Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 71



Hari demi hari Fina semakin merasa tak karuan. Upayanya mengejar cinta Adit selalu saja gagal. Ia berjalan menuju ruangan Adit, mengantar beberapa berkas. Di meja Adit banyak sekali terlihat foto-foto kemesraannya bersama Rika. Fina melihat foto itu satu per satu. Saat ia memegang salah satu foto di sudut meja itu, ia menemukan surat kecil yang terselip dibingkai foto.


Akhirnya rasa bersalah ini bisa aku tebus, karna adanya dirimu, gadis luguku.


Fina diam-diam mengambil kertas itu lalu menyimpannya. Ia akan melakukan sesuatu dengan kertas ini. Ia akan berusaha sendiri untuk mendapatkan hati Adit. Karna memang dari awal, ia tak percaya dengan omong kosong papanya. Setelah pembicaraan singkat di kolam renang waktu itu, Fina belum pernah berbicara dengan papanya lagi.


Tepat pukul tujuh malam, Fina mengajak Sandi sang supir pergi ke supermarket. Sandi adalah supir baru yang diberikan oleh mamanya. Karna Bu Elvi sangat khawatir dengan anaknya yang akhir-akhir ini sering pulang larut malam. Setidaknya ada yang menemaninya dijalan. Tak salah Bu Elvi memilih Sandi menjadi supir anak bungsunya itu. Orangnya baik dan juga tak kalah tampan. Sebenarnya Sandi pernah kuliah jurusan ekonomi, tapi di DO oleh pihak kampus. Karna ia tak sanggup lagi membayar biaya kuliah, akhirnya ia bekerja menjadi supir majikan lamanya, karna majikan lamanya bangkrut dan tak butuh supir lagi, Sandi menjoba melamar ke Bu Elvi. Kebetulan sekali Bu Elvi sedang mencari seorang supir untuk Fina. Tapi Fina malah merasa tertekan semenjak adanya Sandi. Ia menjadi tak leluasa lagi untuk melakukan sesuatu. Sandi terus memantaunya atas perintah Bu Elvi.


"Ayo jalan!" perintah Fina.


Sandi mengangguk, ia melajukan mobilnya ke arah rumah Fina. Sontak saja Fina jadi emosi.


"Kenapa kesini?! Stop!"


"Ada apa, Non?" tanya Sandi kebingungan, majikannya itu selalu saja marah tak jelas padanya.


"Biar aku yang nyetir!" Fina mendorong Sandi keluar dari mobil. Sandi hanya menghela napasnya, ia lalu membuka pintu belakang.


"Kenapa duduk dibelakang, kamu kira aku ini supir kayak kamu!" Entah kenapa, ia sangat membenci Sandi. Apa saja yang dilakukan Sandi selalu salah dimatanya.


"Jangan ngebut-ngebut ya, Non."


Fina malah menginjak pedal gas lebih kuat. Ia sama sekali tak menghiraukan ucapan supirnya itu. Sandi hanya menggeleng, tak tahan dengan prilaku majikan barunya ini. Mau berhenti rasanya, tapi ia belum mendapatkan lowongan pekerjaan lain. Ia sudah mengirim CV ke beberapa pabrik, tapi belum juga mendapat panggilan.


Rika sedang menikmati nasi gorengnya, sebentar lagi jam istirahatnya akan segera habis. Tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.


"Rika!"


"Kak Fina?" Rika menghentikan kegiatan makannya.


"Boleh aku bicara sebentar denganmu?"


"Boleh, Kak. Ada apa?" tanya Rika masih heran. Ada perlu apa Fina menemuinya.


Fina memberikan secarik kertas yang diambilnya dari sebuah bingkai foto di meja kerja Adit.


"Apa ini?"


"Baca."


Akhirnya rasa bersalah ini bisa aku tebus, karna adanya dirimu, gadis luguku.


"Itu aku ambil dari meja Adit. Rika, kamu sadar gak sih? Adit mau pacaran sama kamu itu hanya ingin menebus kesalahannya terhadap ayahmu. Dari dulu, ia tak benar-benar suka padamu. Apa kamu mau, jadi bahan untuk menebus kesalahan saja?"


Rika tak bisa berkata-kata, ia bingung harus percaya dengan siapa. Tapi tulisan itu membuktikan omongan Fina.


"Berpikirlah Rika, sebelum kamu menyesal nantinya."


Fina beranjak dari kursi itu, ia meninggalkan Rika dengan hasutannya.


"Kita pulang, Non? Biar saya saja yang bawa mobilnya."


Fina melempar kunci mobil pada Sandi. Didalam mobil, tak ada pembicaraan hingga membuat Fina yang lelah bekerja menjadi ngantuk sekali. Matanya perlahan menutup, hingga tertidur pulas. Tiga puluh menit berlalu, hingga mereka sampai di rumah.


"Non Fina..."


"Bangun, sudah sampai."


"Tidakkk!!" Fina langsung membuka matanya, keringat dingin langsung bercucuran. Membuat Sandi jadi heran dan juga panik.


"Ada apa, Non?"


Fina tiba-tiba memeluk Sandi, membuat pria tegap itu menjadi gugup. Jantungnya berdegup kencang seperti orang yang sedang jatuh cinta.


"Aku bermimpi papaku meninggalkan mama dengan wanita lain dan dia menampar pipiku dengan keras." Tangis Fina seketika pecah.


Dengan ragu Sandi mengelus punggung Fina. Ia berharap bisa menenangkan hati Fina.


"Tenang, Non."


"Aku takut semua itu akan menjadi kenyataan."


"Berdoalah, Non. Semua akan baik-baik saja."


Fina buru-buru melepaskan pelukannya, perasaannya seketika menjadi aneh. Ia merasa sangat nyaman dalam pelukan pria manis itu. Ia lalu keluar tanpa bicara lagi pada Sandi.


Kalau dilihat-lihat, Sandi ganteng juga. Kenapa dia mau-maunya ya jadi supir?


"Ah! Kenapa aku jadi memikirkan supir itu?" Fina menghempaskan badannya di kasur.


***


Sandi membaringkan dirinya dikamar kost. Ia masih teringat saat Fina memeluknya didalam mobil tadi. Ia merasakan ada yang beda dari diri Fina. Fina hanyalah korban dari keegoisan papanya, karna sebenarnya Fina anak yang baik.


"Kenapa aku jadi kepikiran Fina terus?"


Sandi menarik selimutnya, berusaha memejamkan matanya, melupakan kejadian dimobil.


Pukul tujuh pagi Sandi sudah rapih dengan pakaian supirnya. Ia sudah berdiri didekat mobil, menunggu Fina keluar dari rumah. Fina keluar dengan rok biru selutut dan baju senada. Kenapa Fina semakin cantik di mata Sandi.


"Silahkan, Non." Sandi membukakan pintu mobil untuk Fina.


"Panggil Fina aja." Sandi memang lebih tua dari majikannya tiga tahun.


"Baik, Non, eh, Fina maksudnya."


"Masalah semalam, kamu jangan ge-er ya. Aku tak sengaja."


Sandi hanya mengangguk. Ia mengerti maksud Fina. Sikap Fina kembali ketus padanya. Seperti biasa, Fina keluar tanpa sepatah katapun.


Sandi memainkan ponselnya, niatnya ingin mencari kerja lain masih ada. Ia akan mencoba melamar pekerjaan online. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh wanita yang sedari tadi sudah berdiri disampingnya.


"Mama tak menggajimu untuk bermalas-malasan dan main handhpone!" sergak Fina.


Sabar Sandi, nikmati saja menjelang kamu dapat kerjaan baru.


"Maaf, tadi saya ada keperluan sedikit."


"Apa keperluanmu? Kayak orang penting aja." ucap Fina ketus.


Aku mencari kerja lain, agar terhindar dari kamu.


"Antar aku ke restoran padang."


"Baik, Fin."


"Wah... Sudah berani ngelunjak, ya. Aku ini majikanmu. Panggil aku, Non Fina."


Sandi hanya menghela napasnya, ia masih ingat betul saat Fina menyuruh memanggilnya hanya dengan nama tadi pagi. Ini sungguh memusingkan.


"Loh, bukannya..."


"Sudah-sudah, ayo cepat jalan. Aku sudah sangat lapar."


Sesekali Fina menoleh Sandi yang sedang mengemudi. Sandi tak salah apa-apa, hanya saja Fina ingin melampiaskan kekesalannya terhadap Adit pada Sandi. Tadi siang Fina mengajak Adit makan siang bersama, tapi Adit menolaknya. Itu sungguh membuat Fina geram.