Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 32



Matahari sudah menerangi kamar Adit, tapi Adit tak sedikitpun menggerakkan badannya, kali ini entah kenapa ia sangat malas sekali untuk berangkat kuliah, ia selalu kepikiran gadis lugunya.


"Permisi Nak Adit, boleh Bibik masuk?" tanya Bik Eli di ambang pintu kamar Adit, ia membawa secangkir susu hangat dan roti tawar dengan selai coklat kesukaan Adit.


"Masuk saja, Bik." jawab Adit singkat.


"Nak Adit dari tadi tidak keluar kamar, jadi Bibik bawakan Nak Adit sarapan pagi." ucap Bik Eli lalu meletakkan makanan itu di meja.


"Iya, Bik. Nanti saya makan."


"Bibik permisi ke dapur ya, Nak Adit." ucap Bik Eli menundukkan badannya.


"Iya, Bik." ucap Adit tersenyum sopan pada Bik Eli.


Sudah pukul sepuluh pagi, Adit masih mengurung diri di kamarnya, makanan yang di antar Bik Eli tadi pagi tak di cuilnya sedikitpun. Ia mencoba mengambil ponselnya untuk menghubungi Rika lagi, tapi hasilnya nihil, ia berinisiatif untuk mengirim pesan singkat pada Rika.


Aku mohon maafkan aku Rika, tolong angkat telponnya, biarkan aku menjelaskan semuanya.


Setelah mengirim pesan itu, Adit melempar ponselnya ke sembarang tempat. Ia tak tau lagi harus bagaimana meluluhkan hati gadis lugunya itu. Bik Eli sangat khawatir dengan kondisi Adit, dari tadi majikan mudanya itu tak ada keluar kamar. Bik Eli kembali ke kamar Adit.


"Nak Adit... Apa, Nak Adit baik-baik saja?" tanya Bik Eli di balik pintu kamar Adit.


"Maaf Bik, Adit sangat ngantuk mau tidur dulu." ucap Adit dari dalam kamarnya.


Pukul setengah sembilan, Rika agak berlari kecil menuju ke parkiran, malam ini hujan turun lagi, ia terpaksa mengenakan jas hujan.


Di perjalanan, Rika tiba-tiba teringat pada pria yang telah memikat hatinya itu.


"Apa kabar Kak Adit ya? Apa dia baik-baik saja? Ah, sudahlah! Orang macam dia tidak perlu di khawatirkan." Rika bergumam sendiri di atas motor.


***


"Assalamualaikum, Bu." Adit telah berdiri di depan Bu Nur yang sedang membersihkan meja jualannya.


"Waalaikumsalam." jawab Bu Nur setengah kaget melihat Adit sudah berdiri didepannya.


"Eh, Nak Adit. Duduk Nak mau, Ibu bikinin nasi gemuk?" tanya Bu Nur hendak mengambilkan sepiring nasi gemuk.


"Boleh, Bu." ucap Adit lalu duduk.


"Ini, Nak Adit." Bu Nur memberikan sepiring nasi gemuk pada Adit lalu duduk di samping Adit.


"Bu..." Adit menoleh pada Bu Nur.


"Maafkan Adit Bu, Adit tidak bermaksud untuk lari dari tanggung jawab." ucap Adit tertunduk.


"Nak Adit... Ibu sudah memaafkan kamu Nak, lupakanlah semua sudah berlalu." ucap Bu Nur sembari menuangkan segelas air putih untuk Adit.


"Tapi, Rika..." ucap Adit, hatinya serasa hancur melihat keadaan saat ini.


"Kamu harus bekerja keras untuk meluluhkan hatinya, Nak." ucap Bu Nur tersenyum.


"Siap Bu, Adit akan lakukan apa saja agar Rika memaafkan Adit." ucap Adit lalu menyuap nasi gemuknya.


Akhirnya Rika keluar dari Rumahnya, ia hendak mengambil motornya, sontak saja Adit menghampiri Rika, Sebenarnya Rika tau keberadaan Adit dari tadi.


"Naik mobilku saja." ucap Adit menawarkan Rika. Jangankan menjawab ucapan Adit, menoleh saja tidak. Rika tetap mengambil motornya.


"Rika..." Adit memegang tangan Rika bermaksud menahan Rika.


"Lepaskan!" Rika menghalau tangan Adit dengan kasar. Tapi hatinya terasa sakit saat ia melakukan itu, rasanya ingin sekali ia merangkul tubuh menawan itu. Rika buru-buru pergi meninggalkan Adit.


"Iya Nak Adit, hati-hati."


Di kampus, Rika buru-buru memarkirkan motornya, ia takut kalau Adit menghentikan langkahnya lagi. Benar dugaan Rika mobil Adit juga sudah terparkir, ia berlari mengejar Rika. Tapi Rika tak mau kalah, ia melangkahkan kakinya lebih cepat lagi hingga menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.


"Woy udik! Kalau jalan pakai mata!" ucap seorang pria terlihat sangat geram.


"Maaf, Kak." Rika tertunduk.


"Namanya Rika, bukan udik!" Adit tak kalah menggeram dari pria itu.


"Biasa aja lo, Dit!" ucap pria itu lagi.


"Ayo Rika, kita pergi dari sini." Adit langsung menggenggam tangan Rika. Rika setengah berlari yang tak bisa mengimbangi langkah kaki Adit.


"Lepaskan aku! Aku tak butuh di kasihani." ucap Rika lalu pergi dari hadapan Adit.


Adit hanya diam, ia membiarkan Rika pergi, ia bingung harus bagaimana lagi menghadapi Rika, mau sampai kapan sikap Rika begini padanya.


Tepat pukul dua siang, cuaca hari ini agak mendung. Rika berjalan menuju parkiran, seperti biasa dia harus pergi ke supermarket. Adit terus membuntutinya dari belakang. Tapi Rika mengetahui apa yang di lakukan Adit.


"Jangan mengikutiku lagi!" bentak Rika hingga Adit menghentikan langkahnya.


"Rika aku mohon maafkan aku, apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau memaafkanku?" tanya Adit lalu mendekati Rika.


"Tidak ada." jawab Rika Singkat.


"Aku bingung Rika, tolong jangan seperti ini, aku tau aku salah, tapi ini semua sudah berlalu, aku tidak tau harus bagaimana."


Bukan jawaban yang Adit dapatkan, tapi sebuah tamparan melayang ke pipinya. Adit tertegun, bukan sakit yang ia rasakan tapi nikmat, ditampar berkali-kali pun ia rela.


Rika buru-buru menarik tangannya, apa yang telah ia lakukan.


"Tampar aku lagi Rika, aku terima." Adit menarik tangan Rika. Tapi Rika memundurkan langkahnya lalu berlari meninggalkan Adit.


"Aduhh... Kenapa aku ini? Adit pantas mendapatkan itu." ucap Rika, bibirnya gemetar, tangannya terasa dingin, tidak seharusnya ia menampar Adit kasar seperti tadi.


***


"Rika..." seru seseorang di belakang Rika.


"Eh, Mas Devan." ucap Rika tersenyum sopan dengan atasannya itu.


"Belakangan ini aku lihat kamu sering ngelamun." ucap Devan.


"Ah tidak kok, Mas." Rika berusaha mengelak, ia tidak mau kalau Devan mengetahui masalah pribadinya.


"Mulutmu bisa saja bohong, tapi raut wajahmu tidak bisa di sembunyikan, tidak masalah kok kalau kamu tidak mau cerita."


"Maaf ya Mas, masalah pribadi. Tapi saya janji tidak akan terbawa sama kerjaan." ucap Rika menundukkan kepalanya.


"Baguslah, semoga cepat selesai masalahnya, semangat!" ucap Adit mengepalkan tangannya, ia mencoba menyemangati salah satu kariawan terbaiknya itu.


"Terima kasih, Mas." ucap Rika lalu pergi ke kasir supermarket.


Rika juga tak mengerti pada dirinya sendiri, kenapa ia sulit sekali memaafkan Adit, benar yang di ucapkan Adit, semua sudah berlalu. Hatinya tidak menerima kalau pria yang ia cintailah yang telah menghilangkan nyawa ayahnya.


"Mbak, bayar." ucap seseorang membawa keranjang berisi cemilan dan belanjaan lainnya ke hadapan Rika. Ia melihat keripik kentang kesukaan Adit di keranjang Ibu itu.


Ia menghela napas panjang, kenapa di setiap yang ia lakukan wajah tampan itu selalu terngiang di pikirannya.