
"kamu bisa tidur nyenyak, kan?" Tanya Papanya Luna saat Jarvish melangkah keluar dari kamar mandi dengan memakai baju yang sama dengan yang dia pakai kemarin malam.
Jarvish hanya tersenyum kaku dan garuk-garuk kepala.
"Papanya Luna memberikan kaos dan celana bersih ke Jarvish, "Aku lihat kamu dan aku satu ukuran. Cuma kamu jauh lebih tinggi dari aku. Tapi, soal ukuran sama. Jadi, sana masuk ke kamar mandi lagi dan ganti pakai baju ini. Masak pakai baju yang sama kayak kemarin. Bau asem, kan?"
"Saya tidak terbiasa memakai baju orang lain dan........"
"Baju dan celana ini masih ada di dalam plastik. Memangnya kamu nggak bisa lihat? Ini masih baru. Walaupun nggak bermerk seperti baju yang kamu pakai itu, tapi aku rasa baju dan celana ini nyaman dipakai. Sana ganti baju lagi pakai ini!"
Jarvish dengan terpaksa menerima baju dan celana baru itu lalu melangkah kembali ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.
Saat Jarvish keluar dari dalam kamar mandi, menemukan kamar telah kosong. Pria itu langsung melangkah lebar keluar dari dalam kamar agar bisa segera bertemu dengan Dave dan Luna.
Namun, saat ia hendak melangkah ke kamar yang ditempati Dave dan Luna semalam, Jarvish mendengar suaranya papanya Luna yang mengatakan, "Luna pergi mengantarkan Dave ke sekolah pagi-pagi. Ada senam pagi di sekolahan Dave, tapi Luna akan balik ke sini dulu setelah mengantarkan Dave sekolah"
Jarvish melengkungkan badannya dan menghela napas panjang.
"Luna menyiapkan bahan masakan, tapi belum sempat ia masak. Kamu masak gih! Aku udah lapar, nih dan aku butuh minum obat dengan segera lalu pergi ke kantor"
"Tapi, saya tidak bisa memasak, Pa"
"Masak yang simple aja kayak telur dadar atau telur mata sapi. Aku akan bersiap dulu di kamar" Papanya Luna masuk ke dalam kamarnya sendiri yang kemarin malam ditempati oleh Luna.
Jarvish melangkah ke dapur dengan wajah dan langkah kesal. Dia kemudian membuka lemari es dan mengambil dua butir telur sambil bergumam, "Gimana cara bikin telur mata sapi dan telur dadar, ya? Dari kecil Papa dan Mama tidak pernah mengajariku cara menggoreng telur. Sial! Emangnya aku ini, dulu, hidup miskin banget, ya? Sampai menggoreng telur aja nggak pernah Seingatku dulu minyak goreng tidak pernah ada di rumah. Mama juga sih kenapa dulu selalu membawa makanan dari luar pas Mama belum meninggalkan aku dan Papa. Mama nggak pernah masak kayak Luna. Aduh! Gimana cara menggoreng telur, nih?"
Jarvish akhirnya membuka ponsel untuk mencari tahu cara menggoreng telur dadar dan telur mata sapi, dan telur orak-arik sekalian karena yang ada di lemari es papanya Luna hanya ada telur.
"Di lemari es hanya ada telur. Papa mertuaku apa tiap hari makan telur? Kenapa nggak bisulan, ya?" Jarvish mengulum bibir menahan geli saat ia membayangkan papanya Luna bisikan dan nggak bisa duduk.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Tanya papanya Luna sembari duduk di meja makan.
"Ah! Nggak, kok, Pa. Hanya ingat hal lucu saja" Sahut Jarvish sembari melepas celemek lalu pria super tampan itu menyajikan olahan telur terakhir hasil karyanya yaitu telur orak-arik dengan senyum bangga.
"Nah! Ini baru Suami ideal. Aku juga bisa masak. Makanya Istriku, almarhum Mamanya Luna, sangat mencintaiku. Laki, tuh, juga harus bisa masak kayak gini"
Jarvish merona malu dan berkata, "Saya cuma bisa bikin masakan ini, Pa, hehehehehe"
"Nggak papa. Sering-seringlah main ke sini. Nanti aku ajari cara memasak nasi goreng. Nasi goreng bikinanku, tuh, numero uno. Luna sangat menyukainya"
"Benarkah Luna sangat menyukai nasi goreng bikinannya Papa?" Jarvish bertanya dengan wajah penuh antusias
"Hmm" Sahut papanya Luna sembari mengambil telur orak-arik dan dia tempatkan di atas nasi panas yang sudah ia campur dengan mentega.
"Kalau gitu, saya akan sering-sering main ke sini. Saya akan belajar memasak sama Papa agar Luna semakin mencintai saya" Jarvish tersenyum dengan semringah.
"Hmm. Kamu udah ada bakar dasar, nih. Telur orak-arik kamu enak banget"
"Makanya itu Papa bilang kalau kamu ada bakat dasar memasak"
"Dan Luna akan semakin mencintai saya"
"Hmm! Bener itu. Laki juga harus pandai di dapur nggak hanya pandai cari uang dan pandai di ranjang" Papanya Luna yang orangnya suka ceplas ceplos itu langsung membuat Jarvish Benjamin kembali tersipu malu saat Jarvish mendengar kata pandai di ranjang.
Papanya Luna makan dengan lahap dan setelah menenggak habis air putih mineral bersama obat dari dokter yang harus dia minum setiap hari, papanya Luna pamit pergi ke kantor.
Jarvish mengantarkan papanya Luna sampai di depan.
Saat Jarvish duduk kembali di dapur untuk menghabiskan makanan di atas piringnya yang masih tersisa sedikit, Luna muncul dan langsung terkejut, "Mas! Mas sudah sarapan?"
"Iya! Duduklah dan cicipi masakanku"
Luna duduk dengan menautkan alisnya dan bertanya sambil mengambil nasi dan telur orak-arik, "Bukan Papa yang masak semua olahan telur ini?"
"Bukan. Aku yang masak. Karena kata Papa kamu, laki harus bisa masak agar lebih dicintai sama Istrinya dan kata Papa kamu masakanku enak. Lalu, kata Papa kamu, aku ada bakar dasar memasak"
Luna tersenyum penuh cinta ke Jarvish dan sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya, wanita berwajah mungil dan manis itu berkata, "Ini enak, Mas. Aku rasa Papaku benar"
"Benar di bagian yang mana?" Tanya Jarvish.
"Aku suka pria yang pandai memasak. Dan sepertinya saat ini aku semakin mencintai Mas karena telur orak-arik yang Mas bikin rasanya enak banget"
Jarvish langsung meraih tangan Luna dan mencium tangan itu sambil berkata, "Kita selesaikan sarapannya dengan cepat, yuk! Terus kita ke kamar karena kata Papa kamu pria juga harus pandai di ranjang agar Istrinya makin........"
Luna langsung menutup mulut Jarvish dengan telapak tangan kanan dengan tersipu malu.
Jarvish langsung bangkit berdiri, memundurkan kursinya dan membopong Luna, "Kita Lanjutkan sarapan kita nanti saja"
"Kyyaaaaa!" Luna menjerit kaget dan Jarvish langsung membungkam bibir Luna dengan bibirnya sambil berlari kecil menuju ke kamarnya Luna.
Setelah melakukan penyatuan raga sebanyak dua kali dengan istrinya, Jarvish memeluk erat tubuh polosnya Luna di bawah selimut dan sambil mengelus bahu Luna ia berkata, "Kamu pinter juga, ya, ternyata. Sejak TK sampai kuliah kamu banyak mendapatkan piagam penghargaan dan piala dari berbagai kategori"
"TK itu cuma piala lomba Kartinian biasa, Mas. SD itu piala rangking kelas dan aku selalu menduduki rangking tiga mulai dari kelas satu sampai kelas enam, tapi aku nggak pernah menduduki rangking satu ataupun rangking dua. Lalu, SMP dan SMA itu piala menyanyi. Aku iseng bergabung di ekstrakurikuler paduan suara dan ikut kumba solo vokal. Nggak nyangka selalu dapat juara dua. Lalu, kuliah aku dapat gelar mahasiswa lulusan terbaik. Untuk itulah aku bisa masuk di Benjamin Grup"
"Kamu bisa nyanyi juga ternyata. Pantesan kalau kamu membaca dongeng anak ke Dave, terdengar sangat merdu dan penghayatannya dapat banget. Pas memekik puas, juga terdengar sangat merdu" Jarvish mengulum bibir mengajak senyum sambil mempererat pelukannya dan Luna langsung menepuk dada Jarvish dengan tersipu malu"
"Karena kita masih cuti kerja hari ini, aku akan ajak kamu ke butik dan ke salon"
"Untuk apa, Mas? Bajuku masih banyak dan aku nggak pernah pergi ke salon"
"Aku akan ajak kamu menemui Mamaku. Aku sudah berhasil menaklukkan Papa kamu berkat dirimu dan sekarang aku akan bantu kamu menaklukkan Mamaku. Untuk itulah aku ingin membuatmu tampak cantik luar biasa di depan Mamaku kerena Mamaku sangat mementingkan penampilan"
"Baiklah. Terserah Mas saja" Sahut Luna.