Memories Of Love

Memories Of Love
Merindukan Papa



Ketika Luna membuka pintu rawat inapnya Dave, dia langsung mendapatkan semprotan kemarahannya Jarvish, "Kau tidak punya hati nurani, ya?! Apa kau ini seorang Ibu yang tidak menyayangi anaknya? Apa kau seorang Ibu yang kejam, hah?"


Brian langsung menyahut, "Tuan, apa maksud Tuan?"


"Diam!" Jarvish berteriak ke Brian tanpa menoleh ke asisten pribadinya itu.


"Iya. Apa maksud Anda, Tuan?" Luna mengulangi pertanyaannya Brian.


"Kenapa sebelumnya kau tempatkan anak kamu di kelas tiga. Dokter tadi bilang kalau kelas tiga itu sempit, banyak pasien di sana dan............."


"Karena BPJS saya di kelas tiga. Saya tidak mampu jika harus naik dari kelas tiga ke kelas VVIP" Sahut Luna dengan wajah kesal dan lelah.


Jarvish langsung berjalan melintasi Luna dan pergi meninggalkan Luna tanpa sepatah kata pun.


Brian menganggukkan kepalanya ke Luna sambil berkata, "Saya pamit dulu Nyonya muda" Lalu pria tampan berkacamata itu segera berlari kecil menyusul tuannya.


Bola mata Luna sontak mengikuti arah perginya Jarvish dan Brian sambil bergumam, "Nyonya muda? Kenapa pria baik berkacamata tadi menyebutku Nyonya muda?"


"Kita ke mana, Tuan?" Tanya Brian sembari memasang sabuk pengamannya.


Jarvish yang duduk di jok belakang langsung menyahut, "Ke hotel Green Palm"


"Baik, Tuan" Sahut Brian.


Sesampainya di hotel Green Palm, Jarvish langsung menuju ke ruang kerja Presdir hotel tersebut. Seorang wanita cantik dan bertubuh molek dengan balutan dress mini melekat di badan, langsung bangkit berdiri dan memeluk Jarvish ketika pria tampan itu melangkah masuk.


Brian memilih untuk menunggu di depan pintu.


"Kamu siapa? Kenapa memintaku datang ke sini dan langsung memelukku seperti ini?"


Wanita itu melepaskan pelukannya dan berkata, "Aku Laura. Teman masa kecil kamu. Bakpao isi daging ayam. Kau ingat?"


Jarvish yang tidak pernah tersenyum sejak istrinya meninggal dunia, menyunggingkan senyum tipis di wajah tampannya saat ia mendengar nama Laura dan mendengar bakpao isi daging ayam, "Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Aku bisa berterima kasih dengan benar padamu sekarang. Terima kasih kamu selalu memberiku bakpao isi daging ayam di jam istirahat makan siang. Kamu baik banget sama aku padahal kita beda kelas, kan?"


"Karena kamu menarik perhatianku. Kamu selalu menyendiri. Kamu tampan tapi baju seragam kamu lusuh dan sepatu kamu butut. Kamu juga sering memegangi perut kamu dan tidak pernah jajan ataupun makan apapun di jam istirahat makan siang" Sahut wanita yang bernama Laura itu.


"Itu karena aku, nggak punya uang. Aku miskin waktu itu. Sangat miskin"


"Aku senang akhirnya aku bisa menemukan kamu kembali. kamu sekarang sangat tampan, baju kamu keren dan sepatu kamu sangat berkilau. Aku senang kamu bisa sukses seperti ini, Jarvish"


Jarvish kembali memasang wajah datar dan dingin, lalu berkata, "Aku juga senang melihatmu tumbuh secantik ini dan sukses"


"Apa kau mau menjadi pacarku?" Tanya wanita itu dengan senyum ceria dan ekspresi wajahnya terlihat sangat serius.


"Aku tidak bisa menjanjikan apa pun kalau kita berpacaran. Aku tidak bisa jatuh cinta dan kalau sampai akhirnya kita tidur bersama sebelum kita menikah, aku hanya akan tidur denganmu sekali. Karena jika aku meniduri wanita yang sama lebih dari satu kali, aku sama saja memuja wanita itu dan aku tidak mau memuja wanita. Di mataku semua wanita itu tidak pantas untuk dipuja" Sahut Jarvish sambil menelisik wajah cantik wanita yang masih berdiri di depannya.


"Tidak masalah. Aku sudah mencintaimu sejak aku masih kecil. Sejak aku memberikan bakpao isi daging ayam untuk pertama kalinya ke kamu. Tidak masalah jika kamu tidak akan pernah bisa jatuh cinta. Asal aku berada di samping kamu, itu sudah cukup bagiku. Dan aku rasa aku akan bisa membuatmu jatuh cinta padaku dengan mudah" Sahut Laura dengan kerlingan manja.


"Aku rasa itu akan sangat sulit. Aku sudah mati rasa. Aku tidak mungkin bisa jatuh cinta lagi"


"Nggak masalah. Aku hanya ingin berada di samping kamu dan mencintaimu dengan tulus"


"Kemungkinan.........."


"Kemungkinan apa?" Tanya Laura.


"Tidak perlu kau jelaskan. Bisa terlihat di mata dan wajah kamu kalau kamu tidak mencintai wanita itu. Aku juga suka banget sama anak kecil. Adanya anak kecil di antara kita, itu juga tidak masalah bagiku"


"Baiklah. Aku mau jadi pacar kamu" Sahut Jarvish dengan wajah dingin tanpa ekspresi.


Laura langsung memeluk leher Jarvish dan mengajak Jarvish berciuman. Setelah puas berciuman dengan pria yang ia cintai sejak ia masih berumur sebelas tahun, Laura menarik kedua lengannya dari pria tampan itu untuk berkata sambil mengusap mengusap bibir Jarvish yang terkena lipstick, "Tapi, aku pinta permintaan"


"Apa itu?" Jarvish menatap lekat wajah cantik wanita yang baru saja mengajaknya berciuman dengan penuh gairah.


Laura mengikuti arah gerak ibu jarinya yang masih mengusap noda lipstick yang menempel di bibir Jarvish sambil berkata, "Kamu nggak boleh berkencan dengan cewek lain mulai sekarang. Kamu juga nggak boleh tidur dengan wanita lain setelah ini"


"Baiklah"


"Benarkah? Kau mau menuruti mauku secepat ini?"


"Hmm"


"Kenapa?"


Jarvish menarik pinggang wanita cantik itu hingga tubuh molek wanita itu menempel di tubuhnya,m dan berucap, "Karena kamu adalah teman di masa kecilku. Kamu pahlawan wanita yang menyelamatkan aku waktu aku kelaparan dan.........."


"Dan apa?"


"Aku sangat menyukai ciuman kamu. Rasa bibir kamu sangat manis" Jarvish kemudian memagut bibir wanita itu dan mengajak wanita itu berciuman dengan sangat liar.


Sementara itu, Luna yang tidak ingin bertemu lagi dengan Jarvish Benjamin, langsung memencet bel saat ia melihat putra kesayangannya telah siuman.


Seorang perawat masuk dan langsung bertanya, "Ada apa, Bu?"


"Anak saya sudah siuman. Apa anak saya sudah boleh pulang?"


"Sebentar. Saya panggilkan dokter untuk ke sini kalau beliau belum pulang. Biar dokter yang berbicara dengan Ibu"


"Baiklah. Terima kasih" Sahut Luna.


"Ma, Dave mimpi tangan Dave dipegang oleh Papa dan Papa mencium tangan Dave. Apakah Papa sudah pulang dari Bulan, Ma? Di mana Papa sekarang? Dave sangat merindukan Papa, Ma"


Luna langsung mengulas senyum untuk menyembunyikan rasa perih di hatinya dan sambil merapikan selimutnya Dave, Luna berkata, "Dave hanya bermimpi. Papa kamu belum pulang dari Bulan. Papa Dave masih sibuk di Bulan, jadi belum bisa pulang"


Pintu terbuka dan Luna langsung memutar badan. Dokter yang menangani Dave tersenyum lebar dan berkata, "Wah! Jagoan kecilnya Opa Dokter udah bangun, ya? Apa yang Dave rasakan?"


Dave menjawab saat dokter tersebut menempelkan kepala stetoskop yang terasa dingin di atas perutnya, "Dave baik-baik saja, Opa"


Lima belas menit kemudian, setelah selesai memeriksa Dave secara keseluruhan, Dokter tersbeut berkata, "Dave sudah boleh pulang, tapi harus menghabiskan cairan infus dulu"


"Baiklah, Dok. Terima kasih banyak"


"Sama-sama. Dave, Opa Dokter pergi dulu untuk memeriksa pasien yang lain, ya?"


"Baiklah. Terima kasih, Opa" Dave tersenyum dan melambaikan tangan mungilnya ke dokter tersebut.


Luna kemudian bergumam di dalam hatinya, semoga Jarvish tidak ke sini sebelum cairan infus ini habis. Aku tidak ingin bertemu lagi dengan pria aneh itu. Cukup sudah aku berterima kasih padanya tadi.