Memories Of Love

Memories Of Love
Oma



"Eh, Istriku jangan nangis lagi dan jangan berteriak memohon pada Tuan Jarvish! percuma! Dia akan tetap mengabaikan kita. Papa punya ide agar Papa tetap bisa bekerja di Grup Benjamin"


Istri pria yang anaknya telah berani menyenggol putra Jarvish Benjamin sampai berdarah, langsung menghapus air matanya dan bertanya, "Bagaimana caranya?"


"Tuan Jarvish belum menikah. Dia sudah punya anak. Berarti anak itu adalah anak hasil hubungan gelap. Mamanya pasti tidak tahu soal ini. Aku akan laporkan soal ini ke mamanya Tuan Jarvish"


"Apa buktinya?"


"Rekaman CCTV ini, dong. Aku minta salinan rekaman CCTV ini boleh, kan, Mas?"


"Boleh" Sahut pemuda yang bertugas menjaga ruangan CCTV itu.


Keesokan harinya, Jarvish dengan wajah bangga menggandeng putranya memasuki hotel miliknya. Ketika pria tampan itu menyadari banyak pasang mata memandangnya dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya, CEO pendiri hotel The Rain itu langung menghentikan langkahnya untuk berkata, "Ini Putraku. Namanya Dave Aditya untuk sementara dan tidak lama lagi, dia akan menyandang nama Benjamin, Dave Benjamin" Lalu, Jarvish menggandeng Dave masuk ke lift khusus untuk CEO.


"Ini hotel siapa, Pa?" Tanya Dave.


Jarvish langsung mengangkat tubuh Dave untuk ia gendong sambil berkata, "Ini hotel Papa. Papa yang merintis hotel ini dari nol. Kamu bangga nggak sama Papa karena Papa bisa bangun hotel sebesar ini?"


"Hmm. Dave sangat bangga" Dave berkata sembari mengelus pipi Jarvish dan CEO hote The Rain itu langsung menggemakan tawa bahagianya.


Dave langsung berkata, "Wow!" Saat papanya mengajak Dave masuk ke ruang kerjanya.


"Ini ruang kerja Papa. Ada lapangan golf mini, ada lapangan basket mini kalau kamu bosan, kamu bisa bermain di sana. Atau kalau mau berenang, juga ada. Papa bikin kolam renang pribadi di sini" Jarvish membuka pintu di sebelah kanan pintu masuk ruang kerjanya dan Dave langsung membeliak dan kembali berkata, "Wow!" Saat anak kecil nan tampan itu melihat kolam renang yang sangat indah yang belum pernah ia lihat secara langsung sebelumnya.


Jarvish mengusap lembut puncak kepalanya Dave sambil berkata, "Kamu senang?"


Dave mendongak dan dengan wajah semringah, ia berkata, "Dave sangat senang, Pa. Tapi, Dave tidak bisa berenang"


"Hahahahaha. Papa aka. ajari kamu pas Papa longgar nanti. Sekarang kamu duduk di sofa. Sebentar lagi guru homeschooling kamu datang"


"Dave sekolah di sini?" Tanya Dave sambil berjalan menuju ke sofa.


Saat Dave duduk di sofa, Jarvish berjongkok untuk berkata, "Iya. Mulai hari ini, kamu sekolah di sini. Jadi, Papa bisa awasi kamu selama Papa kerja"


"Baiklah".Dave hanya bisa berkata baiklah padahal jauh di lubuk hatinya, dia lebih senang bersekolah di tempat biasanya karena di sana, dia sudah memiliki banyak teman"


Lima menit kemudian Dave menoleh ke pintu masuk saat pintu itu terbuka dan ada seorang pria berwajah ramah, menyapa dirinya dan papanya, "Selamat pagi Tuan Jarvish. Selamat pagi Dave"


Dave langsung merosot turun dari sofa untuk menyalami pria berwajah ramah itu dan berkata, "Selamat pagi, Pak. Nama Anda siapa?"


"Oh, iya. Nama Bapak, Pak Prasetyo. Panggil saja Pak Pras. Bisa kita mulai belajarnya?"


"Bisa"


"Aku tinggalkan kalian. Ajari Putraku dengan baik kalau tidak, aku akan pecat kamu"


"Baik, Tuan" Sahut guru barunya Dave yang bernama Prasetyo itu.


Sambil bekerja, Jarvish sesekali mengangkat wajahnya untuk melihat kebersamaan putranya dengan guru yang bernama Prasetyo itu. Pria tampan itu tersenyum bangga saat ia melihat putranya selalu bisa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru tersebut.


"Dia dapatkan kecerdasan itu dariku. Dave bukan hanya mewarisi ketampananku, tapi juga mewarisi kecerdasanku. Tapi, kalau aku lihat, sih, bentuk bibir dia mirip banget dengan bentuk bibir Mamanya" Jarvish sontak memukul sendiri pucuk kepalanya sambil berkata, "Sial! Kenapa otakku mengarah ke bibir? Kenapa juga aku bisa ingat bentuk bibir wanita aneh itu, cih!" Pria tampan itu bergegas menatap kembali berkasnya untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang berkelebat di benaknya.


Jarvish meninggalkan meja kerjanya saat gurunya Dave berkata, "Dave sudah selesai belajarnya, Tuan"


"Apa penilaian kamu untuk Putraku?"


"Dave sangat cerdas. Di umurnya yang masih lima tahun, dia sudah lancar baca, tulis, dan berhitung. Saya rasa saya harus belajar lebih lagi untuk bisa menyamai kecerdasannya Dave"


"Hahahahaha, Iya, iya. Dave memang cerdas aku tahu itu. Besok datang lagi di jam yang sama. Aku suka kinerja kamu dan sepertinya Dave juga enjoy belajar sama kamu, jadi kita teruskan kerja sama kita" Jarvish mengalami guru itu.


"Terima kasih banyak, Tuan" Sahut guru tersebut.


Jarvish lalu duduk di samping Dave untuk bertanya, "Kamu lapar?"


"Hmm"


"Kamu pengen makan apa?"


"Lho, kok, terserah Papa. Kalau gitu Papa kasih pilihan, deh, kamu mau makan ayam crispy, bakso, udang yang kayak kemarin, bakmi goreng, capcay, emm, pilih mana?"


"Capcay aja, Pa. Kata Mama supaya sehat kita harus banyak makan sayur. Mama tiap hari masak sayur asem kalau nggak sayur bening bayam. Dave kangen masakan Mama dan ......."


"Oke!" Mendengar kata Dave kangen sama Mamanya, Jarvish langsung berusaha mengalihkan perhatian Dave dan berkata, "Papa udah pesankan Capcay, bakmi goreng, udang, dan es krim. Dave suka, es krim kan?"


"Hmm"


"Oke. papa pesankan dua rasa. Vanila dan cokelat. Sambil nunggu makanan kita tiba, kita main basket dulu, mau?"


"Hmm" Sahut Dave dengan senyum terpaksa. Dia suka bersama dengan papanya. Tapi, dia sangat merindukan mamanya. Dia ingin bisa berada di tengah-tengah mama dan papanya. Dia ingin bisa bermain bersama dengan mama dan papanya. Bukan bermain hanya dengan papanya atau bermain hanya dengan mamanya.


Saat tengah asyik bermain basket dengan putranya, Jarvish dikejutkan dengan suara braaak! Saat ia melihat ke arah pintu, Pria tampan itu sontak berkata ke Dave, "Dave tunggu di sini, ya?! Jangan keluar kalau Papa belum ........"


"Siapa Nenek cantik itu, Pa?"


"Dia memujiku cantik? Ah! Jarvish, apa ini anak kamu? Dia tampan sekali. Mirip sama kamu waktu masih kecil"


Jarvish hanya menganggukkan kepala kemudian pria tampan itu membeku di tempat ia berdiri dan membiarkan mamanya berjalan mendekati Dave.


Wanita berumur lima puluh tahun itu kemudian berjongkok di depan Dave dan langsung memeluk Dave sambil berkata, "Ini Oma, Sayang. Oma" Lalu, wanita cantik itu melepas pelukannya dan memegang kedua bahunya Dave untuk berkata, "Coba panggil Oma"


"Oma" Dave kemudian memberikan senyum terbaiknya ke wanita cantik itu.


Mamanya Jarvish langsung mengangkat tubuh Dave untuk ia gendong masuk ke dalam dan Jarvish refleks mengekor langkah mananya. Setelah mama sambungnya Joshua Benjamin itu duduk di sofa dan memangku Dave, mamanya ia langsung melotot ke Jarvish dan berkata, "Kenapa baru kau temukan Putra kamu sekarang? Kenapa kau bisa ceroboh, hah?! Anak semanis dan setampan ini kenapa kau biarkan hidup tanpa kamu selama ini?"


"Ma.....Mama tidak marah karena Jarvish punya anak di luar........"


"Mama nggak peduli dengan semua masa lalu kamu. Mama senang punya cucu. Mama senang punya cucu laki-laki. Kamu pinter bisa bikin anak cowok, Jarvish. Mama suka. Mama sangat suka"


Jarvish sontak menarik rahang bawahnya lebar-lebar karena dia sungguh tidak menduga mamanya langsung menerima Dave dan langsung menyukai Dave.


"Ah! Makanan sudah datang. Kebetulan sekali Oma belum makan siang. Apa Oma boleh makan bareng Dave?"


"Boleh" Sahut Dave dengan senyum canggung karena dia belum terbiasa dengan Oma barunya.


"Wah! Kamu bukan hanya tampan, tapi juga ramah, murah senyum, dan baik. Nggak seperti Papa kamu, tuh, hobinya cemberut" Mamanya Jarvish tersenyum lebar ke Dave dan Dave langsung melirik papanya dengan senyum geli.


Jarvish hanya bisa meraup kasar wajah tampannya dan menghela napas panjang.


Setelah makan siang selesai, mamanya Jarvish menidurkan Dave di kamar pribadinya Jarvish. Setelah membacakan dua cerita dongeng dan melihat Dave benar-benar tertidur pulas, mamanya Jarvish keluar dari dalam kamar dan langsung berkata, "Siapa Mama anak itu?"


"Hanya wanita biasa, Ma"


"Kamu mau menikahi Mama dari anak itu?"


"Nggak. Mama tahu soal Dave dari siapa?"


"Bagus. Mama setuju. Kamu jangan menikah dengan wanita biasa. Emm, Mama sangat menyayangi Dave. Kamu harus memenangkan hak asuh atas Dave"


"Mama sudah tahu soal persidangan juga? Dari siapa Mama tahu?"


"Nggak penting dari siapa Mama tahu, yang penting adalah Mama ingin memiliki Dave sepenuhnya. Rebut Dave dari wanita itu karena Mama yakin kalau Dave hidup dengan mamanya, Dave akan hidup miskin dan menderita. Aku nggak mau cucuku hidup miskin dan menderita"


Jarvish langsung berkata, "Tapi, dulu Mama membiarkan aku hidup miskin dan menderita. Mama lupa soa itu?"


Mamanya Jarvish langsung berkata, "Mama sudah bilang ke kamu ribuan kali. Saat itu Mama sedang menata kehidupan baru untuk kamu. Agar kamu bisa hidup enak dan sukses seperti sekarang ini dan......"


"Tinggalkan aku, Ma! Aku masih punya banyak pekerjaan"


Mamanya Jarvish menghela napas panjang dan pergi meninggalkan Jarvish dengan pesan, "Ajak Dave ke rumah Papa kamu. Biar Papa kamu kenal sama Dave"


"Dia Papanya Joshua. Dia bukan Papaku* Sahut Jarvish tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang ada di mejanya.


Mamanya Jarvish akhirnya meninggalkan Jarvish tanpa berkata apa pun lagi.