
"Mama..."
"Ma..."
Adit membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa berat sekali, tangannya juga masih terasa sakit. Bu Niken sedang tertidur lelap di samping anaknya itu, ia memang sangat lelah karna belum ada istirahat dari kemarin sore, sedangkan Pak Arsan sudah menemui rekan bisnisnya.
"Ma... Adit haus." Adit mencoba membangunkan Mamanya.
"Eh sayang Mama sudah bangun, gimana sudah enakan? Jangan banyak gerak dulu ya." ucap Bu Niken lalu mengambil segelas air di atas meja.
"Ma..." Adit menatap wajah Mamanya sangat dalam. "...Adit pantas mendapatkan ini."
"Apa maksud kamu, Sayang?"
"Adit sudah membunuh ayahnya Rika, Ma." tak terasa air bening keluar dari kelopak mata pria tampan itu.
"Maksudmu. . . Rika adalah anak pak Riyadi?" tanya Bu Niken, Adit mengangguk pelan.
"Sayang... Ini bukan salah kamu, kita sudah bertanggung jawab dengan keluarga mereka Nak. Dengar Mama baik-baik, ini semua sudah diatur oleh Tuhan." ucap Bu Niken menasehati anaknya.
"Tapi Ma... Rika tidak mau memaafkan Adit."
Bu Niken hanya diam, sepertinya ia harus menemui keluarga Bu Nur, ia akan menjelaskan kronologi yang sebenarnya. Anaknya tak bisa terus disalahkan seperti ini.
"Hanya karna Rika tidak memaafkan kamu, kamu jadi seperti ini? Ingat, Sayang. Kamu tidak lari dari kenyataan." ucap Bu Niken.
"Mama tinggal sebentar, ya." Bu Niken hendak pamit.
"Mau kemana, Ma? Mama jangan marahin Rika ya dia gak salah." ucap Adit, ia tau aa yang akan Mamanya lakukan.
"Tidak Sayang, tenang saja." Bu Niken berlalu dari hadapan Adit.
***
Bu Nur dan Bu Niken sedang duduk berdua di ruang tamu, Bu Niken sudah menjelaskan semuanya pada Bu Nur. Bu Nur pun memahami itu, ia pun ikhlas dengan kepergian suaminya, ini hanya masalah cinta dari kedua anak mereka saja. Tak lama mereka berbincang, Rika pun pulang dari kampus, kebetulan hari ini dia tidak bekerja. Betapa terkejutnya ia melihat Bu Niken yang sedang duduk di ruang tamu, buru-buru ia menyalami kedua perempuan itu.
"Ada apa kemari, Ma?" tanya Rika sopan.
"Mama mau menjelaskan sesuatu sama kamu." ucap Bu Niken, Bu Nur mengisyaratkan Rika untuk duduk bersama mereka.
"Sebelumnya atas nama Adit, Mama minta maaf sama kamu, tapi seharusnya kamu mendengarkan dulu penjelasan dari Adit. Adit memang menabrak ayah kamu dulu, tapi di saat itu dia juga kritis perutnya di tusuk pecahan kaca mobil sangat dalam, demi menghindari ayah kamu, tapi takdir berkata lain." ucap Bu Niken menjelaskan.
"Adit tidak tau apa-apa, disaat pemakaman ayah kamu, Adit sedang dirawat di Singapura. Kami memang selalu menyembunyikan semua ini darinya, karna kalau dia mengingat masalalunya, kami takut dia akan trauma." tambahnya.
Rika hanya terdiam, ternyata ia salah menilai Adit, kenapa dia tidak mendengarkan penjelasan Adit dulu.
"Maafin Rika, Ma... Rika salah berpikir tentang Kak Adit. Sekarang Kak Adit dimana, Ma?" tanya Rika.
"Di rumah sakit, semalam dia habis di rampok."
"Apa? Ini semua salahku." Rika tak bisa lagi menahan air matanya, gara-gara dia Adit jadi tergeletak di rumah sakit.
"Ma... Boleh Rika menjenguk Kak Adit?" tanya Rika pelan, ia merasa sangat bersalah dengan apa yang telah ia perbuat.
***
"Kak Adit..." Rika langsung mengahmpiri Adit yang sedang tebaring lemas.
"Maafkan aku Kak, aku salah menilaimu." ucap Rika lalu memeluk lelaki pujaannya itu. Adit menyadari itu, dalam hatinya sangat senang di jenguk Rika.
"Dasar! Kenapa Kakak melakukan hal bodoh seperti semalam." Rika tersedu-sedu.
"Aku pantas mendapatkannya." Adit perlahan membuka matanya, ia menoleh Rika, tangannya mencoba menghapus air mata Rika, tapi untuk mengangkat tangannya saja, ia masih belum berdaya.
"Aw..." Adit menahan nafasnya.
"Jangan banyak gerak dulu, Kak." ucap Rika menyelimuti Adit.
"Ini semua bukan salah Kakak, aku terima semuanya, ini memang sudah takdir Kak, tolong jangan menyalahi diri sendiri lagi."
"Jadi?"
"Aku memaafkan Kakak." ucap Rika tersenyum.
"Terima kasih. . . Sayang." ucap Adit pelan yang membuat Rika menjadi salah tingkah, baru kali ini dia mendengar panggilan itu dari Adit, serasa terbang setinggi langit.
Perasaannya pada Adit sudah tak bisa dianggap hanya mengagumi, selama ia mengenal Adit, ia selalu kepikiran hal-hal romantis yang terjadi diantara mereka berdua, sorot mata Adit yang begitu indah tak mampu membuat Rika menatap laki-laki tinggi menawan itu lama. Rika selalu mengingingat saat-saat romantisnya bersama Adit yang membuat jantungnya terasa ingin copot.
Setelah kejadian lima tahun silam itu, hidup Adit menjadi sangat hampa, terasa jalan di tempat, yang membuat kakinya lelah saja, banyak perempuan yang mendekatinya, tapi hatinya tidak sedikitpun terguncah, lain saat setelah bertemu dengan Rika, ada getaran yang sangat berbeda. Melihat sosok Rika yang sederhana, secara tidak sadar membuat dirinya telah jatuh hati. Ia tak bisa menghindari perasaan itu, berkali-kali ia mencoba untuk tidak menghiraukan Rika, tapi daya magnet gadis lugu itu memang sangat kuat.
Adit masih menatap dalam wajah Rika yang tengah tertidur di sampingnya, ia berharap Rika bisa di sampingnya terus. Ia membelai rambut Rika yang tergerai, yang membuat si empunya terbangun.
"Kakak butuh sesuatu?" tanya Rika yang masih mengucek kedua matanya. Adit hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya butuh kamu, buat selalu disisiku." ucap Adit tersenyum pelan.
Rika membalas senyum Adit, ia menggenggam tangan Adit erat, ia tak mau kehilangan pria yang ia cintai untuk kedua kalinya, meski ia tau jika ia bersama Adit hidupnya kedepan akan sulit, mengingat Adit dan dirinya berbeda jauh.
"Ingat tidak? Siapa yang mau di ceburin ke kolam renang dulu?" Adit meledek Rika.
"Ah Kak Adit, jangan diingat lagi!" Rika spontan memukul lengan Adit yang terluka, Adit memejamkan matanya, menahan Rasa sakit.
"Maaf Kak Adit, sakit ya?" tanya Rika, Adit mengangguk pelan, sudah lama ia tidak bermanja dengan gadis lugunya itu.
"Aduhh, maaf ya, Kak Adit." ucap Rika menggosok pelan lengan Adit.
Adit hanya memandangi wajah gadis yang membuat hidupnya berwarna lagi. Ia tak menyangka akan mempunyai perasaan sedalam ini dengan Rika. Saat ini, ia benar-benar takut kehilangan Rika, ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Rika sepenuhnya, karna ia tau keberadaannya akan menyulitkan Rika.
Mereka berdua terdiam saling menatap diiringi hujan gerimis di luar jendela, untuk pertama kali Adit menikmati setiap rintikan air yang jatuh dari langit itu.
"Tetap temani aku ya, bantu aku untuk menghilangkan traumaku dengan hujan." ucap Adit sembari mengelus tangan Rika.
"Iya Kak Adit. Pasti." jawab Rika tersenyum.