
Sudah seminggu berlalu. Hari ini adalah hari paling bahagia bagi Adit, akhirnya ia mendapatkan gelar sarjana. Ia sudah tak sabar untuk melempar mortarboadnya nanti. Adit sudah berdiri didepan kaca kamarnya, berdiri tegap dengan baju dan toga wisudanya. Sungguh menambah level ketampanan cowok tinggi itu.
Pak Arsan dan Bu Niken juga sudah bersiap-siap, memakai batik dengan warna senada layaknya baju couple. Acara wisuda akan dimulai setengah jam lagi, mereka bertiga pun berangkat ke kampus.
Rika juga bergegas ke kampus, ia sudah tak sabar ingin melihat pria tampannya saat wisuda. Ini hari paling bahagia sekaligus sedih juga, karna ia tak akan menemukan Adit lagi di kampus, tidak akan makan bersama lagi di kantin ataupun bercengkrama di taman kampus seperti biasa. Waktu sungguh cepat berlalu, tak terasa hubungannya dengan Adit sudah sejauh ini. Lika-liku dan masalah sudah sering ia dan Adit alami, terutama masalah status mereka yang berbeda jauh. Bagaikan langit dan bumi.
Semua mahasiswa sudah berkumpul di aula kampus Street, termasuk Fina. Fina memang sengaja duduk di dekat Adit. Tak lama acara dimulai, Pak Darma sudah berdiri didepan untuk mengumumkan siapa saja mahasiswa yang lulus dengan nilai tertinggi. Tak heran lagi nama pertama yang dipanggil adalah Aditya Vareplint, ia lulus dengan nilai tertinggi. Pak Arsan dan Bu Niken hanya bisa tersenyum haru, melihat anaknya berdiri didepan. Adit lulus dengan predikat cum laude.
"Papa dan Mama bangga sekali sama kamu." ucap Bu Niken lalu mengecup pipi anaknya itu. Disusul dengan tepukan pelan oleh Pak Arsan dipundak Adit. Adit memeluk kedua orangtuanya itu.
"Siap menerima tantangan kedepannya?" Pak Arsan melirik Adit.
"Siap, Pa." Adit menaikkan tangan ke keningnya, memberi hormat gerak pada Papanya.
"Hay, Om, Tante." Fina mendatangi mereka. Menyalami tangan Pak Arsan dan Bu Niken.
"Selamat ya, Fin." ucap Bu Niken tersenyum pada anak temannya itu.
"Makasih, Tante."
"Dit, gabung sama teman-teman lain yuk." ajak Fina menoleh Adit. Tapi Adit menolak, ia sedang menunggu Rika menghampirinya.
Rika agak berlari kecil menuju taman kampus, ditangannya sudah ada parsel berisi keripik kentang kesukaan Adit, yang memang sengaja dibuatnya semalaman. Ia datang menghampiri Adit, lalu mencium punggung tangan Pak Arsan dan Bu Niken.
"Apa kabar, Sayang?" tanya Bu Niken.
"Alhamdulillah baik, Ma." ucap Rika tersenyum.
"Wah Dit, apa perlu pulang dari sini kita langsung kerumah Rika?" tanya Pak Arsan menggoda Adit.
Adit hanya tersenyum malu, dalam hatinya ia mau sekali, bagai mendapat keuntungan berlipat. Setelah wisuda, ia juga mendapatkan pendamping hidup. Rika membulatkan bola matanya, mencoba mencerna ucapan Pak Arsan. Apa yang dimaksud oleh Pak Arsan?
"Papa ini, Rika kan harus menyelesaikan kuliahnya dulu." tambah Bu Niken, membuat Rika makin salah tingkah didepan keluarga ini.
Pak Arsan dan Bu Niken pergi ke Mall Jorney duluan untuk sesi pemotretan, sekaligus ingin membeli sembako untuk dibagikan ke panti asuhan binaan Pak Arsan. Adit sengaja tidak bareng mereka, ia masih ingin bersama gadis lugunya itu. Ia memang ingin berkeliling mengendarai dengan motor Rika.
"Ini parsel spesial untuk Kakak." Rika menyodorkan parsel berwarna hijau itu pada Adit.
"Terima kasih, Sayang." Adit lalu memeluk Rika.
Deg, seketika detak jantung Rika menjadi tidak normal, panggilan itu sungguh membuatnya ingin berteriak. Senang.
"Sama-sama... Sayang." Entah kenapa kata sayang itu dengan mudah keluar dari mulutnya hari ini, tanpa gagap.
"Mau melempar topi wisudaku?"
"Benarkah?"
Adit menundukkan kepalanya, menyuruh Rika mengambil dan melempar topi itu. Dengan hati-hati Rika mengambilnya, lalu melempar topi itu. Saat melempar, sebuah kecupan manis juga datang dipipinya. Seketika dirinya menjadi mematung. Ia yakin, detak jantungnya berhenti untuk beberapa detik. Adit hanya tersenyum melihat ekspresi gadis kesayangannya itu.
"Ayo kita susul Papa sama Mama di Mall." Adit menarik tangan Rika, si empunya masih terbayang kejadian dua menit yang lalu.
"Kak Adit, kenapa mau pakai motor. Kan mau foto, nanti berantakan loh." celetuk Rika diatas motor.
"Aku mau menikmati udara siang ini." ucap Adit mengambil tangan Rika lalu melingkarkan ke pinggangnya. "Bersama gadis luguku."
Rika memejamkan matanya, ini serasa mimpi yang jadi kenyataan.
"Ayo dimakan Rika, jangan malu-malu." ucap Bu Niken.
Rika hanya mengangguk diikuti dengan senyum dibibirnya.
***
Rika mengenakan sepatu All Star nya. Pagi ini ia membawa motor sendiri, karna Adit diajak Papanya ke kantor. Hanya melihat-lihat dan mempelajari terlebih dahulu, sebelum menjalankan tugasnya. Ini terasa sangat berbeda sekali, biasanya jam segini Adit sudah nangkring didepan halaman rumahnya. Baru pagi ini tidak ketemu saja, Rika sudah rindu dengan wajah manis Adit. Rika menyalami Bu Nur, ia pamit ke kampus.
"Tidak dijemput Adit?" tanya Bu Nur.
"Tidak Bu, Kak Adit lagi sibuk." ucap Rika.
"Jangan cemberut gitu dong." ucap Bu Nur meledek anaknya itu.
"Apaan sih Bu, siapa yang cemberut." ucap Rika diiringi tawa pelannya.
Jeni sudah menunggunya dikampus, hari ini mereka memang ada janji pergi ke toko buku.
"Gimana Adit?"
"Apanya?"
"Aku lihat kamu pergi sendiri hari ini." ledek Jeni.
"Kak Adit diajak Papanya ke kantor."
"Sudah jadi orang kantoran ya, bahaya tuh! Kamu tau kan, nanti pasti Adit punya sekretaris. Apalagi pegawainya banyak perempuan." ucap Jeni dengan ekspresi meyakinkan.
"Ah kamu ini, selalu saja membuatku khawatir." Rika menepuk pundak sahabatnya itu.
"Hahaha... Santai aja kali, dasar bucin." Jeni tak bisa menahan tawanya.
"Kamu juga bucin, kali." balas Rika.
Jeni memang selalu menakutinya, tapi dibalik sikapnya yang barbar. Dia selalu mendukung Rika. Itulah yang membuat Rika betah bersahabat dengan cewek bermata bulat itu. Apapun keluhannya, ia selalu membaginya dengan sahabatnya itu.
Setelah membeli buku, dua sahabat itu berpisah. Rika bergegas menuju supermarket, dan Jeni sudah pulang duluan. Entah pulang atau mampir dulu ke apotek dokter Verza, menemui gebetannya.
***
Adit sudah menunggu di depan Enjoymart, ia menunggu sang pujaan hatinya keluar dari supermaket. Adit memang tak mengabari Rika, kalau ia mau menjemput Rika.
Rika mengambil motornya lalu pulang, ia tak asing dengan mobil yang mengikutinya dari tadi, itu pasti Adit. Sesampainya dirumah, ia sengaja berhenti dihalaman. Adit pun juga turun dari mobil.
"Kenapa menjemputku?"
"Aku khawatir kalau kamu pulang sendiri."
"Tidak apa-apa kok, Kak." ucap Rika tersenyum.
"Pokoknya aku tidak mau terjadi apa-apa sama gadis luguku." Adit menatap Rika, membuat Rika bertingkah tak jelas.
"Sudah malam, kamu pasti lelah. Masuklah." ucap Adit.
"Iya, Kak." Rika lalu melambaikan tangannya, melihat mobil Adit perlahan menjauh.