Memories Of Love

Memories Of Love
Mengasihi Istri



"Maafkan saya, Dok kalau saya lupa mengatakan ke Nada bahwa Tuan Jarvish tidak suka ada pria lain memuji kecantikan wanitanya" Ucap Surya di depan pintu kamar rawat inapnya Luna.


"Wanita berwajah, manis, lembut, dan polos tadi wanitanya Tuan Jarvish Benjamin? Bukankah Tuan Jarvish selama ini tidak pernah memiliki kekasih tetap? Apa wanita tadi juga kekasih tidak tetapnya Tuan Jarvish?"


"Kenapa Anda bertanya seperti itu?" Surya mengerutkan keningnya.


"Hehehehe" Dokter tersebut tersenyum dengan rona merah di wajahnya.


"Kenapa wajah Anda jadi aneh kayak gitu?" Surya semakin mengerutkan keningnya.


"Karena saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pasien saya"


"Dan siapa itu?"


"Wanita yang saya temui barusan. Wajah manis alami dan imut adalah tipe saya dan saya ........."


Surya langsung mencekal kedua kerah jas putih dokter tersebut dan berkata, "Jangan coba-coba merebut wanitanya Tuan Jarvish kalau Anda menyayangi pekerjaan dan nyawa Anda" Surya kemudian mengusap jas putih dokter tersebut dan menyeringai penuh arti.


Dokter tersebut masih dengan santainya menyatakan niatnya atas Luna Aditya pasien wanita pertamanya yang telah berhasil memikat hatinya, "Tapi, kalau wanita itu diputus sama Tuan Jarvish, kan, kasihan. Maka aku yang akan mendekatinya kemudian dan menghiburnya. Aku hanya akan menunggu beberapa hari dan........."


Surya mendekat untuk berbisik, "Dengar! Tum Jarvish tidak akan pernah meninggalkan wanita itu"


"Walaupun begitu, selama janur kuning belum melengkung, wanita itu pantas untuk diperebutkan dan ........"


"Dan janur kuning itu akan saya pakai untuk mencekik leher Anda kalau Anda nekat merebutnya" Surya memberikan seringai yang mengerikan ke dokter muda itu.


"Gila! Anda dan Tuan Jarvish sama-sama gila" Dokter muda berkacamata itu langsung bergidik negri dan berlari pergi meninggalkan Surya.


"Hei! Kau juga gila, Dok!" Teriak Surya dengan wajah kesal.


Saat Jarvish meletakkan piring yang elah kosong di atas nakas, Ia melihat tabung infus hampir kosong, dia langsung memencet tombol dengan tidak sabar.


Perawat yang sama masuk ke dalam kamar dan Moses langsung berkata, "Lepas infusnya! Sudah hampir habis"


"Baik" Perawat tersebut langsung melangkah menghampiri Luna untuk melepas jarum infus dari punggung tangan Luna.


"Kamu dengar aku mengatakan kalau Luna adalah Istriku, Kan, tadi?"


"I.....iya, Tuan" Sahut perawat tersebut tanpa berani mengangkat wajah untuk menatap Jarvish Benjamin.


"Aku tidak akan menelan lagi kata-kataku. Dia Istriku dan aku minta sama kamu jangan bocorkan soal ini ke siapa pun. Sial Apa kau sudah membocorkannya ke kolega kamu?"


"Belum, Tuan" Sahut perawat itu sambil menempelkan. plester penutup luka di punggung tangannya Luna.


"Aku kasih kamu cek sebesar sepuluh juta rupiah. Kamu tutup mulut soal ini. Aku dan Istriku masih belum mengatakan perihal pernikahan ke Papa dan Mamaku. Jadi, kau harus tutup mulut soal ini. Terimalah cek ini!"


Luna hanya bisa diam membisu.


"Baik, Tuan. Terima kasih. Saya janji saya akan tutup mulut selamanya" Perawat itu menerima cek yang diberikan oleh Jarvish dan bergegas pergi meninggalkan Jarvish dan Luna.


"Masalah beres, kan?" Jarvish mengusap kepala Luna


"Apa kamu selalu menjadikan uang untuk membereskan semua masalah?"


"Iya. Karena uang adalah senjata paling ampuh untuk membereskan semuanya dan aku memiliki itu. Apa salahnya?" Sahut Jarvish dengan santainya.


"Tapi, tidak semua masalah harus diselesaikan dengan uang" Luna menghela napas panjang.


"Aku tidak tertarik soal uang. Aku lebih tertarik soal mengganti baju kamu. Kamu boleh pulang sekarang karena infusnya sudah dilepas dan kamu harus ganti baju, kan? Aku tidak keberatan kalau harus membantu kamu berganti baju"


"Kyyaaaaa! Dasar mesum!" Luna sontak menarik selimut sampai ke lehernya dan mendelik ke punggung Jarvish yang melangkah menuju ke pintu.


"Hahahaha. Apanya yang mesum? Aku suami kamu, wajar, kan, kalau mengganti baju kamu" Jarvish berucap sembari mengunci pintu lalu berjalan pelan menghampiri Luna.


"Ka......kamu mau apa" Luna memekik kaget saat Jarvish menarik selimut dan langsung melempar selimut itu ke lantai.


"Mengganti baju kamu. Aku sudah bawa baju ganti kamu, nih" Jarvish mendekap tubuh Luna dengan tangan kiri dan tangan kanan membuka kancing yang ada di bagian depan seragam rumah sakit yang masih menempel di badan Luna.


Luna mendorong dada Jarvish dan berkata dengan panik, "A.......aku tidak memakai pakaian dalam dan........."


"Ssstttt! Aku hanya akan mengganti baju kamu. Aku pejamkan mataku, nih"


Luna refleks menahan tangan Jarvish.


Jarvish yang memejamkan mata kemudian berkata, "Suami pengen menolong Istrinya jangan ditahan dong! Apa kau pengen menahan seseorang mendapatkan pahala dan keberuntungan di dunia dan akhirat? Bukankah ada tertulis Suami harus mengasihi Istri seperti mengasihi dirinya sendiri dan kalau Suami mengasihi Istri maka berkat pun akan mengalir dan keberuntungan mendatanginya. Doa kalau kamu menahan Suami yang ingin mengasih Istrinya"


Luna akhirnya melepas tangan Jarvish dan membiarkan tangan itu menyelesaikan tugasnya melepas semua kancing baju seragam rumah sakit kemudian membuatnya asal di lantai. Lalu, pria tampan itu tersenyum penuh arti.


"Eh! Kenapa tangan kamu mendarat di sini?"


Plak! Luna menepis kasar tangan Jarvish yang parkir di atas dadanya.


"Maaf! Mataku, kan, terpejam. Aku nggak bisa lihat apa-apa. Maaf kalau salah sentuh"


"Aku akan membantu tangan kamu mengambil baju ganti dan memakaikannya ke aku" Sahut Luna dengan lugunya.


Jarvish menahan diri sekuat tenaga untuk tidak tertawa. Aku memang nggak bisa lihat saat ini, tapi naluriku sebagai laki-laki yang berpengalaman soal wanita, tanganku bisa menemukan titik favoritku dengan mudahnya. Kenapa kau sepolos, ini, sih, Luna. Ah! Aku makin gemas sama kamu. Batin Jarvish.


Jarvish membiarkan Luna menuntun tangannya memakaikan baju ke Luna dan tiba-tiba Luna menjerit kaget, "Kyaaaaaa!"


Jarvish yang masih memejamkan mata memasang tampang pura-pura bodohnya dan sontak bertanya dengan ekspresi kaget, "Ada apa? Kenapa lagi sekarang? Aku tidak menyentuh apa pun. Tanganku terus kamu pegang dan kamu arahkan, nih"


"Kamu nggak menyentuh apa pun. Ta......tapi......." Wajah Luna memerah malu dan terasa panas saat ia melihat bibir Jarvish jatuh di atas dadanya di saat kancing blusnya masih terbuka lebar.


Jarvish memekik kegirangan di dalam hatinya. Aku menang banyak hari ini. Batin pria tampan itu.


"Tapi, apa?" Tanya Jarvish masih dengan memejamkan mata dan memasang tampang bloon.


Luna langsung mengangkat wajah Jarvish dan berkata, "Tidak apa-apa. Sekarang aku akan kancingkan bajuku sendiri dan........."


"Aku akan pasang yang ini kalau gitu" Jarvish berjalan pelan ke arah bawah sambil memegang paha Luna dan dengan masih memejamkan matanya, Jarvish berkata, "Aku akan pasang ini di........,"


"Kyaaaaaa!" Luna sontak merebut kain yang Jarvish pegang dan menendang dada Jarvish cukup keras dengan kedua kakinya sampai pria itu keluar dari gordyn yang mengelilingi bed Luna. Jarvish sontak menutup mulutnya yang ingin mengeluarkan tawa sekencang-kencangnya. Dia suka menggoda Luna dan dia belum pernah menggoda wanita lain seperti ini sebelumnya.


Luna langsung melompat turun untuk memakai kain itu dan menyibak gordyn sambil berkata, "Aku sudah selesai. Ayo kita pulang dan.......Aaaaaa! Kenapa kau membopongku? Turunkan aku!"


"Daripada pakai kursi roda, lebih baik kamu aku bopong. Kamu masih lemas, kan? Dosa lho melarang Suami mengasihi Istrinya"


Luna hanya bisa menghela napas panjang dan sambil menggelungkan kedua lengannya di leher kokohnya Jarvish karena ia takut jatuh, Luna bergumam kesal di dalam hatinya, Jarvish Benjamin ternyata baik dan sopan. Sekarang bahkan aku merasa sangat nyaman berada di dekat dia. Bahkan sedekat ini dengannya.


Jarvish mengulum bibir menahan senyum mengingat semua kejahilannya.


Luna tiba-tiba meronta dan berkata, "Turunkan aku!"


"Kenapa?"


"Banyak orang melihat kita"


"Biarkan saja! Jangan diperhatikan. Lihat saja wajahku!"


Luna refleks menoleh dan saat wajahnya beradu dengan wajah Jarvish jantung Luna berdegup kencang. Jantung Jarvish pun mulai berulah tanpa bisa dikendalikan.