
Jarvish kembali menunduk dengan pelan dan saat ia memagut bibir Luna, pria tampan itu memandang kedua bola mata Luna dan di saat wanita itu memejamkan mata, Jarvish mulai nekat menyapu bibir Luna secara perlahan, menangkupkan pipi wanita manis itu, lalu ia memiringkan sedikit kepalanya ke kiri, membuka mulut, lalu memejamkan mata. saat ia sudah menemukan kenyamanan.
Jarvish tersentak kaget, tetapi merasa sangat tersanjung saat ia merasakan Luna membalas ciumannya walau masih berperan sebanyak sepuluh persen, itu cukup membuat hati Jarvish membuncah bahagia.
Selanjutnya, Jarvish mengikuti nalurinya mencium lebih intim. Pria itu jujur dengan perasaannya melalui ciuman. Ia menuangkan perasaan cintanya dalam ciuman itu tanpa banyak berpikir.
Jarvish kemudian mencoba membelai pipi Luna dengan tangan, lalu menarik pakaian Luna dengan lembut agar tubuhnya semakin mendekat. Lalu, pria tampan itu memeluk seraya mengelus punggung Luna dengan lembut sambil terus menciumnya.
Jantung Luna berdegup sangat kencang, darahnya seolah mendidih, dia merasakan sekujur tubuhnya terasa hangat, hatinya berdesir hebat dan dia serasa terbang ke awang-awang. Sudah berapa kali dia merindukan momen itu saat ia masih kuliah dulu. Momen Jarvish mencium dirinya selembut ini. Momen Jarvish membelai dirinya seindah ini. Dan momen Jarvish memeluk dia seerat dan sehangat ini.
Tiba-tiba terdengar suara, "Ma, Pa"
Luna langsung mendorong Jarvish dan merapikan rambutnya. Sedangkan Jarvish mengumpat kaget di dalam hatinya sambil menoleh ke belakang.
Debaran jantung keduanya membuat senyum mereka terlihat aneh di depan Dave.
"Ma, Pa, Mama sama Papa kenapa tersenyum aneh kayak gitu?"
"Oh, itu, emm" Jarvish menggaruk-garuk kepalanya dan menoleh ke Luna untuk meminta bantuan Luna untuk menjawab pertanyaannya Dave.
Luna kemudian tersenyum lebar ke Dave dan mengelus pipi Dave, "Papa dan Mama kaget, kok, Dave tiba-tiba bangun. Ada apa? Dave mau minum atau mau makan?"
Alih-alih menjawab pertanyaan mamanya, Dave justru balik bertanya, "Dave lihat Papa memeluk Mama tadi. Apa ini artinya kita bertiga bisa tinggal bareng mulai sekarang?"
Luna menoleh ke Jarvish dengan rona malu dan ekspresi wajah kaget bercampur panik.
Jarvish memegang tangan Luna, meremasnya, lalu ia menatap lekat kedua bola mata indah putra tunggal kesayangannya itu, "Kalau Mama kamu mau pindah ke rumah besarnya Papa, Papa nggak keberatan"
Luna langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Jarvish karena ia terkejut dengan ucapannya Jarvish.
Jarvish menoleh ke Luna, "Aku serius"
Dave langsung berteriak, "Horeeeee! Mau, ya, Ma?! please!"
Luna langsung menarik Dave untuk ia pangku dan dia peluk kemudian ia berucap, "Mama dan Papa masih belum bisa tinggal bareng"
"Kenapa?"
"Karena Mama dan Papa masih belum menyelesaikan permainannya"
"Lalu, kapan permainannya selesai? Kok, lama banget. Dave pengen kita tinggal bareng. Dave pengen bobok di tengah-tengah Mama dan Papa" Wajah Dave langsung tertunduk lesu dan bibirnya mengerucut.
Jarvish sontak bersitatap dengan Luna. Lalu, pria tampan itu bangkit berdiri dan berkata, "Aku pergi dulu untuk bertemu dengan manajer hotel ini.Kalian mengobrol dulu. Aku nggak lama, kok. Kalau lapar pesan saja lewat intern phone"
Luna menganggukkan kepala dan berkata, "Terima kasih dengan canggung" Dia masih merasa malu dengan sikapnya membiarkan Jarvish menciumnya dan bahkan dia membalas ciuman itu
Apa dia akan menilai aku wanita murahan dan gampangan ya? Sial! Bahkan aku lupa soal Mas Joshua. Apa ini artinya aku sudah berselingkuh? Astaga! Wanita macam apa aku ini? Batin Luna.
Luna kemudian menciumi wajah tampan putranya dan dan menggelitikinya sambil berkata, "Nah! Kalau ketawa gini, kan, cakep. Daripada manyun kayak tadi"
Jarvish mengobrol dengan manajer hotel tersebut cukup lama karena manajer tersebut cukup ramah dan enak untuk diajak bicara.
"Terima kasih anda bersedia menanamkan saham di sini Tuan Jarvish. Saya akan berikan kamar gratis spesial untuk Anda dan ada hadiah yang menunggu Anda di sana"
"Aku sudah sewa dua kamar di sini. Aku tidak perlu hadiah dan kamar gratis. Aku percaya dengan pemilik hotel ini dan aku lihat hotel ini cukup menjanjikan. Jadi, aku bersedia untuk bekerja sama. Nggak usah pakai hadiah segala" Sahut Jarvish.
"Berarti rumor di luar sana salah besar" Sahut Manajer tersebut.
"Rumor apa?" Tanya Jarvish.
"Rumor di luar sana mengatakan kalau Anda perokok dan peminum berat, tetapi nyatanya Anda menolak rokok, cerutu, dan anggur mahal yang saya sajikan saat ini. Anda sama sekali tidak menyentuh semuanya. Anda justru membawa air mineral sendiri ke sini"
"Aku sudah berhenti merokok dan minum karena anakku tidak menyukainya. Aku juga tidak ingin memberikan contoh yang buruk untuk anakku" Sahut Jarvish.
"Anda sudah punya anak?" Tanya Manajer hotel tersebut dengan ekspresi kaget.
"Iya. Aku menginap di sini dengan anakku. Dia mirip banget denganku. Tampan, cerdas, dan menggemaskan" Jarvish berucap dengan senyum bangga.
"Ah! Begitu ternyata. Lalu, rumor di luar sana juga salah Rumor itu mengatakan kalau Anda suka berganti-ganti wanita. Satu wanita hanya untuk satu hari dan Anda tidak mau memakainya wanita yang sama di hari berikutnya"
"Itu benar. Semuanya benar bukan rumor. Tapi, sejak aku bertemu dengan anakku aku sudah tinggalkan semua itu. Aku nggak ingin menjadi contoh yang buruk untuk anakku"
"Oh, begitu. Saya kagum sekali pada Anda, Tuan Jarvish. Sudah muda, takkan, sukses, memiliki anak yang bisa merubah Anda menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Selamat, Tuan"
"Iya. Memang pantas kalau kamu iri sama aku" Ucap Jarvish sambil bangkit berdiri.
Melihat Jarvish bangkit berdiri manajer hotel itu ikutan bangkit berdiri
"Aku rasa aku sudah cukup lama mengobrol dengan kamu dan untuk itu aku harus segera balik ke kamarku. Anakku menungguku"
"Baik, Tuan. Silakan" Sahut Manajer hotel tersebut.
Luna tersenyum menatap wajah putranya yang akhirnya lelap tertidur setelah makan cukup banyak dan mengajaknya bermain selama hampir tiga jam.
Tok,tok,tok.
Luna tersentak kaget dan langsung bangkit berdiri dan berkata, "Astaga! Jarvish sudah balik. Aku harus segera membuka pintu dan kembali ke kamarku. Bagaimana aku menghadapinya, ya? Aku masih merasa malu dengan perbuatanku tadi" Luna menggigit bibir bawahnya sambil berjalan pelan untuk membuka pintu.
Plak!
Tamparan keras langsung mendarat di pipi Luna. Luna tersentak kaget saat ia melihat mamanya Jarvish berdiri di depannya dengan wajah garang dan semakin terkejut saat ia melihat siapa yang berdiri di belakang mamanya Jarvish dan pria itu menatapnya dengan wajah penuh amarah.
"Kau lihat, kan, Joshua. Dia wanita murahan. Dia berpacaran dengan kamu, tapi tidur dengan Jarvish. Dasar wanita menjijikkan"
"Aku kecewa sama kamu Luna. Aku sungguh kecewa sama kamu" Joshua menatap Luna dengan jijik