Memories Of Love

Memories Of Love
Berdamai



Joshua terkejut setengah mati saat ia melihat Jarvish masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Joshua langsung menutup sambungan teleponnya dengan Laura dan memekik kesal ke Jarvish, "Kau mau apa ke sini sepagi ini, hah?!"


"Aku mau kasih kamu camilan kesukaan kamu" Jarvish meletakkan dua kotak cokelat almond di atas meja kerjanya Joshua.


"Apa ini?"


"Cokelat almond" Sahut Jarvish yang masih berdiri tegak di depan meja kerjanya Joshua dengan wajah datar dan nada bicara yang santai seolah tanpa dosa.


"Aku tahu! Tapi, kenapa kau kasih aku camilan, hah?! Kamu mau meracuni aku biar aku cepat mati dan semua warisan Papa aku jatuh ke tangan Mama kamu dan kamu, begitu?!"


Jarvish sontak mengepalkan kedua tangannya yang ada di samping badannya untuk menahan emosinya.


Surya langsung menyahut, "Kenapa Anda memiliki pemikiran sejahat itu, Tuan Joshua? Tuan Jarvish tulus memberikan camilan kesukaan Anda"


"Tapi, untuk apa dan sejak kapan kamu tau camilan favoritku?"


"Aku ingin berdamai dengan kamu dan hidup rukun bersama dengan kamu, Papa, dan Mama. Kalau soal camilan favorit kamu, aku tahu sejak aku masuk ke kediaman Papa untuk yang pertama kalinya. Aku lihat waktu itu kamu tengah memangku kota besar bertuliskan makan cokelat almond"


Joshua langsung tersentak kaget, lalu mundur ke belakang dan tertegun mendengar semua ucapannya Jarvish. Dia bahkan kaget saat Jarvish memanggil papanya dengan sebutan Papa padahal sebelumnya Jarvish memanggil Papanya dengan sebutan, Om"


"Aku akan buka camilan ini dan mengambilnya satu untuk aku makan"


Jarvish kemudian membuka segel kotak tersebut, lalu membuka tutup kotak tersebut dan mengambil satu kotak cokelat berisi kacang almond untuk ia masukkan ke dalam mulutnya. Jarvish mengunyah cokelat itu di depan Joshua yang masih menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Kau masih belum percaya? Oke, aku ambil satu lagi biar Surya juga ikut memakannya"


Jarvish memberikan satu kotak cokelat berisi almond ke Surya. Surya pun mengunyah cokelat almond itu.


"See! Kau lihat sendiri, kan? Aku dan Surya baik-baik saja setelah makan cokelat almond ini" Ucap Jarvish sembari menutup kembali cokelat almond itu.


Joshua masih bergeming dan masih menantikan kedua alisnya dalam-dalam.


"Oke. Selamat menikmati camilan dariku. Kalau kurang kamu bisa telepon aku dan aku akan belikan lagi. Aku ke kantor dulu. Semoga setelah ini kita bisa berdamai" Jarvish langsung berputar badan dan pergi meninggalkan Joshua yang masih terbengong-bengong.


Joshua menatap punggung Jarvish yang menjauh lalu ia menunduk untuk melihat kotak bertuliskan cokelat almond, lalu pria tampan berkacamata itu bergumam, "Apa yang sudah merasuki kepala anak itu? Kenapa tiba-tiba saja ia berkata ingin beramai denganku dengan membawa camilan favoritku. Dia bahkan tahu kalau ini adalah camilan favoritku sejak ia masih kecil. Dia ternyata perhatian padaku selama ini. Sial! Aku tidak boleh lemah hanya demi perlakuan manis dari Jarvish yang sekecil ini. Aku nggak boleh melow. Aku harus menjalankan rencanaku dengan Laura" Jarvish kemudian duduk dan menelepon Luna.


"Halo, ada apa, Mas?"


"Aku sudah melakukan hal buruk sama kamu beberapa hari yang lalu. Apa aku boleh meminta maaf dengan benar Sam kamu?"


"Aku sudah memaafkan aku, Mas. Lagipula Mas sudah mendekam di penjara selama beberapa hari, kan? Itu sudah cukup untuk menebus kesalahan, Mas. Kalau Mas sudah menyadarinya nggak perlu minta maaf lagi ke aku"


."Tapi, aku merasa perlu meminta maaf sama kamu. Aku juga ingin melepas kamu untuk yang terakhir kalinya. Aku akan mengikhlaskan kamu, Luna" Ucap Joshua dengan nada memelas.


"Aku harus minta ijin dulu sama Mas Jarvish dan......."


"Kamu boleh ajak Jarvish juga"


"Benarkah?"


"Iya. Datanglah bersama Jarvish ke restoran Delima jam tujuh nanti malam"


"Baiklah kalau begitu"


"Terima kasih, Luna"


"Sama-sama, Mas"


Luna langsung memutari meja kerjanya dan berlari kecil untuk menyambut Jarvish.


Jarvish langung menarik pinggang Luna dengan kedua lengannya dan mengajak Luna berciuman. Kemudian saat Jarvish menyusupkan kepalanya di leher Luna, pria tampan itu berkata, "Kita belum pernah melakukannya di sini, kan, Luna"


Luna langung mendorong dada Jarvish dan dengan wajah merona malu ia berkata, "Mas, ini kantor"


Jarvish kembali menarik Luna ke dalam pelukannya dan sambil terkekeh geli ia berkata, "Iya. Aku tahu Aku cuma bercanda, kok" Jarvish menoel pucuk hidungnya Luna. Lalu, pria tampan itu bertanya, "Siapa yang menelepon kamu barusan?"


"Joshua. Dia mengundang kita makan malam di restoran Delima nanti malam, Mas. Jam tujuh"


"Benarkah? Berarti dia menyambut ajakan berdamai dariku" Jarvish tersenyum semringah dan setelah menoleh pucuk hidungnya Luna, pria tampan itu berkata, "See! Aku sudah wujudkan impian kamu melihat semua orang di keluarga kita berdamai"


"Terima kasih, Mas"


"Mana terima kasih kamu yang benar?"


Luna tersenyum malu-malu lalu wanita manis itu berjinjit dan mengecup bibir Jarvish.


Dengan cepat Jarvish memagut bibir Luna dan menarik tengkuk Luna untuk memperdalam ciumannya.


Mereka berdua terpaksa saling menarik bibir saat terdengar ketukan di pintu.


Luna sontak berbalik badan untuk merapikan rambut dan bersyukur ia tidak pernah memakai lipstick, jadi ia tidak perlu kebingungan merapikan bibirnya.


Jarvish langsung berkata ke Luna, "Kirim semua laporan kamu ke kantorku nanti. Aku pergi dulu". Jarvish berbalik badan dan berjalan begitu saja melintasi anak buahnya Luna.


Anak buahnya Luna meletakkan tumpukkan berkas di atas mejanya Luna sambil bertanya, "Kenapa Tuan Jarvish wajahnya memerah, ya, Bu?"


Luna sontak berdeham, "Ehem" Lalu berkata, "Mungkin dia sedikit flu"


"Anda juga kenapa memerah wajahnya, Bu?"


Luna Kemabli berdeham, "Ehem!" Dan kembali berkata, "Ini musim flu. Kamu harus jaga kesehatan kamu"


"Ah! Baik, Bu. Terima kasih atas perhatiannya. Saya permisi dulu"


Sepeninggalnya anak buahnya itu, Luna langsung meraup kasar wajah manisnya dan tersenyum geli dengan sendirinya. Luna tesentak kaget saat telepon selulernya kembali berdering kencang, Mas Jarvish, ada apa?"


"Cepat bawa berkasnya ke kantorku! Aku sudah sangat merindukan kamu"


"Mas, kita baru saja bertemu dan kita baru saja berciuman" Wajah Luna terasa semakin panas saat ia membayangkan lembutnya ciuman Jarvish.


"Makanya cepat ke sini dan kita lanjutkan lagi yang tertunda tadi"


Luna kembali merona malu dan sontak memekik, "Astaga! Chef Theo! Mengagetkan saja, ada apa?" Luna lalu mematikan teleponnya.


Jarvish mendengus kesal dan berkata, "Sial! Theo ganggu aja!"


Chef Theo berkata, "Saya menunggu Anda di dapur. Anda akan memperagakan cara bikin timlo Solo, kan?"


"Ah! Iya. Ayo kita ke dapur sekarang kalau begitu"


Dan Jarvish semakin merengut saat Luna tertahan cukup lama di dapur.


Joshua berkata ke Laura lewat sambungan telepon selulernya, "Jarvish nanti datang karena tanpa Jarvish, Luna tidak akan mau datang menemui aku. Nanti, pas Luna ke toilet kamu bius dia dan bawa Luna ke apartemenku"


"Oke" Sahut Laura.