulai tinggal bersama denganmu, kan?"
"Baiklah" Sahut Luna.
"Aku akan menjemputmu dan......."
"Tidak usah, Mas. Kita ketemu di restoran aja. Restoran mana, Mas?"
"Restoran Bambu. Aku ada kejutan juga buat kamu dan Dave. Jadi, kamu dan Dave harus datang, ya?! Aku akan menunggu kalian sampai datang Jam tujuh aku sudah ada di sana"
"Baiklah" Sahut Luna.
Saat Luna memasukkan telepon genggamnya ke Saku celana kain panjangnya, dia bersitatap dengan Jarvish.
"Iya"
"Dia mau ajak kamu ke mana?" Jarvish pura-pura tidak tahu padahal telinga panjangnya yang sensitif bisa mendengar semua ucapannya Joshua.
"Itu bukan urusan kamu" Sahut Luna sembari melangkahkan kakinya kembali.
Jarvish berlari kecil menyusul Luna dan saat ia berjalan sejajar dengan Luna ia menoleh ke Luna, "Kamu mencintai Joshua?"
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu"
"Apa kamu serius sama Joshua? Apa kamu yakin mengenal Joshua dengan saat baik. Kau bahkan belum mengetahui sisi gelapnya Joshua. Kalau kamu menikah dengannya apa kamu yakin dia akan menyayangi Dave seperti sekarang ini dan......."
Luna tiba-tiba mengerem langkahnya dan Jarvish refleks ikut mengerem langkahnya.
Luna menghadap Jarvish dan sambil bersedekap ia berkata, "Aku mohon sama kamu. Jangan bahas masalah lain selain kerjaan denganku. Hubunganku dengan Mas Joshua. Hubungan mas Joshua dengan Dave. Itu adalah masalah pribadiku. Mengerti?!" Luna mendelik ke Jarvish.
Jarvish yang belum pernah mendapatkan nada tinggi dan sorot mata tajam dari seorang wanita spontan menganggukkan kepala dan berkata, "Aku mengerti"
Luna kemudian mempercepat langkah kakinya karena ia ingin segera sampai di ruang kerja. Dia risih jika harus berjalan cukup bersama Jarvish Benjamin yang ternyata sangat ceriwis sebagai seorang pria yang terkenal dingin dan arogan.
Jarvish memilih berbalik badan daripada mengekor langkah Luna.
Luna memperlambat kembali langkahnya saat ia menoleh ke belakang sambil bergumam, "Ke mana dia pergi?"
Jarvish kembali ke dapur dan berkata ke Chefnya, "Buat Nona Luna Aditya sibuk di dapur"
"Hah?! Tapi saya harus suruh Nona Aditya ngapain, Tuan?"
"Suruh dia masak beberapa menu masakan tradisional lainnya yang dia kuasai. Atau minta ajari yang tadi yang belum kamu kuasai. Pokoknya telpon dia setelah aku pergi dari sini. Jangan lupa! Aku mau pergi, nih dan bersiaplah nelpon dia!"
"Baik, Tuan"
Jarvish melangkah keluar dari dalam dapur dengan bergumam dan menyeringai, "Aku nggak akan ijinkan kamu bawa Dave makan malam dengan pria lain apalagi kalau pria itu adalah Joshua Benjamin. Cih! Enak aja kamu makan malam dengan Joshua,kok, ajak--ajak anakku dan nggak ngajak aku"
Jarvish sengaja tidak balik ke ruangannya dulu. Ia berbelok dan masuk ke ruangannya Surya dengan cepat dan langsung mengintip sedikit dari balik pintu.
Surya menoleh kaget dan bertanya pelan ke tuannya, "Tuan? Kenapa Anda masuk ke sini lagi dan mengintip seperti itu?"
"Sssttt!" Sahut Jarvish tanpa menoleh ke belakang.
Surya menggeleng-gelengkan dan memilih untuk menatap berkas daripada menatap tingkah tuannya yang aneh itu.
Intern phone di meja Surya tiba-tiba berbunyi, "Iya, Nyonya muda. Saya segera ke sana"
Surya menepuk pelan punggung Jarvish, "Maaf tuan, saya harus keluar. Nyonya muda meminta saya menahan Tuan muda"
"Pergilah ke sana cepat dan jangan katakan kalau aku ada di sini!"
"Saya tahu, Tuan" Sahut Surya.
Saat Jarvish melihat Luna melintasi ruangannya Surya, Jarvish membuka pelan pintunya dan melangkah keluar dengan perlahan. Ketika Luna semakin menjauh dan hendak masuk ke dalam lift, Jarvish langsung berlari masuk ke dalam ruangannya dan langsung mendapat tatapan aneh dari Dave dan Surya.
Jarvish hanya bisa meringis di depa. Dave dan Surya.