
Dua orang paruh baya sedang duduk bersantai menikmati kopi hangatnya. Cuaca dingin malam ini sepertinya sangat cocok bagi Pak Arsan dan Pak Bima untuk berbincang soal bisnis mereka.
"Gimana kinerja Fina dikantormu? Apa dia disiplin?" tanya Pak Bima lalu menyeruput kopi arabika nya.
"Sejauh ini bagus, Bim."
"Dia memang harus belajar mandiri. Saya harap, Adit mau membimbingnya." ucap Pak Arsan tersenyum.
"Pasti Adit akan melakukannya." Pak Arsan membalas senyum salah satu insvestornya itu.
"Apa Adit sudah punya calon istri?"
Pak Arsan hanya tersenyum tipis.
"Sepertinya hubungan kita bisa lebih dari ini." tambah Pak Bima.
"Kalau masalah hati, saya serahkan sepenuhnya dengan Adit." Pak Arsan menyeruput kopinya.
"Yah saya tau, Ar. Biar hubungan kita lebih dekat lagi maksudnya." ucap Pak Bima.
Pak Bima memang ingin menjodohkan Fina dengan Adit. Mengingat Pak Arsan adalah pengusaha yang hebat. Mereka akan saling melengkapi, pikirnya. Tapi respon Pak Arsan masih sama, terlalu biasa. Ia sepertinya memang tidak ingin mencampuri urusan jodoh anaknya. Tidak mengekang.
Pak Arsan tak mau dipusingkan dengan masalah yang menurutnya sepele, lagipula ia tak akan mengekang atau mengatur Adit. Ia sudah tau sejak awal pembicaraan ini mengarah ke masalah perjodohan anaknya.
Setelah satu jam obrolan di kafe itu, Pak Arsan menjabat tangan koleganya itu. Ia pamit pulang. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak nyaman dengan obrolan tadi. Ia tau sekali bagaima sifat Pak Bima. Selalu memaksakan kehendak.
***
"Kamu suka sama Adit?" Pak Bima sudah berdiri disamping Fina.
Fina hanya menyerngit, ada apa dengan Papanya malam ini.
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"
"Kalau memang suka, biar Papa bantu kamu mendekatinya." ucap Pak Arsan lalau duduk disamping anak bungsunya itu.
"Ha? Tumben. Biasanya Papa tak pernah mengurusi hidupku." ucap Fina. Ia memang tidak akrab dengan Papanya. Jangankan memberi perhatian layaknya orangtua lain, bahkan Pak Bima jarang sekali pulang. Entah pergi kemana. Heran, Bu Elvi tahan dengan sikap suaminya itu.
"Memangnya selama ini Papa kerja bukan untuk kamu?" Pak Bima menghidupkan rokok yang sudah dipegangnya.
"Tumben aja, biasanya kan Papa ga pernah negur Fina. Apa Papa ada maksud lain?"
Pak Bima hanya menghembuskan asap rokoknya. Ia lalu pergi tanpa sepatah kata lagi. Yah, seperti itu lah sifat Pak Bima. Ia jarang sekali berbicara dengan Bu Elvi atau anggota keluarganya yang lain.
Dulu saat Firhan kakaknya Fina mau menikah saja, Firhan sangat sulit untuk menemuinya. Pak Bima hanya menganggapnya sepele. Firhan juga sempat ingin menikah tanpa restu Papanya itu, tapi Bu Elvi tidak memperbolehkan.
Fina kadang juga menyesali keadaan keluarganya. Diluar tampak sangat harmonis, tapi tak sesuai dengan kenyataan. Ia bahkan sangat haus kasih sayang dari seorang Papa. Semenjak bertemu dengan Adit dibangku SMA, ia mulai tertarik dengan perhatian yang Adit berikan padanya. Membuat ia ingin sekali memiliki pria berpostur badan tinggi itu. Tapi Adit tak pernah membalas perasaannya.
"Makan dulu, Fin." Bu Elvi berjalan mendekati Fina.
"Masih kenyang, Ma." Matanya hanya menatap kolam renang dengan tatapan kosong.
"Kamu kenapa?" Bu Elvi mengelus rambut Fina.
"Papa aneh."
Bu Elvi mengernyit. Kenapa dengan Papanya Fina, pikirnya. Ia lalu duduk disamping anak bungsunya itu. Memberi waktu luang untuk Fina bercerita.
"Tiba-tiba Papa mau menjodohkan Fina dengan Adit."
"Bagus dong, itukan yang kamu mau." ucap Bu Elvi tersenyum.
"Fina yakin, pasti Papa punya maksud lain. Papa kan selalu begitu, ia hanya memikirkan kepentingannya sendiri."
"Jaga mulutmu, itu Papa kamu. Tidak boleh bicara seperti itu."
"Memang begitukan kenyataannya." Fina lalu pergi ke kamarnya. Ia sudah sangat kesal dengan perbincangan seperti ini. Saat seperti ini, ia sangat membutuhkan support dari seseorang yang dicintainya.
***
"Kak Adit." Rika melongo melihat pria tampannya sudah berdiri di depannya.
"Kok, kaget?"
"Kenapa tidak bilang kalau mau jemput?"
"Siapa yang mau jemput kamu, aku kesini mau pesan nasi gemuk buat sarapan pagi."
"Oh." ucap Rika kesal, ia lalu mengambil motornya. Tapi Adit menyambar tangannya. Gadis lugunya itu sensi sekali.
"Gitu aja ngambek, aku saja yang udah jarang kamu bawain nasi gemuk aja gak ngambek." ucap Adit tersenyum.
"Maafin aku, Kak Adit. Besok aku janji bawain makan siang buat Kakak." Rika mengacungkan jari kelingkingnya.
"Aku bercanda, aku tau kamu juga sibuk."
"Jadi gitu, aku tidak boleh lagi main ke kantor Kakak?"
"Dasar gadis luguku ini selalu berpikir negatif."
Di dalam mobil, Rika hanya diam. Seperti biasa, masih saja kaku. Tidak bicara jika Adit tak memancing duluan.
"Gimana kuliahmu, lancar?"
"Sejauh ini baik."
"Pekerjaanmu?" tanya Adit lagi.
"Seperti biasa. Semuanya baik." ucap Rika tersenyum.
"Baguslah." Adit membalas senyum Rika.
Adit melambaikan tangannya pada Rika hingga berlalu. Ia ingin cepat sampai ke kantor, perutnya sudah demo mau makan nasi gemuk buatan sang camer.
Jeni sudah menunggu Rika di mobil berwarna kuning miliknya. Ia melihat Rika sedang berjalan ke arahnya. Raut wajah Rika sudah memancarkan senyuman pagi ini. Pasti ia di antar oleh sang pujaan hati, pikir Jeni.
"Diantar sama kak Adit?" Jeni keluar dari mobilnya.
Rika menarik kedua sudut bibirnya.
"Sudah kuduga, terlihat dari raut wajahmu."
***
Di ruang sekretaris, Fina sedang membereskan berkas yang akan diberikan ke Adit. Ia tiba-tiba teringat ucapan Papanya semalam. Apa benar Papa akan menjodohkannya dengan Adit, pikirnya. Setelah pembicaran singkat tadi malam, ia sudah tak melihat batang hidung Pak Bima pagi ini.
"Mungkin tadi malam Papa hanya kebanyakan menghisap asap rokok, makanya mau ngomong sama aku." gumam Fina.
Fina terdiam sejenak. Tanpa ia sadari, air matanya sudah menetes membasahi pipi. Entah kenapa ia kepikiran sikap papanya selama ini.
"Fin, berkasnya..." Adit tidak melanjutkan ucapannya, karna melihat Fina yang menangis.
Merasa penasaran, Adit mendekati Fina. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa pekerjaan yang terlalu banyak, membuat temannya itu kelelahan dan tidak sanggup lagi.
"Kamu kenapa?"
"Eh, Dit. Tidak apa-apa."
"Apa kamu tidak betah kerja disini?"
"Tentu saja aku sangat betah. Maaf ya, Dit. Aku kepikiran sikap papaku selama ini. Ternyata rasanya sesakit ini ya, tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah."
"Hey, Papa kamu pasti sangat menyayangi anaknya." Adit mengelus pundak sekretarisnya itu. Karna ia tau sekali permasalahan pak Bima dan Fina.
Fina hanya tersenyum. Kali ini semangat untuk mendekati Adit tidak terpikir olehnya. Biasanya sedikit saja ada kesempatan, ia akan mencari perhatian sama Adit.
"Oh iya, Dit. Ini berkas yang kamu minta tadi, sudah aku selesaikan." Ia memberi map berwarna merah pada Adit.