
"Kenapa malah bengong? Aku berhak untuk tahu" Ucap Jarvish sembari berpindah ke kuda kayu yang ada di depan kuda kayu yang dinaiki oleh Luna. Jarvish duduk menghadap ke Luna.
Komidi putar masih aktif berputar di saat Luna menatap Jarvish dan mulai bercerita bagaimana awal mulanya Jarvish merenggut segel kesuciannya Luna kurang lebih lima tahun yang lalu.
Jarvish mendengarkan dengan seksama.
Ketika Luna menghentikan ceritanya dan menatap Jarvish dengan canggung, Jarvish berkata, "Kamu tidak membenciku?"
"Aku membenci kamu seketika itu. Kamu sudah merenggut segelku dan kamu menghina aku dengan cek kosong yang kamu tinggalkan. Namun, aku bukan tipe pendendam.
Aku sudah memaafkan kamu"
Ucap Luna.
"Maafkan aku" Jarvish menatap Luna dalam-dalam dengan ekspresi wajah yang dingin dan kaku. Jarvish Bejamin masih belum pandai untuk berekspresi dengan benar
Luna menatap Jarvish dengan perasaan campur aduk, lalu wanita itu kembali berkata, "Aku sudah memaafkan kamu"
Saat Komidi putar telah berhenti berputar, Jarvish langsung melompat turun dari kuda kayu yang ia naiki untuk menarik pelan Dave masuk ke dalam gendongannya. Lalu, dengan mendekap erat tubuh Dave, Jarvish mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Luna turun. Namun, Luna langsung berkata, "Aku bisa turun sendiri"
Jarvish menarik lagi tangan kanannya dan langsung mengekor langkahnya Luna turun dari komidi putar itu.
Beberapa jam kemudian mobil Jarvish sudah parkir di area parkir apartemen yang ditempati oleh Luna. Ketika Jarvish melihat Luna kesulitan membuka sabuk pengaman, Pria tampan itu langsung melepas sabuk pengamannya untuk membantu Luna membuka sabuk pengaman yang masih melintang di tubuh Luna. Tanpa sengaja tangan pia tampan itu menggenggam tangan Luna.
Untuk sepersekian detik Luna dan Jarvish saling menatap dalam diam.
Jarvish merasakan jantungnya berdegup kencang untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal dunia.
Debaran jantung itu membuat Jarvish nekat memajukan wajahnya secara pelan-pelan. Luna sontak memebeku dan mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya beberapa kali.
Tiba-tiba terdengar bunyi, ceklek dan sreeettt! Sabuk pengamannya Luna berhasil dibuka. Wanita itu langsung membuka pintu dan melompat turun dari mobil.
Jarvish membenturkan wajahnya dengan pelan di jok mobil untuk meredakan debaran jantung dan menyembunyikan ekspresi wajah kecewa di saat ia gagal mencium bibirnya Luna.
Ketika pintu jok belakang dibuka, Jarvish langsung menegakkan kepalanya untuk berkata, "Aku yang akan membopong Dave ke atas. Naiklah dulu"
Luna menganggukkan kepalanya dan langsung menarik tubuhnya keluar dari dalam mobil lalu bergegas berbalik badan masuk untuk berlari masuk ke dalam lift.
Di dalam lift, Luna bergumam, "Apa yang ingin ia lakukan tadi? Kenapa dia memajukan wajahnya dengan pelan. Apa dia mau menciumku? Nggak! Nggak mungkin. Itu hanya pikiranku saja. Dia nggak mungkin memiliki keinginan untuk menciumku. Dia, kan, sudah punya pacar yang jauh lebih cantik dan seksi daripada aku"
Begitu pintu lift terbuka di lantai delapan, Luna langsung keluar dan belok ke kiri lalu ke kanan. Di unit 827, ia melihat asisten pribadinya Jarvish yang bernama Brian Surya berdiri di depan pintu dengan menenteng tas ransel besar dan tersenyum ramah padanya.
"Selamat petang, Nyonya muda"
"Kenapa Bapak terus memanggil saya dengan Nyonya muda?"
"Karena Anda adalah Mamanya Tuan muda, Nyonya muda" Sahut Surya.
"Panggil saja saya Luna, Pak" Ucap Luna sembari memasukkan password untuk membuka pintu apartemennya.
"Saya tidak berani" Sahut Surya.
Luna hanya bisa menghela napas panjang dan berkata, "Mari silakan masuk, Pak. Dave dan Papanya masih ada di parkiran mobil"
"Baik Nyonya muda" Sahut Surya.
"Saya ke dapur dulu, Pak. Saya tadi pagi bikin puding, saya akan ambilkan untuk Bapak sebentar"
"Terima kasih banyak Nyonya muda"
Satu menit setelah Luna sampai di dapur, Jarvish muncul di depan Surya dan pria tampan itu langsung berkata ke asisten pribadinya, "Kau sudah bawakan aku baju ganti?"
"Bagus. Aku akan bawa Dave ke kamar dulu"
"Baik, Tuan"
Setelah merebahkan Dave dengan hati-hati dan mengganti bajunya Dave dengan baju bersih, Jarvish bergegas keluar dari dalam kamarnya Dave dan langsung berkata ke Surya, "Pulanglah!"
"Saya harus menunggu, Tuan"
"Menunggu apa?"
"Nyonya muda mau mengambilkan puding buatannya"
"Apa?! Nggak boleh! Kamu nggak boleh mencicipi masakannya Luna!"
"Lho, kenapa nggak boleh?"
"Pokoknya nggak boleh. Pulang sekarang juga apa kau mau ku potong bonus kamu?"
Surya langsung bangkit berdiri dan berkata, "Tentu saja saya pilih bonus daripada puding. Saya pulang sekarang, Tuan" Asisten pribadinya Jarvish itu langsung bergegas keluar dari apartemennya Luna.
Jarvish menatap punggung Surya yang menjauh sembari bergumam lirih, "Enak aja mau mencicipi masakan Mamanya Dave. Hanya aku yang boleh mencicipinya"
"Lho, Pak Surya mana?" Luna muncul di ruang tamu dan meletakkan nampan di atas meja dengan wajah bingung.
"Dia pulang. Pacarnya yang cerewet mencarinya" Sahut Jarvish sambil duduk di sofa.
"Lho, bukankah Pak Surya ke sini untuk menjemput kamu? Kenapa kamu masih di sini?"
"Aku tidur di sini lagi malam ini Surya datang ke sini membawakan baju ganti dan keperluanku yang ada di ransel ini" Jarvish menepuk ransel yang teronggok di sisi kanan sofa.
"Hah?! Kenapa tdur lagi di sini? Di luar tidak hujan dan ini masih petang" Luna menatap Jarvish dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kita besok akan ikut lomba, kan? Aku seorang pebisnis sudah terbiasa melakukan persiapan sebelum bertempur. Makanya aku harus tidur di sini karena aku ingin membahas strategi untuk lomba besok. Dave ingin kita menang, kan? Dave ingin dapatkan trophy juara pertama"
Luna hanya bisa menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah. Aku masak dulu kalau begitu"
"Oke. Aku akan mandi kalau gitu" Sahut Jarvish sembari mencangklong tas ranselnya.
Luna sampai di dapur untuk memasak sayur sup ayam yang sudah ia siapkan semua bahannya dari tadi pagi dan tinggal mencemplungkan semua bahan tersebut ke dalam panci. Luna kemudian menggoreng tempe sambil bergumam, "Kenapa ia aneh banget? Lomba untuk anak TK aja harus pakai strategi. Huuuffttt!"
Tepat jam sembilan malam, Dave dan Jarvish sudah mandi dan tubuh mereka berdua tercium wangi sabun mandi. Papa dan anak itu duduk di depan meja makan dengan wajah semringah.
Luna langsung melepas celemek dan berkata, "Kalian makan aja dulu. Mama mau mandi"
"Hmm" Sahut Dave dan Jarvish secara bersamaan.
Sepeninggalnya Luna, Jarvish menoleh ke putranya untuk berkata, "Masakan Mama kamu tampak lezat"
"Mama memang juara kalau memasak"
"Mama kamu juga punya senyuman yang sangat manis mirip banget sama kamu senyumannya"
"Hmm. Banyak yang bilang gitu, Pa"
"Tapi, wajah kamu mirip Papa. Semuanya mirip Papa"
"Yes!" Dave memekik girang.
Papa sepertinya kerasan tinggal di sini, Dave. Batin Jarvish.