
Rika agak berlari kecil ke halte bus, hari ini ia kuliah tidak menggunakan motornya. Setelah turun di halte bus ia berjalan santai menuju ke kampus, karna jarak nya tak jauh lagi. Ia memakai jeans dongker selaras dengan kemejanya. Tiba-tiba terdengar suara mobil yang melaju kencang dari arah belakang Rika. Sepertinya mobil itu sengaja untuk mencelakakan Rika. Rika buru-buru menghindar yang mengakibatkan ia terjatuh, tangan kirinya memerah dan mengeluarkan cairan merah karna kerasnya benturan aspal.
"Awww... Sakit sekali, ada masalah apa orang itu denganku?" gumam Rika sembari berdiri dan memegangi tangan kirinya.
Kakinya juga agak sedikit sakit. Sesampainya di kampus Rika hendak ke toilet untuk membersihkan luka di tangannya. membasuh lukanya dengan sangat hati-hati.
"Aduhhh... Ini sangat sakit." Rika menahan nafasnya, ia mengambil tisu lalu di lap kan ke tangannya.
"Makanya jangan main-main sama ratu kampus!" ucap seseorang datang dari balik pintu toilet. Terlihat tiga gadis cantik dan fashionable mengahmpiri Rika. Rika hanya diam dan bingung apa yang dimaksud ketiga perempuan ini.
"Kenapa kamu masih mendekati Adit hah! Sudah aku bilang kamu itu levelnya beda jauh." ucap Fina lalu mendorong pundak Rika.
"Oh jadi kalian yang ingin membunuhku tadi!" ucap Rika tak kalah tinggi dari Fina.
"Rupanya si udik ini bisa melawan juga ya." ucap Sela lalu tertawa diikuti yang lain.
"Ini belum seberapa Rika, kami bisa kejam dari ini jika kau masih mendeketi Aditku." ucap Fina memegang dagu Rika.
"Aku tidak akan mendekati Kak Adit puas kalian!" ucap Rika lalu menyingkirkan tangan Fina.
"Aku akan pegang kata-katamu, awas jika aku melihat kamu sama Adit lagi lihat saja akibatnya." ancam Fina lalu mengguyur air ke badan Rika hingga bajunya basah kuyup.
"Aku yakin kamu belum mandi kan?" tambah Fina diiringi senyum sinisnya.
"Apa-apaan ini! Apa belum puas kalian sudah ingin menghilangkan nyawaku tadi?" ucap Rika dengan nada tinggi. Tapi Fina dan kawan-kawan tak menghiraukannya lalu pergi dari toilet.
"Aku tidak akan dekat dengan Kak Adit lagi, ia hanya akan menyusahkan hidup ku saja, apalagi setelah sikap cueknya kemarin." gerutu Rika keluar hendak menemui teman satu-satunya yaitu Jeni.
Rika berjalan menuju kantin sambil menunduk memegangi tangannya yang terluka, darahnya tampak menetes.
Bruukk....
Rika tiba-tiba menebrak seseorang yang berlawanan arah dengannya, ia mendongak ke atas untuk melihat orang itu, ternyata orang sangat tidak ia harapkan. Pria itu adalah Adit.
"Aww... Sial." Rika menahan rasa sakit di lukanya.
"Kamu kenapa?" tanya Adit lalu memegang tangan Rika, tapi Rika cepat-cepat menyembunyikan tangannya.
"Tidak ada." jawab Rika singkat. Adit mengambil tangan Rika secara paksa.
"Aduh...aduh sakit Kak Adit." ucap Rika kesakitan.
"Kamu terluka Rika, baju kamu juga basah. Ada apa lagi dengan mu?" Adit sangat heran dan ada rasa khawatir di dirinya.
"Tidak apa-apa Kak, lepaskan tanganku!" ucap Rika dengan nada agak tinggi. Adit jadi semakin bingung dengan sikap Rika.
"Kenapa kamu aneh sekali? kenapa kamu memarahi ku?" tanya Adit.
"Apa Kakak tidak merasa aneh pada diri Kakak sendiri? sikap Kakak lebih aneh dariku, kemarin Kakak sangat cuek, tapi sekarang kenapa sangat peduli padaku?" Rika menahan air matanya. Adit hanya terdiam, saat itu ia memang ingin menghindari Rika, ia tak ingin perasaannya terhadap Rika semakin bertambah, tapi Adit tetap tidak bisa menahan perasaannya terhadap Rika, ia sedih jika melihat Rika terluka.
"Sudahlah Kak Adit jangan menegurku lagi, aku tak ingin bermasalah dengan para fans Kak Adit." ucap Rika sembari menahan luka ditangan dan juga dihatinya, sebenarnya ia sangat berat untuk mengatakan itu, didalam hatinya ia ingin selalu berada disisi Adit.
"Kamu mau pakai kemeja ku?" tambah Adit.
"Tidak usah Kak, tidak usah membantuku lagi." ucap Rika lalu pergi dari hadapan Adit.
Adit hanya diam dengan tatapan kosong, ia merasa ada yang hilang dari dirinya, ia sangat sedih ketika Rika berbicara seperti itu padanya, apalagi Rika sedang terluka sekarang. Ingin sekali Adit mengobati luka Rika hingga membaik.
***
Jeni sedang duduk di kantin menikmati jus jeruknya, tangannya juga sibuk memainkan ponsel.
"Jen kamu bawa jaket tidak?" tanya Rika lalu duduk di samping Jeni.
"Ya ampun Rika, kamu kenapa?" ucap Jeni terkejut melihat temannya itu basah kuyup dan tangannya terluka.
"Di jalan aku di geser sama mobil Kak Fina." ucap Rika.
"Hmm... Pasti karna dia tau kamu jalan sama Kak Adit." ucap Jeni lalu mengambil jaket dari tasnya.
"Ini pakailah, maafkan aku Rika ini semua gara-gara aku." tambah Jeni lalu memberikan jaketnya pada Rika.
"Terima kasih Jen, ini semua bukan salah kamu kok." ucap Rika masih bisa tersenyum.
"Kamu kenapa bisa basah gini?" tanya Jeni.
"Waktu aku ke toilet mau membersihkan luka ku, Fina dan teman-temannya masuk dan mengancamku lalu Fina menyiramku." Rika menjelaskan semuanya ke Jeni.
"Jahat sekali mereka sama kamu Rik, ya sudah ayo biar kutemani kamu ganti baju." mereka lalu berjalan menuju toilet lagi.
"Tadi aku bertemu Kak Adit, dia hendak membantuku tapi aku menolaknya, aku bilang padanya bahwa kita tidak usah bertegur, aku ingin menjauhinya Jen." ucap Rika dengan tatapan kosong seolah ia tak rela jika jauh dari Adit, mulutnya terasa berat untuk mengatakan semua itu.
"Kamu yakin Rik?" tanya Jeni menatap tajam mata sahabatnya itu.
"Maksud kamu apa Jen?" tanya Rika yang berpura-pura tidak tau.
"Rika, walaupun kita baru berteman tapi aku sangat mudah membaca pikiranmu, aku tau kamu sudah jatu hati pada kak Adit." ucap Jeni melirik Rika. Rika hanya terdiam, sebenarnya semua yang dikatakan Jeni itu benar, tapi ia sadar diri akan kondisinya. Rika berpikir ia tak pantas untuk Adit, jika ia bersama Adit akan banyak kesulitan yang menyapanya, belum lagi Fina dan teman-temannya, ia yakin hidupnya pasti akan sulit.
"Aku tidak mungkin bisa mendapatkannya." jawab Rika datar.
"Lagi pula kalau Kak Adit bersamaku, ia hanya akan mempersulit hidupku." tambah Rika.
"Semua tergantung kamu Rik, aku hanya mendukung apa yang menjadi pilihanmu." ucap Jeni menyemangati Rika. Jeni memukul pelan tangan kiri Rika yang terluka untuk mencairkan suasana yang dari tadi sangat serius.
"Sakitt, Jen!" Rika berteriak memarahi Jeni.
"Katanya Rika orangnya kuat, ayo keluar biar aku obati lukamu." ucap Jeni meledek Rika.
"Terima kasih Jen, kamu orang paling baik yang kutemui di kampus ini." ucap Rika lalu memeluk Jeni, Jeni membalas pelukan sahabat barunya itu.