Memories Of Love

Memories Of Love
Merayu



Luna kemudian berkata, "Tidak jadi saja. Tidak usah pergi pakai kapal pesiar baik denganmu atau pun dengan Mas Joshua"


"Kenapa kau tidak memanggilku Mas Jarvish?"


Luna menghela napas panjang dan memilih untuk diam.


"Kenapa diam? Kalau pertanyaanku belum mendapatkan jawaban, aku akan terus mengejar"


Luna kembali menghela napas panjang dan akhirnya berkata dengan wajah kesal, "Karena kamu bukan siapa-siapaku. Bukan pacarku dan bukan saudaraku"


"Oke" Jarvish lalu pergi meninggalkan Luna begitu saja dan masuk ke ruang kerja untuk memandang ke teras depan.


Luna kemudian berjalan ke ruang keluarga dan setelah mencium dan memeluk Dave, ia pamit pulang. Namun, saat wanita itu sampai di teras depan, ia tidak menemukan mobil kantor dan supirnya. "Ke mana Mbak Lastri? Kenapa dia pergi meninggalkan aku?" Luna melangkah ke tengah pekarangan depan rumah Jarvish sambil celingukkan.


Jarvish melihat Luna dari ruang kerjanya sambil bergumam, "Aku yang nyuruh supir kamu pulang. Aku ingin kamu menginap di sini. Aku ingin mengenalmu lebih jau, Luna"


Luna berlari masuk kembali ke dalam rumahnya Jarvish saat hujan turun deras sekali. Sambil mengusap bajunya yang sedikit basah Luna bergumam, "Bagaimana caranya aku pulang, nih. Hujan deras sekali ponselku mati. Apa aku minta tolong sama Jarvish untuk memesankan taksi online saja, ya?"


Luna kemudian masuk dan mengetuk ruang kerjanya Jarvish.


Jarvish membukakan pintu dan langsung bertanya, "Ada apa?"


"Supir kantorku meninggalkan aku di sini. Ponselku mati dan aku tidak bisa pesan taksi online"


"Lalu?"


"Bisakah kamu pesankan taksi online untukku?"


"Ponselku juga mati" Sahut Jarvish sambil memperlihatkan ponselnya. "Nih kalau kamu tidak percaya"


"Pakai telepon rumah, kan, bisa"


"Aku sibuk masih banyak kerjaan. Kamu menginap saja di sini. Aku akan minta Bi Nina menyiapkan kamar tamu untukmu"


'Tapi, aku tidak terbiasa........"


"Nyonya muda, syukurlah Anda masih di sini. Dave perutnya sakit dan bolak-balik ke toilet" Bi Nina tiba-tiba muncul di depan Jarvish dan Luna.


Luna dan Jarvish languang berlari ke ruang keluarga. Mereka berdua langsung melesat ke toilet dan menemukan Dave duduk di atas toilet duduk dengan wajah meringis kesakitan. Baunya busuk bukan main, Bi Nina sampai buru-buru keluar dari dalam toilet dan Jarvish tertegun saat ia melihat Luna tanpa merasa jijik jongkok di depan Dave dan membantu Dave BAB.


Dave lebih beruntung daripada aku. Dave memiliki Mama yang sangat baik dan juga sangat lembut. Aku tidak pernah diperlakukan seperti itu sama Mamaku waktu aku masih sekecil Dave Batin Jarvish.


"Kamu makan apa sebelum makan malam?" Tanya Luna sambil mengelus punggung Dave.


"Makan cokelat pemberiannya Tante Laura"


"Cokelat apa?" Tanya Jarvish dari depan pintu toilet.


"Permen coklat berbentuk koin besar" Sahut Dave.


"Aku akan tegur Laura nanti untuk kasih makanan sembarangan ke kamu" Jarvish menggeram kesal.


Beberapa jam kemudian, Luna berhasil menidurkan Dave dan Jarvish langsung berkata, "Kau harus menginap di sini. Dave sakit"


Akhirnya Luna berkata, dengan sangat terpaksa, "Baiklah"


Jarvish kemudian berbalik badan dan kembali ke ruang kerjanya dengan wajah semringah. Entah kenapa di senang Luna akhirnya mau menginap di rumahnya.


Sambil menunggu Bi Nina menyiapkan kamar tamu, Luna duduk di ruang keluarga dan memotong film kartun yang masih menyala.


Tiba-tiba Jarvish duduk di sebelahnya. Luna sontak menggeser pantatnya dan berkata, "Katanya sibuk kerja. Kok, malah ke sini?"


"Aku butuh meregangkan otot sebentar di sini" Sahut Jarvish dengan santainya.


"Oh" Luna menyahut singkat dengan pandangan terus terarah ke layar TV LED berukuran sangat besar.


"Ceritakan tentang diri kamu"


Luna terkejut mendengar permintaannya Jarvish dan wanita itu langsung menoleh ke Jarvish dan mengeluarkan suara, "Hah?" dengan kedua alis tertarik ke dalam.


"Manis-manis kok tuli. Ceritakan tentang diri kamu"


"Kamu bilang manis tadi? Siapa yang kau katakan manis?"


"Lupakan soal kata manis. Ceritakan tentang diri kamu!" Jarvish mulai menggeram kesal.


"Kamu serius ingin tahu tentang aku?"


"Hmm. Semua tentang kamu"


"Baiklah kalau kamu memaksa. Aku dari keluarga biasa saja. Papaku berkerja menjadi manajer di perusahaannya Mas Joshua. Mamaku sudah meninggal saat aku masih berumur lima tahun. Sekecil Dave. Aku kuliah dan setelah lulus languang masuk ke perusahaannya Mas Joshua dan menjadi sekeretaris pribadinya. Aku termasuk beruntung bisa kuliah gratis karena dapat beasiswa dan begitu lulus langsung dapat pekerjaan"


"Papa.kamu yang datang memberikan kesaksian di pengadilan waktu itu, kan? Tapi kenapa dia meninggalkan kamu? Dia pergi tanpa pamit" Jarvish menyusuri wajah manisnya Luna sambil menanti jawaban dari wanita itu.


"Papa marah besar saat Poa tahu aku hamil. Papa memberiku dua pilihan waktu itu. Menggugurkan kandungan atau pergi dari rumah. Aku memilih pergi dari rumah. Mungkin saat ini Papa masih marah padaku atau mungkin Papa merasa bersalah karena secara tidak langsung telah mengusirku"


"Lalu, kamu tinggal di rumah kontrakan tidak layak huni itu?'


"Iya. Karena uangku cuma cukup untuk menyewa rumah kecil dan sangat sederhana itu. Yang penting kamu bisa tidur dan terlindungi dari panas juga hujan"


"Lalu, pas kamu melahirkan, siapa yang mengantar dan menunggu kamu?'


"Lalu, kamu naik apa ke rumah sakit?"


"Naik Bus" Ucap Luna dengan senyum manisnya


"Kenapa kamu nekat naik Bus dan pergi sendirian? Itu busa membahayakan diri kamu sendiri dan kandungan kamu" Jarvish melotot dengan nada tinggi


"Hei! Kenapa kamu marah? Semuanya sudah terjadi. Aku dan Dave baik-baik saja sampai detik ini"


Dasar pria aneh. Batin Luna.


"Kamu melahirkan dengan cara apa?"


"Karena aku nggak punya uang yang banyak, aku rajin berdoa, ngepel dan olahraga agar bisa melahirkan secara normal. Doaku dikabulkan Tuhan. Aku bisa melahirkan secara normal dan bisa langsung pulang. Jadi, biaya rumah sakit tidak terlalu banyak"


Jarvish menatap Luna dengan wajah sendu.Ada rasa bersalah yang sangat besar di hatinya. Luna memilih mempertahankan kandungannya walaupun harus hidup menderita sendirian dan kehilangan kasih sayang seorang papa. Luna berkorban segalanya demi kandungannya dan melahirkan Dave dengan bertaruh nyawa.


Di saat Jarvish bangkit berdiri ingin mendekati Luna dan memeluknya, Bi Nina muncul, "Nyonya, kamarnya sudah siap"


Jarvish bergeming di tempat ia duduk dan berkata, "Tidurlah! Ini sudah malam"


Luna bangkit berdiri dan berkata, "Selamat malam"


Jarvish diam tidak menjawab ucapan selamat malam itu karena ia sibuk melamun.


Luna berjalan melintasi Jarvish sambil membatin, dasar gunung es.


Jam tiga pagi, Luna terbangun dan langsung berlari keluar kamar untuk mengecek kondisinya Dave. Bi Inah yang berpapasan dengannya langung berkata, "Berkat Nyonya, Tuan muda tidur nyenyak dan tidak ke toilet lagi"


Luna langsung tersenyum lega dan berkata, "Syukurlah. Apa Dave masih ada di dalam kamarnya?"


"Iya dan Tuan sepanjang malam tidur di kamarnya Tuan muda menjaga Tuan muda. Saya lihat, Tuan dan Tuan muda belum keluar dari dalam kamar sejak semalam"


"Oh. Syukurlah Dave ada yang menjaga. Kalau gitu, aku nggak usah ke sana. Ada Papanya Dave di sana. Mari Bi, saya masuk ke kamar saya lagi"


"Silakan, Nyonya. Saya akan bersih-bersih dulu"


"Baik, Bi" Luna memberikan senyum manisnya ke BI Nina.


Dave terbangun tepat jam enam pagi, dia mencium pipi papanya lalu melompat dari tempat tidur untuk pergi mandi.


Jarvish terbangun tepat di saat Dave memakai baju seragam sekolah.


"Wah! Anak Papa sudah sehat dan segar lagi ini"


"Iya, berkat Mama"


"Mama kamu memang hebat. Lebih hebat dari semua dokter di luar sana"


"Nggak juga. Kalau pertolongan pertamanya Mama tidak berhasil, Mama tetap membawa Dave ke dokter" Sahut Dave.


Jarvish membantu Dave memakai dasi sambil berkata, "Kau memang anak yang sangat cerdas dan Papa bangga memiliki kamu"


"Terima kasih, Pa" Dave mencium pipi papanya dan berkata, "Dave juga bangga punya Papa pintar dan tampan"


"Hahahahahaha. Kamu sangat pandai merayu. Turunan siapa sifat itu,?"


"Mama" Sahut Dave dengan senyum lebar.


"Mama kamu? Mama kamu yang sedingin es itu pandai merayu?"


"Hmm. Kalau Dave sudah makan, Mama pasti merayu Dave dan berhasil membuat Dave makan"


"Hahahahahaha. Oh! Merayu yang itu. Hahahahaha. Kamu lucu banget, sih"Jarvish languang menggelegarkan tawa bahagianya sambil mencubit pipinya Dave.


Luna memasak banyak sayuran karena semalam Dave makan tanpa sayur dan mengalami sakit perut.


Dave yang duduk di sebelah papanya langsung menoleh ke Papanya dan berbisik, "Dave nggak suka makan sayur"


Jarvish pun berbisik, "Papa juga. Apalagi brokoli dan wortel"


"Kita sama, Pa" Dave mengajak Papanya tos.


"Apa yang kalian bisikkan?"


Dave dan Jarvish menggelengkan kepala secara bersamaan.


Luna langsung tersenyum ke Dave dan berkata, "Dave, kita lomba makan sayur, yuk! Yang paling banyak makan sayur, dapat hadiah ciuman di pipi dan besok Mama ajak bermain ke taman bermain"


"Horeeeee! Ayo kita lomba, Ma" Dave langsung bersemangat mengambil ca brokoli, Capcay dan rebusan jagung ke piringnya.


Wah! Benar apa kata Dave. Wanita ini sangat pandai merayu. Batin Jarvish.


"Apa aku boleh ikut lomba? Aku tidak suka sayur sama kayak Dave. Tapi, melihat Dave ikut lomba aku jadi pengen ikutan"


"Boleh" Sahut Luna dengan cepat.


"Lalu, kalau aku menang, apa aku juga akan dapatkan ciuman di pipi dan boleh ikut ke taman bermain?"


Luna sontak menahan sendoknya di udara dan membeku.