
Minggu pagi, Adit sedang duduk termenung didepan rumahnya, memikirkan keberangkatannya besok yang hampa tanpa sang kekasih. Waktu terus berjalan, ia yakin Rika pasti masih marah padanya. Adit berdiri hendak masuk kedalam.
"Kak Adit!" Rika berlari dan langsung
memeluk Adit dari belakang.
Seketika Adit menjadi terpaku. Tidak tau harus berbuat apa. Ia tau persis siapa yang memeluknya ini. Rasanya senang bukan main, seolah telah mendapatkan rasa yang sempat hilang beberapa hari yang lalu.
"Kak Adit, maafkan aku." Rika melepas pelukannya.
Adit tersenyum dan mengelus rambut hitam sebahu itu.
"Beritahu aku." Adit menatap dalam wajah Rika.
Rika menyodorkan secarik kertas yang diberi oleh Fina beberapa waktu lalu. Adit mengehla napasnya. Fina memang tak kehabisan akal untuk menghancurkan hubungan mereka.
"Iya! Memang kamu adalah jalanku untuk menebus kesalahanku dulu. Karna adanya kamu, aku bisa menjaga dan menyayangimu dengan tulus. Aku bisa menggantikan posisi ayahmu. Walaupun aku tidak yakin bisa sepenuhnya jadi seperti ayah kamu."
"Percayalah, aku sungguh mencintaimu." Adit memeluk kekasihnya itu.
"Maaf... Aku selalu terbawa perasan. Aku terlalu sensitif terhadap omongan orang. Aku belum percya sepenuhnya perasaan Kakak."
Adit tersenyum lega mendengar ucapan Rika.
Ia sangat gemas dengan tingkah gadis lugunya itu. Rasa sayangnya pada Rika sepertinya semakin besar.
"Mau membantuku?"
"Bantu apa?"
"Berkemas."
Rika mengiyakan saja. Sepertinya hari ini ia akan menghabiskan waktu bersama pria tampannya.
Mereka masuk kedalam kamar Adit. Sudah ada dua koper berwarna hitam disana. Rika seperti tak rela kekasihnya akan pergi untuk satu bulan.
"Nanti mau oleh-oleh apa?" tanya Adit sembari memasukkan beberapa baju ke koper.
Tapi Rika hanya diam, untuk saat ini ia tak mau apa-apa. Kalau bisa, ia akan melarang Adit pergi. Air matanya tiba-tiba mengalir, sedih sekali.
"Kenapa?" Adit menatap wajah gadis lugunya itu.
"Belum pergi saja, aku sudah rindu." Rika mengusap air matanya. Lucu sekali.
Adit tersenyum dan tertawa geli melihat tingkah Rika. Ia memeluk gadis lugunya sekali lagi.
"Jangan nangis dong." Adit mengelus punggung Rika.
Tak terasa sudah pukul dua belas tepat. Adit mengajak Rika pergi ke suatu tempat. Mereka pergi ke restoran jepang. Lumayan sepi, Adit sengaja memilih restoran itu. Selain Rika yang memang sangat menyukai ramen, ia juga ingin menghabiskan waktu yang tersisa sedikit ini dengan Rika.
"Nanti mau beli baju couple tidak?" tanya Adit.
Rika mengangguk cepat.
"Tapi..." Rika tiba-tiba memegang tangan Adit.
"Jangan lupa selalu menghubungiku."
"Pasti, Sayang."
Jelas Adit akan selalu menghubungi Rika saat di Vietnam nanti, ia pasti sangat merindukan gadis luguny itu. Ia berjanji setelah projek ini selesai, akan memberikan kejutan termanis untuk Rika.
***
ARGHH...
Fina menarik tirai kuning dikamarnya. Ia sangat kesal dengan keputusan Adit yang pergi ke Vietnam tanpa memperbolehkan dirinya ikut.
Fina ingat sekali, jumat kemarin ia bersikeras ingin ikut. Tapi Adit malah bicara pada orangtuanya, bahwa Fina tidak usah ikut. Cukup mereka bertiga saja yang pergi.
Hilang sudah kesempatannya ingin bersama Adit. Satu bulan lumayan untuk berencana sesuatu, pikirnya. Tapi apa daya, Adit sepertinya sudah menutup diri darinya.
"Sumpah, aku sangat kesal!" Fina memecahkan guci kecil yang ada disampingnya.
Fina mendudukkan dirinya dikasur. Amukan ini membuatnya lelah. Tiba-tiba ia teringat dengan Sandi. Satu hari saja ia tak menyiksa Sandi rasanya ada yang kurang. Ia harus melampiaskan kekesalannya ini pada Sandi.
"Sayang, ayo ma..." Bu Elvi tidak melanjutkan ucapaannya, ia malah menutup mulut melihat kondisi kamar Fina yang berantakan. Guci yang pecah dan tirai yang sudah dibawah.
"Ada apa, Fina?"
"Adit tidak mengajakku pergi ke Vietnam. Padahal aku ini sekretarisnya, Ma."
"Ya ampun, Sayang. Kamu jangan jadi seperti ini, sekarang ayo kita makan bersama. Ada papa juga di bawah. Nanti biar Mama suruh pak Anto yang membereskan semua ini."
"Jangan, Ma. Suruh Sandi saja, biar dia lembur." ucap Fina.
"Baiklah, sekarang ayo makan."
"Tidak mau! Aku muak lihat muka papa."
Bu Elvi menatap tajam anaknya, tidak seharusnya Fina berbicara seperti itu. Walaupun sikap Pak Bima memang tak baik pada anak bungsunya itu, setidaknya ia adalah ayah kandung yang harus Fina hormati.
"Itu papa kamu, Nak. Tidak boleh bicara seperti itu."
Fina tetap tidak mau makan bersama sang papa. Ia tetap memilih diam dikamar menunggu kedatangan Sandi.
Dimeja makan, Pak Bima sudah makan duluan.
"Mana Fina?"
"Masih kenyang katanya."
"Buat ulah apa lagi dia? Papa dengar ribut sekali dikamarnya."
"Pa... Mama mau tanya, apa papa sudah menepati janji papa buat jodohin anak kita sama Adit?"
"Sabar dong, Ma. Semua butuh proses." Pak Bima meneguk air putihnya.
"Pa, cobalah mendekatkan diri dengan Fina."
"Anak itu dari dulu memang keras kepala. Jangan izinkan dia pergi hari ini." Pak Bima meninggalkan meja makan. Ia hendak pergi bermain golf bersama teman kantornya.
Bu Elvi hanya menghela napas, bingung dengan keluarganya ini. Di satu sisi ia kasihan dengan kedua anaknya yang tak pernah mendapat kasih sayang seorang ayah. Di sisi lain, ia juga takut sekali jika membantah omongan suaminya itu. Tiba-tiba ia jadi rindu dengan sang cucu. Ia berencana ingin pergi ke rumah Firhan.
"Fina..."
"Ada apa lagi, Ma?"
"Mau ikut Mama tidak, kita kerumah kak Firhan. Lihat keponakan kamu." ajak Bu Elvi.
"Lagi gak mood, Ma. Mama pergi saja, biar aku dirumah aja."
"Yakin? Tapi kamu jangan pergi kemana-mana, itu pesan papa tadi."
Fina mengangguk.
"Oh, ya, Sandi belum datang?"
"Sebentar lagi dia datang."
"Ya sudah, kamu jangan emosi lagi. Lupakan Adit, cari laki-laki yang juga mencintai kamu." Bu Elvi mengelus rambut pirang itu.
Bu Elvi sudah berpesan pada Bik Sana dan Pak Anto menjaga Fina dirumah, agar Fina tidak keluar rumah. Ia juga sudah menelpon Sandi agar datang kerumahnya, memperbaiki tirai kamar Fina yang lepas karna ulah Fina tadi.
Sebenarnya hari ini Sandi diajak temannya pergi melihat pabrik teh yang ia lamar kemarin. Temannya itu sangat dekat dengan menejer pabrik. Mereka berjanji akan bertemu jam empat sore. Memperbaiki tirai yang rusak paling hanya sebentar, tidak sampai satu jam. Pikirnya.
"Semoga kerjaan yang satu ini gol. Biar aku gak disiksa terus sama Fina." gumam Sandi.
Sandi sudah bersiap-siap pergi kerumah Fina Lebih cepat lebih baik, pikirnya. Karna pertemuannya dengan temannya sangatlah penting baginya.
"Bahkan hari liburpun, aku disuruh datang kesana. Padahal dia punya dua satpam dan tiga tukang kebun." Sandi menggerutu.
Mau tidak mau ia harus datang kesana, karna ini perintah langsung dari Bu Elvi.