
Jarvish menjemput kekasihnya dengan rasa malas tingkat dewa. Dia paling malas untuk datang ke pesta pertemuan tahunan para eksekutif muda karena dia, paling tidak bisa untuk berbasa-basi.
Laura memakai dress panjang berlengan pendek dengan kerah berbentuk V dan berwarna silver. Wanita itu tampak semakin cantik dengan rambut digelung semua berbentuk keong.
Jarvish yang tidak terbiasa memuji wanita dan memang tidak pernah mau memuji wanita tanpa alasan yang kuat apalagi hanya untuk memuji penampilan seorang wanita, hanya diam di depan Laura dan menatap Laura dengan wajah datar.
Laura sontak cemberut di depan Jarvish.
Jarvish bertanya dengan nada datar, "Ayo buruan berangkat ngapain berdiri terus di depan pintu?"
Laura langung menyemburkan, "Mana pujian untuk pacar kamu, Jarvish?!"
"Pujian apa?" Tanya Jarvish sembari berputar badan lalu masuk ke dalam mobil begitu saja.
"Hei! Kenapa malah ngeloyor pergi dan masuk ke mobil?"
"Itu karena Tuan Jarvish tidak pernah memuji wanita"
Laura sontak menoleh ke Brian dan sambil berjalan ke mobil dia berkata, "Dia pernah memujiku cantik di perjumpaan pertama kami setelah kami dewasa"
"Itu hanya formalitas karena Anda adalah teman lamanya dan pasti Anda yang lebih dahulu memuji Tuan Jarvish waktu itu" Sahut Brian.
"Ah, iya. kamu benar. Aku yang duluan memujinya" Sahut Laura.
"Tentu saja benar. Tuan muda memuji wanita kalau wanita itu memujinya terlebih dahulu dan itu hanya untuk basa-basi dan sekadar untuk bersopan santun"
Jarvish terus menatap ke arah jendela dan ru membuat Laura kembali menyemburkan protes, "Kenapa terus menatap jendela? Kenapa nggak menatap pacar kamu ini? Apa aku jelek banget malam ini sampai-sampai kamu malas menatap aku?"
Jarvish menoleh ke Laura dan dengan wajah datar pria tampan itu berkata singkat, "Aku capek. Jangan berisik!" Lalu, Jarvish kembali menatap jendela.
Laura hanya bisa menghela napas panjang dan bersedekap di sepanjang perjalanan menuju ke tempat diselenggarakannya pesta tahunan para eksekutif muda.
Luna keluar dari kamarnya setelah selesai didandani oleh MUA yang adalah teman dekatnya Joshua Benjamin.
Joshua yang tengah duduk menonton televisi bersama Dave di ruang keluarga sontak bangkit berdiri dan tanpa ia sadari, mulutnya ternganga lebar.
Luna langsung menunduk untuk melihat gaun malamnya yang berbentuk kemben yang panjang sampai mata kaki dan berwana merah muda itu sambil bertanya, "Aku nggak cocok, ya, Mas pakai dress ini? Aku nggak pernah pakai dress dan........."
"Mama cantik banget" Sahut Dave dengan senyum lebar.
Joshua pun akhirnya mengatupkan mulutnya dan berkata, "Kamu cantik banget. Aku sampai pangling melihatnya"
"Tentu saja sangat cantik. Siapa dulu yang mendandaninya. Dia lebih fresh dengan gaya rambut kepang satu ini,kan?" Ucap MUA yang adalah teman dekatnya Joshua.
"Iya. Dia cocok dengan gaya rambut dikepang satu" Sahut Joshua dengan tatapan melekat di wajah cantiknya Luna.
"Manis dan cantik" Ucap Arkan.
"Iya, kamu benar Dave" Sahut Joshua yang masih memandangi wajah Luna dengan tatapan penuh kekaguman.
Luna kemudian berjalan mendekati Dave dan berjongkok di depan Dave untuk berkata, "Mama tinggal sebentar, ya? Dave jangan keluar dari apartemen ini sebelum Mama dan Om Joshua pulang dan nurut sama Om Bram"
"Hmm!" Sahu Dave.
Setelah Joshua dan Luna mencium pipi Dave secara bergantian, kedua sepasang kekasih itu pun pergi meninggalkan apartemen.
Laura menggandeng lengan Jarvish dan tersenyum bangga saat ia melihat banyak pasang mata mengikuti langkahnya. Lalu, wanita cantik bertubuh molek itu berbisik di telinga Jarvish karena dia masih ingin mendengar kekasihnya memuji kecantikannya malam itu, "Apa aku cantik banget malam ini, Sayang?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Menurutku aku sangat cantik malam ini. Bukannya narsis ku memuji diriku sendiri, tapi penata riasku tadi juga bilang kalau aku sangat cantik. Bahkan kau lihat, kan, banyak pasang mata memandangku dengan kekaguman"
"Kalau menurut kamu begitu, ya, berarti begitu" Sahut Jarvish dengan wajah datar dan nada bicara acuh tak acuh.
Laura rasanya ingin membanting di atas ranjang dan mengajak Jarvish bercinta saat itu juga saking gemas dan kesalnya saat ia mendengar ucapannya Jarvish itu.
Laura melepaskan lengan Jarvish saat pacarnya itu berkata, "Aku ingin menemui pengacara Felix Setiawan. Kau mau ikut?"
"Tidak. Aku nggak begitu suka dengan pengacara. Aku tunggu di sana saja"
"Hmm" Sahut Jarvish.
Laura dan Jarvish kemudian melangkah ke arah yang berbeda.
Namun, saat Jarvish masuk ke dalam, ia kehilangan sosok pengacara kondang tersebut. Pemuda tampan itu sontak mengumpat, "Sial! Di mana dia?" Sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Joshua pergi ke toilet dan membebaskan Luna untuk mengobrol dengan Felix Setiawan.
Jarvish menemukan keberadaannya Felix Setiawan dan melangkah ke sana. Namun, Pria tampan itu menghentikan langkahnya di belakang seorang wanita dengan rambut dikepang satu dan mengenakan gaun malam elegan berwarna merah muda. Alih-alih menahan langkah Felix Setiawan yang berputar badan lalu pergi, Jarvish justru tertegun menatap punggung wanita.
Luna yang merasakan tengkuknya tiba-tiba terasa dingin dan merinding, berputar badan dengan perlahan dan sontak mematung saat ia melihat sosok pria yang telah banyak membuat dirinya menderita secara batin dan raga.
Brian menghentikan langkahnya di samping Jarvish dan sontak ternganga lebar saat ia mendengar Jarvish berkata ke wanita dengan gaun malam elegan berwarna merah muda yang berdiri di depannya, "Kamu cantik banget malam ini"
Tanpa adanya angin dan badai, seorang Jarvish Benjamin memuji cantik seroang wanita dan itu masih membuat Brian seolah berada di alam mimpi.
Asisten pribadinya Jarvish itu semakin ternganga lebar di sebelah tuannya saat wanita dengan gaun malam berwarna merah muda itu menoleh ke belakang dan Jarvish Benjamin berkata, "Kenapa kau menoleh ke belakang? Yang aku maksud cantik banget malam ini adalah dirimu Luna Aditya"
Luna sontak mengarahkan pandangannya ke depan kembali dan Brian langsung mengatupkan mulutnya untuk bergumam lirih, "Bahkan Tuan ingat nama lengkapnya Nyonya"
Meskipun tidak mendengar gumamannya Brian dengan jelas, Luna refleks melirik Brian dan Jarvish langsung berkata, "Iya, kamu benar Brian. Aku ingat dengan baik nama.lengkap wanita ini karena dia wanita yang sangat kau benci"
Luna sontak menatap tajam wajah tampannya Jarvish Benjamin dan saat ia hendak.membuka mulut untuk membalas ucapannya Jarvish, pria itu kembali berkata, "Sial! Kenapa kamu semakin cantik saat kamu melotot penuh amarah saat ini"
"Dan wanita cantik itu adalah pacarku, Jarvish" Joshua melangkah lebar mengitari Jarvish dan langsung merangkul bahunya Luna di depan Jarvish.
Jarvish Benjamin langsung mengepalkan kedua tangan dan mengeraskan rahangnya di depan Joshua dan Luna.