Memories Of Love

Memories Of Love
Kaget



Mobilnya Jarvish masuk ke garasi bertepatan dengan terbukanya kedua kelopak mata Dave. Anak kecil nan tampan itu mengucek matanya dengan pelan sambil bertanya, "Di mana Mama, Pa?"


"Mama kamu di rumahnya"


"Oh" Dave berucap dengan nada datar dan wajah kecewa.


Jarvish menggendong Dave masuk ke dalam rumah mewahnya dan saat ia berkata, "Ini kamar Papa dan kamar kamu. Kita tidur bareng malam ini di sini. Ini kamar mandinya, Sekarang, yuk, kita mandi dulu"


"Dave bisa mandi sendiri, Pa"


"Bisa?"


"Hmm"


"Baiklah. Papa akan keluar dulu untuk bilang ke BI Nina agar masak sarapan untuk kamu"


"Hmm"


Jarvish mengusap kepala Dave lalu menutup pintu kamar mandi"


Setelah meminta asisten rumah tangganya untuk memasak sup ayam, menyiapkan roti tawar, selai, dan susu, Jarvish Kembali masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Pria tampan itu menunggu Dave keluar dari dalam kamar mandi sembari memeriksa pekerjaannya. Namun, bayangan Luna Aditya di pagi hari, tampak cantik alami, sedikit acak-acakan rambutnya, tapi justru rambut yang sedikit acak-acakan itu membuat Luna Aditya tampak semakin cantik dan menggoda. Jarvish sontak memukul sendiri kepalanya dan bergumam kesal, "Sial! Kenapa aku malah memikirkan wanita itu terus? Wah! Udah nggak beres, nih, otakku"


"Pa!" Dave selesai mandi dan Jarvish langsung menoleh ke Dave dan berkata, "Wah! Anak Papa pinter banget bisa mandi dan pakai baju sendiri"


"Dave udah biasa mandi dan pakai baju sendiri sejak Dave masuk sekolah, Pa" Sahut Dave dengan senyum bangga.


"Kita sarapan, yuk! Bi Nina sudah siapkan sarapan untuk Dave. Masakan Bi Nina sama seperti masakan Mama kamu, tanpa penyedap rasa. Maafkan Papa gara-gara kemarin Papa ajak kamu jajan di luar dan makan es krim, kamu kena demam"


"Nggak apa-apa, Pa. Dave sekarang sudah sembuh, kok"


Di meja makan, Dave memberanikan diri untuk berkata, "Pa, Dave pengen pergi ke sekolahannya Dave. Dave kangen sama teman-teman Dave. Dave nggak suka homeschooling"


Jarvish menatap cukup lama wajah tampan putranya, lalu pria tampan itu akhirnya berkata, "Baiklah. Mulai hari ini sampai hari Jumat, Papa akan memundurkan jam kerja Papa sampai jam sebelas. Papa akan nungguin kamu di sekolah"


"Tapi, nggak usah ditungguin, Pa. Mama juga nggak pernah nungguin. Dave sudah besar, Pa. Sudah lima tahun"


"Papa pengen nungguin kamu. Papa ingin lihat teman-teman kamu, guru kamu, dan sepintar apa anak Papa di sekolah" Jarvish menatap Dave dengan wajah semringah


"Iya, baiklah, Pa" Dave akhirnya mengalah saat ia melihat wajah papanya semringah.


Joshua pergi ke apartemennya Luna untuk memeriksa kondisinya Luna, "Kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, Mas. Asam lambungku sudah sembuh. Terima kasih Mas sudah membawaku ke rumah sakit"


"Sama-sama" Joshua mengusap puncak kepalanya Luna, lalu menautkan kedua alisnya, "Kok pakai blazer? Kamu mau pergi bekerja?"


"Iya"


"Nggak boleh. Kamu harus istirahat dulu sehari ini. Besok baru boleh bekerja"


"Aku bosan di rumah, Mas. Lagian nggak ada Dave. Aku sudah benar-benar sehat, kok"


"Beneran?"


"Iya"


"Baiklah kalau gitu. Kamu bareng aku ke kantor dan........."


"Nggak enak sama teman kantorku, Mas, kalau kita berangkat bareng"


"Kenapa? Kita kan pacaran, emangnya nggak boleh berangkat bareng?"


"Tapi, teman kantor belum tahu kalau kita pacaran?"


"Aku akan umumkan hari ini juga kalau kita pacaran dan kalau kamu udah beneran sehat, aku akan ajak kamu ke rumah Papaku untuk kau kenalkan ke Papaku, mau?"


Karena merasa memiliki hutang budi Hanh sangat banyak pada Joshua, Luna tidak tega untuk menolak permintaannya Joshua. Luna mengangguk dan tersenyum.


"Ini siapa Dave?" Gurunya Dave langsung menghampiri Dave saat ia melihat bukan Luna yang mengantarkan Dave ke sekolah.


"Ini Papaku, Bu guru. Papaku baru saja pulang dari Bulan"


"Oh! Ini Papa kamu yang sering kamu ceritakan itu? Yang tinggal di bulan?" Tanya ibu gurunya Dave.


"Iya" Dave tersenyum bangga.


"Selamat datang, Pak"


"Hmm" Sahut Jarvish singkat.


Dave langung melepaskan tangan papanya dan berlari masuk ke kelas, lalu anak kecil tampan itu duduk di bangkunya dengan wajah ceria.


"Eh! Kenapa Anda ikut masuk ke kelas? Orang tua tidak diijinkan masuk ke kelas dan......."


"Aku ingin lihat Dave. Aku selama ini tidak pernah melihat Dave di sekolah. Aku akan duduk di bangku paling belakang dan tidak akan mengganggu" Sahut Jarvish sembari duduk di bangku paling belakang dengan wajah tanpa rasa bersalah.


"Ah! Tapi, emm, baiklah, Pak. Hanya kali ini saya ijinkan Anda berada di dalam kelas dan besok......."


"Besok sampai hari Jumat kalau aku yang mengantarkan Dave sekolah, aku akan masuk ke kelas. Kalau nggak diijinkan, aku akan menemui pemilik yayasan ini dan aku akan beli sekolahan ini sekarang juga maka........"


"Baiklah, Pak. Terserah Anda saja. Tapi, Anda tidak boleh mengganggu kegiatan belajar mengajar di kelas ini"


"Hmm" Sahut Jarvish dengan wajah datar dan dingin.


Jarvish benar-benar anteng dan sesekali pria tampan itu tersenyum melihat kemandirian dan kecerdasan putranya. Tanpa Jarvish sadari ia bergumam lirih, "Luna Aditya ternyata mendidik Dave dengan sangat baik"


Di jam istirahat, Jarvish ikut mendampingi Dave makan bekal yang dimasak oleh asisten rumah tangganya Jarvish. Saat dirinya tengah asyik mengobrol dengan Dave, muncul seorang anak perempuan dengan rambut dikucir dua, duduk di sebelahnya Dave


"Dave, Papa kamu yang dari Bulan tampan sekali"


"Iya, dong" Sahut Dave dengan senyum bangga.


Jarvish menatap Dave dengan senyum bahagia. Dia sedang melihat Dave bangga memiliki dirinya. "Apa dia yang namanya, Mia?"


"Hmm" Sahut Dave sambil menatap Papanya dan menganggukkan kepala.


Mia tersenyum dan bertanya, "Kamu sudah selesai makan?"


"Hmm"


"Kalau gitu, kita main masak-masakan, yuk"


Dave hanya diam tidak menyahut. Dia sebenarnya tidak menyukai permainan masak-masakan karena dia cowok, namun dia tidak tega kalau bilang tidak mau bermain ke Mia.


Jarvish mengulum bibir menahan geli saat Dave menolak Mia menyuapinya.


"Dave, ayolah buka mulut kamu! Cicipi masakanku ini!"


"Aku nggak mau. Itu bukan makanan sungguhan, Mia"


"Iya, tentu saja bukan. Namanya juga masak-masakan"


"Iya, Dave. Kamu sudah mau diajak bermain, ya, harus mau mengikuti permainannya. Ayo buka mulut kamu!"


"Nggak mau, Pa! Nanti kalau dia beneran memasukan balok mainan itu ke mulut aku gimana? Kan, kotor itu"


Jarvish langsung mengulum bibir menahan geli dan sontak berkata, "Nggak mau!" Saat teman Dave yang bernama Mia berkata, "Kalau Om yang buka mulut, aaaaa!"


Giliran Dave yang mengulum bibir menahan senyum.


Begitu sampai di kantornya, Jarvish dikejutkan dengan semburan rangkaian kata dari mamanya, "Jarvish! Kakak kamu Joshua akan datang ke rumah Papa nanti sore mau mengenalkan pacarnya. Kamu juga bawa pacar kamu, ya?! Kamu punya pacar, kan?"


"Hah?!" Jarvish sontak terkejut.