
Braakkkk! Kembali terdengar suara pintu dibuka dengan kasar dan kali ini suara itu berasal dari pintu masuk ruang kerjanya Jarvish.
Joshua melangkah lebar ke meja kerjanya Jarvish dengan sorot mata tajam dan napas menderu ia menggeram, "Kau di sini ternyata. Di mana Dave? Kenapa kau tidak bawa Dave ke sekolahannya? Ke Playgroup dan TK Harapan Kasih, hah?!"
Jarvish bangkit berdiri dan sambil menyeringai tajam ia berkata, "Dave anakku. Aku berhak memberikan yang terbaik untuk Dave dan menurutku homeschooling bagus untuk Dave. Aku bisa sekalian mengawasi dan menjaga Dave di sini"
"Kau! Kenapa kau bawa Dave sebelum waktunya dan di saat Luna masuk rumah sakit. Kau ini manusia atau batu, sih? Kenapa kau sama sekali tidak punya hati dan selalu bertindak sesuka hati kamu, hah?!"
"Apa bedanya aku bawa Dave kemarin dan hari ini? Cuma beda jam aja, kan?"
"Kau......."
"Mama sakit, ya, Om?" Dave muncul dari dalam kamar sambil mengucek-ucek kedua matanya karena ia baru saja bangun tidur.
Joshua sontak menoleh ke belakang dan di saat ia ingin melangkah ke Dave, Jarvish dengan cepat berlari keluar dari meja kerjanya dan langsung menarik lengan Joshua sambil menggeram, "Jangan sentuh Dave!"
Joshua menarik lengannya dan karena ia tidak ingin Dave melihat kekerasan, Joshua menahan dirinya sekuat tenaga untuk tidak menyarangkan bogem mentah di wajah Jarvish.
Jarvish lalu berlari dan mengendong Dave sambil berkata ke Joshua, "Keluar kamu! Aku akan ajak Dave berenang"
"Om, Mama sakit, ya? Mama kenapa ada di rumah sakit?" Dave bertanya sambil terus meronta di dalam gendongan papanya dan saat papanya melonggarkan pelukan, Dave langsung merosot turun dan berlari ke Joshua.
Joshua langsung berjongkok dan mengusap wajah Dave yang menangis.
Melihat putra kesayangannya menangis, Jarvish seketika mematung.
"Om, Dave pengen ketemu Mama. Dave pengen........"
"Nggak boleh! Dave saat ini harus sama Papa" Jarvish kembali menggendong Dave.
Dave kembali meronta di dalam pelukan Jarvish sambil menangis dan dan berteriak, "Dave mau ketemu sama Mama. Dave pengen rawat Mama kalau Mama sakit, Pa. Dave mau ketemu Mama!"
Jarvish mendekap erat tubuh Dave sambil berkata, "Nggak boleh! Dengarkan Papa, Dave!"
Dave langsung berhenti meronta dan dengan masih terisak menangis, anak kecil tampan itu menatap Jarvish.
"Berikan Dave padaku. Aku akan bawa Dave ke Luna" Joshua mendelik ke Jarvish.
Jarvish mengabaikan ucapan Joshua dan berkata ke Dave, "Kalau belum waktunya, Dave nggak boleh ketemu sama Mama. Dave, kan, sudah lama banget sama-sama Mama terus. Sejak lahir malahan. Papa jauh-jauh udah pulang dari Bulan, masak cuma dikasih waktu sebentar sama Dave. Masak Dave tega ninggalin Papa yang masih sangat kangen banget sama Dave" Jarvish langsung memasang wajah mewek di depan Dave.
Dave diam membisu dan tampak kebingungan ia menatap wajah tampan papanya dengan masih terisak menangis.
Jarvish mengusap air mata di mata dan pipi putranya sambil berucap, "Katanya anak cowok nggak boleh nangis di depan umum. Kok, Dave nangis, nih?"
"Dave nggak nangis di depan umum. Dave nangis di depan Papa dan Om Joshua. Jadi, nggak papa" Dave menyahut di sela Isak tangisnya.
"Iya, baiklah" Jarvish menciumi wajah Dave.
"Tapi, Dave pengen lihat Mama, Pa"
"Jarvish, kamu jangan egois! Biarkan Dave melihat Luna dan........"
"Dave? Sayangku? Anak Mama yang hebat?"
Dave langsung meronta dan Jarvish terpaksa melepaskan Dave untuk turun dari gendongannya dan berlari ke wanita yang bernama Luna Aditya.
"Mama! Dave sangat merindukan Mama!" Dave langsung berteriak sambil berlari kencang dan masuk ke dalam dekapan hangat mamanya.
Luna langsung menggendong Dave, menciumi wajah Dave sambil berkata, "Mama juga sangat merindukan Dave"
Jarvish seketika tertegun melihat hangatnya hubungan Dave dan wanita yang bernama Luna Aditya itu. Momen itu membuatnya teringat kembali akan masa lalu, saat ia masih seumuran Dave, Mamanya tidak pernah peduli padanya. Mamanya selalu sibuk bersolek dan pergi bekerja bahkan terkadang tidak pulang selama berhari-hari.
Dave ternyata jauh lebih beruntung daripada aku. Dave memiliki Mama yang baik ternyata. Gumam Jarvish di dalam hatinya.
Joshua sontak menoleh ke pintu masuk dan langsung menyemburkan, "Luna? Kenapa kau bisa ada di sini?"
Luna menatap Joshua dan berkata masih dengan wajah yang sedikit pucat, "Aku tahu ada yang tidak beres saat kamu menerima telepon dan berlari meninggalkan kamar rawat inapku, Mas. Hatiku terus merasa tidak tenang dan aku terus kepikiran Dave. Makanya aku nekat meminta tolong sama Pak Bram untung mengantarkan aku ke sini. Nggak tahunya kamu juga ada di sini, Mas"
"Hei! ini bukan kelas drama kenapa kalian bermain drama di sini? Keluar kalian semua dari ruanganku dan tinggalkan Dave!"
"Nggak!" Jarvish langsung menarik Dave dari gendongannya Luna dan berkata, "Kalau kamu nekat membawa Dave hari ini, aku akan laporkan kamu ke majelis Hakim dan saat ini juga hak asuh Dave akan jatuh di tanganku lalu......."
"Baiklah, baiklah! Aku tidak akan bawa Dave. Tapi, ijinkan aku memeluknya sekali lagi"
Jarvish kembali menurunkan Dave dan membiarkan Luna memeluk Dave cukup lama. Lalu, Luna menciumi wajah Dave dan berkata, "Dave sama Papa dulu, ya? Sabtu depan Dave baru bisa bersama Mama. Dave nurut sama Papa, ya?!"
Dave bertanya dengan wajah polosnya, "Kenapa harus begini? Kenapa Dave, Mama, dan Papa tidak bisa tinggal bareng?"
Jarvish dan Joshua berisitatap dalam diam saat mereka berdua mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Dave.
Luna menangkup wajah putranya lalu dengan senyuman yang menahan tangis, wanita itu berkata, "Dave, Mama dan Papa terlanjur mendaftar permainan seru ini"
"Permainan seru?"
"Iya. Permainan hide and seek namanya. Mencari dan bersembunyi. Mama dapat giliran mencari, jadi Mama harus pura-pura mencari selama seminggu. Kalau sudah ketemu, Papa akan mengembalikan Dave ke Mama dan giliran kita yang sembunyi dan Papa yang mencari"
"Kenapa Mama dan Papa mendaftar permainan aneh itu? Untuk apa?"
Luna menatap Jarvish meminta pertolongan dan Jarvish hanya mengangkat kedua bahunya dan menyahut santai, "Itulah resikonya punya anak cerdas"
Luna menghela napas panjang lalu menatap Joshua untuk meminta tolong menjawab pertanyannya Dave dan Joshua langsung menyahut, "Maaf, aku nggak punya ide saat ini"
"Kenapa Mama nggak jawab?"
Luna menghela napas panjang dan berkata, "Mama dan Papa nggak sengaja mendaftar permainan ini. Karena tidak sengaja sudah mendaftar permainan ini maka Mama dan Papa harus bertanggung jawab menyelesaikan permainan ini, Sayang" Luna mengelus pipi Dave.
"Untuk berapa lama?"
"Untuk berapa lama? Biar Papa kamu yang jawab" Luna langsung menatap Jarvish.
Jarvish langsung mendelik ke Luna dan Luna hanya mengangkat kedua bahunya Pria tampan itu kemudian menggendong Dave dan berkata, "Untuk berapa.lamamya, kita akan tanya ke pemilik permainan nanti, oke? Sekarang biarkan Mama pulang dan menunggu di rumah. Dave ingin Mama menang dan besok Minggu bisa ketemu sama Dave, kan?" Jarvish mencium pipi putranya dengan gemas.
"Hmm. Bye-bye Ma. Mama harus menang dan sampai jumpa hari Minggu, Ma"
"Kenapa jadi Minggu?"
"Aku ingin bersama Dave sampai Minggu pagi, titik" Sahut Jarvish dengan seenak jidatnya.
Karena tidak ingin berdebat di depan Dave, Luna menghela napas panjang dan akhirnya berkata, "Baiklah. Sampai jumpa hari Minggu"
Joshua berbisik di telinga Jarvish saat Dave berlari ke kolam renang, "Aku ingin sekali meninju kamu saat ini juga. Tapi, sayangnya ada Dave"
"Dan aku dengan senang hati akan membalas kamu" Jarvish berucap sembari melangkah meninggalkan Joshua untuk menyusul Dave ke kolam renang.
Setelah berenang dan mandi, Jarvish memakaikan baju ganti ke Dave dan pria tampan itu langsung memekik kaget, "Kenapa badan kamu panas begini?"
Dave langsung ambruk di pelukan papanya dan Jarvish langsung menggendong Dave keluar dari ruangannya dan berlari kencang menuju ke mobilnya.
Satu jam kemudian, dia membuka kasar pintu apartemennya Luna dan berteriak, "Tolong Dave!"
Luna berdiri di depan Jarvish yang tengah menggendong Dave dengan wajah penuh tanda tanya.
"Dave tiba-tiba panas dan aku terpaksa membawa Dave ke sini karena Dave terus memanggil-manggil nama kamu"
Luna langsung menggendong Dave dan membawanya ke kamar. Luna langsung menempelkan koyo penurun demam di kening Dave, lalu mengganti baju Dave dengan kaos yang mudah menyerap keringat, lalu ia berlari ke kotak obat untuk mengambil obat penurun demam sambil bertanya, "Dan sudah makan?"
"Tadi siang sudah"
"Jaga Dave dan buat Dave minum sebanyak mungkin, aku akan bikin bubur dulu untuk Dave sebelum ia minum obat dia harus makan dulu"
"Hmm" Sahut Jarvish sembari duduk di tepi ranjang dan berkata ke Dave, "Dave minum dulu, ya, Papa bantu"
Dave minum beberapa teguk air mineral lalu rebah kembali di atas bantal.
Luna memasak bubur sembari bergumam, "Kenapa Jarvish itu aneh banget. Dia kenapa bawa Dave ke sini padahal beberapa jam yang lalu dia tidak mengijinkan Dave pulang ke sini. Hmm, dasar aneh"