Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 67



Adit berhenti didepan minimarket, ia membeli minyak angin untuk Rika. Semua orang melihatnya heran, karna hampir setengah bajunya basah oleh minuman soda.


"Mas tampan, itu bajunya kenapa?" tanya pegawai minimarket yang mengambilkan minyak angin.


"Ini bekas muntah." ucap Adit datar.


Pegawai itu hanya tertunduk lesu. Berniat memburu, tapi nampaknya pria yang berdiri didepannya itu sudah memiliki istri. Ia memberikan minyak angin itu dan mengembalikan uang Adit. Adit buru-buru masuk kedalam mobil. Rika sudah memejamkan matanya.


"Rika..."


Rika menoleh pria tampannya itu, kepalanya masih terasa sakit sedikit. Rasa mual juga masih ada.


"Pakai ini dulu." Adit memberikan minyak angin yang dibelinya tadi.


Rika memberi kode pada Adit supaya membalik badan. Rika menggosokkan minyak angin perut dan belakangnya.


"Sudah?" tanya Adit.


"Belum."


"Kenapa lama?" ucap Adit yang masih membelakangi Rika.


"Kenapa Kak Adit begitu cerewet." Rika mendumal.


Adit hanya tersenyum mendengar ucapan Rika.


"Kak Adit, ayo pulang."


"Sudah selesai?" Adit membalik badannya ke posisi normal.


"Kenapa bisa minum soda sebanyak itu, apa karna aku? Aku minta maaf Rika."


"Kak Adit..."


"Ya..."


"Ak... aku mau mengembalikan kamera ini. Sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini." ucap Rika lemas.


Adit menghela napasnya, mengusap wajahnya gusar, bukan kali ini saja ia mendengar ucapan itu dari Rika.


"Kenapa selalu bicara seperti itu. Sampai kapanpun aku tak akan melakukannya. Tolong dengar penjelasanku dulu."


Rika menahan air matanya. Mencoba tidak mengeluarkan air dari pelupuk matanya sedikitpun. Rasa sakitnya saat melihat foto itu datang lagi.


"Di hotel itu, memang hanya tersisa satu kamar. Aku sempat berniat mencari hotel lain, tapi hari sudah malam dan hujan sangat deras." jelas Adit.


"Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa, Fina tidak tidur bersamaku, kamar itu mempunyai ranjang terpisah. Setelah sadar ia mendekatiku, aku tidak tidur sedikitpun. Tolong percayalah." Adit meraih tubuh gadis lugunya itu.


"Aku tidak tau harus bicara apa lagi. Aku bingung. Sungguh akhir-akhir ini, aku sangat merindukanmu. Tapi mungkin hanya aku yang merasakannya." ucap Rika, hatinya meluap dan tak bisa membendung air mata yang sejak tadi sudah memberontak untuk keluar.


"Rinduku bahkan lebih besar darimu." Adit memeluk erat perempuan berkaos biru itu. " Maafkan aku, Rika."


Rika menatap Adit, mendekati wajahnya perlahan. Membuat pria manis itu tertegun. Rika memuntahkan kembali sisa minuman soda yang ia minum, kini baju yang dikenakan Adit basah sepenuhnya.


"Maaf."


"Tidak apa-apa. Apa kita harus kerumah sakit?" tanya Adit panik. Ia tak peduli dengan bajunya yang sudah kotor sekali.


"Tidak usah, aku sudah baikan. Pusingnya juga sudah hilang. Bangunkan aku kalau sudah sampai." Rika memundurkan badannya dan mulai memejamkan mata.


***


"Biar aku yang ambil." Adit mengambil kunci motor yang ada ditangan Rika.


Rika duduk di depan supermarket, ia merasa sangat hambar hari ini. Aneh, padahal saat ini ia bisa menikmati weekend bersama pria yang ia sayangi. Apa mungkin karna masih canggung dengan pertemuan tidak wajar semalam, pikirnya.


Apa aku harus minta maaf sama kak Adit. Aku membuat baju kak Adit sangat kotor semalam.


Rika dikejutkan dengan klakson motor disampingnya. Adit sudah membawa motor Rika.


"Hari ini mau kemana?" tanya Adit yang sudah siap menarik gas.


Adit mengangguk, mobilnya sudah ia titipkan di Enjoymart. Masih ingat, orangtua Devan adalah kolega Papanya. Kini Enjoymart bukan lagi tempat yang asing baginya.


"Terserah." Kata ampuh seorang perempuan keluar dari mulut Rika.


"Yang benar? Ya sudah ayo pergi."


Rika memakai helm dan menaiki motornya. Adit membawanya entah kemana, Rika hanya menuruti Adit. Adit memasuki tempat pemakaman umum, ia membawa Rika ke makam ayahnya. Rika tak bisa menahan air matanya. Sedih dan terharu dengan perlakuan Adit. Ia sesekali melirik Adit yang sedang memanjatkan doa untuk orang yang akan menjadi ayahnya nanti.


"Aamiin."


"Ayah... Saya berjanji akan selalu menjaga Rika sampai kapanpun." Adit memegang batu nisan yang bertuliskan Riyadi itu.


Sungguh Rika tak bisa menebak apa yang sudah terjadi hari ini. Adit menarik tangannya, membawanya ke sebuah taman bunga matahari. Rika belum pernah menginjak taman ini.


"Wahhh... Ini sangat indah. Aku lupa bawa kamera."


"Hmm... Mulai jiwa fotografermu keluar." ucap Adit tersenyum gemas.


"Kak Adit, aku minta maaf atas kejadian semalam." Rika mendongak, menatap wajah Adit dengan penuh rasa sayang. "Dan yang Kakak lakukan tadi... Itu sungguh membuatku terharu." Rika langsung memeluk pria tampannya itu di tengah hamparan bunga berwarna kuning itu.


"Aku juga minta maaf. Lain kali aku akan lebih teliti terhadap Fina." Adit memejamkan matanya, rasa bahagianya saat ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia membalas pelukan pelukan hangat dari gadis lugunya itu.


"Cepatlah selesaikan kuliahmu, biar kita bisa segera menikah." ucap Adit spontan.


Rika memukul dada bidang milik Adit.


"Kalau aku tidak mau, gimana?"


"Aku akan terus mengejarmu."


Mendengar kalimat itu, rasa hambar yang ia rasakan sebelumnya menjadi sangat manis sekali detik ini. Mana mungkin ia menolak Adit, apalagi sok jual mahal seperti itu.


"Siapa yang tidak mau dengan idolanya sendiri." gumam Rika diiringi dengan senyumnya.


"Aku dengar itu." ucap Adit.


"Biarin." Rika terkekeh. Ia tak peduli jika Adit mendengarnya, memang itu yang ia inginkan.


Mereka duduk sambil menikmati cuaca sore yang lumayan cerah itu. Adit mengeluarkan ponselnya. Memencet kamera, ia ingin mengabadikan momen romantis ini. Mereka mengambil beberapa foto. Rika tentu saja jaim untuk bergaya. Ia harus mengatur senyumnya agar terlihat bagus di kamera.


"Kamu terlalu kaku." ucap Adit.


Jelas saja kaku, wajah pria tampan itu sungguh membuatnya minder. Kenapa wajah itu makin terlihat sangat manis di depan kamera.


"Sekali lagi, ya." pinta Adit.


Rika mengangguk. Saat Adit mengambil fotonya, tiba-tiba Rika mendekatkan wajahnya ke Adit. Mencium pipi mulus itu, membuat si empunya tertegun. Foto sudah diambil tapi Adit masih diposisi tadi. Ia tak menyangka gadis lugunya kini sudah seberani itu.


"Ini hasil yang paling bagus." Adit menoleh Rika yang kini malu setengah mati. Rika yakin, kini wajahnya pasti sudah mirip kepiting rebus. Merah.


"Mau foto lagi?" tanya Adit. "Aku belum melakukan seperti yang kamu lakukan tadi." goda Adit.


"Tidak mau."


"Oh, mau main curang ternyata." Adit menggelitik gadis lugunya itu. Rika tak bisa menahan tawanya.


"Kak Adit sudah hentikan, aku lapar." ucap Rika yang masih mengatur napasnya.


"Baiklah, ayo kita makan." Ajak Adit.


Mereka pergi ke sebuah restoran seafood kesuakaan mereka Rika.


"Enak banget kalau minumnya soda, nih." Rika menggosok kedua tangannya. Ia seolah lupa dengan kejadian semalam.


"Jadi, mau seperti tadi malam lagi?" Adit mengeluarkan tatapan tajam.


"Dikit aja. Aku janji, tidak akan mengotori baju Kakak seperti tadi malam." Rika menegakkan jari telunjuk dan jari tengahnya hingga membentuk huruf V.


"Bukan itu masalahnya, pikirkan nyawamu." Adit mencubit pipi Rika gemas. Ia tak akan memperbolehkan Rika minum air soda lagi, walau hanya setetes.