
Rika buru-buru keparkiran, ia tak tau kalau di sampingnya ada Adit. Adit sudah duluan ke parkiran ia juga sedang mengambil motornya.
"Rika..." tegur Adit. Tapi Rika tak menggubris panggilan Adit.
"Mau kemana buru-buru?" tanya Adit lagi, tapi lagi-lagi Rika tak menghiraukannya. Ia mencoba menghidupkan motornya, tapi sialnya motor Rika tak bisa di hidupkan.
"Sialan! Kenapa lagi ini motor." gumam Rika kesal. Ia mencoba mendorong motornya, ia mencoba mengindari Adit, tak mau dekat dengan Adit, takut perasaan sayangnya muncul lagi. Tapi Adit menghampiri Rika.
"Biar aku bantu hidupkan." ucap Adit sambil memegang motor Rika.
"Tidak usah."ucap Rika ketus sekali pada Adit. Rika lalu pergi membawa motornya. Dijalan, Rika mencoba menghidupkan lagi motornya, untung motor Rika bisa kembali hidup.
"Kenapa cewek itu, kenapa dia ketus sekali." ucap Adit heran, dia tidak tau kalau Rika mendengar percakapannya kemarin. Aditpun melaju dengan motornya. Adit mengikuti Rika diam-diam dari belakang. Rika sangat kencang membawa motornya ia sangat sedih mendengar percakapan waktu itu. Ia tak habis pikir, sikap baik Adit hanyalah kebohongan belaka.
"Untuk apa aku memikirkan pria yang tidak penting." gumam Rika lalu menangis. Rika tiba-tiba tidak bisa mengendalikan sepeda motornya ia terjatuh dari motornya.
"Aaaa... " teriak Rika. Adit yang mengikuti nya dari tadi terkejut dan langsung menghampiri Rika.
"Kamu kenapa Rika? Kenapa kamu terlihat sangat kacau?" ucap Adit langsung menolong Rika. tapi Rika buru-buru melepaskan tangan Adit.
"Gakpapa, aku gak kenapa-kenapa. Aduhh... " Rika terlihat sangat kesakitan.
"Gakpapa gimana? Itu tangan kamu berdarah!" ucap Adit lalu mengambil tangan Rika.
"Ayo aku bantu, kita ke rumah sakit." ucap Adit. Rika menolak lagi.
"Kamu kenapa ngeyel sih, sudah gak usah nolak lagi." ucap Adit lalu menggendong Rika.
"Lepasin, Kak!" Rika mencoba melepaskan Adit. Tapi tenaga Adit tentu saja lebih kuat. Adit sudah memesan taksi online.
"Motorku gimana, Kak?" ucap Rika khawatir dengan motor nya.
"Gak usah takut, nanti biar Diki yang ambil." ucap Adit. Taksi online yang di pesan Adit sudah datang, mereka pun langsung pergi kerumah sakit.
"Aku gak mau ke rumah sakit, aku mau pulang aja, kalau ke rumah sakit pasti dokter bilang aku luka nya parah biar biaya nya jadi mahal." ucap Rika di dalam mobil.
"Jangan bawel." ucap Adit.
Sesampainya di rumah sakit tangan Rika di jahit dan kaki nya juga sudah di obati. Dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Adit langsung pergi ke kasir untuk menyelesaikan administrasi. Lalu Adit mendatangi Rika yang sedang duduk di ruang tunggu. Rika hanya diam, ia tak sedikit pun memandang Adit.
"Biar kuantar pulang ya, aku sudah menyuruh orang di rumahku mengantar kan mobil ke sini tadi." ucap Adit mencoba mengajak Rika berbicara.
"Gak usah, Kak, makasih aku pulang sendiri aja." Rika lalu berjalan keluar rumah sakit. Adit mencoba mengejarnya.
"Kamu kenapa sih Rik, aku jadi bingung. Aku salah apa sama kamu?" tanya Adit. Rika hanya diam, tak terasa air matanya mengalir.
Adit pun makin bingung.
"Huhu... Kenapa Kakak nolong aku? Kenapa Kakak selalu baik padaku? Aku tau Kakak juga gak suka sama aku. Sama seperti teman-teman Kakak yang lainnya. Aku mendengar semua percakapan kalian didekat perpustakaan kemarin!" ucap Rika. Ia tak sanggup menahan air matanya.