Memories Of Love

Memories Of Love
Menyukaimu



Sial! Bram sedang tugas di luar kota. Aku tidak ada asisten dan pelindung saat ini dan aku hanya bisa membiarkan asisten pribadinya Jarvish si Surya yang terkenal lebih gila dan brutal dari Jarvish Benjamin itu duduk di sofa dan mengawasi aku terus. Batin Joshua dengan wajah kesal. Sangat kesal.


Ana kembali ke rumahnya dengan wajah kesal. Sangat kesal. Dia kembali gagal berbincang empat mata dengan Jarvish Benjamin. "Sial! Jarvish cukup sulit juga untuk aku taklukkan. Padahal selama aku kuliah di luar negeri aku sudah berhasil menaklukkan banyak pria. Sial! Kau membuatku semakin menginginkanmu, Jarvish Benjamin. Tunggu jurusku selanjutnya. Aku jamin kau tidak akan bisa lari lagi dariku"


Mamanya Jarvish tersenyum senang di kamarnya saat ia membayangkan Ana dan Jarvish bertemu di ruang kerjanya Jarvish. Padahal kenyataan yang ada berkata lain.


Jarvish membuka pintu mobil dan menurunkan Luna di dalam mobil dan langsung masuk, menahan tangan Luna yang memegang handle pintu yang satunya, pria itu lalu menggenggam tangan Luna untuk mencegah Luna keluar dari dalam mobil.


Pria tampan itu kemudian memencet remote dan seketika semua pintu mobil terkunci rapat. Lalu, CEO arogan itu melempar remote ke arah depan dengan asal dengan tangan kanan karena tangan kirinya masih ia pakai untuk menggenggam tangan Luna


"Kau mau apa?" Luna bertanya dengan suara gemetar.


"Mau berbicara empat mata denganmu"


"Di sini?" Tanya Luna masih dengan wajah was-was.


"Iya dan saat ini juga"


"Ka.....Kata kamu tadi, kamu akan memberikan hukuman. A....apakah tidak jadi?" Luna masih menatap wajah tampan suaminya dengan perasaan was-was.


Jarvish mencubit dagu Luna dan berucap dengan wajah datar, "Itu tergantung dari semua jawaban kamu atas pertanyaanku. Aku bisa merasakan kebohongan. Jadi, jangan coba-coba membohongiku" Jarvish menatap lekat kedua bola mata indahnya Luna.


Luna langsung mematung dan membisu. Ida bergidik ngeri dan seketika takut kalau-kalau!nanti dia memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya Jarvish Benjamin.


"Kenapa kau muncul di kantornya Joshua?"


"Itu karena aku ingin menyelamatkan kamu"


Jarvish tersenyum senang di dalam hatinya saat ia melihat tidak ada kebohongan di kedua mata Luna.


Kemudian pria tampan itu kembali mengajukan pertanyaan, "Kenapa kau ingin menyelamatkan aku?"


"Karena kamu penting bagi Dave. Aku tidak ingin Papanya Dave celaka dan membuat Dave sedih"


"Apa aku penting bagimu?" Jarvish mengusap dagu Luna tanpa.melepaskan pandangannya dari kedua bola mata indah milik istri manisnya itu.


"Iya"


Jarvish seolah ingin berteriak kencang saking girangnya mendengar jawabannya Luna. Namun, seperti biasanya dia masih memasang wajah dingin dan datar.


Jarvish kembali mengajukan pertanyaan, "Sebenarnya apa arti aku bagimu? Lebih penting dari Dave?"


"Dave masih segalanya bagiku"


Sial! Jarvish seketika mengumpat kesal di dalam hati saat ia merasakan cemburu pada Dave, anaknya sendiri.


"Lalu, apakah aku lebih penting dari Joshua?"


Jarvish lalu mengusap pipi Luna dengan telapak tangan dan kembali bertanya, "Kenapa aku lebih penting dari Joshua?"


"Karena kamu adalah Papanya Dave dan kamu adalah suamiku"


Aaaaaa! kenapa ini seperti ketegangan waktu aku menjalani wawancara kerja? Bahkan ini lebih menegangkan. Kenapa dia terus mengajukan pertanyaan aneh. Batin Luna.


Jarvish hampir saja melesat keluar dari dalam mobil dan melompat setinggi-tingginya saat ia mendengar Luna mengakui dirinya sebagai seorang suami.


Masih mengusap lembut pipi Luna, Jarvish kembali bertanya, "Apa hanya itu alasan kamu? Aku mencintaimu Luna. Sangat mencintaimu. Apa saat ini kamu belum merasakan cinta yang sama seperti yang aku rasakan?"


Luna langsung memalingkan wajahnya yang terasa panas sambil berkata lirih, "Aku rasa aku sudah mulai menyukaimu"


Jarvish tersentak kaget mendengar Luna mulai menyukainya. Walaupun masih di level suka belum di level cinta, tetapi itu sebuah permulaan yang sangat bagus bagi Jarvish Benjamin. Itu adalah pernyataan terindah dari seorang Luna Aditya yang ingin dia dengar selama ini.


Jarvish kemudian merangkul bahu Luna. Pria tampan itu mengelus elus rambut wanita pujaan hatinya dengan penuh rasa syukur dan cinta. Jarvish kemudian menunduk pelan dan mendaratkan ciuman di pucuk kepala Luna untuk menghirup dalam-dalam wangi rambut wanita berwajah manis itu. Wangi rambut yang sudah membuat dirinya kecanduan. Lalu, pria tampan itu mencium lembut pundak Luna.


Saat Luna menoleh perlahan dan mendongak ke arah Jarvish dengan pelan, pria tampan itu pun mencium kedua mata Luna, hidung Luna, kedua pipi Luna, lalu saat bibirnya mendarat di bibir Luna, Jarvish langsung memagut bibir wanita.berwajah lembur itu dengan penuh gairah, tidak selembut sebelumnya. Alih-alih menarik diri untuk bernapas dan mencoba keluar dari dalam mobil, Luna justru merangkul leher Jarvish dengan kedua lengannya dan memejamkan matanya.


Jarvish menatap Luna sejenak kemudian pria itu menarik tengkuk Luna untuk kembali memagut bibir Luna dan memperdalam ciumannya. Luna tanpa sadar mempererat rangkulan kedua tangannya di leher Jarvish dan mengeluarkan suara rintihan. Luna sendiri bahkan tidak menyadari kalau suara rintihannya membuat Jarvish semakin bergairah.


Pria tampan itu kemudian menggigit pelan bibir istri imutnya itu supaya istrinya itu merekahkan bibir sehingga ia bisa mengajak lidah Luna berdansa manis dengan lidahnya. Jarvish mengeluarkan erangan frustasi saat lidah dia menjelajahi mulut Luna yang terasa sangat manis. Suami istri yang baru saja menikah itu Kemudian saling memagut dan mempererat pelukan dengan penuh gairah.


Pelan-pelan, namun pasti Jarvish meletakkan tubuh ramping Luna di atas jok mobil sportnya. Jarvish melepas ciumannya untuk menatap wajah Luna. Kedua tangan Luna masih merangkul leher pria tampan itu dan masih memejamkan matanya. Jarvish tersenyum senang melihat reaksi yang Luna tunjukkan, lalu ia mencium kedua mata Luna dengan penuh cinta, kemudian beralih ke telinga Luna, Tubuh Jarvish kini tengkurap di atas tubuh Luna. Jarvish membisikkan kata, "Apakah aku boleh melakukannya sekarang?" Aku sudah menunggu saat ini begitu lama" Jarvish kemudian mengulum dan menciumi telinga Luna membuat wanita itu berkata, "Iya" Tanpa ia.sadari. Jarvish tersenyum di atas telinga Luna.


Setelah mendengar kata iya dari mulut Luna, Jarvish mengarahkan bibirnya ke leher Luna menciuminya dan menghirup aroma Luna. Di belakang telinga Luna, Jarvish memberikan gigitan dan meninggalkan tanda merah di sana. Tanda kepemilikan yang membuat Luna melenguh dan merintih lirih. Pria tampan itu semakin tidak bisa mengendalikan diri dan gairahnya.


Jarvish kembali mencium bibir ranum dan manis itu lalu ********** kembali dan tangannya mulai menyelinap ke dalam blus wanita itu. Pria itu mulai bermain-main di atas punggung Luna, membelai dan mengarahkan pelan tangannya ke depan untuk menarikan jari jemarinya di dada Luna. Gerakan berputar pelan yang jari jemarinya Jarvish mainkan di dada sambil terus memainkan lidahnya di dalam mulut Luna, membuat wanita itu hampir meledak di dalam lautan gairah.


"Apakah kamu siap, Luna? Sial! Aku tidak membawa alat pengaman"


"Lakukan saja! Jangan siksa aku lagi, Jarvish Benjamin. Lakukan saja!" Pekik Luna dengan suara parau menahan gairah.


"Sial! baiklah. Lagipula kita sudah sah menjadi suami istri apalagi yang harus kita khawatirkan" Jarvish langsung melesak masuk dan bergerak pelan dan di detik berikutnya Jarvish tidak bisa lagi mengontrol kecepatannya sampai akhirnya dia dan Luna memekik puas secara bersamaan.


Jarvish kemudian menarik diri dan merapikan baju Luna. Setelah merapikan rambut Luna dan memberikan kecupan di kening Luna, Pria tampan itu merapikan sendiri bajunya dan setelah memakai kembali jasnya, dia menelepon Surya, "Kembali Sur!"


"Baik, Tuan"


Jarvish kemudian melirik Luna. Saat ia melihat Luna tertunduk malu, Jarvish menarik Luna ke dalam pelukannya dan sambil mendaratkan ciuman di wajah Luna ia berkata, Terima kasih, Sayang. Sebenarnya satu ronde saja tidak cukup bagiku, tetapi mengingat kamu baru saja keluar dari rumah sakit aku akan menahan diri untuk tidak meminta ronde kedua. Aku akan bersabar sampai kamu fit kembali"


Luna langsung membenamkan wajah di dada suami tampannya dan Jarvish sontak menggelegarkan tawanya melihat Luna malu.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah hadir di hidupku dan bersedia menjadi Istriku" Jarvish mencium pucuk kepala Luna laku berkata, "Tidurlah di pangkuanku! Kamu pasti lelah"