Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 80



Hidup Rika terasa kembali hampa tanpa warna cerah. Yah, mungkin kebahagaiannya bersama Adit hanya sesaat. Hanya untuk menghibur diri yang selama ini selalu suram. Tapi kenapa ia harus dipertemukan dengan pria yang hanya sekian detik bisa membuatnya jatuh hati lalu membuatnya sakit hati.


Ini hari kedua tanpa komukasi dengan sang kekasih, atau bisa dibilang kekasih yang terlupakan. Harusnya kepulangan Adit menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk Rika setelah sebulan lamanya berpisah. Ia melihat ponselnya, sudah ada ratusan notifikasi grup WA Streeth Photograph. Mereka merencanakan aktivitas foto ditaman bunga yang baru dibuka bulan lalu.


Reyhan : Jam dua tepat harus sudah ada ditempat, jangan ada yang ngaret. Oke.


Mirna : Siap, pak wakil.


Lala : Baik, Kak.


Sebenarnya Rika ingin mundur dari klub fotografi, tapi ia merasa tak enak dengan sang ketua. Ferdi. Pasalnya, Rika belum ada sebulan bergabung dengan klub ini. Ini juga impiannya dari dulu.


Dengan malas Rika beranjak dari kasur dan mengambil kamera diatas meja. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Rika membuka pintu, mungkin Jeni yang sedang minta pendapat kebaya apa yang bagus untuk dipakai dihari pertunangannya nanti.


Rika tersentak saat melihat sosok yang berdiri didepannya.


"Rika..."


"Kak Adit..."


Mereka saling menatap, kembali kaku seperti pertama bertemu. Ingin rasanya Adit memeluk gadis yang ada didepannya ini. Tapi Rika sepertinya tidak menerima kedatangannya dengan baik.


"Rika... Bisa kita pergi ke taman hari ini?"


Rika mengangguk pelan, mungkin ini saat yang tepat untuk dirinya mundur dan menjauh dari kehidupan yang tak mungkin bisa ia dapatkan, yaitu bersama Adit.


"Maaf..." Adit menoleh wajah gadis lugunya.


Rika hanya tersenyum palsu, menahan air mata yang hampir berderai.


"Untuk apa?"


"Aku lupa membelikan baju cuople kita."


"Tidak masalah." Rika menunduk.


"Kenapa tidak menjemputku dibandara?" tanya Adit.


"Maaf... Kemarin aku sangat sibuk dengan tugas kampus."


Adit menatap Rika dalam, itu sepertinya hanya alasan Rika saja. Pasti ada sesuatu dibalik sikap aneh Rika ini.


Kamu sudah lupa segalanya, Kak.


"Kak Adit..."


"Iya?"


"Kita sudahi saja hubungan ini. Aku sama sekali tak pantas untuk Kakak. Maafkan aku selama ini sudah merepotkanmu dan terima kasih atas kebahagian singkat ini."


"Tapi, Rika..."


"Kakak bisa kmbali pada teman dekat Kakak dulu, aku tak akan menghalangi. Sekarang tujuanku hanya untuk membuat ibu bahagia saja, Kak. Aku tak mau dipusingkan dengan harapan palsu."


"Kamu tau dari mana? Dengar penjelasan aku dulu."


"Kaliann cocok, kok. Sepertinya kebahagian Kakak ada disana. Jangan memikirkan masalalu lagi, jangan pikirkan ayahku lagi. Kami sudah ikhlas dengan kepergian ayah. Jadi, Kak Adit tak perlu merasa bersalah." ucap Rika tersenyum lalu pergi meninggalkan Adit.


Tiba-tiba hujan turun, seolah mewakili air mata Rika. Ini adalah hari paling menyedihkan untuknya. Melepas Adit.


"Rika... Maafkan aku."


"Rika... Aku dingin."


Rika berusaha tak peduli dengan keadaan Adit, ia terus saja berjalan meninggalkan Adit sendirian ditaman.


Maafkan aku, Kak Adit. Jika aku terus bersamamu, aku tak bisa melupakanmu, melupakan kenangan manis kita.


Rika sudah benar-benar pergi dari taman itu. Ia tak mau menoleh sedikitpun kebelakang. Sedangkan Adit masih terpaku dikursi taman. Kakinya serasa tak sanggup lagi melangkah. Kenapa kepulangannya disambut dengan kehilangan seperti ini.


Adit menggenggam cincin emas ditangannya, cincin ini seolah tak ada artinya lagi baginya. Ia sangat merasa bersalah pada gadis lugunya. Melodi membutakan matanya. Adit memegangi dadanya yang terasa sesak sekali, Memandangi cincin berbentuk love itu ditengah hujan ini.


***


"Dapat hadiah apa dari kak Adit?"


Rika menggeleng dengan tatapan kosong.


"Kenapa?" tanya Jeni. Ia tau pasti ada yang tidak beres.


"Iya..." jawab Rika pelan.


"Apa kak Adit selingkuh?"


"Tidak." jawab Rika singkat.


"Dia pantas dapat yang jauh lebih baik dariku. Sangat pantas." tekan Rika.


"Kenapa bicara seperti itu? Kamu selalu saja rendah diri."


"Tidak, kok, Jen."


"Jangan sedih, ya. Kalau memang jodoh, tak akan kemana." Jeni memeluk sahabatnya itu.


Rika hanya bisa tersenyum palsu. Pelukan sahabatnya itu bisa sedikit meredakan hatinya.


"Sakarang kita kerjain tugas dari bu Risma, yuk."


Jeni memang tak mau bertanya terlalu dalam, ia mengerti sekali perasaan sahabatnya.


Pukul dua siang, Rika buru-buru menghidupkan motornya. Kehidupan seperti biasa dimulai. Tanpa memikirkan masalah cowok.


Sepertinya ia bakal sibuk sekali di mesin kasir sore ini, melihat pengunjung Enjoymart sangat banyak sekali. Baguslah! Ini adalah salah satu cara untuk melupakan Adit. Pikirnya.


Seseorang menyodorkan lima bungkus keripik kentang ke kasir. Rika terdiam sejenak, melihat siapa pembeli keripik kentang ini.


Ini makanan kesukaan kak Adit.


"Mbak, jadi berapa semua?"


"Lima puluh ribu, Mas."


Fokus, Rika...


Ia pikir dengan sibuk di mesin kasir bisa melupakan Adit, tapi nyatanya hari ini orang-orang sepertinya memang sengaja membangkitkan ingatannya. Keripik kentang itu selalu ada dikeranjang pembeli.


"Ini SO nya, Mas." Rika memberi laporan penjualan shiftnya pada Devan.


"Makasih, ya, Rik."


"Iya, Mas. Saya pulang dulu, Mas.


"Iya, Rik. Hati-hati."


Rika mengambil motornya. Ia menarik tali gas hingga 80km/jam. Ia tak tahan mau cepat sampai rumah, supaya cepat tidur. Sesampainya dirumah, Rika memasukkan motornya dibagasi mininya. Ia terlihat sangat lelah sekali, bukan lelah fisik saja tapi lelah hati juga.


Adit menatap dari jauh, melihat gadis lugunya yang tampak kelelahan. Ingin sekali ia menghampirinya. Mengantar dan menjemputnya seperti biasa. Rasanya sakit sekali kehilangan orang yang ia cintai.


"Bu, ini bingkisan apa?" Rika kebingungan melihat beberapa bingkisan di meja tamu, ia melihat-lihat. Ada baju, makanan dan juga souvenir khas Vietnam.


"Itu dari nak Adit." ucap Bu Nur tersenyum.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau dia sudah pulang?" tambahnya.


Rika terdiam, bagaimana ia menjelaskan kalau ia sudah putus dengan Adit.


"Kalian ada masalah?" tanya Bu Nur.


"Tidak, Bu. Hanya saja kami sudah tidak berhubungan lagi." ucap Rika jujur. Ia tak bisa menyimpan ini sendirian.


"Kenapa?"


"Rika mau fokus bahagiain Ibu saja. Kata Ibu, Rika harus sukses." ucap Rika dengan senyum dibuat-buat.


"Adit kenapa? Cerita sama Ibu."


"Kata Ibu, kita ini gak cocok sama keluarga mereka. Jadi... Rika gak mau terlalu jauh, Bu. Daripada kita sakit hati nantinya."


Bu Nur menghela napas. Ia tau, sebetulnya bukan itu masalahnya. Wajah sedih Rika tak bisa disembunyikan. Senyum itu nampak sekali menutup-nutupi.


"Istirahatlah, Nak."


Rika mengangguk lalu masuk kedalam kamar. Tak terasa air matanya menetes begitu saja. Semakin malam, ia semakin teringat kenangan indah bersama Adit. Memori itu masih ada dipikirannya. Saat Adit memeluk hangat tubuhnya, saat Adit memberikan kata-kata manis padanya.


Kak Adit... Aku tak bisa melupakanmu.