
"Saya punya hadiah besar untuk Anda karena Anda sudah bersedia bekerja sama dengan saya menggarap proyek resort Anda yang baru di Vietnam"Ucap Pak Hartawan dengan memegang erat tangan Jarvish dan tersenyum lebar penuh arti.
"Hadiah?"
"Iya. Saya berikan hadiah kesukaan Anda di garasi basement hotel ini dan di kamar Anda. Dua hadiah sekaligus untuk proyek besar yang sudah Anda percayakan kepada saya"
"Oh! Nggak perlu hadiah. Proyek ini juga penting buatku. Kalau aku nggak ambil proyek ini maka aku akan mengalami kerugian yang cukup besar. Jadi, nggak perlu hadiah" Jarvish berucap sambil mengayunkan tangannya.
"Tapi, saya memaksa Anda untuk menerimanya. Saya sudah memilihnya dengan susah payah dan dengan segenap hati. Saya harap Anda mau menerima niat baik saya, Tuan Jarvish Benjamin"
Jarvish melirik Surya dan Surya langsung menganggukkan kepalanya.
"Oke. Terima kasih. Saya akan menerimanya. Tapi, lain kali tidak usah seperti ini" Sahut Jarvish.
"Terima kasih banyak, Tuan Jarvish Benjamin" Pria yang bernama Hartawan itu kemudian pergi meninggalkan Jarvish dengan senyum lebar karena desainnya yang dipilih oleh Jarvish untuk dieksekusi di pembangunan resort terbarunya Jarvish yang rencananya akan dibangun di Vietnam bulan depan.
"Kita lihat hadiah dari Hartawan yang di basement dulu" Ucap Jarvish sambil melangkah mendahului Surya.
"Baik, Tuan" Surya bergegas menutup tas kerjanya dan berlari kecil menyusul Jarvish Benjamin.
Jarvish dan Surya langsung dihadang seorang pria berseragam Hartawan Group saat lift terbuka di basement hotel tersebut yang diperuntukkan untuk parkiran mobil para tamu eksekutif.
"Mari saya antarkan Anda ke mobil yang diberikan Bos saya untuk Anda, Tuan Jarvish Benjamin"
Jarvish menoleh ke Surya dan Surya langsung tersenyum lebar, "Anda sudah punya banyak mobil, Tuan. Lalu, untuk apa mobil yang ini?"
Surya berharap jawabannya Jarvish adalah, untukmu, Sur. Mobil dari Hartawan untukmu.
Namun, Jarvish justru bertanya, "Apa Luna bisa menyetir mobil?"
"Bisa. Menurut penyelidikan saya, Nyonya muda bisa menyetir mobil saat dia masih SMA" Sahut Surya.
"Tapi, kenapa dia nggak pernah menyetir mobil sendiri?"
"Kalau itu saya tidak tahu, Tuan"
"Oke. Mobil sedan Mini Cooper ini aku kasihkan ke Luna saja lalu buat jadwal untuk Luna les menyetir mobil"
Glek! Surya menelan kekecewaan karena mobil itu tidak Jarvish berikan padanya. Lalu, asisten yang sangat cerdas dan setia walaupun sangat ceriwis itu berkata, "Baik, Tuan" Dengan nada suara agak lemas.
Seolah tahu apa yang ada di pikirannya Surya, Jarvish langsung berkata, "Kalau Luna bisa menyetir mobil, aku akan kasih hadiah mobil ke kamu"
"Ah! Siap delapan enam, Bos" Sahut Surya dengan suara penuh semangat dan wajah semringah.
"Oke. Sampaikan ke Bos kamu, aku sudah terima hadiahnya" Jarvish berucap sembari memberikan kunci berikut sebuah dompet yang berisi surat-surat penting mobil Mini Cooper tersebut ke Surya.
"Siap, Tuan. Saya permisi kalau begitu" Sahut pria yang berseragam Hartawan Group itu.
"Eits! Tunggu dulu! Lalu, hadiah keduanya ada di mana? Perasaan Bos kamu tidak sebutkan keberadaan hadiah kedua yang beliau siapkan untuk Tuan Jarvish" Tanya Surya.
Pria berseragam Hartawan group itu tidak jadi berbalik badan dan berkata ke Surya, "Hadiah keduanya ada di kamar VVIP nomer 807 di sebelah kamarnya Tuan Jarvish Benjamin. Saya permisi" Kemudian pria itu pergi meninggalkan Jarvish dan Surya yang tengah saling menatap dengan penuh tanda tanya di wajah mereka.
"Tuan, jangan-jangan hadiahnya seperti yang sebelum-sebelumnya pernah Tuan dapatkan"
"Sial! Iya benar kata kamu. Aku juga berpikiran begitu"
"Seorang wanita muda nan seksi dengan balutan lingerie bermerk dari bahan sutra. Hadiah yang sangat menggiurkan, kan, Tuan?"
Pletak! Jarvish langsung memukul kepala Surya sambil berucap kesal, "Menggiurkan gundulmu! Dulu, sih, aku akan dengan santainya menikmati hadiah semacam ini. Tapi, sekarang udah beda. Aku sudah punya Luna dan Dave. Aku nggak akan menyentuh wanita lain selain Luna Aditya Istriku yang sangat manis dan menggemaskan itu"
"Lalu, hadiahnya gimana? Mubazir kalau tidak dinikmati" Sahut Surya.
"Kau saja yang masuk ke kamar itu"
"What?! Tidak Tuan! Saya hanya akan menyerahkan segel kesucian saya ke pacar saya, calon Istri saya tercinta. Saya nggak akan pernah menyentuh wanita lain"
"Hei! Kau gila, ya?! Yang punya segel kesucian itu wanita. Emangnya kau wanita?!" Jarvish mendelik kesal.
"Hehehehe. Saya juga masih suci Tuan. Itu maksud saya" Surya menyahut sambil meringis ke Jarvish.
"Tapi, kalau hadiahnya bukan seperti yang kita bayangan gimana? Apa kita tengok dulu ke kamar 807?"
"Kamu yang nengok. Aku udah nggak peduli apa pun isi kamar 807" Sahut Jarvish sambil melangkah pergi meninggalkan Surya.
Surya bergegas mengekor tuannya dan berkata saat ia berhasil mensejajari langkah tuannya, "Kalau bukan wanita, apa saya boleh ambil hadiahnya?"
"Hmm" Sahut Jarvish.
"Apa pun itu, Tuan?"
"Iya. Ambil saja apa pun itu" Sahut Jarvish.
"Wah! Terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya ke kamar 807 dulu"
"Hmm" Sahut Jarvish.
Surya langsung memencet tombol nomer delapan saat pintu lift menutup sempurna.
Ting! Pintu lift terbuka dan kedua pria tampan itu melangkah keluar dari lift dan langsung belok ke kanan. Jarvish langsung masuk ke kamarnya dan Surya langsung membuka pintu kamar 807 yang tidak dikunci.
Surya tersentak kaget saat ia disambut penampakan seorang wanita yang sangat cantik dan molek dengan balutan lingerie seksi. Wanita itu melangkah pelan menghampiri Surya sambil berkata, "Selamat datang Tuan Jarvish Benjamin. Saya sudah lama menunggu Anda. Anda suka bermain lembur atau kasar?"
"Aaaaaaa!!!!!!" Surya langsung berbalik badan dan keluar dari dalam kamar itu dengan berlari kencang. Surya langsung masuk ke kamarnya yang berada di depan kamar Tuannya dan mengunci pintu kamarnya dengan tangan gemetar. "Sial! Kenapa wanita tadi sangat cantik dan sesuai banget dengan kriteriaku? Sial! Kenapa otak kamu malah mikir nggak jelas kayak gini, Sur" Surya Kemudian menelepon Pak Hartawan dan berkata, "Hadiah yang ada di kamar 807 kami kembalikan ke Anda dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, Pak Hartawan"
"Lho, kenapa dikembalikan? Bukankah itu kesukaannya Tuan Jarvish Benjamin?"
"Tuan Jarvish Benjamin sudah bertobat dan lain kali jangan kasih hadiah seperti yang ada di kamar 807 lagi"
"Baiklah. Sampaikan permintaan maaf saya ke Tuan Jarvish kalau beliau kurang berkenan dengan hadiah yang ada di kamar 807"
"Baik akan saya sampaikan" Sahut Surya.
Setelah menutup ponselnya, Surya langsung bersandar ke pintu dan mengelus dadanya sambil berkata, "Astaga! Hampir saja aku kesucianku terenggut"
"Mama, kembali ke kantor dulu, ya?"
"Hmm"
"Kamu baik-baik di rumah. Nurut sama Bu Nina. Jangan merajuk, ngambek, atau marah-marah kalau ada yang tidak sesuai dengan harapan kamu. Kalau ada tugas sekolah yang sulit, nunggu Mama pulang. Nanti kita kerjakan bareng, oke?" Luna berusaha sembari mengusap-usap pucuk kepalanya Dave.
"Iya, Ma" Dave kemudian mencium punggung tangan mamanya sambil berucap, "Ati-ati, Ma"
Saat Luna membuka pintu rumah, ia dikejutkan dengan kehadirannya Laura.
Kenapa wanita ini bisa ke sini? Kata Jarvish, dia sudah putus dengan Jarvish. Luna sontak mengerutkan keningnya.
"Aku sudah putus dengan Jarvish kalau itu yang ingin kau tanyakan" Ucap Laura seolah dia bisa membaca apa yang ada di dalam pikirannya Luna saat ia melihat Luna mengerutkan keningnya. "Dan aku ke sini karena aku masih ingat Dave pernah berkata sama aku kalau dia ulang tahun hari ini. Ulang tahunnya berdekatan dengan hari ulang tahun Papanya. Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun dan aku bawa hadiah yang pasti akan sangat Dave sukai"
"Ah! Tidak usah repot-repot"
"Tidak repot, kok. Aku terlanjur menyayangi Dave. Jadi, aku bawakan kado anak anjing ini untuk Dave. Dave pernah bilang kalau sejak lama dia ingin punya anak anjing"
"Benar sekali. Berarti Dave dan kamu sangat dekat, ya"
"Iya aku dan Dave sangat dekat"
"Baiklah. Silakan masuk. Dave ada di dalam dan kebetulan masih ada kue dan beberapa makanan. Silakan kamu nikmati bersama dengan Dave. Dave pasti suka"
"Kamu mau ke mana?"
"Aku harus balik ke kantor. Sebentar lagi jam istrirahat selesai" Sahut Luna.
"Oh! Baiklah Ati-ati" Sahut Laura.
"Terima kasih" Sahut Luna.
"Aku akan nelpon Jarvish nanti malam Selain untuk menyelamatkan nyawa Pak Surya, kebetulan aku juga mau bicara sama Jarvish soal peraturan baru yang dia buat. Dia seenaknya bikin peraturan kalau karyawan pria nggak boleh menyambut uluran tanganku. Orang, kan, bisa jadi berpikir aneh ke aku. Mereka bisa memiliki beragam asumsi yang menurut mereka benar seperti, aku ini punya penyakit menular semacam panu dan teman-temannya. Atau mereka bisa saja memiiki pemikiran kalau aku ini wanita penggoda yang berbahaya. Dasar Jarvish gila!" Luna gumam-gumam di meja kerjanya sambil sesekali menggelengkan kepalanya dengan cepat.