
Setelah menerima telepon dari Luna untuk membawa Dave kembali ke apartemen, Lastri langsung berlari kembali ke apartemen sambil menggendong Dave.
Lastri langsung masuk dan mengunci pintu apartemen. Dave langsung merosot turun dari gendongannya Lastri untuk berlari memeluk mamanya yang tengah duduk termenung di sofa.
Dave mengelus wajah mamanya, "Ma, Mama kenapa? Mama sakit? Apa Papa jahatin Mama?"
"Dave, lain kali kalau bukan Mama jangan mau diajak siapa pun, ya?" Luna berucap sembari menangkup wajah tampan putranya.
Dave mengelus pipi mamanya, "Maafkan Dave kalau Dave sudah bikin Mama khawatir dan sedih seperti ini. Tadi, Dave mau diajak pergi karena orang tersebut bilang kalau Dave akan dipertemukan dengan Papa. Dave penasaran, apa benar Papa Dave telah turun dari Bulan dengan baik bintang kemarin malam"
Luna langsung menarik tubuh Dave untuk dia peluk dengan erat dan dengan suara parau karena ia tengah menahan air matanya agar tidak turun membasahi pipinya, Luna berkata, "Maafkan Mama. Maafkan Mama. Mama yang salah, Dave"
"Mama salah apa? Yang Mama katakan semalam, kan, benar. Papa beneran turun dari bulan naik bintang dan menemui Dave" Ucap Dave di dalam pelukan hangat mamanya.
Luna sontak menengadahkan wajahnya ke atas saat hatinya terasa pedih dan matanya mulai terasa panas ingin menangis. Lalu wanita itu mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya Dave dan berkata, "Dave masuk ke kamar dulu, ya?! Cuci tangan dan bobok. Mama akan siapkan camilan dan makanan kesukaan Dave"
Dave mencium pipi mamanya lalu berlari kecil masuk ke kamarnya.
Lastri berucap, "Nyonya, apakah......."
"Jangan panggil Nyonya, Mbak. Saya sudah sering bilang ke Mbak Lastri kalau jangan panggil saya dengan sebutan Nyonya" Sahut Luna sembari mengusap titik air mata yang nekat menetes di pipinya saat ini.
"Tapi, Tuan Joshua.........."
"Panggil saja saya Luna"
"Tapi, mana berani saya panggil Anda begitu saja" Sahut Lastri sembari melambaikan tangannya.
"Kalau gitu, panggil Dek Luna saja. Mbak, kan, lebih tua dari saya"
"Baiklah. Dek Luna"
Luna tersenyum senang dan bertanya, "Ada apa? Apa yang ingin Mbak Lastri bilang tadi?"
"Apakah Dek Luna terluka? Apakah pria tadi bersikap kasar lagi sama Dek Luna?"
"Nggak, Mbak. Dia hanya ........."
Ceklek! Pintu terbuka dan Joshua langsung berlari mendekati Luna. Lastri langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan. ruang tamu.
Joshua langsung duduk di sebelah Luna, dan memegang kedua bahu Luna sambil melihat apakah ada luka di tubuh Luna, pria tampan itu bertanya, "Apakah kamu terluka?"
Luna menggelengkan kepala dalam diam.
"Lalu, Dave? di mana Dave?" Joshua bertanya sembari mengedarkan pandangannya.
"Dave ada di kamarnya"
Joshua langsung mengusap pelan leher Luna saat ia melihat lehernya Luna tampak merah dan ada sedikit luka gores di sana. "Kenapa ini? Kamu habis dicekik sama siapa? Ini belas cekikan, Luna. Katakan siapa yang sudah berani mencekik kamu?!"
Luna menepis pelan tangan Joshua yang tengah mengelus lembut kulit lehernya, lalu ia genggam tangan itu dan berkata, "Maaf, aku tidak mau katakan siapa orangnya. Aku tidak mau kamu terlibat pertikaian yang tidak ada hubungannya dengan kamu, Mas"
Joshua memeluk Luna dan sambil mengelus mesra punggung Luna, pria tampan itu berkata, "Kita memang baru jadian beberapa hari ini. Aku paham kalau kamu masih belum leluasa menceritakan apa pun ke aku. Tapi, aku mohon Luna, belajarlah untuk berbagi semua duka dan ceria kamu ke aku mulai sekarang. Aku ini pacar kamu"
"Janji?"
"Janji, Mas" Sahut Luna.
"Janji harus ditepati"
"Aku selalu menepati janji, Mas"
Joshua tersenyum lebar. Lalu, pria tampan berkacamata itu memegang kedua bahu Luna kembali dan mendorong pelan tubuh Luna agar dia bisa menatap kedua bola mata wanita yang sangat ia cintai itu. Kemudian, Joshua berkata, "Sekarang ceritakan semuanya!"
"Tapi, Mas"
"Kamu sudah janji barusan dan kamu bilang kalau kamu selalu menepati janji kamu"
Luna langsung menepuk pelan bahu Joshua sambil berkata, "Mas, menjebak aku"
Joshua tersenyum dan berkata, "Mana ada menjebak. Aku hanya mengkhawatirkan kamu dan kamu tidak pernah mau berbagi cerita sama aku selama ini. Sekarang ceritakan semuanya"
Luna menghela napas panjang dan saat wanita itu sudah siap untuk bercerita, Joshua mendaratkan ciuman di kening Luna lalu ia melepaskan kedua bahu Luna.
Setengah jam kemudian, Joshua langsung mendelik dan dengan mengepalkan kedua tangannya dia menggeram lirih karena ia tidak ingin Dave yang sedang tidur di kama menjadi terbangun, "Katakan siapa pria itu! Katakan Luna!"
"Maafkan saya. Saya masih belum bisa mengatakan siapa pria itu, Mas" Luna masih ingin menjaga hubungan antara Jarvish dan Joshua karena ia tahu kalau Jarvish dan Joshua adalah kakak beradik. Namun, Luna belum mengetahui bahwa sejatinya, Jarvish dan Joshua bukan saudara kandung.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksa kamu untuk mengatakan siapa pria itu. Secepatnya aku juga akan segera tahu siapa cowok brengsek dan kejam itu karena cowok itu akan bertemu denganmu di meja hijau. Sekarang yang terpenting adalah, kita siapkan diri untuk melawan tuntutan cowok brengsek itu"
Luna seketika mematung mendengar semua ucapannya Joshua. Otaknya menjadi beku saat angannya ketakutan membayangkan masalah besar yang akan terjadi di depan matanya. Bukan saja masalah perebutan hak asuh atas Dave. Namun, juga pertikaian hebat antara dua bersaudara.
"Kita butuh pengacara hebat. Namun, sayangnya pengacara hebat yang aku kenal tengah sibuk dan jarang sekali berada di kantornya" Joshua masih sibuk berbicara sendiri karena Luna, masih memilih untuk membisu dan mematung.
Jarvish dikejutkan dengan pelukan hangatnya Laura saat ia masuk ke dalam ruang kerjanya. Wanita itu langsung mengajak Jarvish berciuman dengan sangat panas. Pria tampan itu meladeni ciumannya Laura hanya dengan gairah tanpa adanya rasa cinta.
Setelah puas berciuman dengan pria pujaan hatinya, Laura menarik Jarvish untuk duduk di sofa, lalu berkata, "Sayang, kita diundang ke acara pertemuan tahunan para eksekutif muda, kan? Kita datang, yuk!"
"Aku malas datang. Aku capek"
Laura berucap sembari mengelus pipi Jarvish, "Ayolah, Sayang. hitung-hitung sebagai permintaan maaf kamu karena kamu terus menolak untuk bercinta denganku"
"Baiklah" Sahut Jarvish dengan wajah datar.
Laura langsung mencium pipi Jarvish, lalu bangkit berdiri dan berlalu pergi sambil berkata, "Aku akan belanja baju dan pergi ke salon. Jemput aku di rumah jam enam, ya, Sayang?!"
"Hmm" Sahut Jarvish dengan ekspresi datar.
"Tapi, sebentar! Ada pertemuan para eksekutif muda malam ini jam tujuh. Kebetulan aku dapat undangan. Kita pergi ke pertemuan itu untuk menemui pengacara Felix Setiawan. Kita pasti menang melawan papanya Dave di meja hijau kalau kita didampingi pengacara sehebat dan setenar Felix Setiawan"
"Aku malas pergi ke acara begituan, Mas. Aku nggak pede. Lagian aku nggak punya baju untuk pergi ke acara begituan.Terus Dave siapa yang jaga?"
"Kamu harus pergi kalau kamu ingin menang di pengadilan nanti. Lalu, soal Dave, Bram dan anak buahku akan menjaga Dave. Pengasuhnya Dave juga akan datang sore ini, kan? Dan soal baju, aku akan panggilkan temanku yang punya butik dan salon. Biar ia datang ke sini bawakan baju untuk kamu sekalian mendandani kamu"
Luna akhirnya menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah, Mas"