
Melihat Jarvish hanya diam mematung di depan pintu masuk, mamanya Jarvish berkata lagi, "Pokoknya kamu harus datang bersama dengan pacar kamu nanti. Dave tidur di kamar. Mama tinggal karena kamu udah balik ke sini" Mamanya Jarvish melangkah keluar dari ruang kerjanya Jarvish.
Jarvish menutup pintu dan melangkah pelan ke sofa. Setelah pria tampan itu duduk di sofa, ia menyilangkan kaki dan bersedekap untuk merenungkan ucapan mamanya. Lalu, pria itu bergumam lirih, "Apa itu Luna Aditya? Apa pacarnya Joshua yang akan dikenalkan ke suaminya Mama adalah Luna Aditya? Kalau Joshua membawa Luna ke rumah suaminya mama, berarti dia serius dengan Luna. Lalu, kalau wanita itu menikah dengan Joshua, Dave akan punya Papa tiri dan adik tiri, dong. Nggak! Aku nggak mau kalau sampai Dave punya Papa tiri dan saudara tiri. Aku nggak mau Dave punya nasib sama denganku. Kalau begitu, aku harus datang ke sana nanti malam walaupun aku sangat malas bertemu dengan pria tua itu karena aku muak dengan sikap sok bijaknya, tapi demi Dave, aku harus ke sana"
Dave bangun dan keluar dari dalam kamar dan dia bahagia bisa mengerjakan tugas sekolah dengan papanya. Anak kecil tampan itu mulai terbiasa hidup bersama papanya dan mulai merasa nyaman karena papanya sangat menyayangi dirinya.
Jarvish dan Dave ternyata memiliki banyak kesamaan yang membuat keduanya menjadi cepat akrab.
"Pa, hari ini adalah hari Ibu" Ucap Dave sembari memasukkan semua tugas dari gurunya yang sudah selesai ia kerjakan ke dalam tas sekolahnya.
"Lalu?"
"Biasanya Dave bikin kartu ucapan untuk Mama dan beli permen cokelat kecil kesukaan Mama. Permen cokelat almond. Papa bisa antarkan Dave membelinya?"
Jarvish tertegun mendengar ucapannya Dave.
"Papa,kok, malah diam dan melamun? Kalau nggak mau, nggak apa-apa, kok" Dave langsung menunduk dengan wajah kecewa.
Jarvish langsung mengusap puncak kepalanya Dave dan berkata, "Oke! Ayo Papa antarkan kamu beli kartu dan cokelat"
"Habis itu kita antarkan kartu dan cokelatnya ke apartemen Mama, ya, Pa?"
"Hmm"
"Horeeeee! Dave sayaaaang banget sama Papa" Dave lalu mencium pipi papanya dan Jarvish tersenyum lebar dan langsung menggendong Dave dengan penuh cinta. Jarvish sangat mencintai dan menyayangi Dave melebihi dirinya sendiri.
Dave dibawa Jarvish masuk ke sebuah mall yang sangat besar dan pria tampan itu langsung kaget dan spontan menyemburkan, "Pakai sandal kamu! Kenapa kamu lepas?"
"Kata Mama kalau mau masuk ke rumah seseorang, kita harus lepas sandal atau sepatu kita"
Jarvish langsung berjongkok dan membantu Dave memakai sandalnya kembali sambil berkata, "Ini Mall, Dave. Ini bukan rumah seseorang. Lalu, kenapa pas kamu ke kantor Papa, kamu nggak lepas sepatu kamu?"
"Karena Papa terus menarik tangan Dave lalu menggendong Dave"
Jarvish menggeleng-gelengkan kepalanya lalu bertanya, "Kamu belum pernah diajak Mama kamu ke Mall?"
Dave menggelengkan kepalanya dan Jarvish langsung meraup wajah tampannya dengan kasar. Kemudian pria tampan itu menggendong Dave dan berkata, "Kalau masuk ke Mall atau tempat semacam ini, Dave nggak perlu lepas sandal. Oke"
"Hmm" Sahut Dave sambil menganggukkan kepalanya.
"Nah, kita sudah sampai di bagian kartu. Papa bantu kamu pilih kartunya"
"Hmm. Tolong pilihkan yang harganya lima ribu rupiah dan pilihkan cokelat almond kecil yang harganya sepuluh ribu rupiah. Dave mengumpulkan uang saku Dave dan baru ada lima belas ribu rupiah"
Jarvish sontak berjongkok dan memandang Dave dengan wajah trenyuh. Pria tampan itu kemudian mengelus wajah mungil putranya yang sangat tampan itu dan berucap, "Apa Papa boleh belikan Dave kartu dan cokelatnya pakai uangnya Papa?"
Dave langsung menggelengkan kepalanya dan berkata, "Itu bukan dari Dave, dong, kalau belinya pakai uangnya Papa. Kalau Papa juga mau beli kartu ucapan dan cokelat buat Mama, Papa bisa pakai uang Papa sendiri"
Jarvish menghela napas panjang dan berucap, "Baiklah! Kamu pilih kartu kamu sendiri dan Papa juga akan pilih kartu sendiri. Cokelatnya juga kamu pilih sendiri. Papa juga akan pilih sendiri"
"Baiklah" Dave berkata dengan wajah penuh semangat dan riang gembira.
Setelah berhasil mendapatkan kartu dan cokelat pilihan mereka masing-masing, Jarvish langsung menggendong Dave untuk membayar barang belanjaan mereka masing-masing.
Setelah itu, mereka masuk ke dalam mobil dan asyik merangkai kata di kartu mereka masing-masing.
Jarvish menoleh ke Dave untuk bertanya, "Kamu tulis apa di kartu kamu?"
"Happy Mother's Day" Sahut Jarvish.
"Itu aja, Pa?"
"Iya"
"Baiklah. Ayo kita ke apartemennya Mama"
"Sebelum ke apartemennya Mama kamu untuk kasih kartu dan cokelat kita ini, kita ke rumah Opa dulu, ya"
"Opa?"
"Iya. Opa itu suaminya Oma kamu" Sahut Jarvish.
"Berarti dia Papanya Papa?"
"Bukan. Papanya Papa sudah meninggal waktu Papa masih kecil" Sahut Jarvish.
"Oh" Dave hanya menyahut Oh, karena dia masih belum bisa memahami ucapan papanya.
"Kita jemput temannya Papa dulu, ya" Ucap Jarvish sembari melajukan mobilnya.
"Hmm" Sahut Dave.
Saat Jarvish berdiri berhadapan dengan Laura di depan pintu rumahnya Laura sambil menggenggam tangan mungil Dave, ia berkata, "Ini anakku. Aku sangat menyayanginya dan....."
"Wah! Dia mirip sekali dengan dirimu. Siapa nama kamu anak manis?" Laura langsung berjongkok di depan Dave dengan senyum ramah dan tulus karena Laura memang menyukai anak-anak.
"Nama saya Dave Aditya" Sahut Dave dengan senyum ramah dan tulus pula.
Laura lalu menggendong Dave dan setelah mencium kedua pipi Dave ia menoleh ke Jarvish dan berkata, "Aku tidak keberatan kamu punya anak. Aku langsung menyukai dan menyayangi Dave, sungguh"
Jarvish tersentuh dengan sikap dan ucapan Laura. Lalu, ia tersenyum dan berkata, "Terima kasih Laura. Itu sangat berarti bagiku. Aku sudah kirim pesan text ke kamu, kan? Kita akan ke rumah suaminya Mamaku. Papanya Joshua. Aku akan kenalkan kamu dan Dave ke Papanya Joshua"
"Oke. Ayo kita berangkat" Sahut Laura sembari melangkah dan menggendong Dave.
Jarvish senang melihat Dave dan Laura bisa cepat akrab.
Joshua dan Luna lebih dulu sampai di rumah megah papanya Joshua. Papanya Joshua dan Mamanya Jarvish menyambut Joshua dan Luna dengan hangat.
Saat mereka semua duduk mengelilingi meja makan, Papanya Joshua mengajukan pertanyaan ke Luna sembari menyantap makan malam yang sudah disiapkan oleh mamanya Jarvish, "Apa pekerjaan kamu, kamu lulusan mana?"
Luna menjawab semua pertanyaan papanya Joshua dengan baik dan ada tambahan, "Saya seorang Ibu tunggal. Saya memiliki seorang Putra berumur lima tahun yang sangat saya sayangi"
Mamanya Jarvish dan Papanya Joshua spontan tertegun secara bersamaan saat mereka berdua mendengar pernyataan dari Luna itu.
Joshua langsung berkata, "Dia bukan janda. Dia memiliki anak karena dia........."
"Mama!!!!" Dave langsung berlari ke arah mamanya saat ia melihat ada mamanya duduk di meja makan.
Luna dan Joshua sontak bangkit berdiri karena kaget mendengar suara Dave.
Mamanya Jarvish langsung ternganga kaget saat Luna merengkuh Dave dan berkata, "Ah! Mama senang bertemu anak tampannya Mama di sini. Mama merindukan Dave"
Dan Mamanya Jarvish semakin ternganga saat ia mendengar Dave berkata, "Dave juga sangat merindukan Mama"