
Jarvish yang biasanya tidak sabaran, bahkan rela bersabar selama dua jam lebih menunggu Luna dan Dave di luar kamar rawat inap itu tanpa mengeluh sedikit pun. Surya kembali dibuat heran dengan perubahan sikap Jarvish yang ini.
Jarvish langsung berdiri saat ia melihat Luna dan Dave keluar dari dalam kamar. Pria tampan itu langsung berkata, "Ada burung beo di sana. Kalian nggak ingin lihat dulu?"
"Benarkah? Mana?" Tanya Luna dan Dave secara bersamaan.
"Tuh, di tengah taman. Ayo kita ke sana!" Jarvish langsung berdiri di tengah untuk menggandeng tangan Luna dan Dave. Surya menunggu di depan pintu kamar rawat inap dengan senyum bahagia.
Luna menunduk untuk melihat tangannya yang ada di dalam genggaman tangan Jarvish sambil bergumam di dalam hatinya, kenapa dia sekarang ini suka merangkul dan menggenggam tanganku tanpa ijin? Tapi, kenapa juga aku cenderung membiarkannya. Aku merasa nyaman berada di dalam rangkulan dan genggaman tangannya.
"Kalian suka?" Tanya Jarvish.
"Suka" Sahut Luna dan Dave secara bersamaan tanpa menoleh ke Jarvish karena mereka tengah asyik melihat burung beo.
"Bisa ngomong nggak, ya, burung beo ini?" Luna menoleh ke Dave.
"Burung bisa ngomong, Ma?"
"Kalau burung beo bisa menirukan omongan kita. Coba kamu ajak dia ngomong"
"Halo" Ucap Dave.
"Halo" Burung beo tersebut bisa meniru ucapannya Dave.
"Wah! Dia pinter banget, Ma"
Sekarang Mama coba, ajak dia ngomong, ya, "Selamat malam"
"Selamat malam"Sahut burung beo itu.
"Wah! Dia memang pinter Dave" Luna mengusap kepalanya Dave dengan senyum riang.
Jarvish yang berdiri di belakang Luna dan Dave, terus mengulas senyum lebar.
Dave tergelak senang laku berkata, "Iya, Ma. Dia pinter banget. Sekarang coba Papa ajak burung ini ngomong" Dave menoleh ke belakang.
Luna menegakkan badannya yang sedari tadi membungkuk lalu berputar badan dengan pelan untuk menghadap ke Jarvish.
Jarvish menatap Luna dengan sangat dalam dan sambil tersenyum penuh arti, dia berkata, "I love you"
Luna mengerjapkan kelopak matanya karena kaget mendengar ucapannya Jarvish.
"I love you" Sahut burung beo itu.
Jarvish masih menatap lekat kedua bola mata Luna dan Luna merasa canggung dengan tatapan dan ucapan i love you itu. Lalu, wanita berwajah manis itu berdeham dan berkata sambil berjalan melintasi Jarvish, "Kita pulang aja, yuk! Sudah malam"
Jarvish menggendong Dave dan dengan mengulum bibir menahan senyum dia mengekor langkahnya Luna.
Dia Lucu banget kalau malu-malu meong kayak gitu, hihihihi. Batin Jarvish sambil betis mengulum bibir menahan senyum.
Mereka kembali ke rumah yang diberikan Jarvish untuk Luna dan Jarvish duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur untuk melihat cara Luna menidurkan Dave. Luna meletakkan kepala Dave di atas dadanya, tangan kiri membelai kepala Dave terus, tangan kanan memegang buku cerita anak, dan Luna membaca buku cerita anak itu dengan penuh penghayatan sambil terus membelai kepalanya Dave.
Jarvish tertegun melihatnya. Pria tampan itu semakin mengagumi kelembutan dan sifat keibuan yang ditunjukkan oleh Luna. Pria itu semakin yakin kalau dia tidak salah menjatuhkan hatinya pada wanita manis itu. Ya, tak bisa dipungkiri lagi, Jarvish mulai menyadari perasaannya, dia telah jatuh hati pada Luna Aditya.
Setelah Dave lelap tertidur, Luna merebahkan kepala Dave dengan perlahan di atas bantal dan saat ia melihat Jarvish bangkit berdiri, Luna bangun dan berkata, "Kamu mau pulang?"
"Hmm. Apa kamu ingin kau menginap di sini?"
"Apa?! Mana ada seperti itu?" Luna terlonjak kaget.
"Hahahaha. Aku cuma bercanda. Aku pulang dulu"
"Aku akan antarkan sampai depan pintu"
"Hmm"
Saat mereka berdiri berhadapan di depan pintu, Luna berkata, "Terima kasih untuk semuanya. Aku akan bayar semuanya dengan mencicil dan...... hmmppttthh!"
Jarvish langung membungkam bibir Luna dengan bibirnya.
Saat Jarvish melepaskan bibir Luna, Luna sontak memukul dada Jarvish, mengusap bibirnya dengan punggung tangan dan mendelik, "Kenapa kau menciumku?"
"Aku sudah bilang, kan, tadi, kalau kau membahas soal uang, aku akan mencium kamu"
"Kau!" Luna memukul Kemabli dada bidangnya Jarvish.
Jarvish langsung menggenggam tangan Luna dan menahan tangan itu di dadanya sambil berkata, "Aku akan bertanggung jawab atas ciumanku ini besok. Selamat malam. Mimpi yang indah" Jarvish mengusap kepala Luna dan berbalik badan meninggalkan Luna dengan senyum semringah.
Luna kemudian masuk saat Bi Nina berkata, "Nyonya, sudah malam. Masuk, yuk, biar Bibi yang kunci pintunya"
"Baik, Bi dan terima kasih" Luna tersenyum ke BI Nina.
Bi Nina membalas senyuman Luna dan berkata, "Sama-sama Nyonya"
Luna tidur dengan gelisah. Entah kenapa semua perhatian dan perlakuan manis Jarvish membuat hatinya kembang kempis dan matanya sulit untuk dipejamkan.
Sedangkan Jarvish langsung tidur dengan pulas dan mendapatkan mimpi yang sangat indah bahkan suara petir yang datang mengiringi hujan di jam dua belas malam tidak mampu membuat Jarvish terbangun dari mimpi indahnya. Sejak Mamanya pergi meninggalkan dia puluhan tahun yang lalu, baru malam ini pria tampan itu bisa tidur nyenyak tanpa bisa diusik oleh suara sekencang apa pun.
Dan keesokan harinya Jarvish bangun dengan segar bugar. Keluar dari dalam kamar mandi dengan bersiul ceria karena dia, memiliki rencana indah dan brilian menurutnya dan akan ia eksekusi setelah ia mengantarkan Dave ke sekolah.
Apakah rencana itu? Hanya pria aneh itu yang tahu.
Mamanya Jarvish juga tersenyum semringah setelah ia berbincang dengan orang kepercayaannya di pagi hari ini dengan isi kepala yang penuh rencana jahat dan hanya dia yang tahu rencana apa itu.
Papanya Joshua menepuk pundak Joshua dan bertanya ke anak tampannya itu "Kau mabuk semalam?"
"Urus saja urusan Papa. Jangan campuri urusanku!" Joshua menepis tangan papanya dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan papanya.
Papanya Joshua hanya bisa menarik napas panjang dan bergumam, "Semoga suatu saat nanti kau mau mendengarkan kebenarannya, Nak dan tidak membenci Papamu lagi. Begitu juga dengan kamu, Jarvish"
Jarvish memaksa Luna ikut masuk ke mobilnya dan sebelum Jarvish berucap, Luna langsung berbisik di telinga Jarvish, 'Kalau nggak nurut, aku cium kau"
Luna kemudian masuk ke dalam mobil dan Jarvish bergegas berlari kecil mengitari mobil untuk masuk ke balik kemudi dengan tawa yang membahana.
Dave langung menyahut, "Aku suka dengar suara tawa Papa dan aku suka lihat wajah Papa kalau tertawa"
Jarvish menoleh ke jok belakang dan dengan masih menyisakan tawanya dia mengelus kepala Dave sambil berkata, "Terima kasih atas pujiannya anak tampan"
Surya naik mobil sendiri dan langsung meluncur ke suatu tempat saya perintahnya Jarvish, sementara Jarvish menuju ke sekolahnya Dave dengan pengawalan ketat.
Setelah mengantarkan Dave sampai Dave masuk ke dalam kelas, Jarvish menarik tangan Luna untuk masuk ke dalam mobil sambil berkata, "Kita akan pergi ke suatu tempat karena aku, akan bertanggung jawab soal ciumanku semalam"
Mendengar kata bertanggung jawab, Luna sontak bergidik ngeri dan langsung menoleh ke Jarvish untuk berkata, "Nggak usah bertanggung jawab"
Jarvish langsung menoleh ke Luna, mencubit dagu Luna, tersenyum jahil dan berkata, "Oh! Kamu suka aku cium ternyata"
Luna langsung menepis tangan Jarvish sambil berkata, "Bukan begitu! Aku hanya tidak suka dengan cara kamu bertanggung jawab"
Jarvish kembali menggemakan tawanya lalu berkata di sela tawa gelinya, "Oke, katakan apa mau kamu"
"Pindahkan saja aku ker ruangan lain yang dekat dengan departemen F and B"
"Kenapa?" Tanya Jarvish dengan. wajah cemberut.
Karena aku selalu merasa sesak napas kalau berada di satu ruangan denganmu. Luna ingin meneriakkan semua kata itu. Namun, yang keluar dari mulutnya adalah, "Jarak ruang kerja kamu ke departemen F and B cukup jauh. Aku merasa kesulitan kalau harus bolak balik dan butuh waktu cepat untuk sampai ke sana"
"Oke"
"Ka....kamu setuju?"
"Iya. Mulai kemarin aku akan selalu menuruti semua permintaan kamu dan Dave" Ucap Jarvish sambil melajukan mobilnya.
"Te.... terima kasih banyak" Sahut Luna.
"Hmm. Tapi, aku tetap akan bertanggung jawab soa ciumanku semalam" Sahut Jarvish.
"Dengan cara apa kamu akan bertanggung jawab?" Luna bertanya dengan wajah panik dan suara sedikit bergetar.
"Kau akan lihat sebentar lagi. Aku akan ajak kamu ke suatu tempat" Jarvish berucap dengan anda santai dan melirik Luna.
Luna hanya bisa menarik napas dalam dan berdoa semua pria aneh ini tidak melakukan hal di konyol lagi. Luna memilih diam di sepanjang perjalanan dan Jarvish membiarkannya
Satu jam kemudian, Jarvish memarkirkan mobilnya di halaman kantor pencatatan sipil. Lalu, setelah mematikan mesin, menarik kunci mobil, dan membuka sabuk pengaman, pria tampan itu turun dari dalam mobil sambil berucap, "Ayo kita turun!"
Luna ikut turun dengan hati dan wajah penuh tanya.
Untuk apa dia mengajakku ke sini? Batin Luna dengan menghentikan langkahnya di depan pintu kaca besar kantor pencatatan sipil tersebut.
Luna menoleh ke Jarvish dan Jarvish langsung menarik kedua bahu Luna agar wanita itu berdiri berhadapan dengannya. Lalu, pria tampan itu tersenyum dan berkata, "Aku akan mendaftarkan pernikahan kita di sini. Surya sudah mengurus semuanya dan dia menunggu kita di dalam"
"Hah?! Apa?!" Luna sontak menarik rahang bawahnya lebar-lebar dan menatap Jarvish dengan sorot mata tidak percaya.