Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 50



"Ah sial! Ini semua memang salahku, aku sudah berjanji melindunginya. Tapi malah aku yang membuatnya kecewa." Adit memukul setirnya.


Dikejauhan, ia melihat perempuan yang sedang duduk di pinggir jalan. Sudah pasti itu Rika, dengan cepat Adit melajukan mobilnya mendekati gadis itu. Ia lalu turun dan menghampiri Rika.


"Kenapa nekat pulang jalan kaki? Aku sudah mencari kamu kemana-mana."


"Tidak apa-apa, sepertinya pesta semegah itu memang tidak cocok untukku. Buktinya, Kakak lebih memilih Fina untuk menemani Kakak menemui orangtua Mas Devan." ucap Rika menunduk.


"Maaf... Aku tak bermaksud meninggalkanmu tadi. Aku di paksa Fina, dia bilang kamu juga lagi sibuk dengan teman kerjamu."


Rika menoleh Adit dengan tatapan kesal. Apa maksud ucapan Adit? Kenapa ia tak bisa tegas dengan Fina. Kenapa dia begitu mudahnya mempercayai ucapan Fina. Rika hanya menghela napasnya, ia tak sanggup untuk bicara lagi.


"Ayo pulang." Adit memegang tangan Rika.


"Kakak balik ke pesta saja, pasti Kak Fina menunggu Kakak disana." Rika tak beranjak. Ia melepaskan tangan Adit.


"Oh jadi berani pulang sendiri malam-malam begini? Kamu tau kan disini angker."


"Berani." Rika lalu berdiri dan berjalan beberapa langkah, kuduknya terasa merinding. Ia seketika menjadi penakut, jika ditakuti seperti tadi. Ia berbalik ke arah Adit, lalu masuk mobil tanpa permisi. Membuat Adit senyum melihat tingkah gadis lugunya itu.


"Coba kulihat kakimu." Adit menunduk lalu memegang tumit Rika.


"Aww..." Rika meringis kesakitan.


"Kenapa Kakak tak bisa tegas dengan Kak Fina? Kenapa Kakak selalu menuruti kata-katanya?" Rika memberi pertanyaan yang membuat Adit terdiam. Yang di katakan Rika meman benar.


"Bukan gitu, tapi..."


"Oh aku tau. Kakak tadi malu kan, memperkenalkan aku ke orangtua Mas Devan. Karna Kak Fina lebih pantas di samping Kakak."


"Hey, kamu ini ngomong apa? Aku tak pernah berpikir demikian." Adit menatap Rika dalam.


"Cobalah bersikap tegas pada Kak Fina. Aku tau, aku tak berhak bicara seperti ini. Tapi, tolong hargai perasaanku."


"Maafkan aku, kamu sangat berhak bicara itu padaku. Karna aku ini milikmu." Adit memeluk gadis lugunya itu.


Seketika suasana langit menjadi gelap, bintang yang bertebaran sudah pergi meninggalkan bulan, yang juga di telan awan hitam. Rintik-rintik air bening yang turun dari langit, membasahi mobil sport berwarna hitam itu. Rika memalingkan wajahnya ke arah luar jendela, ia sangat menikmati hujan yang turun di saat yang tepat.


"Masih mau menikmati hujan?" tanya Adit.


Rika hanya mengangguk, ia seolah lupa kalau pacarnya trauma dengan hujan.


"Baik, aku tunggu."


Adit menyandarkan kepalanya di jok, ia harus menuruti kehendak Rika, untuk menebus kesalahannya tadi. Kepalanya terasa sedikit pusing, ia mencoba melupakan tarumanya terhadap hujan. Mungkin ini cara yang tepat untuk mengilangkan traumanya. Tapi ini sangat berat sekali, apalagi sekarang dia berada di dalam mobil dan di pinggir jalam. Sama persis dengan kejadian lima tahun silam.


Rika menoleh Adit yang sedang memejamkan matanya, ia melihat Adit sedang memegangi kepala.


"Kak Adit pusing ya?"


"Tidak apa-apa Rika." ucap Adit lalu membuka matanya.


"Ayo kita pulang saja."


"Baiklah."


***


"Kacau." ucap Rika memasang muka kecewa.


"Kenapa?"


"Disana ada Kak Fina."


"Dasar si ular kobra, selalu ada diman-mana." Jeni tak kalah kesal jika mendengar nama itu.


Mereka berjalan menuju ruang kelas. Rika sedikit lega, karna hari ini tidak ada kelas bahasa inggris. Jadi, ia tak akan bertemu Adit.


"Nanti temani aku ke rumah dokter Verza ya." bisik Jeni di tengah suara Pak Ilham yang sedang menerangkan materi.


"Ngapain?"


"Mau beli vitamin lagi lah."


"Modus."


Jeni hanya nyengir tak jelas, yang di katakan Rika memang benar. Beli vitamin hanya alasannya saja, padahal yang kemarin masih ada.


Dokter Verza sedang duduk di apoteknya, Ia terkejut saat melihat di depannya sudah ada dua perempuan. Tanpa basa-basi, Jeni langsung menanyakan kabar dokter ganteng itu.


"Ada perlu apa ya?" tanya Dokter Verza.


"Mau beli vitamin lagi, Dok." ucap Jeni dengan senyum terbaiknya. Agar bisa dinikmati Dokter Verza.


"Oh sebentar, saya ambilkan." ucap Dokter beralis tebal itu, tatapannya membuat Jeni meleleh.


"Dokter masih ingat sama aku tidak?" tanya Jeni.


"Oh masih kok, Jeni kan?"


Dokter Verza berpura-pura mengingat nama Jeni. Padahal, ia sama sekali tak lupa dengan pandangan pertamanya dengan Jeni waktu itu. Mungkin bisa jadi love at first sight baginya. Rika hanya geleng kepala melihat tingkat sahabatnya itu, ia perlu banyak belajar bagaimana bisa se-pede itu.


"Em, Dokter. Saya boleh minta nomor WA? Maksudnya, kalau ada apa-apa atau darurat gitu saya bisa menghubungi dokter. Biar kalau mau beli vitamin atau obat yang lainnya bisa langsung menhubungi dokter juga. Kalau boleh sih."


"Tentu."


Dokter Verza mengulurkan ponselnya ke Jeni, dengan cepat Jeni mencatat nomor itu. Entah kenapa Dokter Verza merasa nyaman saja jika bicara atau bertatapan dengan Jeni. Mungkinkah ini jodohnya?


Sekitar dua puluh menit lalu Jeni dan Rika meninggalkan apotek. Tapi wajah manis Jeni masih terbayang di kepala Dokter Verza. Fiks, ia memang menyukai gadis berbibir tipis itu.


***


Rika menarik tangan kirinya, ia melihat jam tangannya sudah munjukkan pukul setengah sembilan malam, ia bergegas menempelkan ibu jarinya ke fingerprint di pintu masuk supermarket, pertanda jam kerjanya telah habis.


Hari ini ia memakai motor sendiri, entah mood nya yang memang kadang labil, atau hatinya merasa masih terluka mengingat kejadian malam itu. Tapi yang jelas, ia tak mau di antar Adit. Melihat wajah Adit, ia pasti teringat Fina, yang membuatnya sakit hati.


Diperjalanan, Rika merasa di buntuti oleh seseorang di belakangnya, suara mobil itu sudah tidak asing lagi di telinganya, ia yakin ini suara mobil yang sering ia tumpangi. Rika melihat spion kanannya, ia tersentak melihat mobil sport hitam di belakangnya. Rika seketika menarik gasnya hingga seedometer menunjukkan angka 60 km.


Adit tak kalah ngebut. Ia tau, pasti Rika masih ingin menghindarinya. Ia sengaja mengikuti Rika malam ini, rasa khawatir selalu menghampiri jika tak bersamanya.


Rika bergegas memasukkan motornya, tanpa menoleh mobil Adit, ia langsung menutup pintunya. Tapi Rika tak langsung benar-benar masuk ke kamarnya, ia melihat dari jendela ruang tamu, mobil Adit sudah menjauh dari rumahnya.


Adit merasa kecewa dengan dirinya sendiri, mengapa ia selalu menyakiti orang yang di sayanginya. Tapi disisi lain, ia jugat tak bisa menolak pertemanan yang sudah lama dengan Fina. Ia tak mungkin menjauhi Fina begitu saja, biar bagaimanapun ia dan Fina juga sudah berteman lama. Hanya teman, tak lebih. Walaupun ia tau, Fina mempunyai perasaan lebih terhadapnya. Entah kenapa, hatinya selalu menolak, jika Fina ingin menjadi orang spesial dihidupnya.