
Sementara itu Mamanya Jarvish tengah minum teh di sebuah kafe mahal dengan sahabatnya dan putri tunggal dari sahabatnya itu.
"Putri kamu tumbuh dengan baik, cantik dan pintar. Kamu pandai mendidiknya"
"Iya, dong. Ana baru lulus S2 dari universitas ternama di Korea Selatan. Dia pulang sebentar sebelum tahun depan balik lagi ke Korea Selatan untuk bekerja di salah satu perusahaan besar di sana, hanya untuk menemui pria pujaan hatinya"
Mamanya Jarvish mengulum senyum senang dan pura-pura tidak tahu dengan bertanya, "Oh! Siapakah pria yang beruntung itu, Ana?"
Wanita cantik bergaya elegan yang memiliki nama panggilan Ana itu langsung menyahut dengan malu-malu, "Jarvish Benjamin, Putra Anda, Tante. Saya sudah menyukainya sejak kami sama-sama duduk di bangku kelas satu SMA. Tapi, Jarvish dingin, pendiam dan cuek. Mungkin dia sudah lupa sama saya"
"Tante jamin kalau Jarvish nggak akan lupa sama kamu. Tante jamin itu. Mana ada pria melupakan gadis secantik kamu"
Gadis yang memiliki nama panggilan Ana langsung menundukkan wajah dengan rona malu di wajahnya.
"Wah! Akhirnya impian kita terwujud, Jeng"
"Iya. Kita bisa besanan" Pekik Mamanya Jarvish dengan senyum semringah.
Setelah selesai mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, Dave tidur siang dan Pak Temon langsung bilang ke Bi Nina, "Aku ke kantor Tuan untuk menunggu Nyonya muda pulang"
"Iya, cepatlah ke sana. Entah kenapa, kok, perasaanku nggak enak. Cepat berangkat ke sana!" Sahut Bi Nina
"Iya, iya" Ucap Pak Temon sambil bergegas pergi.
Joshua kemudian menyusupkan wajahnya di leher Luna, menggigitnya dan bergumam di sana, "Berteriak lah yang kencang! Tidak akan ada yang mendengar dan menolongmu. Semua anak buah kamu aku suruh keluar"
Luna langsung menendang perut Joshua dengan lututnya.
Joshua sontak melepaskan ciuman, mengaduh, melepas kungkungannya, dan membungkuk.
Di saat pria tampan berkacamata itu membungkuk kesakitan dan terus melangkah mundur, Luna dengan cepat melangkah lebar ke depan untuk merogoh saku celana Joshua
Joshua menahan tangan Luna dan Luna refleks mendorong tubuh Joshua sampai pria itu terjatuh di atas lantai.
Luna segera berlari ke pintu, membuka kunci, dan membuka pintu kemudian berlari keluar dari dalam ruangannya dengan panik.
Luna terus berlari melintasi beberapa deret meja kerja yang kosong. Dan ia merapikan blusnya sambil memencet tombol lift. Luna langsung masuk ke dalam lift. Saat pintu lift hendak menutup, tangan Joshua terjulur menahan pintu lift dan saat pintu lift kembali terbuka lebar, Luna berteriak dan menendang perut Joshua sampai pria berkacamata itu jatuh terjengkang ke belakang dan Luna langsung menutup pintu lift dengan tangan gemetar.
Luna memencet tombol P lalu, ia berjongkok dan masih dengan tubuh gemetar ia menangis sesenggukkan.
Joshua nekat melakukan semua itu karena ia masih dipengaruhi alkohol. Pikirannya masih belum jernih.
Joshua bahkan melupakan kalau ada CCTV di ruangannya Luna.
Luna bangkit berdiri saat ia mendengar bunyi Ting! Luna melangkah keluar dari dalam lift dengan kaki gemetar. Bayangan kejadian di masa lalu saat Jarvish merenggut paksa kesuciannya kembali terbayang dan membuat Luna tiba-tiba jatuh pingsan di depan lift.
Prang! Tanpa sengaja tangan Jarvish menyenggol gelas dan pecah. Seketika perasaan Jarvish mengkhawatirkan Luna. Pria tampan itu lalu menarik ujung jas Surya.
Surya langsung membungkukkan badan dan Jarvish berbisik, "Telpon Luna sekarang juga! Perasaanku nggak enak dan aku mengkhawatirkan Luna.
Surya langsung berlari keluar dari ruang restoran tempat Jarvish bertemu dengan klien keduanya.
"Ada apa Tuan? Kenapa Anda tampak panik?" Tanya kliennya Jarvish.
"Aku mengkhawatirkan Istriku" Sahut Jarvish sambil terus menatap keluar. Ia menunggu Surya masuk kembali ke dalam dengan resah.
"Istri? Kapan Anda menikah dan ......."
"Jangan banyak tanya!" Jarvish langsung menoleh tajam ke kliennya dan kliennya sontak menutup rapat mulutnya.
Surya berlari masuk ke dalam dan langsung menghampiri Jarvish untuk berkata, "Telepon genggamnya Nyonya tidak aktif, Tuan"
"Sial! Kita pulang sekarang saja"
"Tepi, Tuan Anda belum selesai........"
"Kalau gitu kau tinggal di sini aku pulang. Kalau Luna nggak papa, aku akan balik lagi ke sini sama Luna dan Dave besok" Ucap Jarvish sambil berlari menuju ke lift.
Surya langsung meraup kasar wajah tampannya, lalu menoleh ke klien yang masih duduk dan mengulas senyum padanya.
Jarvish berhasil menghubungi Pak Temon dan langsung bertanya, "Apakah Luna baik-baik saja? Kenapa perasaanku nggak enak dan aku mengkhawatirkan Luna"
"Saya menemukan Nyonya muda menangis saat keluar dari dalam lift dan saat saya melangkah menghampirinya, Nyonya muda pingsan Tuan"
"Apa?!" Jarvish tersentak kaget dan tanpa ia sadari ia menekan lebih dalam pedal gas mobilnya.
"Ini saya dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Tuan"
"Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit milik Bejamin Group" Sahut Pak Temon.
"Oke. Jaga Luna dengan baik dan jangan pergi dari sisi Luna sebelum aku pulang"
"Baik, Tuan"
"Lalu Dave? Di mana Dave?"
"Tuan muda ada di rumah, Tuan. Pas saya tinggal menjemput Nyonya muda, Tuan muda tidur siang"
"Oke" Dan klik! Jarvish memarkan panggilan telepon itu dan melepas headset nirkabelnya lalu melemparkan headset nirkabel itu ke jok samping dengan asal.
"Kenapa Luna menangis dan kenapa bisa sampai pingsan?" Jarvish bergumam dengan wajah penuh geram.
Sementara itu Joshua juga dibawa ke rumah sakit saat pria tampan berkacamata itu ditemukan jatuh pingsan tidak jauh dari ruang kerjanya Luna Aditya.
Jarvish langsung ke bandara dan naik pesawat untuk bisa segera pulang dan melihat kondisinya Luna yang dikatakan pingsan dan dibawa ke rumah sakit oleh Pak Temon.
"Nyonya muda Anda baik-baik saja, Pak. Nyonya muda Anda cuma kelelahan dan butuh istirahat. Sekarang akan saya pindahkan ke kamar VVIP atas permintaan Anda. Mari ikut saya, Pak" Ucap seorang perawat.
"Biaya rawat inap dan semuanya sudah ditransfer sama Tim Jarvish, kan?" Tanya Pak Temon sambil melangkah masuk ke dalam lift.
"Iya. Sudah" Sahut perawat yang mendorong bednya Luna.
"Saya tinggal dulu, Pak. Kalau ada apa-apa Bapak bisa pencet tombol ini" Ucap perawat yang memindahkan Luna dari ruang IGD ke ruang rawat inap VVIP.
"Terima kasih" Sahut Oak Temon sambil membungkukkan badannya.
Pak Temon kemudian duduk di sofa dan menunggu tuannya datang dengan terkantuk-kantuk.
Dua jam terkantuk-kantuk di kamar ber-AC dan wangi, Pak Temon akhirnya bangkit berdiri dari atas sofa yang berada agak jauh dari bed-nya Luna saat pintu terbuka dan Jarvish melangkah masuk sambil bertanya debgan wajah panik, "Gimana Luna?"
"Nyonya muda baik-baik saja, Tuan. Nyonya muda hanya kecapekan kata dokter tadi"
"Baiklah. Terima kasih Pak Temon. Kamu bisa pulang sekarang. Jaga Dave dan rumah dengan baik Katakan ke Dave kalau Papanya menunggu Mamanya di rumah sakit"
"Baik, Tuan"
Sepeninggalnya Pak Temon, Jarvish melangkah mendekati bed. Sambil merapikan rambut yang menutupi wajah Luna lalu mengelus lembut pipinya Luna ia bergumam, "Kenapa kau menangis dan jatuh pingsan, Luna? Apa yang terjadi?"
Jarvish lalu menelepon bagian F and B untuk bertanya, "Siapa orang terakhir yang datang bertamu di ruangannya Luna Aditya?"
Chef Steven yang menjawab telepon itu langsung berkata, "Tuan Joshua Benjamin, Tuan. Emangnya kenapa?"
Klik! Jarvish langsung mematikan teleponnya dengan wajah meradang penuh amarah. Namun, di saat ia hendak melangkah pergi untuk mencari Joshua, Luna membuka mata dan berkata, "Jarvish, temani aku! Aku takut"
Jarvish menoleh kaget ke Luna dan bertanya, "Kau minta aku menemani kamu?"
"Kau suamiku, kan? Apa salah kalau aku minta kamu menemaniku?"
"Tentu saja nggak salah. Aku senang mendengarnya. Aku senang kamu percaya sam aku dan tidak takut lagi sama aku. Emm, apa aku boleh naik ke ranjang?"
Luna mengangguk pelan
Jarvish lalu naik ke bed dan memeluk Luna dan dengan wajah semringah ia mencium kening Luna sambil berkata, "Jangan takut. Aku ada di sini bersamamu"