
Di jam makan siang, Jarvish pulang dan memutuskan makan siang di rumah. Jarvish langsung berkata ke pak Temon, "Pak, buka gerbang halaman belakang!"
"Untuk apa, Tuan?"
"Aku beli pohon mangga kecil, tapi pohon mangga itu sudah berubah walaupun baru satu aja buahnya. Oleh karena itu pohonnya harus segera ditanam"
"Baik, Tuan"
Luna yang tengah tidur siang langsung bangun mendengar ada keributan di luar Dia dikejutkan dengan senyuman dua laki-laki tercintanya, Dave dan Jarvish.
"Lho, kok bisa pulang bareng?"
Jarvish mencium pipi Luna lalu melangkah lebar menuju ke halaman belakang.
Dan Dave langsung memeluk pinggang mamanya dan berkata, "Bisa dong. Papa yang jemput Dave di sekolah tadi"
"Papa kamu kenapa terburu-buru pergi ke halaman belakang? Dan kenapa ribut sekali di belakang?"
"Tuan membeli pohon mangga yang sudah berubah khusus untuk Anda dan pohon itu harus segera ditanam, Nyonya muda" Sahut Surya.
"Hah?!" Luna langsung menggandeng tangan Dave dan mengajak Dave melangkah lebar ke halaman belakang.
Luna tercengang kaget saat ia melihat suaminya berdiri di depan pohon mangga yang belum begitu tinggi, tapi sudah menghasilkan buah.
"Mas! Mas beneran beli pohon mangga?"
Jarvish berputar badan dan tersenyum sambil berjalan menghampiri Luna, "Iya. Demi Dave dan adik bayi yang ada di perut. Kalau Dave dan dedeknya Dave pengen mangga tinggal metik"
"Dave akan petikan mangga buat dedek nanti, Pa"
"Wah! Kamu calon Kakak yang baik" Jarvish langsung mengusap kepala Dave dan Dave langsung berlari ke pohon mangga itu.
Luna tersenyum dan menitikkan air mata bahagia.
Jarvish mengusap air mata di pipi Luna dan berkata, "Lho, lho, lho, kok, malah nangis? Kamu nggak suka sama pohonnya? Oke! aku akan curiga mereka mencabutnya lagi dan membuangnya"
"Jangan. Aku menyukai pohon itu. Aku akan sirami tiap hari dan kasih pupuk"
"Lalu, kenapa kamu menangis?"
"Aku bahagia, Mas. Ini air mata bahagia"
Jarvish lalu mencium kening Luna dan memeluk bahu Luna sambil melihat keceriaannya Dave bermain bola bersama Surya di sekitar pohon mangga.
Setelah makan siang, Jarvish mandi dan menemani Luna berbaring di kamar sementara Dave mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
Jarvish merebahkan kepalanya di atas pangkuannya Luna dan menghadapkan wajahnya ke perut Luna, lalu mengelus perut itu sambil berkata, "Nak, kamu pasti cewek,kan, kamu pasti sedang main masak-masakan,ya, di dalam perutnya Mama"
Luna menepuk bahu Jarvish dan sambil terkekeh geli Luna berkata, "Mas! Anak kita masih kecil banget, mana ada main masak-masakan. Ya, kalau cewek, kalau cowok gimana?"
"Aku yakin anakku yang ini cewek" Jarvish mengelus perut Luna dan menciuminya. "Aku bahkan bisa melihatnya dari perut kamu"
"Dari perutku? Maksudnya gimana, Mas?"
"Perut kamu tampak lebih cantik, jadi anakku yang ada di dalam perut kamu ini pasti cewek"
Luna kembali menepuk bahu Jarvish dan terkekeh geli.
Jarvish langsung berkata, "Kamu cantik banget kalau tertawa. Sini Aku mau cium kamu" Jarvish mengangkat wajahnya dan mengajak Luna berciuman"
Saat tangan Jarvish mulai berkelana liar menjelajahi tiap lekuk tubuh Luna, lUna menepis tangan Jarvish, plak! Sambil berkata, "Mas! Belum boleh"
Jarvish menarik tangannya dari dalam kaosnya Luna dan menarik bibirnya dari bibir Luna saat ia mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Kemudian wajah mungilnya Dave muncul dari balik tembok dan tersenyum.
"Sini naik ke sini!" Jarvish yang masih tidur di atas pangkuannya Luna, menepuk kasur.
Dave naik ke atas ranjang sambil memeluk buku dongengnya.
Luna dan Jarvish saling menatap lalu mereka berdua menoleh ke Dave untuk bertanya secara bersamaan, "Bukunya untuk apa?"
Dave menggeser kepala papanya dan ikutan tidur di atas paha mamanya sambil berkata, "Dave mau bacakan cerita dongeng kesukaan Dave ke dedek. Dengarkan, ya, Dek!"
Jarvish mengangkat kepalanya dan sambil merengut ia bergumam, "Datang-datang kok main geser aja. Papa terus tidur di mana nih?"
Luna terkejut geli dan langsung berkata, "Pindah ke sini, Mas, rebah di sisi kiriku. Aku akan elus kening kamu"
Jarvish langsung melompat dan pindah ke sisi kirinya Luna, lalu merebahkan kepalanya di atas bantal dan tidur miring ke Luna di saat Dave mulai membacakan cerita dongeng sambil menghadap ke perut mamanya.
Luna mengelus kening Jarvish dan Dave secsra bersamaan dengan menggunakan kedua tangannya sambil tersenyum bahagia saat ia melihat tidak lama kemudian kedua jagoan tampannya tertidur pulas.
Keesokan harinya, Luna bangun dengan menemukan dirinya dipeluk oleh Dave dan Jarvish. Luna membangunkan pelan-pelan kedua jagoan tampannya dengan cara menepuk pipi keduanya.
Dave dan Jarvish kompak bergumam, "Hari ini libur. Jangan ganggu!"
Luna sontak membahanakan tawa merdunya ke udara bebas, namun kedua jagoannya tetap saja tertidur pulas.
Akhirnya dengan pelan, Luna mengangkat tangan Dave dan Jarvish dari atas perutnya, lalu ia melompati Dave dengan pelan untuk turun dari atas ranjang.
Luna memasak sup ayam dan di tengah-tengah ia memotong wortel, Jarvish memeluk Luna dari arah belakang dan langsung merebut pisau yang Luna pegang sambil berkata, "Biar aku yang potong-potong wortelnya"
Luna berputar badan untuk menatap wajahnya dan berkata, "Kok udah bangun, Mas? Katanya jangan ganggu tadi"
"Dave menendang perutku. Wah! Dave ternyata tukang ngigau sama seperti Opanya. Papa kamu ngigaunya para banget"
Luna tertawa lepas dan Jarvish langsung mengecup bibir Luna dan Luna langsung menepuk dada Jarvish berkata, "Mas, ini di dapur. Kalau Bi Nina atau Pak Temon lewat gimana?"
"Aku sudah bilang kalau tawa kamu cantik banget. Aku nggak tahan kalau nggak cium bibir kamu pas kamu tertawa" Jarvish tersenyum lebar dengan wajah polos tanpa dosa dan Luna langsung menepuk dada Jarvish dengan tersipu malu.
"Kalau gitu, aku serahkan wortelnya ke kamu. Aku akan potong bawang dan menumisnya.
"Oke"
"Bisa, kan?"
"Bisa, dong. Wortelnya dipotong kayak punya kamu ini, kan?"
"Hmm. Pinter" Luna mencium pipi Jarvish.
"Eh! Kok nyium pipi, nih. Katanya ini di dapur" Jarvish tersentak kaget.
Luna menghindar saat Jarvish ingin meraih pinggangnya sambil memekik girang "Salah sendiri kenapa kamu menggemaskan banget kalau pinter"
"Emangnya aku nggak pinter?" Jarvish merengut dan Luna langsung tertawa lepas sambil menumis bawang.
Tiba-tiba bau bawang membuat dirinya mual. Dia langsung berlari ke wastafel dan muntah-muntah di sana. Jarvish langsung berlari dan mengelus punggung Luna, "Kenapa tiba-tiba muntah?"
"Mungkin bau bawangnya, Mas. Dulu pas hamil Dave nggak kayak gini. Jadi, aku pikir nggak apa numis bawang. Pas hamil Dave, kan, aku masih jalan nasi uduk"
Jarvish langsung membopong Luna setelah Luna selesai muntah dan membawa Luna ke kamar sambil berkata, "Nggak usah masak lagi mulai sekarang"