
Surya kemudian berpikir pergi ke rumahnya Jarvish untuk meminta tolong ke Luna agar Luna mencegah Jarvish pergi ke kantornya Joshua. Karena kalau Jarvish membuat keributan di sana, nama baik CEO pemilik hotel dan resort itu akan hancur dan mamanya Tuan Jarvish pun akan ikutan hancur. Kalau keduanya hancur maka otomatis bisnis perhotelan dan resort miliknya Jarvish Benjamin pun akan goyah. Selain itu, nama baik Luna Aditya dan Dave juga akan dipertaruhkan.
Kenapa bisa begitu? Karena Benjamin Group bergerak di banyak bidang usaha. Dan bisnis yang Joshua pegang selain bergerak di bidang elektronik, bisnis yang dijalankan oleh Joshua juga bergerak di bidang broadcasting otomatis akan ada banyak telinga reporter dan wartawan di sana. Kedua bisnis itu berada di gedung yang sama.
Tapi, bagaimana caranya aku mencari alasan untuk menemui Nyonya muda? Surya membatin sambil berdiri kaku di dalam lift.
Tiba-tiba asisten berwajah tampan itu memiliki alasan yang tepat. Maka dia segera mengajukan alasan yang ada di kepalanya ke Jarvish, "Tuan, maaf saya menyusul nanti. Ada klien yang mau datang ke sini. Maaf saya tidak bisa menemani Anda menemui Tuan Joshua. Atau kalau sudah selesai, saya akan menyusul Anda, Tuan"
"Hmm" Sahut Jarvish singkat sambil terus mengepalkan kedua tinjunya.
Surya dan Jarvish kemudian berpisah di lift. Jarvish melangkah keluar dan belok ke kanan sedangkan Surya melangkah keluar dan belok ke kiri.
Setelah benar-benar menemui klien di aula depan, Surya berkata, "Saya akan kirim berkasnya biar email dan maaf saat ini saya ada urusan yang sangat mendesak"
"Baiklah. Silakan Anda menyelesaikan urusan Anda dan kita bertemu kembali lusa. Saya akan pelajari berkasnya terlebih dahulu" Sahut klien tersebut.
Setelah mengucapkan kata terima kasih, Surya berlari menuju ke parkiran mobil.
Sebenarnya yang seharusnya bertugas menemui klien tersebut bukan Surya. Namun, karena Surya ingin mencari alasan dia memakai alasan menemui klien tersebut untuk bisa berbelok ke arah yang berlawanan dengan Jarvish Benjamin dan bergegas menemui Luna setelahnya.
Jarvish terkejut melihat wanita yang bernama Ana ada di depan dia saat ia hendak melangkah masuk ke mobilnya.
"Jarvish, tolong kasih aku kesempatan berbicara empat mata denganmu"
"Cih! Emangnya kamu siapa minta bicara empat mata denganku"
"Aku teman sekolah kamu"
"Aku bahkan tidak ingat kalau kita pernah jadi teman sekolah. Aku bahkan nggak ingat sama nama kamu. Lalu, untuk apa aku berbicara empat mata denganmu?"
"Aku merindukan kamu, Jarvish. Tega sekali kamu melupakan aku"
"Cih! Aku bahkan nggak ingat sama kamu. Kau tuli atau bodoh, hah?! Aku sudah berulangkali bilang kalau aku tidak kenal sama.kamu!" Jarvish mulai berteriak dan melotot ke wanita itu.
Wanita itu melangkah maju dan Jarvish melangkah mundur sambil mendelik Jarvish kembali bertanya, "Kenapa kau bisa sampai di sini?"
"Mama kamu yang kasih tahu" Sahut wanita yang bernama Ana itu.
Sial! Apa maksud Mama dengan semua ini? Batin Jarvish.
Jarvish menggertakkan gerahamnya, "Minggir! Atau aku akan bertindak kasar padamu"
"Kalau kamu kasar padaku, kamu akan berhadapan dengan Mama kamu dan.......aduh!"
Wanita itu oleng ke kanan dan hampir terjatuh di lantai parkiran mobil saat Jarvish mendorong tubuh wanita itu ke samping kanan dengan sangat kasar untuk bisa segera masuk ke dalam mobilnya.
Wanita yang bernama Ana itu nekat masuk ke jok belakang Jarvish dan langsung berkata, "Jarvish! Apa kamu lupa dengan teman masa kecil kamu, teman masa sekolah kamu dan ......."
Jarvish menggeram kesal dan keluar dari dalam mobil tanpa mempedulikan wanita yang bernama Ana itu. Jangankan peduli, nama wanita itu dia bahkan sudah lupakan.
Ana membuka pintu dan mengejar langkah lebarnya Jarvish sambil berteriak, "Jarvish! Tunggu aku! Aku tidak akan pernah menyerah sampai kamu mau berbicara empat mata denganku"
Jarvish langsung berlari kencang dan setelah berhasil lepas dari kejaran wanita bernama Ana yang menurutnya gila itu, Jarvish masuk mobil dinas kantor alih-alih mobil sportnya.
"Tuan?!" Supir hotel tersebut langsung tersentak kaget saat melihat Jarvish masuk ke jok belakang mobil dinas kantor.
"Cepat jalankan mobil ini kalau kamu tidak ingin aku pecat!" Saat Jarvish melihat wanita muda bernama Ana berlari kencang menuju ke arahnya.
"Baik, Tuan" Sahut supir itu.
Saat mobil itu melaju kencang, wanita yang bernama Ana itu membungkukkan badan dan berteriak, "Jarvish jangan pergi!!!!!"
"Tolong percepat laju mobilnya Pak Surya. Saya tidak ingin Mas Joshua dan Jarvish bertikai. Saya juga nggak ingin kalau Jarvish dan Mamanya terkena masalah besar" Ucap Luna.
"Baik, Nyonya muda" Sahut Surya. "Saya mau minta tolong sama Anda sekali lagi Nyonya muda" Surya berkata kembali.
"Katakan saja Pak Surya. Saya sedang membantu sesama dan kalau saya bisa melakukannya saya akan sangat senang melakukannya"
"Sebelumnya terima kasih banyak, Nyonya muda. Emm, jangan katakan kalau saya yang menjemput Anda di rumah Tuan Jarvish. Kalau Tuan tahu saya menjemput Anda di saat Anda masih membutuhkan istrirahat, saya bisa kehilangan pekerjaan saya bukan hanya dipotong gaji saya"
"Baiklah. Saya akan berbohong kali ini demi kebaikan semuanya" Sahut Luna.
"Terima kasih banyak Nyonya muda"
"Tuan, kenapa.Anda turun tahta dan naik mobil dinas ini? Biasanya Anda naik mobil pribadi Anda"
"Ada Nenek sihir mengejarku tadi" Sahut Jarvish sekenanya.
"Kalau kamu banyak nanya lagi, aku akan pecat kamu. Mama kamu Sulistyo, kan, aku sudah mengingatnya"
Supir bernama Sulistyo itu langsung mengunci bibirnya dan tidak berani bertanya apa-apa lagi.
Jarvish menyandarkan kepalanya di jok belakang dan bergumam di dalam hatinya, tunggu aku Joshua! Aku akan buat kamu babak belur.
Braaakkk! Dengan kasar Jarvish membuka pintu ruang kerjanya Joshua.
Joshua tersentak kaget dan sontak bangkit berdiri sambil berkata, "Kenapa kau ada di sini?"
Jarvish mengarahkan layar telepon genggamnya di depan Joshua sambil berkata, "Kau ternyata lebih rendah dari bintang, Jo. Kau tega melakukan semua itu ke Luna"
Joshua melotot kaget dan berucap, "Aku tidak ingat apa pun. Lagian aku sangat mencintai Luna. Mana mungkin aku......*
"Berhenti bilang cinta. Kau tidak pantas mencintai Luna"
"Di rekaman itu bukan aku. Aku tidak mungkin melakukan hal menjijikan itu ke Luna" Joshua terus menggelengkan kepalanya raut wajah penuh kebingungan.
"Jelas terlihat kalau di dalam rekaman yang kau lihat itu kamu" Ucap Jarvish sambil memasukkan kembali telepon genggamnya ke saku jasnya lalu dia menggeram, "Keluar dari meja kamu kalau kamu bukan seorang pengecut"
Dengan masih kebingungan, Joshua melangkah pelan keluar dari balik meja kerjanya.
Setelah berlari kencang, Luna akhirnya sampai di ruang kerjanya Joshua bersama dengan Surya tepat di saat Jarvish memegang kerah jasnya Joshua.
Luna langsung menarik tangan Jarvish sambil berteriak, "Hentikan!"
Jarvish melotot tajam ke Luna dan bertanya, "Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Aku mencari kamu di kantor dan kamu nggak ada. Pak Surya lalu mengantarku ke sini"
Jarvish langsung menoleh tajam ke Surya dan Surya langsung berkata, "Maaf, Tuan"
"Jangan salahkan Pak Surya. Aku yang meminta Pak Surya mengantarku ke sini" Sahut Luna.
Joshua menyeringai senang saat ia melihat Luna datang untuk membelanya. Itu yang ada di benak Joshua saat ini. Dia mengira Luna datang demi dirinya. Untuk itulah pria tampan berkacamata dan berambut abu-abu itu berkata dengan senyum semringah, "Aku senang kau datang ke sini demi aku Luna"
Luna tersentak kaget dan langsung menoleh ke belakang kemudian dengan cepat wanita itu menatap kembali ke depan tepat di saat Jarvish menoleh tajam ke Joshua dengan melotot dan wajah meradang penuh amarah. Kemudian dia menunduk sedikit untuk melihat wajah Luna, "Apa kau datang untuk dia?"
Luna menggelengkan kepalanya dengan cepat di depan Jarvish dan Joshua langsung berkata, "Luna pasti masih mencintaiku. Dia pasti mencari kamu dan datang ke sini untuk kembali bersamaku. Nyatanya dia menarik tangan kamu dari kerah jasku dan berdiri di depanku saat ini untuk melindungi aku"
"Benar begitu, Luna? Jawab!!!!" Jarvish mulai meninggikan nada suaranya.
"Tidak bukan begitu!" Luna tanpa sadar berteriak kesal di depan Jarvish. Lalu menoleh ke belakang untuk melihat wajah Joshua dan berkata, "Mas, jangan memperkeruh suasana!"
Di saat Joshua hendak merengkuh Luna ke dalam pelukannya dari arah belakang, Jarvish dengan sigap memanggul Luna dan berkata ke Surya, "Mana kunci mobilnya Sur?"
Surya melemparkan kunci mobil ke Jarvish . Jarvish langung berputar badan dan melangkah lebar meninggalkan Joshua sambil berkata, "Jangan ikuti aku, Sur! Aku akan menghukum wanita ini dulu" Lalu, Jarvish meneruskan langkah lebarnya dengan tegap dan mengabaikan teriakan Luna yang terus meminta untuk diturunkan.
Di saat Joshua ingin mengejar Jarvish, Surya langsung menahan dada Joshua dan berkata, "Lebih baik Anda jangan mengejar Tuan Jarvish. Ini demi kebaikan bersama"
"Kalau aku nekat?"
"Maka saya tidak akan ragu lagi untuk melawan Anda dan berduel dengan Anda di sini" Sahut Surya.
Joshua yang lebih mementingkan nama baik memilih untuk bergeming. Dia belum tahu kemampuan Surya dalam bertarung, tapi dia juga tidak Ingin menanggung resiko berkahir malu nanti kalau dia kalah tarung dengan Surya.
Luna memukul-mukul punggung Jarvish di dalam lift, "Turunkan aku!"
"Nggak" Sahut Jarvish dengan nada geram.
Luna masih memukul-mukul punggung Jarvish, "Kau kejam"
"Iya aku kejam" Sahut Jarvish dengan nada datar.
"Kau berpikiran sempit" Teriak Luna masih dengan memukul-mukul punggung Jarvish.
"Iya aku berpikiran sempit" Sahut Jarvish dengan acuh tak acuh.
"Kau gila Jarvish Benjamin. Turunkan aku!" Luna berteriak kesal dan masih memukul-mukul punggung Jarvish.
"Kenapa kau masih ada di ruanganku?" Joshua mendelik kesal ke Surya.
"Karena Tuan Jarvish belum menelepon saya. Jadi, saya akan menunggu Tuan Jarvish di sini" Sahut Surya dengan santainya sambil duduk di sofa dan kembali berkata setelah ia duduk, "Saya juga perlu menjaga Anda agar Anda tidak menyusul Tuan Jarvish untuk memprovokasi emosinya Tuan Jarvish"
"Sial!" Joshua mendelik kesal ke Surya.