
Akhirnya cairan infus habis dan jarum infus dilepas oleh perawat.terebut tersenyum ke Dave dan berkata, "Kamu anak hebat dan tangguh, ya. Pas diinfus nggak nangis, disuntik nggak nangis, operasi juga nggak takut. Sudah tampan hebat lagi. Besok kalau besar pasti............"
"Pasti bisa ke bulan nyusul Papa" Sahut Dave dengan senyum cerah dan Luna hanya bisa tersenyum canggung ke perawat itu sambil berkata, "Terima kasih banyak, Sus, sudah merawat Dave dengan sabar dan sudah melepas selang infus Dave tanpa sakit"
"Sama-sama, Bu. Dave sudah boleh pulang sekarang. Semua obat Dave sudah saya serahkan ke Ibu, kan?"
"Iya, Sus. Terima kasih banyak" Sahut Luna dengan mengulas senyum tulus.
"Terima kasih, Bu Suster" Sahut Dave.
"Sama-sama anak hebat dan tampan" Sahut perawat tersebut sambil mencubit pelan pipinya Dave. Kemudian perawat berwajah sabar itu pergi meninggalkan kamar rawat.inapnya Dave sambil tersenyum dan menganggukkan kepala ke Luna.
Luna langsung membalas senyuman dan anggukkan kepala itu.
"Kita pulang, Nak" Sahut Luna.
"Tapi, Dave suka di sini, Ma"
"Kenapa? Apa.karena kamarnya bagus dan ada AC-nya? Mama akan cari uang lebih giat lagi agar bisa pasang AC di rumah"
Dave langsung menggeleng sambil berkata, "Bukan karena bagus dan Ac-nya"
"Lalu kenapa Dave suka di sini?"
"Karena di sini Dave bisa bermimpi tentang Papa dan itu berasa nyata, Ma. Bahkan genggaman hangat tangan Papa yang besar dan ciuman lembut dari Papa masih terasa di tangan Dave" Dave langsung memeluk tangan kanannya yang beberapa jam sebelumnya tangan kanan itu digenggam dan dicium oleh Jarvish Benjamin.
Luna sontak memalingkan wajah dan mendongak sebentar untuk memasukkan kembali air matanya yang hampir jatuh karena Luna tidak pernah membiarkan putra tunggal kesayangannya itu melihatnya menitikkan air mata.
"Ma Mama kenapa? Mama menangis?"
Luna sontak menoleh ke Dave dengan senyum lebar dan segera berkata, "Nggak. Mana ada Mama menangis. Mata Mama kemasukan debu. Ayo pulang, Dave! Di sini nggak enak. Dave tidak bisa makan pukis keju cokelat buatannya Mama. Dave nggak pengen makan kue pukis buatannya Mama?"
Melihat Mamanya begitu menginginkan dirinya untuk pulang, akhirnya Dave menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah, Ma. Kita pulang"
Melihat wajah anaknya yang tampak terpaksa menuruti kemauan Luna, wanita itu langsung menggendong anaknya dan mendekapnya erat, lalu Ibu muda yang sangat tangguh itu berkata, "Kita mampir ke toko buku dulu, ya?"
Dave menoleh ke Mamanya dan mendararkan bibirnya di pipi mamanya untuk bertanya, "Kenapa ke toko buku dulu, Ma? Mama pengen beli apa?"
Luna menoleh dan mencium pipi Dave dengan gemas sambil berkata, "Beli teropong. Kamu pengen teropong, kan, selama ini. Mama akan belikan teropong karena Dave sudah jadi anak hebat. Dave sudah tangguh melawan maut dan menang"
Dave menciumi pipi mamanya lalu berteriak girang, "Horeeee! Aku bisa lihat bulan dari dekat dengan teropong. Aku bisa lihat Papa dengan teropong itu"
Luna yang berjalan keluar dari dalam kamar sambil menggendong Dave sontak menghela napas panjang untuk mengusir rasa perih di hatinya saat putranya berkata seperti itu.
"Ma, kenapa.Mama terus diam? Mama nggak suka kalau Dave lihat Papa lewat teropong?"
Luna menciumi pipi Dave dan berkata, "Nggak, kok. Mama nggak melarang kamu lihat Papa kamu lewat teropong. Mama tadi diam karena Mama sedang berpikir kira-kira Papa senang apa, ya, pas Dave lihat lewat teropong, nanti"
"Wah! Papa pasti tersenyum dan melambaikan tangan ke Dave. Iya, kan, Ma?"
"Iya sayang, iya" Sahut Luna dengan senyum lebar meskipun hatinya terasa sangat pedih dan meskipun ia ingin menangis, dia harus terus berdua dengan sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh menetes.
"Dave kuat, kan, naik bus?"
"Hmm. Kata Dokter dan perawat, Dave,kan, anak tangguh. Dave pasti kuat naik bus"
"Dave nggak merasa mual atau pusing, kan, saat ini?"
"Nggak. Dave baik-baik saja, Ma" Sahut Dave.
"Syukurlah anak Mama memang hebat"
"Kayak Mamanya" Sahut Dave dengan senyum lebar.
Luna tersenyum lebar dan sambil menciumi pipi anaknya , Luna berkata, "Terima kasih udah puji Mama hebat"
Luna mempererat pelukannya dan dengan senyum bahagia dia berkata di dalam hatinya, syukurlah Mama berhasil mempertahankan kamu selama kamu masih berada di dalam kandungannya Mama. Mama juga bersyukur bisa melahirkan anak hebat dan baik hati seperti kamu ke dunia ini ,Dave. Mama bangga jadi Mama kamu.
Seorang pria tampan berwajah lembut tiba-tiba menghadang langkah Luna dan pria tampan berwajah lembut itu langsung berkata, "Syukurlah saya akhirnya bisa menemukan Anda, Nyonya Luna"
Luna mengerutkan dahinya dan langsung bertanya, "Kenapa Pak Bram bisa ada di si k?"
Dave yang berada di dalam gendongannya Lima sontak menoleh ke pria tampan itu dengan menautkan kedua alisnya.
"Tuan Joshua yang memerintahkan saya untuk mengikuti Anda. Anak buah yang saya kirim mengatakan kalau Anda ada di rumah sakit ini. Saya langsung ke sini untuk membawa Anda ke rumahnya Tuan Joshua, Nyonya*
Karena merasa memiliki banyak hutang budi kepada Joshua Benjamin dan dia melihat Dave masih tampak sedikit pucat walaupun anaknya itu berkata kalau ia tidak apa-apa, akhirnya Luna menganggukkan kepala, "Baiklah. Saya akan mengikuti Pak Bram. Tapi, sebelum ke rumah Tuan Joshua, saya minta tolong mampir ke toko buku sebentar yang ada di dekat-dekat sini nggak papa?"
"Nggak papa, Nyonya. Mari ikut saya!"
Dave kembali menyusupkan wajah ke dada mamanya dan ketiduran di sana. Dave memang masih lemas setelah lepas dari infus dan itu wajar kata dokter.
Luna merebahkan Dave yang masih tertidur pulas di dalam mobil mewahnya Joshua sambil berkata ke asisten pribadinya Joshua, "Pak Bram, saya nitip Dave sebentar, ya??"
"Nyonya memangnya mau beli buku apa? Biar saya yang turun untuk membelinya"
"Saya nggak akan beli buku, Pak. Saya akan beli teropong. Anak saya sudah sejak lama ingin punya teropong" Sahut Luna.
"Kalau begitu saya yang akan turun"
"Nggak usah, Pak. Nanti merepotkan Pak Bram ........" Luna menghela napas panjang saat Bram telah turun dari mobil.Wanita itu kemudian bergumam, "Uangnya,kan, juga belum aku kasih ke Pak Bram. Kok udah turun aja, sih? Huffftttt! Nanti aja kalau Pak Bram udah masuk kembali ke mobil aku berikan uangnya"
Bram masuk ke dalam toko buku sambil menghubungi bosnya, "Tuan, saya mampir ke toko buku sebentar"
"Kamu sudah bersama dengan Luna dan putranya, kan?"
"Sudah Tuan. Ini saya ke toko buku karena Putranya Nyonya Luna ingin teropong sejak lama"
"Belikan teropong yang terbaik, paling canggih dan paling mahal!"
"Baik, Tuan"
"Sudah kau dapatkan teropongnya?" Tanya Joshua.
"Sudah Tuan. Teropong yang terbaik dan paling canggih harganya lima juta rupiah, Tuan"
"Oke. Bayar saja!"
"Baik, Tuan" Sahut Bram.
Tiga puluh menit kemudian Bram masuk kembali ke jok kemudi setelah memasukkan teropong ke bagasi.
Luna langsung menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah dan berkata, ""Ini uang teropongnya, Pak. Saya kemarin lihat di toko buku ada teropong kecil harganya tiga ratus ribu rupiah dan lumayan kualitasnya. Bapak beli yang itu, kan? Saya lupa bilang ke Bapak tadi dan........."
"Tuan Joshua yang membelikannya, Nyonya. Simpan saja uang Anda"
"Tapi, mana boleh seperti itu? Saya........"
Bram berkata sambil mengemudikan mobil, "Anda bicarakan dengan Tuan Joshua nanti, Nyonya"
"Baiklah" Luna memasukkan kembali uang tiga ratus ribunya ke dalam dompet bututnya yang dia buat sendiri dari benang rajut pas dia hamil besar dulu.
Satu jam berikutnya Luna dan Dave berdiri berhadapan dengan Joshua.
Dave mengerjapkan kedua matanya beberapa kali dan sontak bertanya, "Apa ini Papa Dave, Ma?"
Deg! Hati Luna dan Joshua berdebar kencang seketika secara bersamaan saat mereka berdua bersitatap.