
Setelah melongok ke rear-mirror vision, Surya melirik bosnya dan berkata, "Tuan, Nyonya muda dan Tuan muda kekuatan saat ini"
Jarvish tersentak kaget dan langsung menoleh ke jok belakang, "Maafkan Papa, Dave. Papa tidak akan mengulanginya lagi"
"Iya, Pa" Sahut Dave dengan senyum manisnya.
Alih-alih menoleh ke Luna untuk meminta maaf, Jarvish justru menoleh ke Surya untuk berkata, "Pinggirkan mobilnya sekarang juga!"
"Lho kenapa Tuan? Untuk sampai ke apartemen Nyonya muda masih jauh, lho ini" Sahut Surya.
"Pinggirkan sekarang juga!" Jarvish mulai menggeram kesal.
"Iya, Tuan. Baik" Sahut Surya sembari meminggirkan mobil di area bebas parkir.
"Jaga Dave!" Jarvish berucap sembari membuka pintu.
"Baik, Tuan"
Luna menautkan alisnya dan tengkuknya mulai terasa dingin.
Sedangkan Dave tengah asyik mengamati mobil remote control hadiah dari Joshua. Dave asyik mengubah mobil itu menjadi robot.
Luna tersentak kaget, "Astaga!" Saat pintu mobil jok belakang terbuka dan Jarvish menatap tajam padanya sambil berucap, "Aku ingin bicara empat mata denganmu sekarang juga! Keluarlah!"
"Nggak mau!" Luna mendelik ke Jarvish.
Jarvish langsung membungkuk dan berbisik di telinga Luna, "Aku akan membopongmu sekarang juga kalau kamu tidak mau keluar dengan rela hati"
Luna menghela napas panjang dan akhirnya berkata, "Baiklah aku keluar" Luna mendorong Jarvish.
Setelah Luna menutup pintu, Jarvish langsung mencekal pergelangan tangan Luna dan menarik Luna menuju ke balik pohon besar yang berada agak jauh dari tempat Surya memarkirkan mobil.
"Tunggu! Kau mau ajak aku ke mana Jarvish!" Luna berusaha menarik tangannya dari cengkeraman tangan Jarvish, namun percuma. Usahanya mengalami kegagalan.
Jarvish kemudian menghempaskan punggung Luna ke pohon besar itu dan langsung mengungkung Luna untuk bertanya, "Kau mencintaiku. Tapi, kenapa kau biarkan Joshua mencium kamu di depanku dan di depan Dave? Apa kau tidak bisa menjaga martabat dan kehormatan kamu sebagai seorang wanita, hah?!"
"A...apa? Siapa yang mencintaimu? Lalu, soal harga diri dan martabat? Hei! Aku sendiri juga kaget waktu Mas Joshua mencium pipiku. Aku tidak memintanya dan......." Luna langsung terdiam saat Jarvish nekat mencium pipinya
Luna seketika mematung.
"Aku sudah menghapus jejak ciuman Joshua di pipi kamu" Jarvish berucap dengan wajah dingin dan nada suara tanpa dosa.
Luna sontak berteriak dengan wajah marah, "Apa hak kamu mencium aku"
"Karena kau mencintaiku"
"Siapa yang mencintaimu?!" Luna berteriak kesal dan saking kesalnya wanita itu sampai memejamkan kedua matanya.
"Aku kemarin membopong masuk ke kamar kamu dan aku lihat bukti cinta kamu ke aku"
Luna membuka mata dan dengan napas terengah-engah menahan kesal tingkat tinggi, wanita itu berkata, "Dulu iya. Aku jujur sama kamu. Dulu aku sempat mencintaimu"
"Dan sekarang masih, kan?"
"Nggak! Aku sama sekali tidak mencintaimu saat ini! Kau dengarkan baik-baik Jarvish Benjamin, Aku tidak mencintaimu lagi. Rasa cintaku untuk kamu sudah mati sejak kamu membuka paksa segelku dan meninggalkanku dengan cek kosong"
"Aku tidak percaya. Aku yakin kalau kamu masih mencintaiku" Jarvish berucap dengan pandangan mengarah tajam ke bibir ranumnya Luna.
"Aku berkata sejujurnya dasar gila! Aku tidak mencintaimu lagi Jarvish Benjamin!" Luna kembali berteriak dengan memejamkan rapat-rapat kedua kelopak matanya saking keduanya
Luna sontak membuka kedua kelopak matanya saat ia merasakan ada tangan menangkup pipinya.
Jarvish menangkup pipi Luna dan berkata, "Aku perlu membuktikannya sendiri" Lalu, pria tampan itu memagut bibir Luna tanpa permisi terlebih dahulu.
Luna refleks mendorong keras dada Jarvish dan saat bibirnya terlepas dari pagutan bibir pria itu, Luna langsung menampar keras pipi Jarvish sambil melotot dan berteriak, "Tidak semua wanita bisa kau perlakukan sesuka hati kamu Jarvish!"
Jarvish menoleh perlahan ke Luna dan kemudian ia menatap Luna dengan sorot mata tidak percaya. Pria itu tidak percaya kalau Luna tidak mencintainya lagi dan Luna berani menamparnya cukup keras.
Luna kemudian melangkah pergi meninggalkan Jarvish begitu saja.
Pandangan Jarvish mengikuti arah perginya Luna dan menatap punggung Luna yang semakin menjauh dengan sorot mata penuh dengan tanda tanya. Dia bingung harus bersikap bagaimana sama wanita yang sudah memberinya seorang anak. Wanita yang manis senyumnya dan senyum wanita itu mulai membuat hatinya terasa sesak. Namun, senyum wanita itu bukan untuknya lagi. Untuk itulah Jarvish merasa hampir dibuat gila oleh wanita bernama Luna Aditya itu.
Setelah mematung cukup lama di tempat ia berdiri, Jarvish melangkah menuju ke mobilnya. Dan saat ia masuk, ia berkata sambil memasang sabuk pengaman, "Aku akan bawa Dave pulang malam ini. Aku tidak akan tidur di apartemen kamu lagi"
"Siapa juga yang meminta kamu untuk tidur di apartemenku lagi?" Luna berkata dengan ketus sambil bersedekap dan memasang wajah kesal.
"Trophy-nya aku bawa. Trophy itu berhak aku miliki dan......"
"Nggak!" Luna langsung memotong ucapannya Jarvish. Lalu, wanita itu segera menyambung ucapannya, "Trophy itu milik kita bertiga. Aku juga berhak memilikinya. Aku akan gandakan trophy-nya dan aku akan antarkan trophy yang satunya ke kantor kamu"
"Aku mau yang asli"
"Baiklah".Sahut Luna.
"Oke..Sampai ketemu besok di kantorku dan jangan lupa bawa trophy yang asli untukku"
"Baiklah!" Luna mulai meninggikan nada suaranya.
"Dengarkan apa kata Dave! Jangan teriak-teriak! Wanita.itu tidak bagus kalau teriak-teriak" Sahut Jarvish.
Alih-alih menanggapi sahutannya Jarvish, Luna langsung mengusap kepala Dave dan berkata, "Maafkan Mama. Mama tidak sengaja meninggikan suara Mama"
Beberapa jam kemudian, Jarvish menyuruh Surya langsung tancap gas begitu Luna turun dari mobil dan menutup pintu.
Luna sampai mengelus dadanya sambil bergumam, "Dasar pria aneh nggak punya hati!"
Keesokan harinya, Luna pergi ke kantor seperti biasanya dan begitu ia duduk di kursi kerjanya, Joshua sudah menghubunginya via video call, "Wah! Kamu manis sekali pakai blazer putih, Sayang"
Luna merona malu dan berkata, "Terima kasih, Mas"
"Baru sampai, ya?"
"Iya. Hari ini ada meeting dengan Pak Lukman. Mas Lupa, ya?"
"Kamu wakili saja. Kamu paham proyeknya dan aku yakin kamu bisa.mewakili aku"
"Tapi, aku belum pernah meeting, Mas. Selama ini aku, kan, cuma mendampingi kamu dan menulis point pentingnya saja"
"Kamu pasti bisa"
"Baiklah. Kalau aku berhasil dapatkan proyek ini, Mas, mau kasih aku apa?"
"Apa.boleh aku langsung melamar kamu dan menikah denganmu?"
"Mas, jangan bercanda!"
"Aku serius, Luna"
"Aku belum siap, Mas"
"Baiklah. Aku akan sabar menunggu kamu siap. Kalau kamu berhasil menangkap proyek itu, aku akan ajak kamu pergi berlibur dengan kapal pesiar. Itu impian kamu dan Dave, kan? Apalagi Lisa adalah ulang tahunnya Dave. Begitu aku pulang, aku akan ajak kalian berlibur dengan kapal pesiar"
"Benarkah?"
"Hmm. Selamat bekerja. I love you"
"Selamat bekerja, Mas" Luna hanya mampu memberikan senyum manisnya karena dia masih belum bisa berkata I love you ke Joshua.
Berkat kecerdasan dan keramahannya Luna, Pak Lukman mempercayakan proyeknya ke perusahaan Joshua. Joshua tertawa senang dan langsung berkata, "Aku akan pulang cepat. Aku tidak sabar ingin pergi berlibur dengan kamu dan Dave"
"Aku juga, Mas" Sahut Luna.
Di jam makan siang, Trophy yang Luna gandakan dan trophy yang asli sudah berada di meja kerjanya. Luna langsung mengajak supir kantor untuk mengantarnya ke kantornya Jarvish.
Setibanya di depan pintu ruang kerjanya Jarvish, Luna dikejutkan dengan pemandangan yang tidak sopan.
Jarvish dan kekasihnya tengah berciuman di depan pintu kerja.
Luna langung berdeham dan Jarvish sontak mendorong Laura untuk menoleh ke asal suara..
Seketika Jarvish mematung di depan Luna.
Luna sontak bertanya, "Di mana Dave? Kenapa kau tega sekali meninggalkan Dave untuk berciuman dengan pacar kamu dan......."
"Dave aman di dalam. Mamanya Jarvish tengah menemaninya makan. Aku bertemu dengan Jarvish saat kekasihku ini keluar dari ruang meeting dan karena rindu, aku langsung mengajaknya berciuman. Maaf. Aku relfeks melakukannya" Sahut Laura sembari mengusap noda lipstik di bibir dan di sekitar bibir Jarvish.
Jarvish masih menoleh ke Luna dan bergeming.
Luna langsung menyerahkan trophy ke Jarvish dan berkata, "Sesuai janjiku.Aku antarkan Trophy yang asli"
Saat Luna berbalik badan hendak pergi, Jarvish langsung berkata, "Kau ridak ingin bertemu dengan Dave dulu?"
Luna menahan tubuhnya dan berkata, "Mama kamu tidak menyukaiku. Lebih baik aku tidak masuk. Aku akan menemui Dave nanti saja"
"Kapan?" Jarvish langsung bertanya dengan wajah antusias.
"Apakah boleh kalau pulang kerja aku mampir ke rumah kamu untuk memberikan kue bolu kesukaannya Dave. aku bikin kue bolu tadi pagi dan aku lupa membawanya ke sini gara-gara trophy itu"
"Tentu saja boleh" Jarvish langsung menyahut dengan wajah semringah.
Laura langsung menyahut, "Aku akan langsung ke rumah kamu pulang kerja nanti kalau gitu"
"Lho, kenapa?" Jarvish sontak menoleh ke Laura dengan ekspresi kaget.
"Aku akan masak. Luna akan bertamu ke rumah kamu, jadi aku akan masak untuk menyambut Luna. Karena Dave sudah akrab denganku, maka aku juga ingin bisa akrab dengan Luna"
Jarvish langsung diam membisu.
"Terima kasih banyak" Sahut Luna. Lalu, Luna pamit pulang dan bergegas pergi meninggalkan Jarvish dan Laura.
Arah pandang Jarvish sontak mengikuti arah perginya Luna dan pria itu menatap punggung Luna yang menjauh dengan tidak rela.