Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 40



Rika membalik kalender di kamarnya, ia menlingkari tanggal tujuh di bulan desember ini, hari istimewanya. Beberapa hari lagi ia akan bertambah umur dan juga tentunya bertambah dewasa. Rika terdiam sejenak, ia memikirkan sudah berapa tahun ia melewati hari istimewanya itu tanpa seorang ayah, jika mengingat itu Rika jadi sangat membenci Adit.


Tepat pukul sepuluh malam, Rika masih memainkan ponselnya, ditemani rintik hujan yang membasahi jendelanya. Sesekali ia melihat potret kebersamaannya dengan pujaan hatinya itu, seperti mimpi ia bisa menaklukan hati Adit, memangnya siapa dia. Ia melihat foto Adit yang di ambilnya di taman waktu itu. Sungguh menawan, hingga tanpa sadar ia memeluk ponselnya sendiri.


Tiba-tiba ponsel yang masih di dekapnya itu bergetar, seketika Rika terkejut melihat nama dari panggilan masuk itu, kini jantungnya yang berdebar, untuk apa dia menelpon malam-malam begini?


"Ha...halo..." Rika tergagap, ia selalu gugup kalau di telpon Adit.


"Kenapa belum tidur?"


"Emm... Tidak tau nih Kak, masih mau menikmati hujan."


"Kalau gitu aku juga mau menikmati hujan."


"Jangan! Kakak tidur saja, besok kan mau kuliah." Rika mencari alasan, walaupun Rika sangat merindukan Kakak tampannya itu, tapi kalau di telpon seperti ini, ia kehilangan kata-kata, yang ada hanya gugup dan gelagapan.


"Loh kenapa? Kalau aku tidur kamu juga harus tidur."


"Iya Kak Adit, sepertinya aku juga sudah ngantuk." jawab Rika.


"Ya sudah, sampai jumpa besok."


Rika menarik selimutnya, ia memejamkan matanya. Percakapan tadi masih terngiang di telinganya, sedikit tapi lumayan cukup untuk mengobati rindu. Tanpa sadar Rika menarik dua sudut bibirnya, wajah Adit begitu sulit di hilangkan, apakah ini yang namanya di mabuk cinta, tidur Rika pun tak begitu nyenyak setelah di telepon sang pujaan hati, memang terdengar sangat lebay tapi ini lah yang di rasakan Rika saat ini.


***


Rika menyandarkan kepalanya di kursi mobil, tiba-tiba ia melihat ada baju kaos di kursi belakang, kaos oblong wanita berwarna merah muda. Rika sesekali menoleh Adit, hatinya sangat sakit melihat baju itu, walaupun ia belum tau kebenarannya. Pikirannya sudah kemana-mana.


"Kenapa diam saja?" tanya Adit, ia menyadari tingkah Rika sejak tadi.


"Emm... Kak Adit, aku boleh nanya?"


"Nanya apa?"


"Itu di belakang baju siapa, Kak?" Rika lalu menunjuk baju itu.


Adit yang melihat baju itu juga terkejut dan kebingungan, ia langsung menghentikan mobilnya.


Kemarin memang Adit dan Fina pergi ke Mall Journey, untuk mengerjakan skripsi mereka. Fina yang memaksa Adit, dia ingin mengerjakan skripsi sambil minum kopi di salah satu caffe di Mall Journey.


"Aku tidak tau Rika, yang naik mobilku kemarin cuma Fina."


"Berarti itu baju Kak Fina, kenapa bisa ada disini?" tanya Rika.


"Aku benar-benar tidak tau Rika, kemarin Fina memang meninggalkan aku sebentar, dia bilang mau beli sesuatu, apa mungkin baju ini?" Adit berasumsi sendiri.


"Apa Kakak mengantar Kak Fina kemarin?" tanya Rika.


"Tidak, dia di jemput Sela dan Sisil"


"Ya sudah nanti di kembalikan saja, Kak." ucap Rika dengan senyum palsu.


Merekapun melanjutkan perjalanan menuju kampus, wajah Rika yang sangat cerah tiba-tiba berubah menjadi sangat murung. Sebenarnya dia tau, ini semua cuma akal-akalan Fina untuk menghancurkan hubungannya dengan Adit, tapi dia harus bisa menahan emosinya. Adit memarkirkan mobilnya, belum sempat mereka keluar dari mobil, Fina datang menghampiri mereka.


"Hay, Dit. Kayaknya bajuku ketinggalan deh di mobil kamu kemarin." ucap Fina yang tak peduli dengan keberadaan Rika di samping Adit.


"Kenapa bisa ada disini?"


"Kok kamu lupa sih, Dit. Kemarinkan kita ke Mall berdua, terus sebelum pulang aku numpang ganti baju di mobil kamu." ucap Fina dengan nada centil.


"Sekalian ganti baju juga, soalnya aku buru-buru, bajunya mana ya?"


Rika lalu memberikan baju itu pada Fina, Fina hanya mengambilanya saja, ia sama sekali tak menegur Rika, ia cuma berterima kasih ke Adit lalu pergi.


"Apa Kakak ada di dalam mobil juga waktu Kak Fina ganti baju?" tanya Rika, nada seperti sangat cemburu.


"Aku tidak tau Rika, kemarin aku ke toilet sebentar, Fina memang masuk ke mobil sebentar, dia bilang mau ambil tasnya yang ketinggalan" ucap Adit meyakinkan Rika, ia tau Rika pasti sangat marah padanya.


"Aku percaya..." Rika lalu memegang tangan Adit "...Kakak tidak perlu meyakinkan aku seperti itu"


"Aku takut kamu marah." Adit lalu mengelus rambut gadis lugunya itu.


"Kenapa harus marah?"


"Tidak cemburu?"


"Tidak." jawab Rika tegas, tapi tidak dengan hatinya. Iya... Dia sangat cemburu, disisi lain ia merasa tidak berhak untuk itu, sudah dekat dengan Adit sperti ini saja ia masih tak menyangka.


"Serius?" Adit menatap dalam wajah Rika, ia yakin di dalam hatinya gadis lugunya itu sangat sedih karna ulah Fina. Adit berpikir Fina memang sengaja melakukan ini untuk menyakiti Rika.


"Cemburu, dikit." bisik Rika yang di dengar oleh Adit.


"Cuma sedikit?" tanya Adit menggoda.


"Ak...aku mau masuk dulu Kak, takut telat." ucap Rika seketika menjadi gugup di pandang sang pria tampannya.


Adit hanya tersenyum, ia melihat Rika masih sama seperti dulu, masih gugup kalau di tatap dan juga sangat kaku jika berdua, tapi itulah yang membuat Adit makin menyayangi gadis sederhana itu.


***


Sudah dua kali Pak Ilham memanggil nama Rika tapi Rika tidak menyaut, hingga pundaknya di pukul Jeni sampai-sampai si empunya meringis kesakitan.


"Rika, ayo presentasikan makalah kamu." perintah Pak Ilham.


"Ba...baik, Pak." ucap Rika terkejut, ia langsung ke depan dan mempresentasikan makalahnya dengan baik, semua bertepuk tangan. Walau lagi sedih,ia tetap fokus dengan tugas kuliahnya, karna itulah yang terpnting baginya. Ia tak mau cuma masalah Fina kuliahnya jadi berantakan.


"Sesuai espektasi saya, Rika. *W*ell done!" ucap Pak Ilham terlihat sangat puas, begitu juga dengan Rika.


Rika membuka laptopnya dengan penuh senyum, semua kerja kerasnya sudah tebayarkan. Ia benar-benar harus mengesampingkan masalah cintanya yang selalu diganggu oleh Fina, yang ia ingat hanyalah cita-citanya untuk membahagiakan orangtua tunggalnya. Ia masih bingung entah bagaimana perasaan Adit padanya, sekedar suka atau kasihan. Ia masih belum percaya sepenuhnya dengan Adit. Sebenarnya, bukan dia yang belum percaya dengan Adit, tapi dia yang tidak percaya dengan dirinya sendiri.


"Kenapa murung saja dari tadi?" tanya Jeni lalu meneguk jus lemonnya.


"Tidak ada." jawab Rika lalu menyimpan laptopnya.


"Bohong! Ayo cerita." paksa Jeni.


"Kemarin Kak Adit dan Kak Fina ke Mall berdua." ucap Rika lesu.


"Ngapain?"


"Cuma ngerjain skripsinya kok." jawab Rika.


"Paling cuma akal-akalan si ular kobra." ucap Jeni.


Rika hanya diam, ia juga tau Fina hanya ingin membuat hubungannya dengan Adit berakhir. Tapi dia harus tetap sabar, itulah resiko dekat dengan orang seperti Adit.